Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
CINTA SUCI FERY#Rahasia Fery


"Mas kamu ngapain sih? mandi sana!" Anggun merasa risih karena sedari tadi Ariel terus menggurita di balik punggungnya, padahal ia baru saja berdiri untuk mengambil bedak tabur Aarick.


"Mas kangen sayang, Mas sengaja pulang lebih awal demi kalian berdua," Ariel semakin membenamkan wajahnya di cengkuk leher Anggun, membuat Anggun membulatkan mata.


"Iihhhh! kamu tuh kenapa sih Mas?" Anggun merasa gelagat Ariel aneh, seperti menahan sesuatu.


"Sayang, sampai kapan Mas menahannya?" Ariel semakin meraja lela, membuat Anggun tersenyum, bahaya ini sangat berbahaya, Anggun tidak menyangka suaminya ini selalu menghitung hari.


Anggun memutar badan, membuat keduanya saling berhadapan, dengan jail Anggun melingkarkan kedua tangannya di leher Ariel dan mengecup singkat bibir Ariel, membuat Ariel tersenyum.


"Kalau seperti ini, Mas bisa menjadi semakin gila sayang, kamu selalu menggoda...."


"Aku bukan wanita penggoda Mas," Anggun cemberut dan menepuk punggung Ariel, sejurus kemudian Ariel semakin menarik pinggang Anggun dan memeluk dengan posesif.


"Kamu menggoda hati dan imanku sayang, aku terus berusaha menahannya," Ariel mengecup mesra kening Anggun.


"Kamu cinta sama aku gak sih?" tanya Anggun.


"Pertanyaan bodoh dari mana itu hm? sudah pasti cinta sayang, apa kamu meragukan aku lagi?" selidik Ariel yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Kalau cinta, Mas harus bisa jaga jarak dari aku Mas, aku baru melahirkan loh, kita gak boleh seperti ini, nanti Mas keterusan...."


"Sampai kapan jaga jarak sayang?" Ariel cemberut seperti anak kecil.


"Sampai empat bulan," Anggun mengangkat empat jari dan tersenyum jahat.


"Empat bulan?" Ariel melirik tangan Anggun,"empat bulan itu waktu yang lama sayang, kamu jangan bercanda ya!" gila aja empat hari saja terasa seperti empat tahun, dan sekarang empat bulan yang benar dong! pikir Ariel.


"Katanya cinta! ini aja Mas udah protes. Cinta apa nafsu sih Mas?" Anggun menarik diri, namun tidak terlepas dari pelukan Ariel.


"Cinta dan nafsu beda tipis," Ariel menjawab dengan nada bercanda, sudah pasti cintalah pikirnya.


"Ya sudah jaga jarak selama empat bulan, ok!" Anggun mengerlingkan mata.


"Ini serius...?" lebih tepatnya ini gila.


"Hummm!"


"Sayang aku tau kam---


"Oeeee! Oeeee!"


Baby Aarick yang baru saja dibaringkan Anggun di atas ranjang mereka, kini menangis dan mengganggu diskusi kedua orang tuanya yang belum mencapai kesepakatan. Ariel yang sebelumnya sudah membersihkan diri dengan menggunakan hand tanilizer ini segera duduk di samping Anggun yang sudah lebih dulu memberikan Asi.


"Sayang ... jagoan Papa. Masih kecil saja kamu sudah menang, sudah berhasil merebut Mama dari Papa," jari Ariel membelai halus pipi Aarick,"cepat besar ya, biar Papa kasih kamu adik ya...."


"Mas, kamu cinta gak sih? sudah sana mandi!" Anggun tidak terima.


"Kenapa Mas merasa diasingkan ya? iya Mas cinta sayang, ya sudah Papa mandi ya pangeran," Ariel menjawab pasrah jika sang Nyonya sudah mengeluarkan titahnya.


"Istriku semakin cantik," Ariel mengecup pipi Anggun sebelum bersiul menuju kamar mandi, membuat Anggun tersenyum karena berhasil mengerjai suaminya yang semakin mesum.


****


"Jadi cintaku ditolak lagi nih?" sudah hampir setengah jam Dika dan Suci duduk di teras rumah Ariel.


"Kamu mulai lagi ya, aku'kan udah bilang kita cukup temenan aja, aku lebih nyaman yang seperti ini," Suci duduk dengan gelisah.


Dika menggenggam erat tangan Suci, dan memelas agar Suci mempertimbangkan keputusannya yang masih belum berubah.


