Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Kesedihan


Angin berhembus dengan dingin suara gemuruh membawa awan hitam yang menghujani negara J. Martin yang masuk kedalam menghampiri ibunya yang berbaring tidak bernyawa dan membawanya ke kamar. Air mata menetes di wajah ibunya,”Maaf, aku menjadi anak yang nakal. Tidak bisa menjaga ibu. Aku akan membalas perbuatan mereka agar jiwa ibu tenang.”


Kak Mola yang bersama dengan Mark masuk ke dalam ruangn.”Bereskan semua ini,”kata Mitra.”Baik Bos,”ucap bawahan yang masih ada. Semua barang yang berserakan dibersihkan Tante Melati dan kak Mela masuk ke dalam kamar. “Maafkan tante yang tidak bisa menjaga ibu kamu Martin,”ucap Tante Melati.”Ini semua bukan salah tante,”ucap Martin yang masih memeluk ibunya.


Roki yang bersandar dibalik dinding hanya bisa terdiam dan tidak berkata apa-apa. Mitra menghampiri Martin dan memeluknya.”Iklaskan dan relakan dia pergi,”ucap Mitra dengan lembut. Martin menoleh kearah Mitra dan membalas pelukannya. Martin yang biasanya tegar dia menangis dihadapan semua anggota khusus dan Tante Melati karena kehilangan Ibunya yang dia sayangi. “Kamu ikut denganku,”ucap Morgan. “Aku mengerti,”kata Ali yang di ikuti oleh Alex. Mereka bertiga yang mengurus pemakaman Ibu Martin.


Ambulan datang membawa ibu Martin untuk mengeluarkan peluru dan memandikannya di rumah sakit terdekat. Setelah semua selesai Ambulan membawa ibunya kembali ke pemakaman yang untuk dikebumikan.


Martin yang jauh dari tempat dimana Ibunya dikubur hanya bisa melihat langit menjadi mendung. Sedangkan orang terdekat ibunya datang untuk mendoakan kepergian beliau. Termasuk Roki dan tante Melati yang ikut dalam pemakaman yang dilakukan secara sederhana. Tapi membuat orang yang kenal dengan ibunya merasakan kehilangan orang yang cintai dan sahabat serta teman yang baik. Kak Mola dan kak Mela yang berdampingan melihat wajah ibu untuk terakhir. Tapi Martin yang merasa bersalah tidak berani melihat wajah ibunya untuk terakhir kalinya. Martin hanya melihat dan mendoakan ibunya dari jauh, sampai Roki yang melihat menghampirinya.


“Kenapa kamu disini, tidak ingin mengucapkan kata perpisahan kepada ibu kamu,”kata Roki yang membujuk. Tapi Respon yang diberikan hanya sebuah penyesalan dari Martin,”Aku tidak pantas melihat ibuku karena aku yang telah membunuhnya.”


“Itu bukan kamu, tapi musuh kamu,”ucap Roki yang menoleh kebelakang dan meninggalkan Martin sendirian. Roki yang tidak bisa berkata lagi meninggalkan Martin dalam kesedihan dan penyesalan karena ibunya telah pergi darinya.


“Aku akan menyusul kamu,”ucap Martin yang berjalan menuju mobil.”Kamu mendapatkannya siapa orang itu,”ucap Martin yang masuk ke dalam.


“Dia adalah salah satu dari organisasi Rose Black,”kata Morgan.”Siapa dari delapan orang itu yang masuk kedalam kandang,”kata Martin. “Dia adalah Domino,”kata Rong Shi. “Ayo kita pergi ke hutan kabut dimana dia berada,”ucap Martin yang masih melihat keluar jendela dimana ibunya berada.


Mereka berempat menuju ke pulau berkabut dimana markas salah satu organisasi Rose Black berada yang dipimpin dari salah satu anggota khusus yang bernama Donimo. “Apa mereka sudah pergi,”kata Mark.” “Itu,”kata Lili melihat kearah mobil yang melaju cepat.


“Biarkan saja, mungkin dengan balas dendam dia bisa tenang,”kata Mitra.”Apa kamu tidak khawatir,”ucap Mark.”Tidak, yang harus kamu khawatirkan adalah Mola dan Mela. Lihat mereka,”kata Mitra kearah Mola dan Mela.”Aku tahu,”ucap Mark yang berjalan kearah mereka berdua. Setalah tamu pergi meninggalkan pemakaman hanya tersisa anggota Martin dan dua orang yang itu tante Melati dan Roki. “Kalian berdua harus kuat,”ucap Tante Melati yang menyemangati mereka berdua yang sedang bersedih.”Jika kalian bersedih ibu kalian tidak bisa tenang,”katanya lagi.


“Kami mengerti tante,”ucap Mola yang masih menangis. Mark yang melihat hanya terdiam sampai Mola melihat kearah Mark.”Kak Mola, dimana Martin,”ucap Mela.”Mungkin dia mencari tempat untuk menyendiri,”kata Mola.


