
Melihat kegelisahan Anggun menimbulkan kecurigaan di hati Rizky, siapakah orang yang sedang dicemaskan sahabatnya ini?
"Rizky cepetan, dimana aku bisa melakukan proses untuk mendonorkan darah? " desak Angun lagi.
"Tidak semudah itu Anggun, kamu harus melewati beberapa tahap pemeriksaan sebelum kamu mendonorkan darahmu,"
"Yasudah, kalua begitu lakukan secepatnya," ajak Anggun menarik jas putih yang di pakai Rizky, berharap Rizky mengikuti langkahnya.
"Maaf , apa Anda keluarga dari pasien?" tanya salah seorang petugas rumah sakit yang menghadang Anggun di koridor rumah sakit .
"Bukan, tapi saya pernah mengenalnya,"
"Jadi begini Mbak , kepala pasien mengalami benturan yang cukup keras,dan menyebabkan darah terus mengalir dari kepala , dan kami harus segera melakukan tindakan operasi, maka dari itu pihak rumah sakit sangat membutuhkan tanda tangan dari keluarga pasien."
"Biar saya saja yang tanggung jawab Mbak, dimana saya harus menandatanganinya?"
"Baik, kalau begitu silahkan ikut saya ," ucap salah seorang suster ini yang sudah berjalan mendahului Anggun.
Rizky menarik tangan Anggun.
"Anggun, apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan ini? lebih baik kita hubungi keluarganya."
"Aku gak punya pilihan lain, aku tidak mau berhubungan lagi dengan mereka, jadi jangan dulu menghubungi dia."
"Tapi Anggun ji--
"Sudahlah Ky , jangan berdebat, lagi pula saat ini keluarganya ada di luar Negri!" seru Anggun dan langsung melangkah mengikuti jejak suster yang tadi meminta tanda tangannya.
Rasa kemanusiaan membuat ia mengambil keputusan secara sepihak, meskipun Anggun tau akan ada masalah di kemudian hari, tapi tetap saja Anggun tidak mau mengubah niat baiknya, meskipun orang yang berjuang di dalam sana pernah berbuat jahat padanya.
Setelah menandatangani surat perjanjian itu, Anggun melakukan rangkain prosedur untuk kembali menjalankan niatnya, daya tahan tubuh Anggun yang kuat, memungkinkan Anggun untuk mendonorkan darah untuk korban kecelakaan lalu lintas ini.
.
.
.
Terhitung sudah 4 jam para Dokter dan suster masih berjuang di dalam sana, namun lampu
merah yang menempel di atas pintu masih saja menyala, belum juga ada tanda tanda orang akan keluar dari ruangan yang terasa sangat menakutkan ini.
Sampai beberapa saat kemudian lampu itu padam, beberapa Dokter dan suster keluar dengan ekspresi wajah yang sulit di tebak.
"Dokter bagaimana dengan keadaan pasien?"
Anggun cemas dan menghadang jalan para Dokter yang ingin melewatinya.
"Kamu yang bertanggung jawab untuk pasien ini?" tanya salah seorang dari mereka.
"Iya Dok, bagaimana keadaanya? "
Dokte paruh baya ini melepas kaca matanya dan memandang sendu wajah Anggun.
"Pasien akan dipindahkan ke ruangan ICU untuk memulihkan keadaanya, dan silahkan ikut saya ke ruangan, saya akan menjelaskan semuanya disana. "
"Baiklah Dok, " jawab Anggun yang sudah mengikuti jejak kaki Dokter yang tidak lagi muda ini.
.
.
.
Di dalam ruangan .
Anggun sudah duduk berhadapan dengan Dokter, yang juga sudah memperhatikan
layar monitor, yang menggambarkan rangka kepala dari pasien yang baru saja dia tangani.
Anggun yang tidak mengerti dengan gambar yang ditampilkan itu, hanya bisa diam dan terus memperhatikannya.
"Kepala adalah salah satu bagian tubuh yang rawan ketika terkena benturan, cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian, atau juga menyebabkan berbagai gangguan ringan seperti, sering pusing , mual, atau bisa juga menimbulkan demensia."
"Demensia Dok?" tanya Anggun penasaran, dari semua penjelasan Dokter, yang Anggun tangkap hanyalah Demensia.
"Demensia, dimana penderitanya mengalami kondisi penurunan daya ingat dan cara berfikir, Demensia termasuk gangguan mental organik, yang artinya jenis gangguan ini, ikut mempengaruhi kondisi mental seseorang."
"Apa pasien tidak bisa lagi mengingat semua kejadian yang sudah lama berlalu Dok?"
