
Fery menggelengkan kepala karena kesal, selama seumur hidupnya baru sekarang ada perempuan yang terus mengejarnya. Bahkan terang-terangan mengutarakan isi hatinya.
"Kenapa kamu gak sekalian hilang ingatan aja sih? kebentur apa gitu." Fery menjawab dengan kesal. Adik Anggun ini sifatnya sangat jauh berbeda. Anggun lebih kalem sedangkan Suci benar-benar tidak bisa ditebak.
"Kak Fery mau aku lupa ingatan, terus aku lupain cintaku yang sudah terpendam lama ini? atau Kakak mau cintaku yang tenggelam?"
"Kamu semakin banyak bicara ya, aku gak suka sama anak kecil, aku cari pendamping yang dewasa, bukan yang kekanak-kanakan macam kamu,"
"Cuma Kak Fery yang bilang aku anak kecil! asal Kakak tau ya. Di kampung anak gadis yang udah umur 17 tahun keatas sudah dewasa dan sudah bisa menikah. Temen Suci aja nih baru lulus SMP, SMA udah pada menikah semua. Bahkan mereka sudah pada punya anak. Ada yang anaknya satu, dua tiga. Bahkan kak, ada yang sudah menikah dua kali," Suci mengangkat dua jari.
"Terus kamu mau menikah berapa kali?" tanya Fery menatap manik mata Suci.
"Satu kali Kak...!" semangat Suci mengangkat jari telunjuknya," menikah satu kali seumur hidup sama Kakak," ucapnya lagi.
Fery menghembuskan napas berat, memikirkan cara halus untuk menolak dan meyakinkan Suci, agar Suci tidak sakit hati. Kemudian Fery berdiri, ia mengambil bantal yang ada di belakang punggung Suci dan kembali merapikan di tempat semula.
"Tidurlah...! sudah malam," ucapnya, berdiri di samping Suci.
Suci mendongak dan menggelengkan kepala, ia tidak mau kehilangan kesempatan bicara sedekat ini dengan Fery, karena biasanya Fery akan selalu menghindar, dan terkadang Suci mulai menyerah dan mencoba melupakan Fery. Tapi untuk hari ini keajaiban dan keberuntungan menyelimutinya.
"Suci belum ngantuk Kak..." lirihnya, ia memasang wajah sendu di depan Fery.
Fery melihat kearah pintu, tidak ada tanda-tanda Mama-nya atau Ibu Suci yang datang, dan terpaksa Fery duduk di tempat semula.
"Kak Fery mau Suci jadi perawan tua?" tanya Suci. Ia benar-benar nekat akan mencairkan balok es yang ada di dalam hati Fery. Lupakan soal image bukankah terkadang cinta tidak mengenal logika?
"Kamu sudah terbiasa bersikap seperti ini sama orang lain ya?" Fery sudah kembali bicara formal.
"Memangnya Suci kenapa?" Suci memperhatikan dirinya sendiri."Gak ada masalah kok," ucapnya.
"Aneh!" jawab Fery.
"Enggak kok, biasa aja. Suci punya target menikah sebelum umur 25 tahun kak, jadi cepetan bilang kalau kakak juga suka sama Suci," ucapnya.
"Perasaan gak bisa dipaksakan Ci, jadi kamu jangan ngelantur, " Fery bicara dengan nada suara yang lembut, berharap Suci tidak sakit hati.
"Perasaan juga gak bisa semudah itu melupakan Kak, Suci gak bisa pura-pura untuk gak suka sama Kakak, itu akan lebih menyakitkan Kak," ucap Suci.
"Terus Kamu mau apa?"
"Coba buka hati Kakak untuk Suci. Sedikit aja,"
Fery cuma bisa diam, ia memalingkan wajahnya kesembarang arah, sengaja menghindari tatapan mata Suci, yang menantikan jawabannya.
"Kalau nanti Kakak udah suka sama Suci, bilang ya Kak, biar gak buang-buang waktu," ucapnya.
"Terus gimana kalau aku gak pernah bisa suka sama kamu?"
"Ya Kakak harus bilang juga, supaya Suci tau dan bisa cari kandidat yang lain. Sebelum umur Suci 25 tahun Kak...!" ucapnya.
