Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
CSF#Hari pertama jadi sekretaris#


Jangan lupa like....


Fery membenarkan jas hitam yang membalut tubuh kokohnya, ia keluar begitu saja dari ruangan untuk menemui Mila seorang arsitek muda yang ikut merancang proyeknya, sebelum ini keduanya memutuskan untuk berpidah lokasi, mengingat lahan yang sempat mereka lihat sangat tidak cocok untuk didirikan bangunan yang menjulang tinggi itu, belum lagi terlalu jauh dari temat wisata yang bisa dijangkau wisatawan, tentu saja semua itu sudah mendapat persetujuan dari Ariel.


Fery sudah berdiri di depan lift yang masih tertutup rapat, belum sempat ia menekan tombolnya, pintu lift itu sudah terbuka lebar, menampakkan seorang wanita cantik tersenyum saat melihatnya,"Pak Fery apa kabar?" Mila melenggangkan kaki jenjangnya setelah keluar dari lift dan menjabat tangan Fery.


Fery membalasnya dengan senyuman yang ramah, tentu saja untuk menyambut partner bisnis barunya ini,"seperti biasa semua baik, tapi kenapa Anda repot-repot menemui saya? padahal Anda bisa menunggu saya di ruang rapat," Fery menarik tangannya.


Wanita berlesung pipi ini meresponnya dengan sedikit menggelengkan kepala,"saya tidak merasa direpotkan, lagi pula saya sengaja naik ke sini, untuk melihat ruangan Pak Fery ... saya penasaran, seperti apa dekorasinya," sebagai seorang Arsitek Mila sudah biasa menilai setiap sudut ruangan yang pernah dilihatnya.


"Boleh ... saya harap tidak mengecewakan Anda, dan jujur saya menjadi grogi karena pilihan saya masih terlalu jauh dari standart Anda ... mari silahkan!" Fery menjulurkan satu tangannya untuk mempersilahkan Mila berjalan terlebih dulu.


"I don't think ... saya yakin pilihan Pak Fery, sudah pasti tidak jauh dengan selera saya, bukan 'kah karena kecocokan kita ini yang sudah menjadikan kerja sama ini terwujud?" Mila memalingkan wajah, untuk melihat Fery yang sudah berjalan di sisi kanannya.


"Saya harap ... kita bisa bekerja sama dengan baik! sampai berhasil mencapai tujuan," seperti biasa saat keduanya berada di lingkungan pekerjaan, mereka akan bersikap formal.


****


Suci masih memperhatikan objek bulat yang ada di telapak tangannya, ia berusaha untuk memahami arti dari tulisan pada kemasan botolnya, namun sayang Suci masih belum mengerti dengan tulisan yang sangat asing untuknya itu, bahkan ini adalah untuk pertama kali ia menemukan dan membaca tulisan itu. Suci hanya memahami satu hal, bahwa untuk mengonsumsi obat ini, harus sesuai dengan yang dianjurkan dokter.


"Dokter? ini obat siapa?" Suci memicingkan mata, ia sedikit menjauhkan botol itu dari indra penciumnya, saat aroma lain sudah menyeruak dan tercium hidungnya,"gak enak banget baunya," Suci cepat-cepat memutar tutup botol dan menjadikannya tertutup rapat seperti biasa.


"Apa ini obat Kak Fery ...? tapi untuk apa kak Fery minum ini? selama ini kak Fery sehat dan baik-baik aja," Suci bergumam dan terus memutar kan botol itu tepat di depan matanya. Suci masih penasaran, tanpa sadar ia mengabaikan perintah Fery untuk menyusun berkasnya.


"Jangan sentuh apapun yang bukan bagian dari pekerjaanmu!" suara keras Fery membuat Suci terperanjat, gadis ini hampir saja menjatuhkan botol yang dipegangnya.


Fery sudah memasang wajah dingin, tidak terlihat keramahan dan sikap santai seperti sebelumnya, ternyata memang dialah orang yang menciptakan aura mencekam diruangan itu,"lakukan tugasmu, seperti seharusnya, jangan berani menyentuh apa'pun yang bukan bagian dari pekerjaanmu!" Fery bicara dengan nada suara yang tegas, ia merampas begitu saja candunya dari tangan Suci.


Suci masih terbengong tanpa berani berucap kata, matanya menjadi sayu saat melihat mata Fery yang sudah memerah, rasanya lebih baik diacuhkan Fery, daripada dimarahi Fery secara langsung, apa lagi hanya karena hal yang dianggapnya sepele itu.


"Kak__


"Kau harus tau, dimana saat ini kau berdiri!" Fery menyanggah ucapan Suci, menjadikan kekasihnya ini terpaksa menelan salivanya secara kasar, bahkan Fery bisa melihat dengan jelas ketakutan dan kegugupan di wajah Suci.


