Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Cari pria itu


" Kau masih disini? " Ariel berdiri di samping Anggun, dia memperhatikan wajah Anggun yang sedikit terkejut.


" Aku akan pergi sekarang !"


"Tunggu," Ariel memegang pergelangan tangan Anggun "Dimana temanmu itu?"


"Ariel...." Widia berdiri tepat di samping Ariel, seketika Ariel melepaskan tangan Anggun.


"Mama cuma menyapanya, apa dia karyawan baru disini? Mama tidak pernah melihat dia ada disini sebelumnya." Widia bicara dengan wajah yang tenang, dia juga tersenyum untuk Anggun.


"Bukan Ma , dia Manda klien baruku."


"Manda ....? Dia Manda?"


"Iya saya Manda, Nyonya ."


"Kenapa kau panggil Nyonya?" Ariel sedikit mengeraskan suaranya.


"Manda kamu bisa memanggilku Tante, tidak perlu sungkan seperti ini," Widia terlalu takut melihat raut wajah Ariel yang sudah berubah, dia sangat hapal dengan watak anaknya.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu Nyonya,"


"Kau tidak dengar, panggil Tante, kenapa terus memanggil Nyonya? dan apa yang kalian bicarakan tadi, kau keluar dari ruangan ku sudah cukup lama, apa yang kalian bahas disini?"


Tatapan Ariel mengintimidasi Anggun. Biar bagaimanapun juga, Ariel masih ingat dengan jelas semua gelagat Anggun, apa lagi yang dia tau, Anggun bukanlah wanita yang suka mengarang cerita.


"Mama sudah bilang, Mama cuma menyapanya saja, benar begitu kan Nona Manda?" Widia masih berusaha menunjukan senyuman diwajahnya.


" Iya....Mungkin seperti itu, maaf saya harus pergi sekarang, senang bertemu dengan anda Nyonya, maksud saya Tante."


"Biarkan Tante mengantar mu, Ariel masuklah dulu, tunggu Mama di dalam ya sayang !" Widia menggandeng tangan Anggun dan mengajaknya mendekati lift.


"Seandainya kau tidak mengkhianati aku dulu Anggun, Mama pasti menerima dan menyayangimu ." Batin Ariel, kemudian dia kembali masuk kedalam ruangannya.


"Anda terlalu takut Nyonya," Ucap Anggun ketika mereka sudah berada didepan lift.


"Apa yang harus aku takutkan? kenapa kau datang sebagai Manda? Apa yang kau rencanakan?"


"Aku tidak perlu merencanakan apapun, aku hanya mengikuti takdir ku, aku tidak pernah merencanakan hal kotor untuk tujuanku Nyonya!"


"Kau masih saja sombong seperti dulu, mungkin peringatan yang aku berikan masih belum bisa membuatmu jera ya?"


"Saya masih menghargai Nyonya sebagai orang tua, jadi tolong jangan buat saya kehilangan rasa hormat pada anda Nyonya.!"


"Aku tidak butuh itu semua , yang aku butuh kau menjauh dari kehidupan Ariel.!"


"Nyonya takut ucapan ku dulu akan terbukti bukan,?"


"Itu tidak akan pernah terjadi, kau lihat anak ku itu sudah bahagia , bahkan sebentar lagi dia akan menikah dengan seorang model, dan tentunya menantuku itu dari kalangan atas, dia sederajat dengan kami."


"Dan aku tau itu Nyonya, aku sendiri yang merancang busana pengantin mereka."


"Apa....Kau yang merancangnya?"


"Anda sudah tau sekarang, kalau aku tidak punya niat untuk kembali menjalin hubungan dengan Ariel, jadi tidak perlu takut, saya bisa pastikan, Ariel tidak akan pernah tau kalau Anda pernah menemui saya dulu."


"Baguslah, aku pegang kata katamu itu, tapi kalaupun dia tau, itu sudah tidak berpengaruh lagi, karena kau sudah kehilangan kehormatan mu." Widia tersenyum sinis dia pergi kembali keruangan Ariel, meninggalkan Anggun sendiri.


*****


Di dalam ruangan Ariel.


"Untuk apa Mama datang kesini?" Tanya Ariel sambil mengajak Mamanya duduk di sofa.


"Tidak, mama cuma mau memastikan tanggal pernikahan kalian."


"Ariel belum memikirkan itu ma,"


"Jangan ditunda lagi.....ingat umur Mama juga sudah tidak sabar untuk menimang cucu Riel, papa juga lebih betah di Luar Negri, kalau saja kami sudah punya cucu, Papa tidak akan kesepian disini."


