
Suci baru saja keluar dari lift, ia berjalan dengan terus menghentakkan kakinya menuju kamar yang letaknya di ujung lorong, dari jauh ia melihat seorang wanita yang baru saja keluar dan menutup pintu tepat di samping kamarnya, wanita itu juga sudah berjalan santai ke arahnya sampai jarak mereka semakin dekat.
"Suci, kamu sekretaris Pak Fery kan?" Mila sudah lebih dulu menyapa dan menggantungkan kaca mata di balik kemeja yang dipakainya, "jadi kamu juga sudah ada di sini," Mila menyilangkan kedua tangannya dan memandang Suci dengan sinis.
"Ada yang bisa saya bantu Bu...?" Suci masih bisa menyunggingkan senyumnya, padahal saat ini hatinya masih sangat kesal ditambah harus bertemu dengan wanita yang sempat membuatnya cemburu ini.
"Santai saja, jangan bersikap formal seperti itu," Mila maju satu langkah ia membersihkan bahu Suci seakan ada noda di sana, dan Suci hanya diam dan meliriknya "apa yang sudah kamu berikan untuk Bos mu itu? kenapa Fery mau menerimamu menjadi kekasihnya?" Milla bicara dengan sangat lembut, tapi itu berhasil menyulut emosi Suci.
"Maksudnya apa?" dengan kasar Suci menjatuhkan tangan Mila, "siapa yang bilang kalau aku kekasihnya Pak Fery?" mendengar nama Fery membuat Suci semakin kesal.
"Tentu saja aku tahu dari Fery, kau harus tau kalau hubungan kami sangatlah dekat," Mila memperhatikan seluruh penampilan Suci ,"dia juga cerita kalau kamu yang menggodanya terlebih dulu, ternyata semua rumor tentang sekretaris penggoda memang benar adanya ya," Milla menggoyangkan kepalanya, "dan itu yang kau lakukan bukan?" Suci sudah mengepalkan kedua tangannya,"berapa dia membayar harga dirimu untuk satu malam yang sudah kalian lalui?"
Plak....
Suci yang merasa harga dirinya dilecehkan, dengan emosi dan sekuat tenaga menampar pipi Milla,"saya tidak serendah itu, jadi jaga ucapan Anda!" Suci menunjuk dengan tangan yang gemetar, sementara Milla meringis saat merasakan panas pada pipinya.
"Kau tau apa yang baru saja kau lakukan ini kan? aku bisa saja mengadukanmu dan kau tahu Fery pasti akan membelaku, proyek ini sangat penting untuknya!" Milla bicara dengan masih memegang pipinya, ia masih syok dengan perlakuan Suci.
"Saya tidak takut, dan Saya tidak perduli, Anda juga harus ingat ini dengan baik, saya bukan kekasih Pak Fery yang terhormat itu, dan saya tidak pernah menjual tubuh dan harga diri saya ! jadi tolong jaga ucapan Anda," Suci yang masih kesal mendorong Milla sampai punggung Milla membentur tembok.
"Suci ! apa yang kamu lakukan?" burington suara Fery mengejutkan keduanya, dengan cepat Milla mengubah ekspresi wajahnya, ia mulai menangis saat Fery semakin mendekat.
"Sebenarnya ada apa denganmu?" Fery sudah merendahkan suaranya, ia membantu dan memegang kedua sisi bahu Milla dan menatap Suci dengan mata yang memerah, separuh hati yang ia temukan kembali terlintas dan itu membuat Fery semakin marah,"apa kau tidak bisa menjaga sikapmu?" tanya Fery kepada Suci.
Suci masih saja diam apa lagi saat melihat Milla yang diam-diam tersenyum seakan mengejeknya, dengan menahan kesal Suci berlalu dan masuk ke dalam kamarnya.
"Sebenarnya ada apa dengannya?" Fery kembali melihat Milla, "apa dia menyakitimu?" Milla masih tersedu dan menganggukan kepala, "kenapa Suci bisa berbuat seperti itu?" tanya Fery lagi, namun Milla masih enggan menjawab, "tolong maafkan dia, usianya masih terlalu muda, jadi Suci belum bisa mengontrol emosinya," pinta Fery dengan penuh penyesalan.
