Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Pertunangan yang tertunda


Pengumuman ini membuat semua orang yang ada di dalam gedung ini semakin riuh, mereka juga ikut merasakan kebahagiaan ini. Mereka tidak menyangka ternyata seorang model cantik yang akan menjadi istri dari penerus perusahaan Erlangga.


Kedua orang tua Alisa juga sudah ikut berdiri disamping empunya acara, Bapak Erlangga.


Yang tak lain rekan bisnis sekaligus sahabat dekatnya.


Sebagian dari para tamu memuji pasangan yang dianggap serasi ini, dan itu terdengar jelas di telinga Anggun, membuatnya tersenyum simpul.


.


.


"Ariel pakaikan cincin ini di jari manis Alisa,"


Suara Widia memutus pandangan keduanya, Ariel melirik cincin yang dipegang Mamanya, wajah Ariel terlihat kesal tapi ia berusaha untuk menutupinya.


"Ambil ini, pakaiakan sekarang juga," Widia menyerahkan cincin untuk Ariel, tapi Ariel belum juga mengambilnya.


"Sayang....kenapa diam saja, cepat ambil,"


Suara manja Alisa membuat Ariel semakin tidak nyaman, Ariel kembali mengarahkan pandangannya , ia melihat Anggun yang masih menggandeng tangan Fery, hatinya semakin menjadi kesal, sampai ia tidak tau kalau Widia sudah meletakan cincin cantik itu di telapak tangannya.


"Mana cincin untuk Ariel Tante?" Alisa melirik kotak ditangan Widia, ia mengambil Cincinya. dan menggenggam erat di tangannya.


"Sayang, cepat pakaikan di jari ku ini,! "


Alisa mengangkat tangannya menggerakkan jari jarinya yang lentik, tepat di hadapan Ariel.


"Mana Cincinnya?" tanya Ariel, ternyata ia masih belum fokus juga.


"Cincinya sudah ada di tanganmu, cepat pakaikan Cincin itu."


Widia memperhatikan arah pandangan Ariel, dan ia pun mengikutinya, kotak cincin yang dipegangnya jatuh begitu saja, untung saja kedua Cincinya sudah di tangan pemiliknya.


"Anggun? dia ada di pesta ini juga?" batin Widia, yang menatap dua sejoli berdiri tidak jauh darinya.


"Bagus , kau menyaksikan ini Anggun, kau bukan ancaman lagi," batin Widia ia senang Anggun juga datang menggandeng seorang pria.


"Ayo Ariel pakaikan Cincin itu," kali ini Pak Erlangga yang membuka suaranya, membuat Ariel semakin tidak berkutik, dalam hidupnya Ariel sangat menghormati kedua orang tuanya.


"Mana jari mu?" tanpa sadar kalimat itu tercetus begitu saja, dengan semangat Alisa mengulurkan jarinya.


"Ini terlalu besar, tidak sesuai dengan ukuran jarimu....!" ucap Ariel setelah memasangkan cincin itu di jari manis Alisa.


"Tidak mungkin, " ucap Alisa , ternyata benar cincin ini terlalu besar di jari manisnya.


"Tidak masalah, karena ini kejutan jadi kalian belum sempat memilih cincin yang sesuai dengan ukuran jari kalian, berikan Cincinya," ucap Widia, ia mengambil cincin dari tangan Ariel.


"Tapi Alisa belum memakaikan cincin ini di jari Ariel Tante, biarkan aku memakaikannya ya, ayo sayang mana jarimu?" ucap Alisa yang sudah memegang tangan Ariel.


"Loh, kenapa dengan jarimu ini?"


Terlihat jelas jari jari Ariel, di balut plester kecil, seketika wajah Ariel menjadi merona karena bahagia.


"Kau masih berpihak padaku Anggun, ternyata tidak sia sia tadi pagi aku memukul lantai...." batin Ariel, ia mengangkat jari jarinya, agar Anggun melihatnya.


"Bagaimana apa bisa kita lanjutkan acara pertunangan ini?" kali ini suara MC itu terdengar mendominasi di ruangan ini.


Dengan terpaksa pertunangan ini di batalkan, Alisa terlihat sangat kecewa, sementara Ariel berusaha menutupi senyumannya.


"Sudahlah Alisa , yang penting semua orang sudah tau kalau kamu ini calon istri Ariel, bahkan kamu lihat, media juga sudah mengambil gambar kalian tadi," ucap Widia berusaha menenangkan Alisa .


"Yasudah Tante," ucap Alisa dengan wajah cemberut, kemudian ia pergi begitu saja.


"Bukankah itu Manda?" tanya Erlangga tiba tiba ia melihat Anggun berbaur dengan tamu yang lain.


"Papa mengenalnya?" tanya Widia.


"Manda itu salah satu client kita Ma, terakhir kali Papa bertemu dengannya kalau tidak salah saat dia datang ke Kantor membahas kontrak kerja, lalu bagaimana kelanjutannya sekarang Ariel?"


"Iya, dia sudah menandatangani surat kontrak itu Pa...."


"Wah bagus itu, Manda itu gadis yang baik, dia pintar, dia sopan, Papa sangat suka dengan semua rancangannya, jadi kapan Iklan itu akan dijalankan?"


"Secepatnya Pa..." jawab Ariel singkat, ia juga terus memperhatikan Anggun yang selalu tersenyum di samping Fery.


Sementara Fery merasa kalau Erlangga sedang memperhatikannya, dengan tetap menggandeng tangan Anggun, dia berjalan mendekati tempat Ariel dan Erlangga berdiri.


