
Ada yang berbeda di lapangan luas yang letaknya tidak jauh dari jalan raya di mana berbagai jenis kendaraan ramai melintasinya, hari ini lapangan hijau nan asri dengan di kelilingi beberapa pohon rindang ini, disulap menjadi tempat berlangsungnya acara pameran foto dengan tema bebas, banyak fotografer dari berbagai daerah datang ke kota ini hanya untuk memamerkan hasil karya mereka, beberapa tenda stand berbentuk kerucut juga tampak berjejer di sekitarnya, dan para pedagang kaki lima juga tidak ingin menyiakan kesempatan ini untuk mengais rezeki dengan menggelar lapak dagangan mereka.
Satu per satu para pengunjung juga sudah tampak memenuhi tempat ini, bahkan sudah terjadi kemacetan disekitar jalan utama karena banyaknya mobil yang hendak masuk ke tempat parkir yang sudah disediakan, para penyelenggara juga sengaja memperketat keamanan agar acara ini bisa berjalan lancar sesuai keinginan mereka.
Suci dan Yogi sudah berada di tengah kerumunan orang, mulut Yogi tidak berhenti bicara untuk menjelaskan satu per satu foto yang menarik perhatian Suci, dan itu semakin membuat perasaan Suci menjadi lebih tenang dan bisa melupakan kekesalannya terhadap Fery.
Satu bidikan camera sudah berhasil lagi mengambil foto Suci, " kamu ambil fotoku ya? hapus gak?" Suci yang kesal hendak ingin mengambil Camera yogi, namun laki-laki ini menjauhkannya sampai Suci berjinjit untuk meraihnya, "jail banget sih?" Suci menyerah dan berjalan mendahului Yogi.
"Bidadari jangan marah dong," Yogi mengikuti Suci dan meraih pergelangan tangannya,"kita kesana yuk!" Suci hanya bisa melengos tanpa bisa menolak, sampai lah mereka di tempat pedagang yang menjual pernak pernik kerajinan tangan.
"Cantik ya," Suci mengambil sebuah gantungan kunci yang berbentuk hati,"apa disini bisa ditulis nama saya Pak?" tanya Suci kepada pedagang.
"Bisa dua nama neng," pedagang yang sudah paruh baya ini memisahkan hati itu menjadi dua bagian, "ini benda couple Neng, bisa digantung di kunci mobil, atau bisa juga untuk mainan hp Neng," ucapnya memberikan contoh, "kalau disatukan begini, lampunya akan nyala Neng, kalau bukan pasangannya lampunya akan tetap redup Neng," ucapnya memberikan contoh.
Suci semakin sumringah, "Bisa tulis nama saya di sini Pak?" memberikan gantungan hati itu ,"boleh Neng, siapa aja namanya?" tanya pedagang, namun Suci hanya diam dan menatap sendu benda berwarna merah hati itu, ingin sekali ia menuliskan namanya dan juga nama Fery, tapi rasanya itu sudah tidak mungkin.
"Namanya Bidadari Pak, kalau bisa tulis saja Bidadari !" perintah Yogi membuat Suci meliriknya, "setengah bagiannya buat nama saya Pak," ucapnya lagi.
"Bidadari dan siapa lagi?"
"Tengil ... tengil Pak, namanya tengil, tulis saja setengah bagian itu, laki-laki tengil !" Suci mengambil alat tulis dan menyerahkan kepada pedagang," ya sudah, saya tulis ya," ucapnya dan sudah mulai menuliskan Bidadari dan laki-laki tengil di setiap bagiannya.
Tidak butuh waktu lama, kini sepasang hati itu sudah berpindah tangan setelah Yogi membayarnya, "aku simpan yang bertuliskan namamu, dan kamu ambil yang setengah hatinya lagi!" Yogi memberikan masing-masing bagiannya.
"kenapa harus dipisah?"
"karena kamu bidadarinya si tengil, " ucap Yogi dan ia mengambil ponsel dan memasang gantungan kunci miliknya yang bertuliskan Bidadari, "mana ponselmu? biar aku gantungkan ini juga," pintanya, namun Suci hanya diam dan kembali berjalan, namun tiba-tiba seorang pria paruh baya yang memakai stelan jas hitam mendekat dan menghalangi jalan Suci.