“Biar aku yang mencari Martin,”kata Roki.”Tidak usah mencari dia,”kata Mark.”Apa maksud kamu,”kata Roki.”Dia sedang menjalankan tugas jadi dia pergi meninggalkan pemakaman,”kata Mark menjelaskan.”Tugas apa sampai meninggalkan pemakaman,”kata Roki yang kesal.”Apa dia tidak memiliki hati,”ucap Roki.


“Kamu tidak tahu dia, sebaiknya kamu tidak usah mencari dia,”kata Mark.”Apa kalian berdua mau kembali sekarang atau nanti,”kata Mark melihat kearah Mola dan Mela.


“Kita balik sekarang saja,”ucap Mola yang merangkul Mela. “Apa perlu tante antar kalian berdua,”kata Tante Melati.”Tidak tante, saya akan pergi dengan Mark saja,”ucap Mola.


“Baiklah jika itu mau kamu. Jika butuh bantuan kamu boleh menghubungi tante, anggap saja tante ini adalah pengganti ibu kamu,”kata Tante Melati.”Iya tante,”ucap Mela. Mark, Mola dan Mela pergi bersama menuju mobil yang terparkir.


”Dia adalah tunangan Mola yang dipilih oleh ibunya sendiri, makanya mama percaya dengan dia bisa menjaga Mola dan Mela,”kata Ibunya.


“Apa itu benar,”ucap Roki yang masih tidak percaya.”Iya. Dari pada itu kenapa kamu tadi marah dan kesal kepada dia,”kata Ibunya.


“Aku kesal karena Martin, aku tebak dia bukan pergi karena tugas. Pasti karena dia pergi untuk balas dendam,”kata Roki.”Apa yang kamu katakan bisa jadi. Tapi ini bukan urusan kita, apalagi orang yang kita hadapi kemarin bukan orang biasa. Di tambah lagi orang yang dipilih Martin cukup kuat,”kata Ibunya.


“Tidak tahulah,”kata Roki yang masuk kedalam mobil. Roki dan ibunya pergi meninggalkan pemakaman dan menuju vila di negara J. Di tempat lain Mola dan Mela yang bersama dengan Mark menuju rumah.”Apa kamu tahu siapa mereka yang menyerang kita,”kata Mola.


“Dia orang yang lama ini mecari masalah dengan Martin,”kata Mark.”Apa dia berbahaya,”kata Mela.”Dari pemandangan kemarin menurut kalian bagaimana,”ucap Mark. “Kalian berdua jika berselisih mungkin akan imbang, tapi dengan peningkatan kemampuan kalian yang tiba-tiba seperti kemarin bisa jadi pihak kita yang menang,”kata Mola yang menganalisis.


“Kamu masih sama saja,”kata Mark.”Tapi kapan Mitra kembali,”ucap Mela.”Aku kembali beberapa bulan yang lalu, tapi baru muncul sekarang. Maaf ya,”kata Mitra.


“Apa kalian benar tidak apa-apa,”kata Mitra yang khwatir.”Tidak usah khawatirkan kamu,”ucap Mola.”Tapi kami mengkhawatirkan Martin,”kata Mola.”Martin,”ucap Mitra.


“Iya. Aku lihat dia tertekan setelah kepergian ibu,”kata Mola.”Iya Mitra, bicaralah dengan Martin untuk melepaskan beban kesedihannya,”kata Mela.


“Aku sudah membantunya, hanya saja dia keres kepala. Kalian juga tahukan sifat Martin,”kata Mitra.


“Iya juga,”kata mereka berdua.”Kita sudah sampai,”kata Mark yang hendak keluar dari mobil. Mereka bertiga juga keluar dari mobil dan masuk kedalam yang sudah di tunggu oleh Alex, Ali dan Lili. “Kalian sudah sampai,”kata Lili.


“Siapa mereka,”ucap Mela yang tidak mengenal.”Dia adalah Alex, Ali dan Lili teman Martin dan teman kita berdua.”Terima kasih telah membantu kami kemarin,”ucap Mola.


“Mola,”ucap temannya dari belakang. Mola menoleh,”Kalian berlima kenapa bisa ada disini.”


“Kenapa kamu tidak memberitahu kami kalau terjadi masalah kemarin kamu tahukan kalau kita berlima selalu didekat kamu,”ucap Bora.”Maafkan aku, karena waktu itu sangat terdesak dan aku tidak memiliki kesempatan menghubungi kalian berlima,”kata Mola.


“Mela kamu tidak apa-apa, pasti kamu takut,”kata Bira. Mela hanya menatap tajam,”Tukang Bohong.”


“Aku mengkhawatirkan kamu, tapi sikap kamu menyebalkan,”kata Bira. Mereka berdua saling menatap tajam. “Siapa mereka,”kata  Baba.