
Ariel membuka pintu kamar, saat itu Anggun sedang berdiri menghadap jendela, Ariel menghampiri istrinya.
"Aku pulang," melingkarkan tangan dipinggang Anggun, tapi Anggun menepisnya, "kamu kenapa? suami pulang gak disambut," tak mau kalah Ariel mencium pipi Anggun.
"Aku capek," jawab Anggun, ia memutar badan dan menjauhi Ariel, tapi Ariel menarik tangannya.
"Kamu sakit?" Ariel menyentuh kening istrinya, lagi-lagi tangan itu ditepis Anggun dengan kasar, Ariel gusar dia tahu ada yang tidak beres di sini, "kenapa kamu marah?"
Anggun tidak menghiraukannya, sebenarnya dia ingin bertanya tentang wanita itu, tapi Anggun menunggu kejujuran Ariel tentang wanita itu, tanpa bicara Anggun membuka pintu yang terhubung dengan kamar Aarick dan menutupnya begitu saja.
"Kenapa sih?" gumam Ariel yang memang tidak mengerti dengan sifat Anggun "apa karena datang bulan?" bertanya pada diri sendiri, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tidak ada makan malam berdua, Ariel kehilangan selera makannya, diliriknya lantai atas, tetap juga tidak ada tanda-tanda kemunculan istrinya, Ariel memutuskan untuk kembali ke kamar.
Kosong, kamar mereka tampak kosong, berarti istrinya masih di dalam kamar Arick, dibukanya kamar itu, tapi terkunci dari dalam.
Ariel cukup lama berdiri di depan pintu itu, tangannya sudah hampir mengetuk pintu, namun diurungkannya karena khawatir mengganggu anaknya. Terpaksa malam ini Ariel tidur sendiri.
Sementara di dalam kamar Aarick. Anggun belum tidur, dia sedang melihat foto-foto pernikahannya.
"Apa kamu sadar, mas. Kalau selama ini kamu sudah terlalu ngekang aku, semua yang aku lakukan harus ijin sama kamu, sementara kamu, kamu terlalu bebas di luar sana, mas."
*****
Pagi datang lagi.
"Selamat pagi, bos!"
Yusri menarik kursi dan duduk di depan Ariel, tanpa tau malu ia mengambil piring dan menyiapkan sarapan pagi untuknya.
"Apa kau datang ke rumahku hanya untuk numpang makan?" Ariel kesal, dilemparnya Yusri dengan sendok, pagi ini dia belum melihat istrinya bahkan pakaiannya saja dia sendiri yang menyiapkannya. Berulang kali mengetuk pintu kamar Aarick, tetap saja istrinya diam seribu bahasa, dan sekarang Yusri tersenyum tanpa beban.
"kau tidak akan jatuh miskin, hanya karena aku makan di sini, oh ya aku dengar kemarin Marissa datang ke kantor, kalian pergi ke mana?" tanya Yusri.
"Kecilkan suaramu, jangan bahas dia di sini, aku tidak mau rumah ini ternoda karena dia."
"Yah, kau benar, "menjeda kalimat untuk mengunyah makanan, matanya seakan mengingat sesuatu, "Perempuan itu selalu mengancam bunuh diri, foto-foto itu dijadikan alat untuk memeras kita, kakaknya juga sering mengirimkan mata-mata, aku tidak tahu apa tujuan mereka melakukan itu."
"Kau ingat, saat itu dia hampir lompat dari gedung sekolah, hanya karena aku putuskan?" Ariel bergidik mengingat itu, dulu ia rela mengikuti semua kemauan Marissa karena terus mengancam akan bunuh diri.
"Katanya tidak mau membahasnya, tapi dia masih mengingat semuanya," ucap Yusri, dia juga merasa lucu dengan kebodohan di masa lalu.
"Aku tidak mengingat dia, semua ini karenamu! Harusnya dari awal kau tidak perlu bahas tentang wanita itu!"
Tanpa sadar Ariel mengeraskan suaranya, disaat yang bersamaan, Anggun masuk ke ruangan itu, Ariel dan Yusri terdiam dan saling melirik.
"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Ariel, ia heran melihat penampilan Anggun beda dari biasa.
"Aku bosan di rumah, pengen cari udara segar," jawab Anggun, tanpa melihat Ariel, ia memasukkan perlengkapan Arick ke dalam tas.
Ariel tersentak "tumben kamu bosan? Mau ke mana? Aku temenin ya," membersihkan mulut dengan tisu.
"Gak usah, aku bisa pergi sendiri, atau hari ini kamu yang jaga Arick, aku juga pengen keluar rumah sendirian, Mas."
