
❤️Terima kasih untuk dukungannya❤️
Like
komen
Rate
Vote
Anggun terus melayangkan tatapan tajam. Ternyata Ariel masih saja menganggapnya sebagai perempuan murahan. Anggun diam seribu bahasa dia tidak berniat membantah ucapan Ariel, karena kenyataanya lima tahun yang lalu, Anggun memang sudah dinodai oleh pria asing.
"Seharusnya kau cari tahu kebenarannya dahulu sebelum terus terusan menuduh ku " Anggun cuma bisa membatin menahan sakit hatinya, dan juga menahan air matanya.
"Kenapa kau diam? mana suara lantang mu itu?" Ariel semakin mendekatkan wajahnya .
Sementara Anggun terus menolehkan kepalanya, dia malas untuk menatap Ariel.
"Kau mau tau berapa banyak pria yang sudah mencium ku?" Suara Anggun bergetar dia mencoba untuk melawan pria keras kepala ini.
"Katakan " Kata Ariel yang terus mengamati wajah Anggun. " Katakan berapa pria yang sudah mencium bibir mu ini ? " Suara Ariel pun bergetar, dia tidak suka dengan jawaban yang diberikan Anggun.
"Banyak, sudah banyak pria yang mencium ku" Jawab Anggun bohong.
Jawaban Anggun membuat perasaan Ariel semakin panas, marah, lalu dia melepaskan tangan Anggun, denagn cepat tangan kirinya menarik pinggang Anggun, sementara tangan kanannya mencekal kuat kedua pipi Anggun, sampai Anggun mendongak melihatnya.
"Katakan sekali lagi, sudah berapa pria yang mencium mu?"
Anggun bisa melihat dengan jelas wajah Ariel yang memerah , tiba tiba nyalinya hilang begitu saja . Anggun merasa takut dengan perlakuan Ariel .
" Lepas itu bukan urusan mu" Kata Anggun sambil mencoba menjauhkan Ariel, tapi Ariel semakin menarik pinggangnya, hingga tidak ada jarak lagi diantara mereka.
"Ternyata kau belum berubah ya? lima tahun ini tidak menghentikan mu dari pergaulan bebas yang dulu kau lakukan , katakan berapa mereka membayar mu...?"
"Kau sudah cukup menghina ku , apa pun yang akan Aku lakukan, itu bukan urusan mu, Jangan ganggu aku "
"Menghina kata mu..? aku menghina mu? kau sendiri yang membuat mu terhina "
"Cukup Ariel , aku tidak pernah sekali pun ci...
"Manda....!"
Suara Alisa membuat keduanya terdiam, bahkan mereka bisa mendengar jelas langkah kaki Alisa yang semakin berjalan mendekat . Untunglah ada dinding yang memisahkan , sampai Alisa tidak melihat Ariel dan Anggun yang sembunyi dibalik dinding.
"Manda...dimana sih? disini juga gak ada " Keluhnya , Alisa berdiri memperhatikan wajahnya di wastafel dia tampak menambahkan sedikit polesan makeup diwajahnya.
Sementara Anggun dan Ariel masih berdiri ditempat semula. Ariel sudah melepaskan tangannya dari pipi Anggun, " Lepas " kata Anggun dengan suara yang pelan, menyuruh Ariel menjauhkan tangannya yang masih merangkul pinggang Anggun.
"Diam " Ariel lebih memelankan suaranya, tapi semakin merangkul erat pinggang Anggun.
"Ariel kau....
"Kau mau Alisa tau kalau kita disini?" Kata Ariel yang sudah menutup mulut Anggun dengan telapak tangannya. Anggun cuma bisa menggelengkan kepala.
Ariel pun terdiam, jarak mereka semakin dekat. Jantung keduanya pun berdetak lebih cepat, mereka menjadi salah tingkah. Api yang tadi membara di hati kedua manusia ini , kini sudah padam, hilang begitu saja, seperti ada bongkahan es balok yang menyiramnya.
Ariel dapat dengan jelas memandang wajah wanita yang dulu dia cintai, dia masih saja mengenali aroma harum dari tubuh Anggun.
Getaran itu datang lagi, Ariel seperti seorang yang mendamba pelukan hangat dari wanita ini.
