Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Setelah Pembatalan 15


Roki yang tidak tahu harus bagaimana hanya bisa mengikuti dari belakang sampai mereka berdua duduk bersama.”Apa aku diabaikan?,”ucap hati Roki. “Ya sudahlah dari pada mengganggu aku akan masuk ke dalam kamar sudah tidak nyaman tubuhku,”ucap Roki dalam batin.


“Kamu mau kemana,”kata Kakek.”Aku mau ke kamar sudah gerah,”kata Roki.


“Aku keatas dulu,”ucap Roki yang berjalan menuju lantai dua. Fira dan kakek yang melihat hanya terdiam sampai Roki tidak terlihat di balik tangga.


“Kenapa kamu malu,”ucap kakek.”Kakekkan tahu kalau aku suka dengan Roki. Tapi dia tidak tahu suka denganku tidak,”kata Fira yang mengaduk.


“Dia suka dengan kamu hanya saja belum waktunya kata anak itu,”ucap kakek.”Belum waktunya apa,”kata Fira.


“Kamu tahukan kalau banyak masalah yang dialami kami berdua. Yang harus diselesaikan satu persatu, kamu dekati saja dia perlahan. Mungkin dia akan membuka hatinya sedikit,”kata Kakek.


Roki yang sudah di dalam ruangan melepaskan pakaiannya dan menuju ke bak mandi. Di dalam bak mandi Roki berbaring dan bersandar didalamnya untuk melepaskan lelah. Pikiran Roki yang lelah kembali tenang samapi dia ketiduran didalam bak mandi.


Tanpa disadari suara ketukan pintu dan suara panggilan membuat Roki terbangun.”Apa aku tertidur tadi,”ucap Roki yang berdiri dengan air yang berjatuhan di tubuhnya. Roki yang memakai handuk untuk menutupi bagian bawah langsung keluar dari kamar mandi.


Dan dia terkejut melihat Fira datang dan melihat dia hanya menggunakan handu. Fira yang melihat terkejut dan berbalik arah.”Kenapa kamu tidak pakai bajumu,”kata Fira yang malu.


“Akukan baru saja selesai mandi jelas saja belum memaki baju. Kamu sendiri kenapa kesini,”kata Roki yang mengenakan piama untuk menutupi tubuhnya.


“Aku diminta kakek untuk memberitahukan kamu kalau makan malam sudah siap,”kata Fira.”Aku mengeti. Kamu boleh keluar jika kamu mau terus ingin melihat tubuhku,”kata Roki yang berjalan mendekat.


“Siapa juga yang mau melihat kamu”kata Fira yang berbalik melihat ke arah dia. Tanpa dia sadari kalau Roki ada di belakang dia. Fira yang berbalik melihat sangat terkejut sampai dia ingin jatuh. Tapi dia langsung di rangkul oleh Roki yang ada didepannya. Mata mereka yang saling bertatapan tidak tahu kenapa angin malam itu sangat sejuk.


Dan membuat mereka saling berdekatan bibir mereka saling mendekat satu sama lain sampai Yamato datang mengetuk pintu dan membuat semuanya tersadar. Dan secara tergesa-gesa Roki melepaskan rangkulannya dan Fira mendorongnya.


Sementara Yamato yang datang di waktu yang tidak tepat merasa bersalah dan menudukan kepalanya.”Maaf jika saya mengganggu kalian berdua. Silakan kalian lanjutkan,”ucap Yamato yang pergi.


“Tunggu dulu Yamato,”ucap Roki yang tidak kesampaian oleh Yamato kerena sudah pergi menjauh.”Aku juga kan turun,”kata Fira yang wajahnya memerah.


Di luar ruangan Fira yang berhenti berjalan menutup wajahnya dengan kedua tanganya sambil berkata,”Bagaimana bisa aku melakukannya. Ini membuatku malu.”


“Aku harus bisa membuat diriku tenang sebelum bertemu dengan kakek di bawah,”kata Fira yang mencoba membuat hatinya tenang dan berjalan seperti tidak terjadi apa-apa. Sedangkan Roki yang masih di dalam ruangan hanya bisa menyentuh rambutnya.”Tadi hampir saja,”kata Roki dengan suara kecil.


“Kenapa dia begitu menggoda dan menarik hatiku,”ucap Roki yang tidak bisa berbuat apa-apa. “Jika Yamato tidak datang mungkin saja kita bisa berciuman untuk pertama kalinya,”kata Roki yang membayangkannya.


“Tunggu dulu kenapa aku harus mebayangkannya,”kata Roki dalam hati. Segera dia masuk ke dalam ruang pakaian untuk mengambil baju biasa untuk dia kenakan. Setelah berpakaian dengan benar dia turun dan menuju lantai bawah yang sudah di tunggu oleh Fira dan kakek.


“Apa kalian sudah menuggu lama,”kata Roki yang bicara biasa.”Kamu lama sekali sedang apa kamu di kamar,”kata kakek.”Tadi aku ketiduran dalam kamar mandi,”kata Roki yang duduk.


