Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Tragedi Berdarah


Anggun tersenyum kaku dengan perhatian kecil dari Ariel, ia menepis pelan tangan Ariel yang masih menyentuh selendangnya,


Ariel yang merasakan penolakan dari Anggun tidak tinggal diam , Ariel membawa Anggun kedalam pelukannya, dan membenamkan wajahnya di sana, tanpa perduli Anggun yang berusaha menjauhinya. Jarak sedekat ini membuat Ariel bisa menghirup aroma tubuh Anggun yang sudah lama dirindukannya.


"Biarkan seperti ini Anggun, sebentar saja," pinta Ariel memelas, dan terus mengeratkan pelukannya di tengah tengah makam dan di bawah teriknya cahaya matahari.


Anggun tidak lagi memberontak, karena ia juga merasakan kenyamanan di dalam pelukan Ariel, tanpa sadar Anggun membalas pelukannya Anggun mengusap halus punggung Ariel.


"Anggun apa kau membenciku?" tanya Ariel ketika merasakan Anggun sudah membalas pelukannya.


"Aku tidak pernah membencimu, hanya saja aku begitu kecewa dengan semua sikapmu,"


"Aku tau Anggun, aku tidak ada disaat kau membutuhkan aku, kasih aku kesempatan sekali ini saja, bisakah kita kembali seperti dulu?" pinta Ariel dengan tidak ragu ragu.


Anggun melepaskan pelukannya begitu saja, memandang wajah Ariel yang menyiratkan penyesalan.


"Kau sadar dengan apa yang kau katakan ini?"


"Aku mohon Anggun, aku akan memperbaiki semua kesalahanku,"


"Jangan harap Ariel, itu tidak akan pernah terjadi, akan ada hati yang tersakiti nanti dan aku tidak mau menghancurkan kebahagiaan wanita lain,"


"Kau harus tau Anggun, aku menerima Alisa begitu saja ketika aku ingin melupakanmu, aku mohon Anggun tolong maafkan aku,"


Anggun menggeleng kepala.


"Kau yang meninggalkan aku Ariel, aku tau rasa sakitnya ketika pernikahan yang sudah di depan mata hancur begitu saja, dan aku tidak akan membuat Alisa merasakan sakit yang aku rasakan,"


Ariel berusaha meraih tangan Anggun, tapi Anggun terus menghindarinya.


"Cukup Ariel, kalau kau mau hubungan kita membaik aku bisa mengabulkannya, tapi kalau kau minta kita kembali seperti dulu maka mulai sekarang aku akan berusaha untuk membencimu," tegas Anggun.


Ariel menarik nafasnya dalam.


"Baiklah terimakasih untuk tidak membenci aku, aku akan kembali ke Kota hari ini juga, ikutlah denganku,"


"Maksudmu?"


"Bukankah kau merindukan Fery? aku akan menemanimu sampai Kota," ucap Ariel sembari melangkahkan kaki menjauhi makam pergi mendahului Anggun yang masih mematung di tempatnya.


"Sebenarnya apa maunya?" lirih Anggun yang terus memperhatikan punggung Ariel yang semakin menjauh.


.


.


.


.


Sampai rumah Paman benar saja Ariel yang pikirannya sedang kacau karena mendapat penolakan dari Anggun benar benar tidak mengubah niatnya untuk segera kembali ke kota, padahal Paman dan Bibi terus saja meminta Ariel untuk menetap lebih lama lagi di Kampung, tapi Ariel menolaknya dengan sopan.


"Ariel bisa kita bicara sebentar?"


Ajak paman setelah mereka menghabiskan makan siangnya, Ariel menoleh sekilas melihat Anggun yang duduk disampingnya.


"Pergilah, " ucap Anggun sembari meraih piring Ariel, Ariel hanya diam ia berdiri dari duduknya dan mengikuti paman yang sudah keluar dari rumah.


Sementara Anggun dan Bibi masih di dapur merapikan meja makan.


"Walaupun Bibi belum mengenal Ariel tapi Bibi yakin dia itu orang yang baik, Bibi sih setuju kalau dia jadi suami kamu," ucap bibi menggoda Anggun.


"Dia sudah punya calon istri Bi..."


"Terus kenapa dia jemput kamu kesini?"


"Dia cuma nyasar aja," jawab Anggun asal dan masuk ke dalam kamar mandi sengaja menghindari Bibinya.


Beberapa menit kemudian, Ariel dan Paman kembali masuk kedalam rumah, wajah Ariel yang tadi sempat sendu dan datar kini sudah kembali ceria, ia bahkan sudah bisa kembali tersenyum melihat Anggun.


.


.


.


.


.


Setelah kurang lebih dua jam perjalanan menggunakan pesawat, akhirnya Ariel dan Anggun kembali menginjakan kaki mereka di Bandara Kota, dimana Yusri sudah menunggu Ariel dari satu jam yang lalu.


"Kau membawanya?"


"Ambil ini, semua sudah aku siapkan disini," jawab Yusri menyerahkan koper kecil yang berisikan pakaian Ariel.


Ariel tersenyum dan menoleh melihat Anggun.


"Anggun, maaf aku tidak bisa mengantarmu, aku harus keluar negri ada yang harus aku kerjakan disana," pamitnya sembari membelai halus rambut Anggun.


"Oh iya tidak masalah, pergilah jaga dirimu baik baik ya," jawabnya


"Kalian ini seperti suami istri saja, " goda Yusri.


