Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Sayang, kamu ada di mana?


Seorang pemuda baru saja keluar dari mobil, ia berjalan secara perlahan dengan terus membidik objek yang menarik perhatiannya, instingnya sebagai seorang fotografer terus membawanya semakin dalam menyusuri taman, apa lagi cuaca di pagi hari ini semakin menambah semangatnya, pemuda berkaos hitam ini tidak sengaja mengambil gambar taxi yang tampak terus berputar di sekitar taman, bahkan ini sudah yang ke empat kali taxi yang sama melintasinya.


Yogi yang tak lain sahabat lama Fery, saat ini sudah menjadi seorang fotografer handal dan baru saja keluar dari bandara, ini untuk yang pertama kali ia menginjakkan kaki di tanah air setelah enam bulan mengibarkan sayapnya di luar negri. Yogi sengaja singgah ke kota ini untuk melihat pameran foto yang diselenggarakan tidak jauh dari taman kota ini.


Saat ini Yogi sudah berada diatas pohon, dengan terus memutar dan mengatur lensa cameranya, dari jauh ia melihat taxi yang sama berhenti dan disusul seorang gadis yang keluar dari pintu belakang, " cantik sekali dia," tanpa membuang waktu Yogi mengambil foto Suci secara diam-diam, senyumnya semakin merekah mana kala melihat Suci mendekat dan duduk tepat di bawah pohon yang sama dengannya.


Yogi sudah hampir membuka suara, namun saat mendengar Suci berteriak dan mulai menangis Yogi mengurungkan niatnya, ia tetap diam membiarkan gadis ini tetap tidak menyadari kehadirannya agar lebih leluasa mengeluarkan semua perasaannya.


"Sepertinya dia sedang putus cinta, siapa yang sudah menyakiti gadis secantik ini?" Yogi masih bertahan di tempatnya, dan turun secara perlahan saat melihat Suci memukul-mukul kecil kepalanya.


****


Saat ini Suci masih menatapnya dengan rasa takut ," jangan khawatir, aku bukan orang jahat ," ucapnya seraya melepaskan tangan Suci dan ikut duduk berselonjor kaki beralaskan rumput hijau yang memenuhi taman.


"Aku gak butuh itu," Suci menghapus air mata dengan telapak tangannya, membuat Yogi kembali menggenggam erat sapu tangan miliknya, sesaat suasana menjadi hening keduanya menatap lurus pada bunga-bunga yang bermekaran.


"Gadis secantik kamu, tidak pantas menangisi laki-laki yang tidak bisa menghargai wanita secantik kamu, " akhirnya Yogi bicara dan Suci menoleh melihatnya ," jangan buang waktumu untuk itu," ucapnya lagi.


"Jangan sok tau, " Suci menjawabnya dengan sinis, ia sudah mulai berdiri tapi Yogi menarik tangannya membuat Suci kembali duduk.


"Jangan pergi disaat pikiranmu sedang kacau , tuangkan semua kekesalanmu, anggap saja aku tidak ada di sini, " Yogi menutup kedua telinganya, membuat Suci semakin jengah, "maaf ... maaf karena aku sudah mendengar semuanya tadi," yogi bicara tanpa merasa bersalah.


Suci berdecak sebal, "jangan sok akrab dan jangan banyak bicara, kita tidak sedekat itu," ucapnya sembari membulatkan matanya, tapi Yogi menanggapinya dengan senyuman.


"Kalau gitu kenalkan nam---


"Aku gak mau tahu siapa namamu," Suci memotong ucapan Yogi, padahal Yogi sudah mengulurkan tangan untuk mengajaknya kenalan.


"Tapi aku harus tahu siapa namamu," Yogi mengangkat cameranya ," jangan takut, aku ini seorang fotografer, jujur aku tertarik dengan penampilan dan kepribadianmu, siapa tahu kamu ma--


"Aku sudah bilang, kalau kita gak sedekat itu ! kenapa sih gak ngerti juga hah!" teriak Suci dengan wajah yang sudah memerah, Yogi tercekat saat melihat ada air mata di kelopak mata Suci.


"Menangislah, kalau mau menangis ! keluarkan semua amarahmu, jangan ditahan di dalam hati, karena itu bisa menyesakkan dadamu, berjanji pada dirimu sendiri kalau ini untuk yang terakhir kali kamu menangisi dia!"