Fery kembali melihat Suci, tapi tetap memasang wajah yang datar, " memang kamu bisa pindah ke lain hati?" Fery meyepelekannya.
"Ya Suci coba, makanya belajar dari sekarang. Mungkin aja Dika masih nunggu Suci," jawabnya.
Tanpa bicara lagi Fery berdiri, ia memegang kedua bahu Suci dan perlahan membaringkannya.
"Kak...!" seru Suci saat kepalanya sudah mendarat di atas bantal, ia terus menatap Fery.
Fery masih diam, dan mulai menyelimuti Suci dan hanya menyisakan bagian wajahnya saja.
"Kak...!"
"Apa lagi?"ketus Fery.
"I Love You," ucap Suci lembut.
"Sudah malam, tidurlah." Fery menarik menarik tangannya, tapi Suci menariknya kuat sampai Fery hampir teejatuh. Beruntung satu tangan Fery sempat menahan agar ia tidak menindih Suci.
Suci melonggo karena jarak keduanya sangat dekat, nyaris tidak ada jarak. Ia tidak tau kalau perbuatannya akan membuat jantungnya kembali berdetak kencang. Kenapa cintanya harus bertepuk sebelah tangan? pikirnya.
Fery masih tidak bergeming, untuk sekian menit ia menatap semua bagian dari wajah Suci, sampai keduanya beradu pandang.
Sementara di luar kamar, lebih tepatnya dibalik dinding, kedua wanita paruh baya ini masih setia menguping di tempatnya. Mereka terus tersenyum dan saling menggenggam tangan, merasa kalau sebentar lagi impian memiliki cucu akan segera terwujud. Tidak sia-sia mereka meninggalkan Suci dan Fery berdua di dalam kamar.
"Aduh ! aduh ! aduh ! anak Mama...kamu ngapain huh?" heboh Mama Farida yang sudah lebih dulu keluar dari persembunyiannya. Ia berkacak pinggang memasang wajah sangar di depan pintu.
Spontan Suci mendorong kuat tubuh Fery, yang memang masih belum menguasai diri, sampai jatuh ke lantai. Brak....
Fery meringis dan belum sempat ia berdiri, Mama Farida datang menarik kupingnya," kamu apakan anak gadis orang huh?" terial Mama Farida, saat Feri sudah berdiri tegak.
"Apa sih Ma?" gusar Fery, ia memegang daun telinganya yang sudah memerah. Sementara Suci sudah kembali duduk di tempat tidur.
"Mama liat semuanya, kamu mau ngapain? mau kamu apakan si Suci huh? mau kamu apakan anak gadis orang? "teriaknya lagi.
"Tante, Suci yang sa--
"Sudah Suci, kamu jangan takut sama Fery, kamu tidak perlu menutupi kesalahannya, dan jangan membela dia !" sungguh akting yang luar biasa.
"Apa sih Ma! Mama salah paham !"
"Salah paham apa huh? kamu pikir Mama ini gadis polos seperti Suci yang bisa kamu tipu-tipu hu?"
"No tipu-tipu Ma...!" Fery semakin gusar.
"Kamu harus tanggung jawab sama perbuatanmu ini!" Mama Farida berkacang pinggang.
"Tapi Tante, seben--
"Kamu tenang ya sayang, biarkan Fery tanggung jawab," ucap Mama Farida dengan lembut.
"Tanggung jawab apa ini?" teriak Ibu Suci yang sudah mulai mendrama. Ia meletakan nampan yang dibawanya di atas meja.
"Ibu-nya Suci...maafkan saya yang tidak bisa mendidik anak saya ini." Mama Farida berucap dengan penuh penyesalan.
"Ma, dengarkan Fery sebentar saja."
"Sudah cukup! kamu tetap harus tanggung jawab,"
"Tante !" Suci beranjak dan berdiri di samping Fery, ia sama paniknya dengan Fery.
"Tunggu dulu, apa yang sudah terjadi di sini?" tanya Ibu Suci.
"Fery, anak saya telah menodai Suci..." ucap Farida lirih.
"Apa???!!!"