Pertanyaan Anggun membuat Dokter menjadi tersenyum." Mungkin ini tidak begitu mempengaruhi kondisi pasien, saat ini pasien belum juga sadar, kita perlu waktu untuk memastikannya, sampai pasien sadar dari komanya !"
"Jadi maksud Dokter pasien Koma? sampai kapan?apa itu membahayakannya Dok?"
"Kamu jangan khawatir, semua pasti akan baik baik saja, yang penting operasi ini sudah berjalan dengan lancar,"
"Baiklah Dok, saya mengerti kalau begitu saya permisi " ucap Anggun pamit undur diri dan keluar dari ruangan Dokter ahli ini.
.
.
.
.
Selama tiga hari ini Anggun selalu saja rutin datang dan menjenguk pasien yang masih berbaring belum sadarkan diri di dalam ruang ICU dengan pengawasan ketat selama 24 jam dari para Dokter ahli.
Selama itu juga Fery selalu datang, dan juga menemani Anggun sepulang dari Kantor.
"Mbak Anggun, " teriak suster di ujung koridor rumah sakit yang memanggil nama Anggun.
"Iya ada apa suster?" tanya Anggun memperhatikan suster yang sedang panik.
"Itu Mbak, pasien dia sudah...
"Sudah apa suster ?" panik Anggun.
"Pasien Mbak dia sudah sadar dari satu jam yang lalu dan ingin bertemu dengan Mbak,"
"Sudah sadar? " tanya Anggun dengan mata yang berkaca kaca.
Apa yang harus dilakukan Anggun sekarang? Haruskah dia menghindar? atau Haruskah dia
menemui pasien ini?
"Anggun kamu sudah di tunggu pasien mu, " seru Rizky yang baru saja keluar dari salah satu ruang inap pasien .
"Jangan bilang sama , kalau aku yang sudah mendonorkan darahku ya,"
"Memangnya kenapa?" tanya Rizky penasaran.
Tiba tiba seorang suster datang dengan nafas yang tidak teratur.
"Pasien itu histeris dia minta dipertemukan dengan Anggun Dok," ucapnya.
Anggun menjadi panik dan jalan tergesagesa menuju ruangan pasien yang ingin bertemu dengannya, sampailah Anggun di depan pintu ruangan yang masih tertutup rapat.
Dengan berani Anggun membuka pintunya,
hal pertama yang ia lihat adalah wanita yang masih lengkap dengan memakai baju pasien
dan juga selang infus yang tersambung di tangannya .
Mata keduanya saling bertemu, dan saling memandang.
"Kenapa kau mendonorkan darahmu untukku,"
Wanita ini terlebih dulu membuka suaranya,
lama memandang Anggun yang masih berdiri di depan pintu.
"Anggun, " seru Rizky yang khawatir dengan keadaan yang tidak bersahabat.
"Keluarlah Ky, tinggalkan kami,"
"Tapi....
Blam......
Anggun begitu saja menutup pintu, dan berjalan mendekati ranjang pasien.
"Kau belum jawab, kenapa kau mendonorkan darahmu untukku, kenapa kau menolongku?"
"Aku....
"Seharusnya kau biarkan aku, bukankah ini kesempatanmu untuk kembali ke dalam pelukan Ariel lagi?"
Mendengar nama Ariel di sebut, membuat Anggun teringat permusuhan di antara keduanya yang sudah lama berlangsung.
"Jawab, kenapa kau mau menolongku?" suaranya sudah naik satu oktaf.
"Tenanglah Nyonya aku hanya....
"Panggil aku Tante ! " serunya dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Ak aku..." Anggun tidak dapat melanjutkan bicaranya karena Widia sudah memeluknya erat.
Iya....dia adalah Widia. Widia yang mengalami peristiwa naas dimana taksi yang ia tumpangi di tabrak dari belakang oleh truk pengangkut pasir, mengakibatkan Widia yang memang kala itu tidak memakai sabuk pengaman terlempar beberapa meter dari lokasi kejadian.
Saat harapannya sudah hilang, Widia melihat sosok Anggun, wanita yang pernah dia benci dan di fitnahnya datang sebagai malaikat penolongnya, hatinya semakin terpukul ketika mengetahui Anggun yang mendonorkan dan
meyelamatkan nyawanya.
Suami, anak laki laki yang ia banggakan, dan juga putri tercintanya memang sedang tidak ada di dalam negri, sedangkan Alisa tidak ada di sampingnya.
"Mafkan aku, maafkan aku Anggun,"sesal Widia di dalam pelukan Anggun.
Bersambung.....
sudah berada dalam mode galau🤦
Bakalan tamat ini cerita
Terimakasih sudah mendukung 🤗
jangan lupa mampir juga di
Cinta Raisa ( hahahaha ngarep😅)