
Acara pengajian usai, kini semua orang yang ada di dalam rumah tempat pengajian berlangsung, sudah keluar menuju taman rumah. Sedangkan Anggun mengganti pakaian di dalam kamar. Ariel tidak berhenti mengecup wajah Anggun dengan perasaan bahagia sekaligus haru, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Kamu sangat cantik apa lagi memakai kerudung, terima kasih untuk semua kebahagiaan ini, terima kasih untuk kesempatan ini, terima kasih karena kamu sudah mewujudkan impianku dengan mengandung benihku dan menjaga anak kita yang ada di dalam sini," ucap Ariel mengelus lembut perut buncit Anggun.
"Iya...terima kasih juga sudah menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab," ucap Anggun tersenyum.
Ariel berlutut sehingga membuat wajahnya setara dengan perut buncit Anggun. Ariel mengecup dan mengajak bayi nya bicara.
"Papa janji, akan selamanya melindungi dan membahagiakan Mama dan adek ya, nanti kalau adek lahir, jangan buat Mama nangis ya, kasian Mama sudah sering membuang air mata karena ulah Papa dulu," sesal Ariel, sepertinya kelak anaknya lahir kedunia akan disambut curhatan dari Papa yang posesif ini.
"Gimana ya reaksi anaknya kalau tahu Papa nya posesif?" Anggun tersenyum saat Ariel melihatnya. Kemudian Ariel berdiri.
"Mas gak posesif yank. Mas seperti ini karena cinta," ucapnya dan lagi mencium bibir Anggun.
Tok...tok...tok...
Pintu kamar diketuk dari luar.
"Kak Ariel acaranya mau dilanjutkan gak? lama banget di dalam kamar, ngapain sih ?" teriak Airin.
"Iya sebentar, gak usah teriak! berisik!" kesal Ariel.
Hening tidak ada jawaban dari Airin, sepertinya adiknya itu sudah pergi. Kini Ariel menggandeng Anggun keluar kamar, Anggun sudah memakai kain batik yang dililit di bagian dada, kini mereka menuju taman untuk kembali melanjutkan acara.
Ariel dan Anggun sungkeman kepada Orangtua mereka, Mama Widia duduk berdampingan dengan Papa Erlangga. Bibi dan Paman Orangtua Suci juga hadir disana, sedangkan Mama Farida duduk di samping Fery. Semua yang ada menitikan air mata, terlebih lagi mengingat kisah cinta Aril dan Anggun yang sempat terpisah.
"Terima kasih sayang, terima kasih untuk kebahagiaan ini," bisik Mama Widia di telinga Anggun saat ia memeluk erat menantunya.
Acara kembali dilanjutkan, Ariel mencampur air dari 7 sumber mata air dan mencampur sengan bunga setaman. Kemudian siraman dimulai dimana 7 orang tua mulai mengguyur dari atas kepala Anggun, dimulai dari Papa Erlangga, Mama Widia, Bibi dan Paman, juga Mama Farida dan kerabat yang lain.
Lalu dilanjutkan dengan memecah kendi dan membelah kelapa, semua orang sangat antusias dengan bagian ini, karena konon katanya saat Ariel membelah kelapa itu kalau airnya muncrat maka bayi yang dikandung Anggun adalah laki-laki, kalau air kelapa merembes maka anak mereka perempuan. Ariel sudah siap dengan benda tajam ditangannya, ia menghargai adat leluhur meskipun ia menerima apapun jenis kelamin anaknya nanti.( Percaya tidak percaya ini hanya adat yang patut kita hargai)
"Alhamdulillah..." Semua serempak saat Ariel membelah kelap.
Ariel mengepalkan kedua tangannya keudara, seakan mengatakan"yes" senyumnya merekah menampakan deretan giginya yang putih saat melihat air keluar dari tempurungnya. Sedangkan Anggun tersenyum melihat tingkah suaminya.
Acara kembali di lanjutkan, kali ini Anggun kembali berganti pakaian sebanyak tujuh kali mencari yang paling pantas untuknya. Sampailah pada pilihan yang terakhir.
