
Beberapa bulan telah berlalu dimana mereka sudah menyelesaikan setengah dari rencananya. Roki yang sedang ada di negara K untuk kunjungan perusahaan Roki tidak sengaja bertemu dengan Izam yang ada di negara K. Roki yang tidak melihat Izam yang bersama dengan seorang anggota baru melihat ka arah Roki yang ingin masuk ke dalam perusahaan dan menghentikannya.
“Roki,”kata Izam sambil menarik tangannya. Roki menoleh kearah suara dan melihat Izan di belakangnya.”Izam kenapa kamu disini?,”kata Roki yang menatap kearahnya.
“Bisa kita bicara sudah lama tidak bertemu dengan kamu. Bagaimana kabar kamu?”kata Izam yang masih menahan tangan Roki dengan berkeringat. Roki melihat orang dibelakang dia dengan aura yang menekan. Tapi Roki hanya berpura-pura tidak tahu jika dia bisa merasakan aura mereka.
“Baiklah,”ucap Roki yang melihat ke arahnya. “Tapi mau bicara dimana,”kata Roki lagi yang melihat kesekelilingnya.
“Bagaimana jika kita berbicara di cafe itu saja”kata Izam. Roki menganggukan kepalanya dan mengikuti Izam yang masih menarik tangannya.”Hai Izam. Siapa mereka?,”kata Roki yang melirik ke belakang.
“Mereka adalah pengawalku. Kamu jangan takut,”kata Izam yang menyembunyikan sesuatu. Roki yang melihat ke arah Izam hanya bisa berkata,”Baiklah.” Sampai mereka sampai di cafe yang di tuju mereka melihat menu dan memesan makanan yang ada di menu. Sambil menuggu mereka saling berbicara satu sama lain.
“Bagaimana dengan kabar kamu?,”kata Izam. “Aku baik untuk sekarang dan kabar kamu bagaimana,”kata Roki yang ingin tahu. Tapi jawaban yang diberikan oleh Izam tidak seperti biasanya. “Seperti yang kamu lihat,”dengan wajah yang frustasi dia menahan dari pengawasan.
“Apa kamu mendapatkan masalah sampai harus dikawal oleh mereka tidak bisanya. Biasanya kamu selalu bebes datang kemana kamu sukai tanpa ada pengawal. Tapi sekatang kamu dikawal oleh mereka. Pasti tidak nyaman iya kan,”kata Roki.
“Kayaknya kamu sudah berpengalaman soal ini ya,”kata Izam dengan santai tapi masih ragu. “Karena kamu tahu bukan setelah aku membuka perusahaan selalu ada pengawal atau sekertari yang selalu menemaniku. Jadi aku tahu rasanya di jaga oleh orang lain,”kata Roki.
Izam yang melihat Roki ingin meminta bantuannya tapi karena ada penjaga yang mengawasinya dia tidak bisa berkata hanya ada pembicaraan biasa saja.”Kenpa dengan kamu, terlihat pucat. Apa kamu sakit,”kata Roki yang khawatir.
“Aku baik-baik saja hanya saja,”kata Izam yang tidak tahu ingin bicara bagaimana. “Hai kamu. Bisa minta tolong belikan aku makan ini di toko yang ada diseberang sana untuk kakek saya,”kata Roki kepada penjaga Izam.
“Maaf tuan saya tidak bisa,”kata penjaga.”Kenepa tidak bisa kamu hanya pengawal saja dan kamu tidak mau menuruti permintaan tuan kalian. Apa kalian mau dipecat,”kata Roki dengan tageas.
“Maaf kami tidak bisa,”kata mereka dengan wajah tegas dan dingin. “Kalian tidak bisa. Ok jika tidak bisa biar aku pergi sendiri. Ayo Izam temani aku pergi ke toko kue tradisional untuk kakekku. Kamu tidak keberatankan,”ucap Roki yang menari Izam.
Tapi kedua pengawal tersebut mengikuti mereka berdua sampai Roki menoleh.”Kamu mau kemana?,”kata Roki dengan dingin.
“Saya hanya mengawasl tuan saya,”kata penjaga.”Tapi dia tidak ingin dikawal oleh kalian yang tidak mau menuruti permintaan temannya. Jadi kalian tunggu disini saja apa mengerti,”kata Roki yang menarik Izam.
“Kalian tetap disini saja,”kata Izam.”Tapi tuan aku harus mengawal anda,”kata penjaga.
