
Martin yang turun dari tangga berjalan menghampiri kak Meli untuk menayakan apa yang terjadi. Tapi kak Meli tidak berkata sampai Martin membantu kakaknya membersihkan puing-puing barang yang berjatuhan. Sampai selesai Martin berkata lagi kepada kak Meli,”Kak Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa toko berantakan dan ibu terluka?.”
Meli hanya terdiam sampai dia berkata,”Ayo kita duduk dulu, pasti kamu sudah lelah datang ke sekolahan sampai ke toko.” Martin menuruti kakaknya duduk,”Apa kak akan menjawab sekarang?.”
“Kakak akan mengatakan tapi kamu tidak boleh ikut campur apa yang akan terjadi. Kamu hanya boleh fokus belajar. Apa kamu mengerti?,”kata Meli. Marti tidak mengiyakan perkataan kakaknya sampai dia terdiam. “Jika kamu dian berati iya. Kakak akan cerita,”ucap Meli.
“Tadi ada beberapa preman yang menagih utang kepada ibu....,”kata Meli yang belum selesai karena ucapan Martin. “Utang apa, bukannya kakak dan ibu tidak memiliki utang?,”kata Martin yang bingung. “Apa yang kamu katakan itu benar ibu dan kakak tidak memilki utang. Tapi...,”kata Meli yang berhenti.
“Tapi apa kak?,”ucap Martin. “Ayah kamu,”ucap Meli. “Ayah, bukannya ayah sudah meninggalkan kita kenapa dengan ayah?,”kata Martin yang tidak tahu apa-apa.”Utang ini milik ayah. Mereka datang menagih utang ayah,”ucap Meli.
“Kenapa mereka datang kepada kita bukan ke ayah,”ucap Martin.”Kamu tahukan sifat ayah bagaimana?,”kata Meli. “Aku tidak terima inikan bukan urusan kita kenapa kita yang harus menanggungnya,”ucap Martin yang berdiri. Sampai Ibu dan Moli yang di atas mendengar percakapan mereka berdua yang membuat mereka turun. Martin yang sudah naik darah keluar toko tanpa memperdulikan panggilan ibunya dan kedua kakaknya yang memanggil Martin.
Martin yang berlari karena marah membuat dia tidak sadar kalau dia berlari sampai di pinggiran pantai. Martin yang masih marah mencoba untuk menenangkan diri dengan berteriak. Sampai dia mulai tenang dia melihat kearah lain, dari jauh dia melihat Izam bersama dua orang yang asing. Hingga Martin mendapatkan panggilan dari kak Moli.
Martin yang sudah tenang mengangkat telepon kak Moli dan berkata,”Ada apa kak?.”
“Kamu ada dimana sekarang,”ucap Kak Moli yang suara serak. Martin yang mendengarnya merasa kalau terjadi sesuatu di toko. “Aku ada di pantai kakak. Apa terjadi sesuatu di toko?,”kata Martin.
“Cepat kamu kembali. Ibu....,”ucap Moli yang terhenti karena ponselnya diambil dari preman. Martin yang mendengarnya merasa gelisah dan memanggil,”KAK MOLI ada apa?.” Tapi tidak ada jawaban hanya suara pukulan dan tangisan. Martin yang bergegas pergi dari toko tapi tanpa dia sadari saat ingin melangkah berlari dia menabrak teman Izam yang dia lihat.
“Hati-hati kalau mau jalan,”ucap Terko.”Maaf...,”ucap Martin yang bergegas berlari menuju toko. Izam yang ada dibelakangnya hendak ingin berkata,”hai Martin.” Tapi dia sudah pergi berlari meninggalkan mereka. Izam yang melihat kearah Terko dan Hazim,”Apa yang kalian lakukan membuat temanku takut sampai dia lari tanpa menyapaku.”
“Mana kami tahu.,”ucap Terko. “Aku rasa temanmu sedang ada masalah, dilihat dari wajahnya dia gelisah dan meninggalkan kamu,”ucap Hazim.
Izam memanggil Mizuki dan menayakan apa yang terjadi, sampai dia mendapatkan kabar kalau toko kakak Martin di ombak abrik preman. “Cari tahu preman mana yang mencari masalah dengan temanku,”ucap Izam.
