Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Cincin


❤️Terima kasih sudah mendukung❤️


Sudah hampir jam 11 malam, Anggun belum juga bisa memejamkan kedua matanya, dia masih terus saja berbaring di atas kasurnya, Matanya terus saja betah menatap langit langit kamarnya , Sementara Suci yang sudah tidur lelap di sampingnya.


Adegan dimana Ariel mengajak Alisa menikah masih menari nari di matanya, "Bodoh " Kata Anggun sambil memukul kecil kepalanya .


Perlahan Anggun bangkit dia menyilakan kedua kakinya di atas kasur, dan Anggun menggulung asal rambut panjangnya, tapi kecantikannya masih jelas terlihat, walaupun Anggun hanya memakai baju tidur biasa.


Getaran hp di atas bantalnya membuatnya menoleh, pesan yang baru saja dibacanya membuat Anggun bingung, karena Anggun tidak mengenali nomor ini. " Orang iseng." ucapnya sambil melempar lagi hp itu ,tanpa berniat membalasnya.


Bayangan itu muncul lagi, seandainya saja dulu Anggun sempat mendengar langsung pinangan Ariel, mungkin Anggun juga akan sebahagia Alisa. Memikirkan itu membuat Anggun teringat sesuatu, bahwa Anggun masih menyimpan tulisan tangan Ariel dulu.


Anggun menurunkan kakinya, dia berjalan mendekati lemari yang ada di sudut ruangannya. Kemudian Anggun mengambil kotak kecil dari lemari dan dia membawanya kembali duduk di atas ranjang.


Lama dia memandangi tulisan tangan di atas kertas itu, tulisan tangan Ariel yang masih disimpannya dengan baik. Tulisan itu masih bisa dibaca dengan jelas. Sesak yang Anggun rasakan didalam dadanya setelah dia membaca tulisan itu.


"Seharusnya aku membakar ini juga dulu, kenapa kau harus datang lagi?" Anggun berusaha menahan tangisannya.


"Aku baik baik saja , aku sudah baik baik saja, bahkan aku sudah bisa melupakan mu, tapi kenapa kau harus datang lagi? apa salahku? kenapa kau harus datang lagi?" Ucap Anggun pelan sambil meremas kertas itu. Anggun juga menggenggam cincin yang ada didalam kotak itu.


Dering hp Anggun, membuatnya kembali menoleh, dengan cepat dia mengambilnya. Tertera no baru yang tadi mengirimkan pesan untuknya.


"Aku bilang turun sekarang!"


Belum sempat Anggun bicara, suara pria di sebrang sana mengejutkannya. Anggun sesaat terdiam.


"Kau dengar tidak? apa perlu aku membuat kekacauan di depan Butik mu ini?"


Bentakan itu membuat Anggun menjauhkan hp dari telinganya. Anggun mendekati jendela kamarnya, dia menyingkap sedikit tirai yang menutupi bagian kacanya. "Ariel?" Anggun melihat jelas Ariel berdiri di samping mobil.


"Kenapa kesini?" Kata Anggun sambil melihat Ariel dari jendela. Pandangan keduanya pun bertemu.


"Cepat turun." Kata Ariel kemudian dia mematikan hpnya secara sepihak.


*****


Udara malam yang dingin menembus setiap pori pori kulit Anggun, dia merasakan dingin sampai ke dalam tulang yang membuatnya sedikit menggigil. Disinilah Anggun dan Ariel berdiri berhadapan di depan mobil Ariel yang terparkir dihalaman butik milik Anggun.


"Ada apa?" tanya Anggun sambil melihat wajah Ariel yang tanpa ekspresi.


"Kau mau aku menikah dengan wanita lain?" tanya Ariel sambil berkacak pinggang.


"Maksudmu?"


"Jawab saja iya atau tidak?" Ariel sedikit mengeraskan suaranya.


"Ariel aku tidak mengerti apa maksudmu?"


"Kau cukup menjawabnya Anggun , jawab iya atau tidak,"


"Kau sudah tau jawabanku kan?"


"Itu bukan jawaban yang aku mau"


"Pulang lah ini sudah terlalu malam." Kata Anggun sambil mendorong sedikit lengan Ariel.


"Jawab Anggun, kau mau aku menikah dengan orang lain?" Kata Ariel sambil menyentuh kedua bahu Anggun.