"Maaf ... bisa kita bicara sebentar?" Ucap laki-laki tersebut dengan ramah.
"Ada apa Pak?" Yogi menarik tangan Suci dan menyembunyikan gadis ini di balik punggungnya, "bicara sama saya saja, apa ada yang bisa saya bantu?" ucapnya memasang insting melindungi.
"Oh, iya jadi begini, perkenalkan nama saya Hartoni, kalian bisa panggil saya Pak Toni saja," ucapnya seraya memberikan kartu namanya," saya pemilik La cosmetic, dan saat ini saya sedang mencari seorang model untuk menjadi bintang iklan saya, dan saya sangat tertarik dengan Nona ini," ucapnya lagi.
"La cosmetic, " Yogi membaca kartu nama tersebut, "sepertinya ini tidak asing, kalau tidak salah, saya pernah menjadi fotografer di sana," Yogi mencoba mengingatnya.
"Jadi Anda ini seorang fotografer? kalau boleh tau dari studio mana? barang kali saya lupa."
"Kalau dulu saya pakai studio si ganteng Pak dan ju---
"Ya saya ingat, sayangnya Anda harus ke luar negri bukan?" seperti sahabat lama yang kembali bertemu, Pak Toni memukul pelan lengan Fery, "saya harap kita bisa kerja sama lagi, saya sudah sangat yakin dengan bidikan tanganmu, dan tolong kamu bujuk kekasihmu supaya dia mau menjadi model untuk produk baru saya," ucapnya memelas.
"Saya bu---
Yogi memotong ucapan Suci, "Pak Toni tidak perlu khawatir, saya akan memastikan kalau kekasih saya ini akan menjadi bintang iklan untuk produk baru bapak," Yogi memasukkan kartu nama itu ke dalam dompetnya.
"Terima kasih, saya tunggu kabar baiknya ya. Kalau begitu saya permisi ya, masih ada yang harus saya kerjakan," Pak Toni bergantian menjabat tangan Yogi dan Suci.
"Kamu ngapain sih kasih harapan gitu?aku tuh gak akan mau jadi bintang iklannya!" ucap Suci dengan membulatkan matanya, saat Pak Toni sudah semakin menjauh.
"Apa salahnya sih? ini produk baru dan pemiliknya sendiri yang memilihmu, bodoh aja kalau kamu menolak,"
"Kamu pikir aku ini pengangguran? aku ini sekretaris bukan seorang model atau apapun itu lah," Suci mengibaskan tangannya, "mustahil," ucapnya lagi.
"Jarang ada kesempatan datang dua kali, kita bisa mengambil gambar di hari minggu, aku pikir gak masalah," Yogi kembali lagi memutar lensa cameranya.
"Kamu ambil fotoku lagi, aku banting Camera itu!" Suci menghentakan kakinya, dan membuang wajah ke sembarang arah ada satu foto yang menarik perhatiannya, yang letaknya tidak jauh persimpangan.
Sebuah foto yang menggambarkan cahaya dari Aurora di tengah gelapnya malam, dengan masih memegang gantungan kunci berbentuk setengah hati, Suci semakin mendekatinya.
"Bidadari, kamu tunggu di sini sebentar ya ! jangan kemana-mana! aku mau ke sana sebentar," Yogi menunjuk tenda stand yang menjual ice cream.
"Aku mau rasa coklat ya,"
"Dasar ! tadi marah-marah, sekarang mau yang manis-manis !"
"Ya sudah sana pergi, uang aku udah habis buat bayar taxi, jadi pakai uangmu dulu ya!"
"Aku bukan orang yang perhitungan, santai aja kali," ucap Yogi dan sudah berbalik arah.
"Tengil tunggu!" Suci menghentikan Yogi.
"Ada apa?"
"Terima kasih untuk hari ini, aku benar-benar terhibur, aku janji suatu hari nanti aku akan balas semuanya," Suci tersenyum dengan tulus.
Yogi hanya menautkan alisnya dan mengangkat bahu, ia terhipnotis dengan senyuman Suci dan kembali melanjutkan jalannya.