"Selamat ulang tahun Pak Erlangga, semoga selalu dilimpahi kebahagiaan," ucap Fery menjabat tangan Erlangga.


"Fery, terima kasih karena sudah bersedia untuk memenuhi undangan saya," jawabnya.


"Selamat ulang tahun Pak," giliran Anggun yang menyapanya.


"Kenapa masih memanggil saya dengan sebutan itu? saya ini bukan lagi petinggi perusahaan, kamu bisa panggil apa saja yang kamu mau," ucapnya setelah melepas tangan Anggun.


"Saya harus panggil apa?"


"Panggil saja Om, atau Papa juga boleh," ucapnya sedikit bercanda membuat orang disekitarnya ikut tertawa.


"Jadi apa hubungan diantara kalian?" tanya Widia.


"Oh, saya belum memperkenalkannya ya, dia ini Manda Anggun Anggraini calon istri saya." ucap Fery bangga,


"Calon istrimu?" tanya Ariel.


"Benar, bukankah aku benar sayang," ucapnya sengaja memanasi Ariel.


"Iya Mas, " jawab Anggun singkat.


"Mimpi....aku tidak akan membiarkan itu terjadi." batin Ariel.


*****


Pesta semakin berlanjut, Ariel dan Erlangga sibuk menyambut setiap tamu yang hadir di sana, sedangkan Fery dan Anggun terlihat baru saja menikmati hidangan mewah yang disuguhkan.


Seseorang datang menyapa Fery, mereka terlibat membahas masalah kantor yang Anggun sendiri tidak paham akan hal itu.


Mereka berjalan mendahului Anggun yang fokus dengan layar Hp ditangannya.


"Akkhppp!!!!!"


Tangan kekar menyekap mulut Anggun dari belakang dan membawanya keluar dari ruangan yang memang cukup gelap di banding ruangan lainnya. Pergerakan Anggun terbatas karena gaun yang ia pakai, dalam waktu sekejap Anggun sudah masuk kedalam ruangan yang lain.


Tubuh Anggun menyandar di belakang pintu yang sudah tertutup, dua tangan mengurung kedua sisi bahunya, membuatnya semakin tidak leluasa bergerak. Anggun takut melihat mata Ariel yang memerah, ia memalingkan muka enggan menatap Ariel.


"Kau panggil dia apa tadi? Mas? Kau panggil dia Mas?" Ariel mulai buka suara.


"Itu bukan urusanmu,"


"Calon istri? dia bilang kau calon istrinya?"


"Pendengaran mu masih bagus kan?"


"Tatap aku Anggun...." Ariel memegang dagu Anggun, mengarahkan untuk melihatnya.


"Ada yang ingin aku katakan, dan ini menyangkut kejadian lima tahun yang lalu, saat pria itu....


"Kau mau menghinaku lagi?" pungkas Anggun.


"Dengarkan aku dulu, pria itu....


"Cukup Ariel, kau terlalu sering menghinaku , aku sudah bilang jangan bahas apapun lagi tentang masa laluku,"


"Tapi kau harus tau kenyataan ini Anggun,"


"Aku tidak perduli, lagi pula Mas Fery mau menerimaku apa adanya, dia sudah tau apa yang terjadi denganku, jadi aku tidak akan takut, dan juga aku tidak harus melakukan tes apapun juga."


"Maksudmu? jadi benar kalian akan menikah?"


"Iya, sama sepertimu, aku juga sudah berhasil menyingkirkan semua tentangmu, jadi Ariel jangan campuri kehidupan pribadiku,"


"Tes apa? kau mau melakukan Tes apa?"


"Sudah aku bilang jangan campuri masalah pribadiku," Anggun mendorong keras tubuh Ariel, membuatnya mundur beberapa langkah. Dengan gerakan cepat, ia membuka pintu, tapi tangan Ariel lebih dulu menutupnya lagi.


"Dengarkan aku sekali ini saja, " ucap Ariel dengan lembut ia memegang kedua lengan Anggun.


"Beri aku waktu Anggun, kau harus dengarkan aku, sekali ini saja...." ucapnya memelas.


"Cepat katakan, Mas Fery menungguku,"


"Apakah tidak ada sedikit saja sisa cintamu untukku?"


"Tidak, sama sepertimu bukan?"


"Aku tau aku salah Anggun, aku minta maaf,"


"Aku tidak pernah membencimu, semua sudah berakhir, jadi kau tidak perlu seperti ini Ariel, jangan sampai Alisa salah paham dengan kita,"


"Anggun tunggu aku, sampai aku memastikan sesuatu,"


"Apa? kau berencana untuk meninggalkan Alisa juga? lalu apa bedanya kau dengan pria yang kurang ajar itu, bukankah kau juga sudah melakukanya dengan Alisa?"


"Anggun kau....


"Iya, aku tau Ariel, kau sudah melakukannya dengan Alisa , jadi kau harus bertanggung jawab untuk itu,"


"Aku tidak punya pilihan lain Anggun, aku harus menyembunyikan fakta tentangmu, supaya kau terus menjaga jarak dengan laki laki lain, meskipun aku harus berhadapan dengan Fery nanti."


"Jadi Ariel, biarkan aku pergi,"


"Tunggu Anggun, " Ariel tidak sengaja menarik syal yang di pakai Anggun, membuat bagian punggung Anggun terlihat jelas. Ariel terdiam memandangnya.


***


Sudah lebih dari 1000 kata, kalau diteruskan takut tidak maksimal lagi😊