“Dari pada kamu diam kenapa kamu tidak mengikuti teman kamu dari belakang,”kata Terko. Izam hanya menatap Terko dan berjalan santai sampai mendapatkan kabar dari Mizuki.”Bukannya kamu khawatir dengan teman kamu. Kenapa kamu masih santai saja?,”kata Hazim.
Sampai Izam yang mengikutinya datang dan menyuruh Mizuki untuk mengantar mereka ke rumah sakit. Martin yang masih kacau hatinya hanya bisa mengkhawatirkan ibu dan kedua kakaknya yang tidak sadarkan diri. Di perjalan menuju rumah sakit dia hanya bisa memegang tangan Ibunya yang ada disampingnya dan pikirannya mengkhawatirkan kakaknya yang tidak satu mobil dengan ibu dan Martin.
Sampai di rumah sakit mereka bertiga di larikan di ruang UGD untuk diperiksa. Martin yang terdiam kembali sadar setelah Izam berkata,”Kamu tidak apa-apa?.” Martin melihat kearah Izam dengan mencoba tegar dia berkata,”Terima kasih telah membawa ibu dan kedua kakakku ke rumah sakit.”
“Itu tidak masalah karena kita teman bukan,”ucap Izam. Sampai dokter keluar dari ruang UGD,”Bagaimana dok ibu dan kedua kakak saya?.”
“Mereka telah melewati masa kritis hanya beberapa luka pukulan dan luka gores dipunggung dan pinggang. Tapi saya sarankan untuk mereka tetap dirawat lebih lanjut,”ucap Dokter. “Baik dok,”kata Martin.
Setelah ibu dan Kedua kakaknya dipindahkan Martin terlihat tenang kalau kelurganya tidak mendapatkan luka serius. Izam yang menuggu diluar menyuruh Mizuki untuk mengurus administrasi rumah sakit.
Martin yang sudah tenang menghubungi orangnya untuk membayar rumah sakit dengan rahasia dan mencari tahu preman mana yang mencari urusan dengan dia. Hingga suara pintu terbuka Martin keluar ruangan. “Kamu masih disini,”ucap Martin.
“Bagaimana keluarga kamu,”kata Izam yang juga khawatir. “Mereka sudah membaik. Terima kasih telah menolongku. Tapi mereka berdua siapa Izam?,”kata Martin.
“Mereka adalah temanku. Abaikan saja mereka berdua,”ucap Izam. “Aku tidak tahu kalau kamu jago berkelahi,”kata Izam dengan dingin. “Kamu tidak usah berpura-pura lagi, bukannya kamu sudah tahu semuanya,”kata Martin.
Izam hanya tersenyum sampai Mizuki datang dan membisikan kalau biaya rumah sakit sudah lunas. “Ada apa?,”kata Martin dengan tenang. “Tidak...hanya saja tadi aku ingin membantu biaya pengobatan ibu dan kedua kakak kamu. Tapi katanya sudah dibayar lunas,”kata Izam. “Lunas apa maksud kamu? Aku saja belum membayar biasa rumah sakit baru mau ke sana setelah berbicara dengan kamu,”kata Martin yang tenang dengan kebohongan yang dia buat.
“Itu bukan kamu, lalu siapa?,”ucap Izam dengan santai.”Apa kamu sudah memberitahu Roki soal ini?,”kata Martin.
“Belum,”ucap Izam. Sampai teman Martin datang dan berkata,”Aku yang membayarnya.”
Martin dan Izam melihat ke depan. “Mark itu kamu,”kata Martin yang berpura-pura tidak tahu kalau dia yang menyuruhnya. “Bagaimana kabar mereka,”kata Mark. “Mereka dalam pemulihan jangan khawatir,”kata Martin. Mark yang melewati mereka berdua masuk kedalam ruangan. “Kamu mengijinkan dia masuk?,”kata Izam. “Dia tunangan kakakku,”ucap Martin.
Martin yang melihat kearah Mizuki dengan tatapan aneh. Izam yang melihat hanya berkata,”Dia Mizuki teman sekaligus rekan kerjaku.”