Senyum jail muncul diwajahnya. Ariel menghembuskan pelan nafasnya di wajah Anggun, membuat Anggun membulatkan matanya. Bukannya takut Ariel malah terus melakukanya, sampai Anggun merasa sedikit geli. Ariel terkekeh melihat wajah Anggun yang menggemaskan.
"Kau suka kan ?" Kata Ariel sambil terus tersenyum. Kemudian dia meniupkan lagi nafasnya di leher Anggun, membuat Anggun menggerakkan kepalanya karena geli. Anggun juga mendengar jelas suara cekikikan Ariel.
Ariel terus melakukanya berulang kali sampai.
"Akhhh Anggun aww..." Suara lantang Ariel terdengar jelas. Dia merasakan sedikit sakit di kakinya. Untunglah Alisa sudah keluar dari tadi.
"Kau tega Anggun" Kata Ariel sambil mengingat satu kakinya menumpu dengan tangannya. " Sakit sekali" Katanya pura pura.
"Gitu saja sakit dasar payah "
"Hei lihat bagian yang runcing itu, mengenai jari jari kaki ku , kau pikir ini tidak sakit huh" kata Ariel sambil menunjuk high heels yang dipakai Anggun.
"Coba sini aku lihat "
"Sini kau yang mendekat"
"Kau yang kesini "
"Anggun, ini rasanya sakit sekali"
"Kenapa kau jadi manja seperti ini sih? mana sikap garang dan keras kepalamu tadi huh?"
"Sudah lah kau memang tidak mau tanggung jawab kan? kau memang gak pernah perduli padaku kan?" Kata Ariel sambil memasang wajah yang cemberut.
Anggun menarik nafasnya dalam, dia terus berdiri memperhatikan Ariel yang masih kesakitan. " Ya sudah sini aku lihat " Katanya sambil berjalan mendekati Ariel. "Mana yang sakit" Katanya lagi.
" ini yang sakit " Kata Ariel mengangkat satu kaki menunjukan pada Anggun yang sudah berdiri didepannya.
Kening Anggun mengkerut dia terheran dengan tingkah Ariel " Bukan sebelah sini yang ku injak tadi kan? kenapa jadi ini yang sakit?" Katanya.
"Eh aku yang merasakannya, jadi yang ini yang sakit " Kata Ariel tidak mau kalah.
"Aku menginjak kaki mu yang sebelah kanan bukan sebelah kiri"
"Kau mau lihat tidak? kau pikir aku bohong? hei Anggun , kapan aku pernah bohong hah?"
" Hei Ariel, Kau itu memang pembohong besar , sekarang juga kau pasti bohong kan? kaki mu tidak sakit kan?"
"Hei Anggun, kalau aku bilang sakit, ya sakit sudah sini cepat lihat, jadi lihat tidak sih?"
"Ya sudah kulihat" Ketus Anggun
"Seharusnya dari tadi tidak perlu berdebat, ini semakin sakit, kau bisa lihat kan?"
"Gimana aku mau lihat? sepatu mu itu, menutupi jari jari kaki mu"
"Buka lah, biar kau bisa melihatnya"
"Tidak mau, kau saja yang buka , itukan milik mu"
"Milik ku, tapi kau yang membuatnya sakit seperti ini, kau benar benar tega, jadi lihat tidak sih ha? kenapa kau cuma berdiri disitu?"
"Yasudah lah sini, biar aku yang buka" Kata Anggun pasrah.
"Yes aku yang menang, hei Anggun jangan coba coba melawan ku" Batin Ariel sambil berusaha menahan senyumnya.
Tanpa mereka sadari ada orang lain yang mendengar pertengkaran kecil mereka dibalik tembok bisu itu. Parahnya mereka mendengar cuma sebagian saja.
"Apa yang kalian lakukan?" Kata orang ini murka melihat Ariel yang seorang pria ada di dalam toilet wanita.
Anggun kembali bangkit, dia tidak jadi membuka sepatu Ariel.
"Kalian mau berbuat yang tidak tidak ya?" Kata orang yang lain lagi.
" Tidak Bu..Bukan seperti itu?" Anggun mulai panik, sedangkan Ariel bersikap santai.
"Kami dengar semua yang kalian bicarakan tadi, milik ku, milik mu, kau yang buka, kau yang buka, ha kami dengar semua tadi, kalian masih mau mengelak ya?"
"Memangnya kenapa? Dia ini Istriku" Kata Ariel sambil merangkul Anggun.
Bersambung......