“Hanya seberang sana saja. Kalian tadi di minta tolong temanku tidak mau sekarang malah ikut membuat dia marah,”kata Izam.
“Ini perintah kalian tetap disini dan awasi kami dari sini saja,”kata Izam yang mengikuti Roki dari belakang. Dua pengawal yang hanya bisa melihat mereka berjalan menjauh dan menghubungi atasan mereka atas perilaku Izam.
“Maaf tuan saya sedang terburu-buru,”ucap pelaku yang bergegas pergi. Pengawal mengambil ponselnya tapi sudah hancur dan mereka tidak bisa menghubungi tuan mereka sampai mereka berdua merasakan hawa keberadaan musuh yang datang menghampiri mereka. Yang membuat mereka harus pergi ke tempat Izam. Tapi tidak tahu kenapa mereka sudah dibunuh secara diam-diam dengan tusukan pisau yang sudah dilumuri racun yang mematikan dari belakang dan didepan mereka yang sudah ada mobil pengangkut mayat yang sudah di rencanakan.
Izam yang masih khawatir dengan pengawal itu terus melihat kebelakang sampai ada mobil yang menghalangi dia melihatnya.”Apa yang kamu lihat ayo masuk,”kata Roki yang membawa Izam masuk.
“Tidak ada,”ucap Izam yang masuk mengikuti Roki. “Selamat datang tuan bisa saya bantu,”kata pegawai toko.
“Saya ingin membeli kue untuk kakek saya apa bisa kamu rekomendasikan saya makanan apa yang bagus untuk kakek saya,”kata Roki kepada pegawai yang menyapanya.
“Apa bisa kamu katakan apa yang terjadi dengan kamu,”kata Roki menatap kearahnya. “Apa maksud kamu,”kata Izam yang masih waspada.
“Kamu tidak usah khawatir dengan mereka yang mengawasimu. Mereka sudah tewas,”kata Roki dengan santai. Izam hanya terdiam mendengarnya sampai dia melihat keluar tidak melihat dua orang itu.
“Apa kamu tidak takut,”kata Izam. “Takut apa?,”kata Roki yang melihat berbagai jenis kue.
“Apa kamu tahu siapa yang kamu ajak bicara tadi. Mereka adalah salah satu dari organisasi Kegelapan jiwa,”kata Izam yang menundukan kepalanya.
“Aku tahu siapa mereka dan kenapa aku membunuh mereka ada alasannya,”kata Roki sambil mengambil salah satu kue.
“Izam coba ini enak tidak,”kata Roki yang memberikan kuenya.”Maaf mba apa ini bisa dicoba,”kata Roki.”Tentu saja bisa tuan,”kata pegawai toko.
“Bagaimana enak tidak kuenya,”ucap Roki yang menuggu jawaban dari Izam.”Lumayan enak manisnya terasa... tunggu dulu,”ucap Izam yang kembali sadar dengan kata yang diucapkan oleh Roki tadi.
“Kenapa?,”kata Roki yang melihat tanpa bersalah. “Kamu masih saja bisa santai. Kamu tahu kalau mereka adalah salah satu dari Organisasi Kegelapan Jiwa, tapi kamu dengan santainya membunuh mereka. Berapa banyak nyawa yang kamu miliki,”kata Izam yang khawatir.
Roki terdiam sambil memikirkan jawaban yang dilontarkan oleh Izam dengan melihat kue yang ada didepannya.”Satu atau dua nyawa yang tersisa. Dari pada itu kamu yang membuat rekan kamu tewas berapa nyawa lagi yang ingin kamu tutupi,”kata Roki
.Izam terkejut dengan perkataan yang dilontarkan oleh Roki dengan pikiran yang sedih dia hanya bisa menundukan kepalanya. Sampai Roki mendapatkan pesan darai Jima kalau Mizuki dan Terko akan datang ke tempat Roki.
“Kamu akan bertemu dengan teman lama. Mau ke atas?,”kata Roki yang menaiki anak tangga. Izam hanya mengikutinya dari belakang. “Ini tuan kue yang di rekomendasikan dari toko kami silakan dicoba. Jika sesuai tuan bisa memesannya sekarang,”kata pegawai.
“Terima kasih,”kata Roki yang tersenyum ramah. “Roki apa yang terjadi dengan kamu setelah perselisihan waktu itu. Kamu sangat berbeda,”kata Izam.
“Bukannya kamu juga sama saja,”kata Roki yang membalas perkataan Izam.