"Sudahlah Ma....Jangan bahas ini, "


"Tapi Riel, ini waktu yang tepat, Alisa itu yang terbaik untuk jadi pendamping hidup mu, Mama cuma mau dia yang jadi menantu Mama....."


Tok Tok Tok


Dari luar pintu dibuka, Yusri masuk dengan wajah yang terlihat serius, datang membawa map berwarna coklat, dia berdiri tepat di samping Ariel, Yusri sedikit membungkukkan punggungnya ketika melihat Widia duduk di depan Ariel.


"Apa itu....? Ariel melirik Map yang dipegang Yusri.


"Semua ada disini, " Yusri mengangkat map itu, sementara Widia terlihat serius mengamati keduanya.


"Ma....Ada pekerjaan yang harus kami selesaikan, kita bahas ini nanti di rumah saja ya, "


"Biarkan Mama disini, Mama tidak akan mengganggu, Ayok Yusri sini duduk , " Widia mempersilahkan Yusri duduk di sampingnya.


Mama pulang dulu ya,!" Kata Ariel dia berdiri menggandeng Widia , dan membukakan pintu.


"Kamu ngusir Mama.....?"


"Maaf Ma....Bukan maksud Ariel seperti itu, Ariel gak mau Mama merasa tidak nyaman nanti didalam."


"Yasudah....Tapi kamu harus ingat, secepatnya tentukan tanggal pernikahan kalian ya."


"Iya Ariel janji " Kata Ariel sambil memeluk Mamanya.


*****


"Apa yang kau bawa?" Ariel dan Yusri sudah duduk berhadapan.


"Bukalah....Kau bisa lihat sendiri, kau bisa bacakan? " Kata Yusri sambil melempar Map itu di atas meja.


"Apa ini....? Rekaman medis? Rumah sakit Jiwa?" Ariel kebingungan tapi dia tetap membaca isi dari Map itu.


"Farida....? Siapa dia...?"


"Mama Fery, " Jawab Yusri singkat.


Tak...Ariel melemparkan lagi Map itu di atas meja.


"Aku menyuruhmu mencari informasi tentang Anggun lima tahun yang lalu....Bukan mencari informasi kejiwaan Mama Fery ini, aku tidak perduli tentang itu." Kesal Ariel.


"Ini ada hubungannya, setelah mengetahui ini, kau pasti akan menyesal,"


"Cepat katakan,"


"Ibu Anggun meninggal lima tahun yang lalu...."


Deg.....


"Kau bilang apa?"


"Iya.... Ibunya meninggal, dan kau baru tau sekarang bukan? itu juga aku yang mencari informasinya."


"Lima tahun yang lalu? Itu berarti setelah kita ke Luar Negri bukan?"


"Kau salah Ibunya meninggal jauh sebelum kita ke Luar Negri,"


Jawaban Yusri mengejutkan Ariel, dia menatap tajam wajah Yusri, berharap ada kebohongan disana.


''Aku tidak berbohong Ariel, kalau kau mau temui Anggun dan kau tanyakan sendiri."


"Lima tahun lalu? " Ariel berusaha mengingat momen lima tahun yang lalu.


"Apa mungkin....saat dia menghilang waktu itu? Oh si**...." Kesal Ariel dia berdiri berkacak pinggang kakinya melangkah tidak tentu arah.


"Aku tidak ada disaat dia butuh? Anggun tidak punya siapa siapa, tapi aku juga pergi meninggalkan dia?" Ariel hampir tidak percaya kenyataan yang baru dia ketahui.


"Lalu apa hubungannya dengan Mama Fery ini?" Katanya lagi.


"Kau pasti tidak menyukai ini Riel, lebih baik kau lupakan saja Anggun , aku takut kau kecewa pada dirimu sendiri." Ucap Yusri dia masih memperhatikan Ariel yang mengitari ruangan kerjanya.


"Cepat katakan!" Bentaknya.


"Fery membawa Anggun ke Luar Kota untuk menemui Mamanya yang waktu itu mengalami gangguan jiwa karena kehilangan putrinya yang bernama Manda."


"Jadi karena itu dia mengubah nama menjadi Manda?"


"Iya....dan


"Tunggu...." Ariel memotong ucapan Yusri, dia masih berusaha mengingat kejadian lima tahun yang lalu.


"Cari pria itu...." Katanya lagi.


"Pria yang mana,?"


"Pria yang tidur dengan Anggun, yang mana lagi?"


"Mau kita cari dimana? Kau bahkan tidak punya fotonya."


Prankkkkkkk


"Aku tidak mau tau, cari pria itu secepatnya, aku harus memberinya pelajaran." Ariel membentak Yusri dengan wajah yang memerah.


Bersambung


Rasain tuh sih Ariel😒