
"ini tidak mungkin" Tangan Claudya masih bergetar memegang map coklat itu dan terus membacanya.
"Apa nya yang tidak mungkin? kau bisa membaca kan?"
"Tante sengaja memanfaat kan aku?"
pandangan Claudya masih tajam menatap map yang ada di pangkuan nya, dia terus saja membaca dan membolak balikan halaman per halaman.
"Kau tidak sepenting itu sampai aku harus memanfaat kan mu!" menatap tajam Claudya.
"Tapi aku sudah melakukan sampai sejauh ini?"
Claudya membalas tatapan mata Widia.
"lalu apa mau mu ?"
"Aku mau Ariel, Tante sudah janji akan menjadi kan aku menantu di rumah ini, dan aku sudah memisahkan mereka"
"Hahahhah yang kau ingin kan hartanya bukan cintanya, kau masih mau berdebat soal ini?"
"Aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada Anggun"
"Katakan lah, lakukan semaumu. Kau harus ingat aku masih mengampuni keluarga mu itu"
"Aku ....
"Kau pikir dari mana kemewahan yang kalian nikmati? papa mu itu hanyalah karyawan biasa di perusahaan ku, beraninya dia menggelapkan uang perusahaan"
"Tapi ini tidak ada hubungannya dengan ku"
"itu bukan urusan ku, kalau kau berani membuka mulut mu, aku akan menghancurkan keluarga mu"
"jangan, jangan lakukan itu, aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya."
"baiklah keputusan ada di tangan mu, pikirkan baik baik tindakan mu nanti dan silahkan keluar dari rumah ini, kau tau kan jalan keluar nya"
setelah mengatakan itu Widia langsung berjalan perlahan menaiki satu per satu anak tangga meninggal kan Claudya yang melihatnya dengan geram, dia meremas map yang ada di tangannya dan melemparnya begitu saja.
"Pantas saja anak nya seperti singa, ternyata ibu nya betina yang mengerikan!"
Claudya menghentakkan kaki nya dengan kesal dan keluar dari rumah mewah itu, semua yang sudah dia lakukan berakhir sia sia, harapan nya untuk menjadi menantu di rumah ini hilang begitu saja, hanya karena papanya menggelapkan uang perusahaan keluarga Ariel.
"Aku tidak mungkin hidup dalam kesusahan"
Claudya pulang dengan membawa semua rasa kecewanya.
*******
Sementara di bagian bumi yang lain, di salah satu Negara Adikuasa ini, seorang pemuda tampan masih mencoba berdamai dengan hatinya. Selama satu minggu Ini dia mengurung diri di dalam apartemen nya yang berada gedung tertinggi di kota besar itu.
Dari sini dia bisa melihat bangunan lain dari kamar nya yang berlapis kan kaca transparan itu.Tapi dia lebih memilih berbaring di atas ranjang yang berukuran besar ini. Dia melihat langit langit kamar nya yang hanya di hiasi beberapa lampu di sana.
Biasanya foto Anggun yang menghiasi kamar tidur nya, foto yang di lihatnya sebelum dan setelah bangun tidur, Foto yang memberikan semangat untuk nya. Sekarang semua itu sudah hilang, perlahan dia duduk dan menapak kan kaki nya di lantai.
"Aku kalah anggun, aku aku kalah"
Di angkatnya tangannya, di lihat nya cincin yang melingkar di jarinya, perlahan dia memutar mutar cincin itu. Kata kata Anggun beberapa bulan yang lalu masih terdengar jelas di telinganya.
(kalau aku kangen sama kamu, aku pasti liatin cincin ini terus)
"Apa kau merindukan aku Anggun?"
"Apa kau mengingat aku sayang?"
(Kalau kangen tinggal bilang, aku pasti langsung nemuin kamu")
"Jangan Anggun, jangan pernah merindukan aku, aku tidak akan pernah datang lagi"
"untuk apa kau memakai kan cincin ini dulu? apa sebagai tanda penghianatan mu?"
"Aku kalah Anggun, aku merindukan mu hiks"
"Biar kan aku merindukan mu kali ini hiks, biar kan aku mencintai mu untuk kali ini !"
Ariel mencium cincin yang ada di jari nya, perlahan dia bangkit dan
Tar....
semua yang ada di dekat nya jadi sasaran amarah nya, Ariel masih sering saja marah.
"Untuk yang terakhir Anggun, biarkan aku merindukan mu". Tar..dia masih saja marah.
"Untuk yang terakhir Anggun, biarkan aku mengingat mu" Tar...dia masih menyebut nama mantan kekasih nya.
"Untuk yang terakhir Anggun, biarkan aku mencintai mu" Tar...dia masih mengaku mencintai mantan nya.
"Ini untuk yang terakhir Anggun biar kan aku mengatakan aku ,aku hiks
"Anggun aku mencintaimu" Dia masih mengungkap kan isi hatinya.
prank ....prank....prank
Ariel menggila untuk yang terakhir kali, ya berharap untuk yang terakhir kali, melupakan semua kenangan indah nya bersama Anggun.
Sementara itu di luar kamar, tepat dibalik pintunya ada dua manusia memasang dan menempelkan daun telinga nya berharap mendengar apa yang di katakan teman nya di dalam. Mereka masih setia menemani Ariel yang sedang patah hati.
"Luar biasa si kecil itu, entah sihir apa yang di pakai nya untuk Ariel" kata Endi berbisik di hadapan Yusri.
"Si kecil siapa?" suara Yusri nyaris tak terdengar.
"Mantan tercinta nya itu"
" ya belum pernah dia menggila, kita tau seperti apa sifat Ariel, aku khawatir dia tidak bisa melupakan mantan tercinta nya itu"
ceklek.......
"apa?" Kata orang yang baru membuka pintu dari dalam.
"Apa? kau mau memarahi ku lagi Riel?"
Tanya Endi melihat Ariel yang berdiri didepan pintu dengan penampilan yang berantakan.
Bukannya menjawab perlahan Ariel jalan melewati kedua sahabat nya ini dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Sementara Endi dan Yusri masih mematung di depan pintu yang sudah tertutup.
"Kalian sudah makan?" tanya Ariel
"sudah" kompak menjawab
"kenapa berdiri disitu? kemari lah aku punya rencana ! "semangat Ariel
Dengan ragu kedua orang ini mendekat dan duduk di ke dua sisi Ariel.
" Dengar kan aku, kau lihat ini?" kata Ariel menunjukan sesuatu yang ada di tangannya.
"ya kenapa?" tanya Endi yang penasaran.
" Aku rasa tempat ini, tempat yang cocok untuk ku, kita akan sering datang ke tempat itu nanti ! " Ariel bicara serius sambil bergantian menatap Endi dan Yusri.
"Apa kau gila?" kata Yusri yang tidak suka dengan rencana Ariel.
"Ayo lah !, apa kalian takut ?"
"Jangan gila Riel, kita sudah pernah mencobanya dulu, dan aku tidak mau lagi !"
"Kalau kau tidak mau, biar aku dan Endi yang akan pergi !"
Ariel mengapitkan tangan nya di leher Endi,
"kau mau ikut aku kan?"
''ia ia aku aku ikut, lepas Riel !"
" Baik lah aku harus bersiap banyak yang sudah menunggu ku"
Ariel berjalan sambil tersenyum dia juga bersiul dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Aku takut dia menjadi gila karena ini !"
Kata Yusri.
"Biar kan saja aku suka dia yang seperti ini, baik lah aku juga harus bersiap kan? "
"kenapa jadi gila seperti ini?"
Yusri benar benar menjadi ragu untuk kembali menemani Ariel datang ke tempat itu.