"Sebentar lagi kami akan menikah aww" teriak Ariel yang merasakan pinggangnya sedikit sakit karena cubitan kecil dari Anggun.


"Pergilah sana, bukankah itu panggilan untuk pesawat mu? " ucap Anggun setelah baru saja mendengar pengumuman penerbangan untuk pesawat Ariel.


"Baiklah aku pergi, " Ariel kembali membawa Anggun kedalam pelukannya, bukan itu saja Ariel juga mengecup sekilas pucuk kepala Anggun.


"Jangan seperti ini...." Anggun cemberut melepaskan pelukannya, tapi Ariel terus menggodanya dengan mengacak rambut Anggun.


"Terserah kau terima atau tidak, aku pasti akan merindukanmu, Anggun jaga dirimu baik baik selam aku pergi ya?"


"Kau sudah lama pergi dariku, dan kau lihat kan aku baik baik saja," ketus Anggun.


"Yasudah lah, kau jangan merindukan aku ya,"


"Sudah ayo kita pergi, " ajak Yusri.


.


.


.


Kini Anggun sudah berada di dalam taksi menuju rumah Farida, namun tiba tiba saja di tengah perjalanan taksi yang ia tumpangi mendadak berhenti di tengah jalan.


"Kenapa berhenti pak?" tanya Anggun heran.


"Sepertinya di depan sana ada kecelakaan Non, " jawab supir taksi yang sudah melepaskan sabuk pengamannya,


"Sebentar Non, saya lihat dulu soalnya di depan macet sekali Non."


"Gak usah Pak, kalau gitu saya turun disini saja."


"Tapi Non---


"Tidak masalah Pak, rumah saya gak jauh dari sini, " jawab Anggun sembari memberikan beberapa lembar uang ratusan.


"Terimakasih ya Non."


"Sama sama Pak !" jawab Anggun langsung keluar dari taksi.


Benar saja Anggun melihat ada kemacetan mengular disepanjang jalan, belum lagi suara ambulance terdengar jelas di telinga Anggun.


Rasa penasaran membawanya melangkah mendekati kerumunan orang.


Anggun begitu terkejut dengan apa yang dia lihat, matanya membulat sempurna, melihat seorang wanita yang ia kenal terkapar tak berdaya, dibopong petugas medis menuju ambulance.


"Tunggu, biarkan saya ikut!" Anggun mencegah petugas rumah sakit saat hendak menutup pintu ambulance.


"Anda siapa?"


"Saya ... saya mengenalnya, saat ini semua keluarga korban ada di Luar Negri."


"Masuklah!"


Tanpa membuang waktu Anggun masuk ke dalam ambulance.


"Ka-kau..." ucapnya lirih.


"Jangan banyak bicara, semua akan baik baik saja, bertahanlah." ucap Anggun yang bahkan tangan dan bajunya juga sudah terkena noda darah .


"Aku....


"Aku bilang jangan banyak bicara, tenanglah tetap buka mata Anda, aku mohon." panik Anggun.


"Maaf....


"Sudah jangan banyak bicara, lihat aku tetap lihat aku," ucap Anggun ketika melihat mata wanita ini hampir terpejam.


"Anggun...." lirih wanita ini sebelum akhirnya ia menutup kedua matanya.


"Pak...Tolong lebih cepat lagi " pinta Anggun kepada supir ambulance.


Suara ambulance terus terdengar sepanjang perjalanan, sampai beberapa saat kemudian ambulance yang membawa korban sampai ke salah satu rumah sakit terbesar di Kota.


Tanpa membuang waktu , Anggun turun dan ikut membantu memindahkan korban dan ikut mendorong tempat tidur pasien di sepanjang koridor rumah sakit.


"Maaf...Anda di larang masuk kedalam," salah seorang petugas rumah sakit melarang Anggun untuk masuk ke ruangan.


"Tapi saya...


"Percayakan pada kami biakan kami melakukan tugas kami," ucapnya yang sudah masuk kedalam ruangan.


Anggun hanya pasrah dengan baju yang bersimbah darah, Anggun menyenderkan tubuhnya di dinding rumah sakit.


Sampai salah seorang Dokter yang ia kenal datang dan memegang bahunya.


"Kamu kenapa Anggun? kenapa banyak darah di bajumu?"


"Rizky, tolong itu di dalam Ky....


Tiba tiba pintu ruangan terbuka seorang suster keluar dengan paniknya, dan seorang suster lagi datang dengan membawa sekantong darah.


Anggun jadi semakin panik,


"Suster apa yang terjadi?" tanya Anggun kepada seorang suster yang baru datang dengan sekantung darah di tangannya.


"Pasien kritis karena banyak mengeluarkan darah, dan kami membutuhkan donor darah secepatnya," jawabnya dan langsung masuk ke ruangan .


Rizky yang belum mengerti dengan keadaan juga ikut masuk melihat pasien yang di khawatirkan Anggun.


Beberapa menit kemudian Rizky keluar menemui Anggun yang masih berdiri di depan pintu ruangan.


"Apa kamu mengenal pasien ini?" tanya Rizky dengan wajah yang sendu.


" Iya aku kenal dia..


"Pasien butuh pendonor darah secepatnya Anggun dan...


"Ambil saja darahku Ky, cepat jangan buang waktu, "


"Tapi Anggun....


"Aku mohon Ky, ambil saja darahku..."


*Bersambung.....


Baru kali ini ada orang yang pelukan di tengah kuburan😅