Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Bencana Dunia 6


Morgan yang merasakan hawa belahan jiwa Martin melihat di sekitarnya tapi tidak menemukan apa-apa. Sampai Mark berkata,”Apa yang kamu cari?.” Morgan hanya menggelengkan kepalanya dan menyusul Mark yang sudah didepan untuk bertemu dengan Lili.


“Sebenarnya apa yang terjadi,”kata Mark.”Apa maksud kamu,”kata Morgan.”Apa kamu tidak sadar kalau tadi aku merasakan aura belahan Martin yang datang ketempat kita,”kata Mark.”Jadi kamu menyadarinya,”kata Morgan.


Setelah membicarakan Martin mereka berdua telah sampai di negara J dimana Lili berada.”Bukannya kita harus berpencar membuat gambar formasi untuk menjaga negara J dan M,”kata Mark.”Iyakah,”ucap Morgan yang sedang mengingat.”Bukannya itu tugas Lili,”kata Morgan lagi.


“Aku ingin melempar kamu,”ucap Mark yang pergi menjauh.”Kamu mau kemana,”kata Morgan yang memanggil Mark yang sudah pergi menjauh.”Apa ada yang salah dengan ucapku,”kata Morgan dalam hati. Mereka berdua berpisah ke tempat yang berbeda sampai Morgan mendapatkan telapati dari Martin.”Dimana kamu,”ucap Martin.


Morgan yang masih di tengah kota berkata,”Ada masalah apa mencariku.”


“Dimana kamu sekarang,”ucap Martin dengan tegas.”Aku di tengah kota Negara J,”kata Morgan.”Lakukan apa yang aku perintahkan cepat kamu pergi dari tempatmu sekarang dan buatlah formasi dari luar setelah itu kamu pergilah ke markas lama kita. Sembunyikan di sana sampai keadaan aman,”kata Martin.”Bukannya seharusnya aku membuat formasi di dalam negeri kenapa harus diluar,”kata Morgan yang tidak paham.”Karena kamu beban,”ucap Martin.”Teganya kamu berkata seperti itu,”ucap Morgan.


“Kamu tidak usah berpura-pura, aku sudah tahu kalau kamu sudah memasang formasi di setiap lokasi dan kedua negara ini bukan,”kata Martin yang tahu segalanya.”Tidak aku sangka kamu tahu sejauh ini,”kata Morgan. ‘Kamu kira aku bodoh temui aku di luar  sekarang aku tunggu,”kata Martin yang menutup telepatiya.


Morgan yang pergi dari keramaian berteleportasi di tempat yang telah di tujuh. Sampai dia melihat wajah yang tidak asing.”Kamu menuggu lama,”kata Morgan yang merasa curiga dengan penampilan Martin.


“Ini belahan jiwaku,”kata Martin yang tahu apa yang dipikiran Morgan.”Untuk apa kita bertemu disini,”kata Morgan.”Aku akan mengatakan sekali saja dengarkan dengan baik. Karena aku tidak akan mengulangi lagi,”kata Martin yang menuju markas lama.”Kemana kita akan pergi,”ucap Morgan yang mengikuti. Tapi sebelum Martin pergi dia mengaktifkan formasi yang sudah digambar tapi hanya untuk pencegahan tahap pertama saja.


“Nanti kamu juga akan tahu kemana tujuan kita,”kata Martin. Morgan yang merasakan aura Martin yang tidak biasanya hanya bisa melihat punggung dia dari belakang.”Kenapa dia seperti ini apa yang terjadi dengannya,”ucap hati Morgan. Setelah mengikuti Martin dari belakang dia tersadar kalau tujuannya adalah markas lama.


Sampai di tempat dimana mereka kumpul yang dulu adalah tempat  pertama mereka membuat organisasi dari nol.”Kamu kenapa?,”ucap Morgan yang merasa ada yang disembunyikan Martin. Martin menoleh dan berkata,”Apa kamu ingat disini tempat pertama kita beradu untuk menujukan kemampuan kita.”


“Aku ingat itu, kenapa kamu mengingat masa itu,”ucap Morgan. “Tidak ada hanya saja ingin mengingat saja,”kata Martin. Setelah mereka mengingat masa lalu yang dimana mereka merasakan firasat bahwa gelombang jiwa semakin dekat.”Sudah waktunya,”kata Martin”Apa maksud kamu,”ucap Morgan. Martin tersenyum yang tidak bisa dikatakan olehnya. “Aku akan pergi sekarang, aku titip keluargaku yang masih hidup ya,”kata Martin yang menghilang dihadapannya.