"Ma-maf 'kan saya Pak," jawab Suci yang sudah menundukkan kepala, dengan kedua tangan meremas kuat ujung blezer berwarna hitam yang dikenakannya.


Fery membuka dan memasukan botol obat itu ke dalam laci, dan kemudian menutupnya secara kasar hingga menimbulkan bunyi yang memekikkan telinga,"kembali ke mejamu! kerjakan apa yang sudah menjadi tanggung jawabmu!" Fery memberi perintah, ia mundur dua langkah agar Suci leluasa keluar dari area mejanya, tanpa ada bantahan Suci menuruti perintah bosnya.


Suci kembali lagi dikejutkan dengan kehadiran Mila yang juga menyaksikan kemarahan Fery terhadapnya. Takdir seperti apa ini? bukankah Mila termasuk tipe wanita yang disukai Fery? lalu kenapa laki-laki yang hatinya licin seperti belut ini menerima cintanya, dan terang-terangan memarahinya di depan wanita dewasa yang cantik dan seksi ini?


Suci membuang jauh-jauh pikiran negatifnya, saat berpapasan dengan Milla yang sudah lebih dulu tersenyum untuknya, Suci menarik napas dalan dan menyunggingkan senyumannya sebelum benar-benar keluar dari ruangan Fery.


Fery menghembuskan napasnya secara kasar, saat melihat punggung Suci sudah menghilang dari pantauannya. Fery menarik kursi dan duduk dengan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya,"lagi-lagi aku menyakitinya, kenapa kepanikanku membuat aku cepat marah dan terbawa emosi?" Fery bergumam frustasi.


"Oh, maafkan saya. Anda jadi tidak nyaman di sini, padahal ini untuk pertama kalinya Anda berkunjung ke ruangan saya," Fery menjadi tidak enak hati, karena menyambut tamunya dengan cara seperti ini.


"Tidak masalah, saya bisa memaklumi apa yang Pak Fery rasakan, tapi kalau tidak salah ... bukankah dia tim dari perusahaan pak Erlangga?" seingatnya begitu.


"Hm ya! untuk sementara Suci akan menjadi sekretaris pribadi saya."


"Oh," Milla menutup rapat mulutnya, ia tidak tertarik untuk membahas apapun tentang gadis itu, awalnya Mila hanya pura-pura simpati, namun saat mendengar Fery menyebut nama Suci, hati Mila menjadi panas,"ruangan Pak Fery bagus ya, semua ditata dengan rapi," Mila sengaja mengalihkan pembicaraan, dengan mengekori setiap sudut ruangan Fery.


"Terima kasih, saya merasa tersanjung mendengar pujian Anda," ucapan Fery dibalas senyuman dari mulut manis Mila, kemudian keduanya kembali membahas topik utama tentang kerja sama mereka.


****


Tidak ada orang lain di sini, Suci sudah duduk dengan gelisah di tempatnya, ia terus saja menatap pintu ruangan Fery yang masih tertutup rapat, pikirannya kacau saat membayangkan apa yang terjadi di dalam sana. Baru hari pertama jadi sekretaris pribadi untuk laki-laki yang namanya sudah tertanam dalam di hatinya itu, ia sudah dikejutkan dengan amarah Fery.


Ariel memberinya perintah untuk datang ke kantor ini adalah hari keberuntungannya. Suci berharap hubungannya dengan Fery semakin dekat, tapi kenyataannya sungguh di luar pikirannya.


"Cuma karena botol obat itu kak Fery marah?" Suci masih tidak terima, jari jemarinya masih terus saja mengetuk meja kerjanya, dengan satu tangan menopang dagu.


Brak.....


Lamunan Suci buyar saat seseorang dengan kasar meletakan tumpukan berkas di hadapannya.


"Kau orang baru di sini, jadi jangan makan gaji buta. Cepat kerjakan dan pelajari semua ini!" perintahnya dengan angkuh dan berkacak pinggang menunjukan kekuasaannya.


Cobaan apa lagi ini? padahal masih hari pertama jadi sekretaris


Suci membatin, kenapa banyak wanita cantik dan menarik di kantor ini?


Terima kasih karena sudah meninggalkan jejak ya...


Like


komen


vote


Rate5


Terima kasih masih setia di karya saya yang ambyar ini ya☺ Maafkan saya karena jarang bahkan hampir tidak pernah membalas komen ya, tapi saya baca dan terima kasih untuk saran, kritik dan semua kalimat dan dukungannya🤗


"Lanjuuuttt" saya suka ini jadi semangat😅