"Tidak masalah, aku sudah maafkannya, dia cuma salah paham saja," Milla menghapus air matanya, dan megang erat tangan Fery mencoba mencegahnya agar tidak menemui Suci ,"Pak Fery, bisa ikut saya sebentar? kebetulan saat ini tim saya sudah menunggu," Milla berusaha meyakinkan, Fery tersenyum simpul mengiyakan ajakan Milla.
****
Saat ini Fery sudah bergabung dengan beberapa orang laki-laki yang juga berprofesi sebagai arsitektur, seperti rencana semula kalau besok, mereka akan meninjau lokasi yang berada di sekitar pantai yang jaraknya memakan waktu kurang lebih 5 jam lagi dari tempat mereka menginap saat ini.
"Senang sekali bisa kerja sama dengan Pak Fery, saya tidak menyangka kalau Pak Ariel menyerahkan proyek besar ini untuk Pak Fery," Nino bicara sembari meresapi secangkir kopi, ya saat ini mereka sedang berada di sebuah kafe.
"Begitulah! Pak Nino tidak perlu cemas, proyek ini sangat penting dan saya pastikan kalau saya akan menanganinya dengan penuh tanggung jawab," Fery menjawab setenang mungkin, padahal saat ini ia sangat gelisah mengingat Suci, sudah hampir seharian Suci menjaga jarak, sudah berkali-kali Fery mengirimkan pesan, namun tidak ada satu'pun yang dibalas Suci.
Hingga menjelang petang Suci terbangun karena terus mendengar suara ketukan di pintu kamarnya, dengan malas Suci berjalan dan membukanya ,"maaf Mbak, saya mengantarkan makan malam untuk Mbak," seorang pelayan hotel memberikan nampan berisikan makanan.
"Saya gak pesan, dan saya gak lapar, " Suci menolak makanan itu membuat wajah pelayan wanita ini menjadi pias, "tolong dimakan Mbak, saya diperintahkan langsung oleh Pak Fery, saya akan dipecat kalau Mbak gak menghabiskan makan malam ini Mbak," pintanya penuh harap.
"Di mana dia?" Suci melihat pintu kamar Fery yang masih tertutup, "Pak Fery dan asistennya sedang pergi Mbak, jadi tolong bantu saya, habiskan makan malamnya ya Mbak," Suci menarik napas dan menerima nampan tersebut, namun pelayan ini masih enggan beranjak ia mengambil hp dan mengarahkanya kepada Suci.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Suci heran, saat meletakan makanan di atas meja ,"pak Fery pesan, kalau saya harus memastikan dan mengirimkan vidio bukti kalau Mbak menghabiskan makan malam dengan baik," ia bahkan sudah mulai merekamnya ,"tolong Mbak, saya gak mau dipecat," ucapnya semakin memelas.
Suci mengerlingkan mata dan mulai menghabiskan makanan itu dengan tetap membiarkan orang ini merekamnya, setelah makan malamnya selesai, Suci duduk dan menyilakan kakinya di atas kasur, ia membuka dan membaca semua pesan Fery, dan ponsel ini mengingatkannya pada setengah hati milik Yogi, "si tengil, ada dimana dia?" Suci meraba sekitar namun tidak mebemukan dimanapun.
"Apa si tengil itu mencariku ya?" Suci berjalan menuju balkon, udara malam sudah menusuk tulangnya, "sayang sekali, padahal aku tertarik dan ingin membeli foto aurora itu," Suci bicara lirih dengan memandang bintang di langit, namun tiba-tiba wajah Fery terlintas di dalam benaknya, "kapan aku menggodanya? memang aku merayu dia, tapi aku tidak pernah menggoda dengan tubuhku, aku gak mau ketemu dia, gak mau," kekesalan Suci semakin bertambah, dengan cepat Suci berjalan keluar dari kamarnya.
Terima kasih untuk semua dukungannya😊
Terima kasih sudah memberikan tips bun😍
Terima kasih like, vote, rate 5, komentar😍