
Setelah Ezan yang pergi dengan perasaan yang tidak biasanya membuat dia melewati rute yang lain untuk pergi ke negara J. Di perjalan menuju negera J Ezan yang juga menikmati keindahan lewat udara mendapatkan firasat buruk yang akan datang.”Kenapa hatiku tidak enak ya,”ucap Ezan yang gelisa.”Aku berharap Martin dan Morgan tidak terluka karena penyerangan tersebut,”kata hati Ezan. Sampai dia merasakan hembusan angin yang tiba-tiba datang dan menyerang Ezan dengan jurus pembunuh.
Ezan menutup matanya dan bertukar jiwa dengan Martin yang juga sedang dalam keadaan tersedak karena formasi yang diberikan tidak bisa mengambil ahli segel.”Tukar,”ucap mereka secara bersamaan. Mereka berdua bertukar jiwa.”Siapa kamu mengganggu kembaranku,”kata Ezan yang ada diluar pulau dengan jiwa Martin.
“Kalian pengganggu mana ini,”ucap Martin dengan jiwa Ezan. Ezan yang melihat sekelilingnya yang penuh dengan darah seperti Laut Merah yang dangkal. Membuat dia frustasi karena segel yang dibuat oleh empat penjaga formasi di atas sana. Morgan yang lain yang tidak bisa bergerak karena sudah menyatuh dengan segel membuat jiwa mereka terkuras. Sedangkan Ezan yang bisa merasakan aliran jiwa mereka yang diambil memutuskan semua benang dengan satu jurus. “Memotong Aliran kehidupan,”ucap Martin dengan suara kecil.
Semua benang yang terhubung ditubuh semua orang terputus dengan satu jurus saja. empat penjaga yang merasakan ada yang aneh merasakan ada yang berbeda dengan penyegelan yang dilakukan. Sampai Martin membuat belahan jiwa menjadi tiga bagian dan pergi ke posisi penjaga formasi berada.”Kalian akan mati sekarang,”ucap mereka semua yang kemudian leher mereka terputus dan formasi menyegel menghilang.
“Martin,”kata Picu yang datang tiba-tiba.”Bantu mereka memulihkan tubuhnya aku akan kembali kemar,”ucap Martin. Picu menundukkan kepalanya dan melaksanakan tugas yang diberikan. Martin kembali ke kamar untuk berbaring agar tidak ketahuan oleh Morgan kalau dia sudah terbangun.
Di tempat lain Ezan yang berhadapan dengan moser jiwa lima orang membuat belahan empat jiwa melawan monster jiwa yang sedang ada dihadapannya. “Pengganggu saja,”kata Ezan yang membuat mereka tidak bisa bergerak sedikitpun.”Tulang jiwa pembunuh alam,”ucap Ezan dengan suara hati yang kemudian dia melangkah kebelakang orang yang sedang memimpin monster jiwa.
“Kamu siapa?,”kata Ezan dari belakang punggung dia. Satu pukulan dan satu tusukan yang saing menghindar. Mereka saling bertatap dengan santai untuk melawan musuh yang ada didepan mereka. Pukulan yang kuta dihantamkan di wajah tapi terhindar dengan kegagalan tendangan diperut dengan kencang. Pengubahan posisi yang sangat cepat dan membuat musuh mundur untuk beberapa langka. “Hebat juga kamu.Siapa kamu?,”kata Vizon.
“Untuk apa kamu ingin tahu siapa aku,”kata Ezan.” Yang sebentar lagi akan mati,”kata Ezan yang sudah mempersiapkan suatu hadiah. “Kamu membunuhku, jangan berharap,”kata Vizon yang mulai menyerang terlebih dahulu. Ezan yang menghindar serang setiap serangan yang dilontarkan oleh Vizon hanya seperti bermain kejar-kejaran.
“Apa ini kemampuan kamu, hanya bisa menghindar dan menghindar,”kata Vizon yang sudah dibelakang dia. Ezan hanya menyambut dia dengan senyuman sampai semua bayangan kembali. “Kamu meremehkan ornag yang tidak harusnya kamu remehkan,”kata Ezan yang mengeluarkan senjata abadi untuk membantai tubuh didepannya.”Sampai jumpa di neraka,”kata Ezan yang menghembuskan pedangnya kearah Vizon.
Vizon yang ingin menghindar tapi tidak bisa karena serangan yang diberikan sangat cepat jadi dia hanya bisa bertahan melawan serangannya. Tapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan dia yang mati begitu saja dengan retaknya perisai yang menghalaunya. Ezan hanya bisa tersenyum dihadapan musuh dan melihat dia dengan tatapan kebencian. Tapi apa yang dia rasakan sama halnya dengan dirinya yang ingin membunuh orang itu.