Ini gak benar, aku gak mau jadi wasit diantara mereka
Yusri membatin, lalu dia pergi tanpa pamit.
"Udahlah, Mas ... aku cuma mau ke luar rumah sebentar aja, aku mau ke salon, mau shopping, mau ngelakuin apa yang aku mau, udah itu aja."
Ariel terpaksa mengalah, ia tidak mau bertengkar dengan Anggun, mungkin benar saat ini bukan waktu yang tepat untuk bicara, Ariel memanggil pengawal untuk Anggun dan anaknya.
*****
Hari itu Ariel memutuskan untuk tidak datang ke kantor, membahas pekerjaan di ruang kerja bersana Yusri dan Endi, Ariel mulai resah karena sudah hampir 4 jam Anggun keluar rumah, ponselnya tidak bisa dihubungi, ia hanya mendapatkan informasi dari pengawalnya saja.
"Dari mana aja, sih?" tanya Ariel saat itu ia baru keluar dari ruang kerjanya, bertepatan dengan Anggun yang baru masuk ke rumah.
Anggun terlihat lebih cantik, rambutnya juga terlihat lebih rapi, Ariel melirik barang belanjaan Anggun, kedua tangan istrinya itu penuh dengan paper bag.
"Tadi kan sudah bilang, kalau aku shoping, Mas, aku kan gak pernah lupa ijin sama kamu, gak kayak kamu yang bebas ngelakuin apapun tanpa ijin dari aku," Anggun menyindir saat pengasuh sudah membawa Aarick dari sana.
"Mana ponsel kamu? Coba lihat?" Ariel mengambil ponsel itu dari dalam tas Anggun, "apa gunanya ada ini kalau kamu gak bisa dihubungi?"
Tar... Ariel membanting ponsel Anggun, Yusri dan Endi terkejut melihatnya.
"Cuma karena itu kamu, marah?" teriak Anggun ia juga menghempaskan apa yang ada ditangannya, "cukup Mas, selama ini aku selalu ngertiin sifat kamu yang posesif itu, tapi kamu keterlaluan Mas, aku manusia biasa! Aku juga punya hati! Aku gak boleh ini, aku gak boleh itu, kamu tahu gak perasaan aku gimana? Kamu perduli, gak sama perasaan aku? Gak, Mas! Gak...! Kamu gak pernah perduli sama perasaan aku...!"
"Apa yang salah sama sikapku selama ini?"
Anggun tertawa, "kamu marah karena poselku gak bisa dihubungi, sementara kamu tahu aku ada di mana? Kamu pikir aku gak tahu, kalau pengawal kamu itu setiap saat laporan sama kamu tentang apa yang aku lakuin di luar sana, gimana sama aku, Mas...? Gimana sama aku? Ponsel kamu gak bisa dihubungi, terakhir kamu bilang kamu lagi di kantor, dan aku di rumah percaya itu Mas, tapi apa...? Kamu berduaan, makan siang, tertawa dengan perempuan lain! Apa kamu tahu perasaan aku, Mas?"
"Perempuan yang mana? Aku gak mungkin main gila di luaran sana, kamu salah paham," Ariel masih mencerna apa yang terjadi.
Tanpa menjawab, Anggun berlari menuju kamarnya.
"Kalian ribut? Kau keterlaluan, Riel," ucap Endi ia memungut ponsel Anggun yang sudah tidak berbentuk, "aku merasa dejavu," Endi terkekeh mengingat, dulu Ariel juga pernah membantinng ponsel barunya.
"Perempuan yang mana?" tanya Ariel.
"Makanya jangan suka koleksi wanita, sekarang bingung sendiri," sindir Yusri.
"Jangan tambah masalah, kalian kan tahu tidak ada perempuan lain setelah aku mengenal Anggun."
"Sudahlah, temui istrimu, bicarakan ini baik-baik," ucap Endi.
****
Anggun berbaring di tempat tidur, pura-pura tidur saat mendengar pintu di buka.
"Sayang, maafin aku ya," ucap Ariel setelah dia duduk di samping Anggun, dengan lembut diusapnya punggung istrinya.
"Tolong jangan berpikir sepertu itu, gak ada perempuan lain, seperti yang kamu duga," ucapnya.
"Terus kemarin kamu makan siang sama siapa? siapa perempuan itu?" tanya Anggun dibalik selimutnya.
Ariel mengerti, ternyata masalahnya Marissa.
Semua gara-gara Marissa
"Dia, dia Marissa," jawabnya ragu