"Ci ... aku masih setia sampai kamu merubah keputusanmu. Kamu tau gimana perasaanku aku sayang sama kamu Ci..."


Suci berusaha menarik tangannya, entah kenapa perasaannya menjadi semakin gelisah, tapi Dika semakin mengeratkan genggamannya dan membawa tangan Suci tepat didadanya.


"Suci, kasih aku satu kesempatan, satu kali saja biar aku buktikan kalau aku layak jadi kekasihmu!" Dika masih terus berusaha.


Tin....tin....tin...


"Dika le-lepasin tanganku!" Suci menarik tangannya, tapi Dika masih enggan melepasnya.


"Gak, bilang kalau kamu menerima cintaku, kalau gak, aku gak mau melepaskan tanganmu," jawab Dika tanpa sadar kalau Fery sudah semakin mendekat.


Fery terus mencoba untuk mengendalikan emosinya, ia berusaha mengingat semua yang diperintahkan Maya, hati kecilnya takut kehilangan Suci, tapi satu sisi Fery takut Suci yang akan mengkhianatinya kelak, seperti mantan kekasihnya ketika SMA dan juga Anggun. Tidak ada seorangpun yang tau tentang perasaannya.


Fery berhenti tepat di samping Suci yang sudah lebih dulu berdiri, sementara Dika berdiri disamping Suci dengan masih memegang tangannya.


"Lepaskan tangannya!" Fery melirik jari jemari yang masih menyatu dengan wajah yang datar.


"Pa-paman," Dika menjadi pucat pasih, tidak setenang sebelumnya, cepat-cepat ia melepas tangan Suci.


"Masuk!" perintahnya kepada Suci.


Suci menelan ludah, karena melihat wajah Fery yang tidak seperti biasa, tanpa berani membantah Suci menunduk dan masuk ke dalam rumah.


"Jangan berani datang ke rumah ini lagi!" Fery bicara sembari menekan kuat bahu Dika sampai anak itu meringis, tanpa mendengar jawaban Dika Fery masuk dan menutup pintu secara kasar.


"Ada yang tidak beres," gumam Dika seraya memegang bahunya, dengan cepat Dika menuju motornya.


*****


"Dari mana aja kamu?" tanya Fery saat Suci baru saja menutup pintu lemari pendingin.


"Gak ada, dari Restoran tadi langsung pulang ke rumah," jawab Suci kemudian ia menenggak setengah air dingin dari gelas yang dipegangnya.


Fery memasang wajah tanpa ekspresi sembari merekam permukaan wajah Suci yang putih tanpa noda, Suci yang menyadari itu menjadi salah tingkah.


"Suci ke kamar du--


"Jauhi dia!" Fery menekankan suaranya.


"Mak-maksud Kakak Dika?" tanya Suci terbata.


"Hmmm,"


" Kenapa? kenapa aku harus jauhi Dika?"


"Dia bukan laki-laki yang baik," Fery melangkah semakin mendekati Suci sampai punggung suci menyandar di lemari pendingin.


"Ap-apa sih Kak?" Suci menekan dada Fery memberi jarak diantara mereka.


"Suci ... lihat aku!" ucapnya dalam.


Suci masih menunduk, ia semakin tidak mengerti dengan sikap Fery yang semakin tidak bisa ditebak.


Perlahan Fery mengangkat dagu Suci sampai gadis yang patah hati ni mendongak melihatnya. Rasanya Fery ingin menjadikan gadis kecil ini miliknya, namun trauma itu masih ada, membuatnya memiliki kelainan sendiri, dan menyimpan rahasia ini sendiri, mereka yang tidak merasakannya tentu tidak tau betapa susahnya menghilangkan trauma yang sudah hampir mendarah daging di tubuhnya.


Sebagai laki-laki dewasa, Fery tertarik dengan bibir merah bak buah chery milik Suci, apa lagi jari jempolnya sempat menyentuh bibir ranum ini, Fery terus memandangi objek yang sudah menarik perhatiannya.


Mungkinkah benar yang dikatakan Maya sahabat sekaligus Psikiaternya kalau Suci bisa menghilangkan traumanya?


"Kak ..." lirih Suci


Fery menutup bibir Suci dengan jari telunjuknya, kemudian ia semakin menunduk dan mendekatkan wajahnya.


Terima kasih sudah mendukung


Sambil Menunggu yuk baca novel menarik lainnya.Novel yang seru juga loh🤗



Terima kasih votenya kak🤗