"Jawab iya atau tidak." Ariel mengulangi pertanyaannya.


Rasa dingin yang menyelimuti tubuh Anggun sebelumnya, berubah menjadi panas, bukan cuma seluruh tubuhnya, bahkan hati Anggun juga merasakan panas yang membara.


"Kau mau aku menikah dengan orang lain? Jawab Anggun, Iya atau tidak?" suara Ariel lembut, entah kenapa dia merasa takut akan jawaban yang akan diberikan Anggun.


Anggun masih menatapnya dalam. Bayangan kebahagiaan Alisa beberapa jam yang lalu kembali melintas dihadapannya. Dia menarik dalam nafasnya, sambil terus menatap tajam mata Ariel.


"Iya..." jawabnya lirih.


Jawaban itu membuat Ariel menjatuhkan kedua tangannya dari bahu Anggun. Ariel mengusap wajahnya sejenak, dia berdiri membelakangi Anggun.


"Iya....Menikahlah dengannya ," ucap Anggun lagi , suasana menjadi hening, hanya suara kendaraan mobil yang melintas disekitar mereka yang terdengar jelas.


Keduanya kembali terdiam. Sampai Ariel kembali memutar tubuhnya dan menatap Anggun lagi, kali ini Anggun memalingkan wajahnya.


"Aku sudah tau jawabanmu ini...aku sudah tau kau pasti akan menjawabnya. iya kau pasti mau aku menikahinya."


"Kalau kau sudah tau, kenapa kau bertanya lagi?"


"Aku hanya ingin memastikan Anggun, hanya ingin memastikan untuk yang terakhir kali,"


"Itu tidak perlu Ariel, kau ini lucu sekali , bukankah kau mencintai Alisa? jadi untuk apa kau masih mau memastikannya lagi?" ucap Anggun sambil menggigit pelan bibirnya, menutupi kegugupannya.


"Iya kau benar, aku mencintai Alisa , aku sangat mencintai Alisa , aku kesini hanya untuk ini ." Ariel menunjukan sesuatu ditangannya.


"Kau masih menyimpan itu?"


"Iya, maksudku tidak , aku lupa dimana terakhir kali aku menyimpan benda ini, tapi aku tidak sengaja menemukannya di dalam mobilku," jawab Ariel bohong.


"Iya aku juga sudah lama membuang benda itu"


"Kau membuangnya?"


"Iya untuk apa aku menyimpannya? Bukan cuma itu saja, semua tentang kita dulu sudah aku buang jauh, aku sudah membakarnya, bersama benda itu juga,"


"Seharusnya, aku juga membuang benda ini ya, sama seperti yang kau lakukan, tapi baiklah aku akan mengembalikan ini Anggun, ini milikmu , kau yang memberikannya dulu"


Ariel memegang tangan kanan Anggun dan meletakan benda itu di telapak tangannya sambil terus memandang wajah Anggun.


"Terima kasih karena kau mau merancang busana pernikahan kami, masuklah diluar sangat dingin," ucap Ariel sambil melepaskan tangan Anggun.


"Kau pulanglah dulu !"


"Iyah baiklah, aku pulang dan maaf kalau aku sempat bersikap kasar terhadapmu"


"Iyah, aku tidak mempermasalahkan itu Ariel, dan..." Anggun menggantungkan ucapannya, dia mengulurkan tangannya.


"Dan semoga kau bahagia Ariel, dulu aku tidak sempat mengucapkannya secara langsung," ucap Anggun lagi.


Lama Ariel terdiam memandang tangan Anggun, sampai akhirnya dia juga mau menerimanya.


"Kau juga harus bahagia Anggun." Ariel menarik tangannya, dan masuk kedalam mobil.


Anggun masih berdiri ditempatnya, dia bisa mendengar dengan jelas suara mesin mobil Ariel yang perlahan melaju meninggalkannya.


"Kau meninggalkan aku lagi Ariel, ternyata kau kembali hanya untuk meninggalkanku lagi" Batin Anggun, perlahan Anggun membuka kedua telapak tangannya, dan menyatukan kedua cincin yang ada di genggamannya.


Sementara Ariel dengan perasaan yang kacau dia terus melajukan mobilnya, bahkan ia terus menambah kecepatannya sampai.......


Bersambung.


Mampir ke cinta Raisa