
Hati-hati banyak typo😄
"Ayok pulang!" Fery mengembalikan bunga milik Yusri dan menarik tangannya, ia membawa Suci melewati kerumunan orang yang ada di sana. Yusri hanya tersenyum kecut melihat tingkah Fery karena niatnya hanya iseng mengerjainya.
"kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Airin yang datang membawa segelas minuman soda dan memberikannya untuk Yusri.
"Sebagai gantinya ambil bunga ini," tanpa diperintah dua kali Airin menerima bunga itu, kemudian mereka terlibat perbincangan yang cukup membuat keduanya lebih dekat.
Dari atas panggung Ariel tidak mengalihkan perhatiannya dari Yuari, saat pandangan keduanya bertemu, senyum Yusri menghilang dari wajahnya. Karena dari awal Ariel tidak suka kalau Yusri mendekati adiknya.
****
"Kak lepasin !"Suci meringis berusaha menarik tangannya yang di genggam Fary.
"Masuk !" dengan wajah datarnya Fery membuka pintu mobil.
"Gak mau, lagian Kakak ngapain sih narik aku gini? itu kenapa bunganya dibalikin?" kesal Suci.
"Kamu yang ngapain! kecentilan nerima bunga dari orang, ingat kamu itu masih kecil, buang jauh pikiranmu untuk menikah muda!" Fery menaikan suaranya karena kesal.
"Aku bukan anak kecil lagi, oh kakak mau aku jadi perawan tua iya? sedangkan kakak yang umurnya udah tua aja masih belum punya gandengan," ejek Suci.
"Masuk kamu !" tanpa banyak bicara Fery memaksa Suci masuk ke dalam mobilnya, setelah memastikan Suci tidak bisa melarikan diri, Fery mengitari mobilnya menuju pintu kemudi.
Sepenjang perjalanan Fery hanya diam, sedangkan Suci terus saja meliriknya, ia pura-pura marah dan cemberut, padahal dalam hati bersorak ria, menganggap Fey sedang cemburu.
"Jangan ge'er aku gak cemburu!" Fery membuka suara, sebagai laki-laki dewasa Fery hapal dengan gelagat anak kecil di sampingnya.
Suci semakin kesal, ia tidak mengerti dengan sikap Fery yang sangat sulit dipahami.
"Kak Yusri baik ya, cocok untuk dijadikan kandidat calon imam masa depan," ucap Suci.
"Kamu ingat saat pertama kali datang ke kota ini?" tanya Fery yang sudah mempercepat laju mobilnya.
Suci mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Pikirannya menerawang jauh mencoba mengingat pertemuan pertamanya dengan Fery. Saat itu Fery menggantikan Anggun untuk menjemput Suci di bandara, ia berada di antara kerumunan orang hanya dengan bermodalkan selembar foto Suci.
Fery hampir jera menunggu, saat itu Fery sedang bicara dengan rekan bisnisnya melalui sambungan telepone, tiba-tiba ada yang menabrak punggungnya dari belakang membuat Fery cepat berbalik badan, dan tanpa sengaja ia mencium pipi merah gadis yang ada di foto, dialah Suci.
Saat itu Suci masih sangat polos, gadis yang datang dari kampung, dengan rambut dikuncir dua, menggunakan rok kembang sampai menutupi mata kaki, dengan wajah polos tanpa makeup.
Jatuh cinta pada pandangan pertama, Suci yang tidak tahu kalau orang yang mencium pipinya ini adalah kakak angkat dari Mbak nya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Ma-maaf ya tidak sengaja," ucap Fery merasa tidak enak hati.
"Gak-gak masalah kok," jawab Suci masih memegang pipinya.
"Hey anak kecil, lain kali kalau jalan hati-hati " Fery tersenyum dan mengacak rambut suci. Suci masih diam memandangnya.
"Lihat ini, aku ditugaskan adikku untuk menjemputmu di bandara ini, jadi aku akan mengantarkanmu menemui Anggun, kamu adiknya Anggun'kan?" Fery menunjukan foto Suci.
" Oh....i-iya,"
"Mulai hari ini, anggap saja aku sebagai kakak angkatmu juga ya, selama di kota, kamu menjadi tanggung jawabku, sekarang, esok dan selamanya aku akan menjadi Kakakmu," ucap Fery meraih koper Suci dan membawa gadis polos ini ke rumahnya.