Sedangkan Ariel mencicipi makanan khas nujubulan atau mitoni ini, makanan ini bisa dimakan disini atau juga dibawa pulang kerabat.
"Pantes..." ucap semua orang.
Lalu dibagian perut Anggun dililitkan janur kuning dan Ariel menggunting dan membawanya lari secepat dan sejauh mungkin, yang konon katanya akan memperlancar jalan lahir si bayi.
Lalu dilanjutkan dengan dua buah kelapa yang dimasukan atau dibuat menerobos dari balik kain yang dipakai Anggun,dan ditampung oleh kedua nenek yaitu Widia dan Farida.
Setelah Anggun berganti pakaian kini kedua calon Orangtua ini menjajahkan cendol dan rujak ke semua orang yang ada di acara itu. Dan acara pun usai dengan ucapan terima kasih dari Ariel.
*******
Hari ini Ariel menani Anggun ke rumah sakit untuk mengontrol kandungan Anggun. Sekaligus melihat jenis kelamin anak pertama mereka.
"Mau anak laki-laki atau perempuan?" tanya Anggun.
Di ruangan Dokter.
"Pak Ariel...mau anak laki-laki atau perempuan?" tanya Dokter yang sedang mengoleskan jel di perut Anggun.
"Apa aja Dok, yang penting anak saya sehat," jawab Ariel.
"Baik kita lihat ya, dari saluran air ketubannya sudah terlihat jelas kalau bayi Pak Ariel tumbuh sehat, berat badannya cukup, sesuai dengan usia kandungan Ibu Anggun ya," Dokter mulai melakukan tugasnya.
Ariel terlihat puas mendengar penjelasan Dokter, ia antusias melihat gambaran mahkluk kecil yang ada di perut Anggun.
"Coba lihat...iya kita lihat ya, ini adalah prostat yang sudah terbentuk dan sudah bisa di pastikan kalau anak Pak Ariel berjenis kelamin laki-laki," ucap Dokter.
Mendadak Ariel susah menelan salivanya sendiri.
"La-lak-laki-laki Dok...? anak saya laki-laki?" tanya Ariel hampir tidak percaya.
"Benar jenis kelaminnya laki-laki dan tumbuh dengan sehat, saya pastikan sampai nanti waktu persalinan tiba Ibu Anggun tidak akan mengalami masalah,"
"Sayang...benih unggulku tumbuh subur," ucap Ariel mencium kening Anggun.
"Kam-kamu apa'an sih?" pipi Anggun bersemu merah, sedangkan Dokter sudah ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan pasiennya.
******
"Ayo Baby Boy, kita belanja ! ! !" Ariel antusias mengajak Anggun ke Baby shop untuk membeli perlengkapan Baby boy yang masih di dalam perut.
Tidak perduli sudah berapa pakaian bayi yang dibelinya, tidak perduli orang suruhannya sudah kuwalahan menenteng belanjaannya, Ariel terus saja antusias dengan hobi barunya.
"Ayok sayang dipilih kamu mau yang mana?" Ariel membawa Anggun ke toko perhiasan.
"Gak mau, yang dirumah masih ada, kamu juga kan tau kalau aku gak suka pakai perhiasan," tolak Ariel.
"Pilih satu atau dua, atau kamu mau semuanya?"
"Gak...aku mau ini aja," terpaksa menunjuk satu set perhiasan.
"Ok, siapkan untuk istriku!" perintahnya kepada pemilik toko perhiasan yang sudah menjadi langganan mamanya, sehingga pemilik toko sendiri yang melayani mereka.
Setelah puas belanja Ariel mengajak Anggun ke suatu tempat yang pernah menjadi saksi bisu kisah cinta mereka. Sepanjang perjalanan Ariel menutup mata Anggun dengan kain merah. Dan membantu Anggun keluar dari mobil.
"Sampai kapan mataku ditutup seperti ini? Mas bawa aku kemana ?" tanya Anggun penasaran.
"Sabar sayang...ok berhenti disini ya," Ariel membuka kain penutup mata Anggun.
"Satu...dua...tiga." Anggun membuka mata...
*******
Terima kasih sudah jadi pembaca setia Mantan Tercinta ya🤗
Kritik dan saran dipersilahkan