“Sudah,”kata Martin.”Sudah, tukar,”ucap Ezan. Dan mereka berdua bertukar jiwa lagi ke tubuh masing-masing.”Tidak aku sangka kalau jiwa kita bisa bertukar tubuh begitu saja,”kata Martin.”Bukannya sama saja dengan satu tubuh yang bergonta-ganti,”kata Ezan.”Itu benar,”kata Martin yang memutuskan pesan telepati.
“Kembali ke tubuh sendiri nyamannya,”kata mereka setelah kembali ke tubuh. Martin yang masih berbaring sedangkan Ezan yang melanjutkan perjalanannya. Morgan yang telah melihat seorang dari atas yang menghancurkan formasi bisa bergerak. Tapi dia masih khawatir dengan adiknya yang masih berbaring. Dia pergi menuju Martin berada takut jika kondisinya tidak akan membaik setelah apa yang terjadi di pulau. Tapi saat Morgan sampai di kamar Martin dia melihat dua orang.”Siapa kalian,”ucap Morgan yang sedang terluka.
“Kamu harus memulihkan kondisi kamu,”kata Rendi yang berjalan kearah Morgan.”Rendi, bagaimana adikku apa dia baik saja,”ucap Morgan yang khwatir.”Dia baik saja. Tapi kamu yang tidak baik saja bukan,”kata Rendi yang memapah Morgan untuk duduk.
“Dimana obatnya biar aku membantu kamu,”kata Rendi.”Disini,”ucap Bram dari belakang.”Aku saja yang melakukanya, kamu melihat yang lain saja. Kami berdua bukan musuh kalian,”kata Rendi. Bram memberikan obat kepada Rendi sedangkan Remon duduk di samping Martin yang sedang tertidur.”Hai Morgan apa kamu memiliki adik kembar,”kata Remon.
“Tidak kenapa kamu menanyakan seperti itu,”ucap Morgan yang binggung.”Jika kamu tidak memiliki saudara kembar bagaimana jika Martin memiliki saudara kembar. Apa yang ingin kamu lakukan,”kata Remon.”Bukanya itu bagus aku memiliki adik kembar. Jadi bertambah satu lagi adikku bukan dan keluargaku bertambah,”kata Morgan dengan percaya diri.
“Tapi apa kamu tidak penasaran jika kalau adik kamu memiliki kembaran,”kata Remon.”Penasaran kenapa,”kata Morgan. Morgan yang kembali termenung saat Rendi membantunya membalut lukanya.”Kamu tidak ingin bertanya kepadaku kenapa aku bisa ada disini,”ucap Rendi mengubah suasana.”Tidak kenapa, bukannya kamu masih hidup,”kata Morgan.
“Seperti yang diharapkan kamu memang bisa berpikir jernih. Tapi saat adik kamu terluka kamu tidak bisa mengontrol keadaan kamu sendiri,”kata Rendi. “Karena aku tidak ingin kehilangan laki, kamu tahukan bagaimana kehilangan hal yang berharga,”kata Morgan.
“Aku tahu,”ucap Rendi yang selesai membalut lukanya.”Jangan terlalu bergerak kamu harus memulihkan tubuh kamu, untuk kondisi yang tidak terduga,”kata Rendi yang berdiri.”Ayo kita pergi,”ucap Rendi kepada Remon.”Kami pergi dulu jaga dirimu dan adik kamu baik-baik,”kata Rendi. Mereka berdua pergi sedangkan Morgan yang masih termenung kenapa bisa mereka masuk kedalam pulau dengan penjagaan yang ketat.”Apa ada penghianat dalam pulau,”ucap Morgan dalam hati.
Sampai Martin membuka matanya,”Tidak ada penghianat dalam pulau hanya saja formasi yang kalian buat melemah.” Morgan tiba-tiba berdiri,”Martin, kamu bangun.” Martin duduk di kasur dan melihat kakaknya yang penuh dengan luka.”Kak kamu tidak apa-apa,”ucap Martin.”Seharusnya aku yang bertanya seperti itu apa kamu terluka saat penyerangan tersebut,”kata Morgan yang berjalan kearah Martin. Martin hanya menggelengkan kepalanya,”Tidak tapi kakak yang terluka.”
“Ini hanya luka kecil saja, jangan khawatir,”ucap Morgan yang duduk di samping Martin.”Biarkan aku bantu kamu menyembuhkan,”kata Martin.”Tidak jiwa kamu masih belum stabil bagaimana jika kamu pingsan lagi,”kata Morgan.
Martin hanya tersenyum,”Apa kamu kira pengobatan yang aku lakukan mengeluarkan jiwa tidak ini pengobatan yang sama seperti pertama kali kamu terluka karena penyusup.”
“Ohhh baiklah,”kata Morgan yang menurut kata adiknya. Martin memeriksa kondisi kakaknya sampai dia membuat resep obatnya.”Bram apa kamu diluar,”ucap Martin. Bram masuk kedalam,”Ada apa tuan muda?.”
‘Ini,”ucap Martin yang memberikan catatan kepada Bram.”Saya mengerti,”setelah membaca resep yang diberikan.