“Maaf tuan makan sudah siap semua. Silakan tuan makan,”kata Yamato. “Ayo kita makan sekarang,”kata kakek.


Malam yang indah mereka bertiga seperti dalam suasana keluarga baru yang hangat sampai suara petir terdengar. Hujan yang deras datang pada waktu yang tidak disangka.”Apa hujan?,”kata Fira.


“Baiklah,”kata Fira yang senang.”Saya siap kan kamarnya untuk nona,”kata Yamato yang pergi.


Malam itu Fira tinggal di vila Roki karena hujan yang deras bersamaan dengan petir yang bergelegar. Selesai makan malam mereka saling berbincang-bincang sampai waktu sudah menujukan tengah malam.”Aku akan ke kamar,”kata Fira yang sudah beranjak berdiri dari sofa.


“Kamu beristirahat saja,”kata Kakek. “Dia sudah istirahat apa yang terjadi denganmu,”kata kakek kepada Roki.


“Apa maksud kakek, aku tidak paham,”kata Roki.


“Kamu jangan bohong. Kakek tahu terjadi sesuatu bukan dengan kamu di negara K,”kata Kakek. Roki menghela nafas,”Baiklah Roki akan katakan. Aku bertemu dengan Remon dan Dayati di perusahaan. Mereka ingin menjalin kerja sama dalam bisnis. Tapi mereka juga melakukan tindakan licik dibelakangnya,”kata Roki.


“Tindakan licik yang bagaimana yang kamu katakan,”kata kakek yang tidak paham. “Mereka ingin kerja sama tapi mereka membuat rencana untuk mengambil setengah dari saham yang di miliki perusahaan kek. Bukannya itu licik apa lagi surat penyerahan saham itu ada di balik rencana bisnis mereka. Pantas saja kalau mereka bisa berkembang sampai sejauh ini kalau mereka saja melakukan secara diam-diam dan tidak enak untuk dicontoh,”kata Roki.


“Mereka tidak kabok. Tapi apa kamu menadatangani surat itu,”kata kakek.”Tidak yang menada tangani surat itu adalah Rere. Jika mereka ingin mengambil saham perusahaan juga tidak bisa karena bukan aku yang menadatangani surat itu,”kata Roki.


“Apa  yang kamu lakukan setelah melihat rencana mereka,”kata Kakek.”Aku meminta Rere untuk mnegikuti permainan mereka sampai mereka puas dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sampai waktunya kita hancurkan mereka secara bersama-sama,”kata Roki.


“Tapi kamu harus berhati-hati dengan Organisasi Kegelapan Jiwa. Apa kamu paham,”kata Kakek yang berdiri.”Kakek akan istirahat. Kamu jaga kesehatan kamu,”kata kakek yang berjalan menuju kamar.


Roki yang masih di di ruang tamu melihat hujan yang turun semakin deras. Tidak lama dia melihat dia menuju lantai dua dan masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba lampu padam.”Ayolah kenapa padam pada saat seperti ini,”ucap Roki.


Karena dia bisa melihat dalam kegelapan dia mengambil lili di bawah. Saat hendak ingin mengambil dia melihat Yamato yang sudah mengambil lilin.”Tuan kenapa anda ke sini,”kata Yamato yang melihat.


“Aku ingin mengambil lilin. Mana lilinnya,”kata Roki.


“Ini tuan. Maaf tuan bisa saya minta tolong,”ucap Yamato karena bersalah karena sudah menggaggu tadi dikamar tuannya bersama dengan Nona Fira. “Minta Tolong apa,”kata Roki.


“Bisa anda bawakan lilin ini untuk nona Fira dia pasti ketakutan apa lagi ini pas hujan dan mati lampu lagi,”kata Yamato.”Dia takut gelap atau takut hujan dan petir,”kata Roki yang mengambilnya.


“Dia taku dengan suasana hujan bersamaan dengan petir dan posisi lampu padam. Karena nona memiliki trauma,”kata Yamato.


“Aku mengerti aku akan mengantarnya,”ucap Roki yang berjalan menuju lantai dua dimana kamar Fira berdekatan dengan kamarnya.


Sampai didepan pintu Roki mengetuk pintu sampai dia memanggil nama Fira. Tapi tidak ada jawaban, hingga dia mendengar suara langka kaki yang cepat dan Fira tiba-tiba datang yang kemudian memeluknya. Roki yang ingin berkata melihat Fira yang menangis hanya bisa terdiam sampai Fira tenang.


“Apa kamu sudah tenang,”kata Roki.


“Aku membawa lilin untuk kamu,”ucap Roki lagi. Fira yang masih takut hanya berkata,”Terima kasih.”Dengan suara yang bergetar karena ketakutan Roki mengantar Fira masuk ke dalam kamar.”Duduklah,”ucap Roki sambil menaruh lilinya.


“Aku akan pergi,”ucap Roki. Tapi Fira yang masih takut menahan baju Roki.