"Kenapa rasanya sesakit ini? kenapa dia jahat? kenapa dia tega? kenapa?? kenapa cuma aku yang mencintai dia? sementara dia cuma berpura-pura mencintai aku? kenapa? kenapa??? Apa salahku huhuhu!" Suci sudah mulai menagis dan berteriak keras sampai perasaannya merasa lebih lega, ia menghapus air mata dengan sapu tangan yang diletakkan Yogi di tangannya.


"Terima kasih..." lirih Suci saat sudah merasa lebih tenang.


*****


Fery melirik alrojinya yang menunjukan jam delapan lewat tiga puluh menit saat dirinya sampai di depan pintu kamar Suci, tidak terasa sudah hampir satu jam Fery berbincang dengan Maya, saat ini hati dan perasaannya benar-benar lega karena merasa beban beratnya sudah terlepas dari pikirannya.


Tok...Tok...Tok....


Fery masih saja mengetuk pintu kamar Suci, namun belum ada tanda-tanda kehadiran gadis itu di sana, " apa dia masih tidur?" gumam Fery yang kembali lagi mengetuk pintu kamar Suci.


"Maaf Pak, makanan ini mau dibawa ke mana?" seorang petugas hotel datang dengan membawa troli berisikan makanan yang tadi di pesannya.


"Berikan, biar saya saja yang membawa ke dalam," Fery mengambil alih dan pelayan itu memutar badan, " tunggu sebentar " Fery mencegah pelayan itu pergi sampai kembali melihatnya , " boleh saya minta kunci duplikat kamar ini? saya kehilangan kuncinya," pinta Fery dan pelayan itu sigap untuk mengambil kunci duplikatnya.


Beberapa menit kemudian, Fery berhasil membuka pintu kamar Suci menggunakan kunci duplikat, bola matanya mengekori setiap sudut ruangan, namun Fery tidak menemukan Suci di manapun, bahkan sampai ke dalam kamar mandi juga sudah di carinya dan hasilnya tetap sama.


"Ada di mana dia?" Fery menjadi gelisah, ia mencoba untuk menghubungi ponsel Suci, "Ck kenapa ponselnya ada di sini?" Fery semakin cemas saat mendapati ponsel Suci terselip di bawah bantal.


Tanpa pikir panjang, Fery keluar dan tergesa-gesa masuk ke dalam lift, tidak butuh waktu lama Fery ke luar dari hotel menuju mobilnya, dengan perasaan gelisah ia mulai melajukan mobilnya.


"Sayang, kamu ada di mana? " Fery melintasi jalan raya sembari melirik kanan kiri berharap menemukan sosok Suci, " kamu gak kenal kota ini, tapi kenapa kamu pergi sendiri?" Fery kesal dan memukul strir mobil dan terus menambah kecepatannya.


"Bodoh, kenapa aku gak cek CCTV hotel itu?" Fery semakin resah.


****


"Ayo Bidadari, aku akan mengajakmu ke tempat yang bisa membuatmu happy !" ajak Yogi saat keduanya baru keluar dari sebuah warteg yang ada di pinggir jalan.


"Aku bukan Bidadari...."


"Siapa suruh kamu gak mau sebutkan namamu, jadi jangan marah kalau aku manggil Bidadari ya, mulai hari ini kamu menjadi Bidadari di hatiku," ucapnya mengerlingkan mata, dan mendapatkan cubitan di lengannya sampai ia meringis.


"Awalnya aku ragu kamu ajak ke sini, dan sekarang kamu mau ajak aku ke tempat lain? kamu punya niat jahat ya? kita kan gak saling kenal?"


"Kamu yang bilang sendiri kalau kamu gak mau tau siapa namaku, jadi sekarang terserah kamu mau manggil aku apa, tapi kamu harus yakin, kalau aku gak punya niat jahat sedikitpun," Yogi membuka pintu mobilnya ," ayo masuk ! masih belum percaya juga?"


Suci masih diam dan berpikir, " ya sudah aku ikut," Suci menjawab dengan pasti dan masuk ke dalam mobil Yogi, dengan penuh semangat Yogi mengitari mobil dan siap menjalankannya, ia akan membawa Suci ke tempat yang sudah menjadi dunianya.