Gelombang jiwa yang sudah mendekat semakin membuat dia merasakan hawa keberadaan benda tersebut.”Apa itu,”kata Karlot.”Ada apa Karlot,”ucap Rangga. Martin berdiri dan dengan diam membuat formasi pelindung di pulau yang dia injak.”Kenapa kamu,”ucap Karlot. Martin hanya terdiam saja dan gelombang yang kuat datang menghampiri mereka dengan kawanannya. Sedangkan Karlot dan yang lain merasa takut melihat gumpalan awan yang akan datang dan hendak ingin pergi. Tapi dihalangi oleh Martin,”Kalian mau kemana, tempat ini akan aman sampai gumpalan itu akan pergi.”


“Itu mustahil,”kata Rangga. “Jika kalian percaya kalian akan aman di tempat ini,”kata Martin dengan dingin sampai gumpalan tersebut menyelimuti pulau dimana mereka berada. Mereka yang di tempat yang melihat ekspresi Martin membuat mereka hanya bisa mempercayainya sampai gumpalan tersebut menutupi pulau dan langit menjadi gelap. Sampai Martin berjalan melewati batas pelindung dan menuju keluar. Tapi Karlot menghalanginya,”Kamu mau kemana. Apa kamu mau meninggalkan kami sendirian disini dengan makhluk dan mayat hidup ini.”


“Kalian akan aman disini aku ada urusan di tempat lain,”kata Martin yang melepaskan pegangannya.”Tunggu dulu,”ucap Rangga. Tapi Martin yang tiba-tiba menghilang dari hadapan semuanya membuat mereka binggung.”Kemana Martin kenapa tidak ada,”ucap Rangga.”Bukannya dia ada didepan kamu tadi,”kata Karlot yang melihat.”Iya tapi dimana dia sekarang dia seperti hantu saja menghilang tiba-tiba,”kata Rangga.


“Aku tidak tahu tapi dia sepertinya memiliki aura jiwa yang berbeda dengan kita,”kata Karlot.”Berbeda apa maksud kamu,”kata Rangga. “Aku tidak tahu kita tunggu saja semua ini berakhir,”ucap Karlot yang merasakan kalau bencana dunia ini penyebab dia akan pergi.


Setelah Martin pergi dan masuk kedalam gelombang jiwa yang menekan jiwnaya.”Aku sudah menunggumu,”ucap seorang yang tidak asing baginya.”Tidak aku sangka kamu berekernasi tidak menjadi iblis,”kata Martin.”Aku akan membalas dendam kepada kamu dengan membunuh umat manusia agar kamu menderita.”Iblis tetap iblis,”kata Martin.


“Voza apa kamu tidak sadar dengan jiwamu sendiri,”kata Martin.”Kenapa kamu takut. Tapi kamu akan mati di depanku,”kata Vazo.”Apa kamu yakin dengan perkataan kamu,”kata Martin yang sudah membuat formasi pemanggil iblis dan monster suci untuk melawan Vazo dan kawanannya.


“Apa yang ingin kamu lakukan,”kata Vazo yang masih tersenyum.”Tidak ada,”kata Martin. Suara yang nyaring dan pukulan dan pukulan terdengar oleh mereka pertikaian sudah dimulai.”Tidak aku sangka kamu masih memiliki jiwa dewa kamu,”kata Vazo.”Tidak juga aku hanya ingin melindungi orang yang aku percayai,”kata Martin yang ada disampingnya.”Dimana kamu menyembunyikan batu kristal hitam kegelapan Iblis itu berada,”ucap Martin.


“Apa yang kamu maksud. Aku tidak mengerti,”kata Vazo yang tidak tahu.”Aku tahu kamu menyembunyikannya disalah satu gerombolan mayat dan monster ini bukan,”ucap Martin yang sudah menyelidikinya. Vazo yang mencoba untuk tenang berkata,”Aku tidak tahu jika barang yang kamu katakan itu ada padaku.” Martin menghela nafas dan tidak berkata apa-apa sampai dia mengeluarkan aura jiwanya untuk menghentikan gelombang jiwa iblis.”Apa yang ingin kamu lakukan,”kata Vazo yang memberikan serangan tapi ditahan oleh iblis disampingnya. Vazo mundur dan melihat sekitarnya,”Apa yang sebenarnya terjadi.”


“Apa kamu tidak sadar saat kamu datang dan berekernasi menjadi iblis aku tahu niat kamu,”ucap Martin yang sedang dalam tahap mengeluarkan gelombang jiwanya. Vazo hanya tersenyum licik hingga dia menyuruh gerombolan untuk melawan Martin dan bawahan iblis yang dia panggi. Tapi karena perbedaan kekuatan gerombolan yang dipanggil oleh Vazo semuanya mati dengan menghilangkan hawa keberadaannya. Vazo yang sedang berpikir untuk membunuh Martin hingga dia mendapatkan ide untuk menyerang negara dimana keluarga dan sahabat Martin berada.


Tapi Martin yang sudah melakukan tindakan pencegahan tidak sadar kalau dia masih harus melindungi Izam yang sedang berada di negara K. Martin membuat belahan jiwanya untuk melihat keadaan Izam yang berada di negara K.