Seketika lamunan Suci buyar saat Fery menginjak rem mobil tepat di depan rumah, memang sejak pulang dari luar negri beberapa hari yang lalu, Orangtua Suci masih belum kembali ke kampung, karena mama Fery memaksa mereka untuk tetap tinggal di rumahnya, sejak saat itu Farida tidak pernah merasa kesepian.
"Jadi apa yang kamu ingat?" tanya Fery.
"Selamanya Kak Fery akan menjadi Kakak untukku..." lirih Suci dan keluar dari mobil.
*********
Hari berganti hari, bulan berganti bulan saat ini usia kehamilan Anggun sudah memasuki usia 7 bulan, saat ini Anggun duduk selonjor beralaskan karpet dengan bulu-bulu yang halus di ruang keluarga, ia membelai lembut kepala Ariel yang ada di pahanya, Ariel berbaring menjadikan paha Anggun sebagai bantalnya, sedari tadi ia terus mencium perut Anggun yang sudah semakin besar dan buncit.
"Anak Papa di dalam lagi apa sih? kamu laki-laki atau perempuan?" Ariel bicara di depan perut Anggun dan di jawab tendangan kaki dari calon anaknya.
"Hahahah kamu nakal ya? ayok kita betarung di ring tinju," ucapnya bercanda.
"Tinju...?emang kamu tau si Adek cewek atau cowok? gimana kalau si adek cewek?" Anggun tidak terima.
Melihat raut wajah Anggun membuat Ariel tersenyum, ia meraih tengkuk leher Anggun dan mencium sekilas bibir istrinya.
"Kalau cewek ya tetep harus jago bela diri Yank, bair gak ada laki-laki yang berani jahat sama dia!"
Bayi nya belum lahir, tapi Papa nya sudah posesif dan semakin menjadi. Memang belum ada yang tahu jenis kelamin si jabang bayi sebelum acara tujuh bulanan dimulai.
"Mbak kok belum siap sih? acaranya sudah mau dimulai loh," Suci datang membawa pakaian muslim untuk Anggun.
Ariel beranjak dan membantu istrinya berdiri.
"Aku gendong ya!" ucap Ariel ia cemas melihat Anggun yang susah berjalan, dengan perut yang semakin bulat.
"Gak usah Mas...aku bisa sendiri. Biar suci yang bantu aku," Anggun sudah menggandeng tangan Suci.
"Hmm yasudah, Mas mau lihat persiapan yang lain ya," ucap Ariel, lalu Suci membawa Anggun ke kamar tamu.
*****
"Hati-hati jalannya," kebetulan saat itu Fery baru keluar dari arah dapur, ia melihat Suci dan Anggun menuju kamar tamu.
"Iya kak, ada Suci kok," jawab Anggun.
Fery melihat suci sampai tatapan mata keduanya terkunci. Namun suci lebih dulu membuang muka. Setelah malam resepsi pernikahan Anggun dan Ariel beberapa bulan lalu, Suci berusaha menjaga jarak dari Fery.
Beberapa saat kemudian Anggun sudah tampil cantik dengan memakai busana muslim, dengan memakai selendang di atas kepalanya, begitu juga dengan Ariel memakai baju koko warna putih senada dengan baju Anggun, seluruh kerabat dan keluarga sudah memenuhi rumah mereka.
Acara 7bulanan ini sudah mulai digelar, Ariel dan Anggun duduk berdampingan, pengajian yang penuh rasa syukur ini sudah mulai berjalan khusuk, dimulai dari membaca beberapa ayat suci. Berharap sang Maha Kuasa memberikan kesehatan dan kelancaran proses persalinan untuk anak pertama mereka. Semua mengukuti pengajiam ini dengan haru, terutama mama Widia yang sedari tadi menangis bahagia.
**Bersambung......
Terima kasih masih setia membaca Mantan Tercinta ya....
Bonchapnya sebentar lagi usai. Terus lanjut kisah Cinta Suci Fery di sini aja ya, tapi judulnya beda, karena akan sedikit sulit kalau buat cover dan buku lain🤗**