Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Kembali


Martin yang masih merenung melihat malam yang penuh dengan warna merah dilangit.”Pintu ketujuh telah terbuka,”ucap Martin. “Sudah waktunya aku kembali, aku masih memilki kak Mola dan kak Mela,”ucap Martin yang berdiri. Saat Martin menoleh dia sudah disambut oleh teman sejatinya yang menuggu Pimpinan mereka kembali.


“Apa kamu sudah kembali,”kata Ling Yong. Martin tersenyum dan berjalan kearah mereka,”Ayo pergi.” Semua anggota merasa senang Bos mereka telah kembali.”Semua barang berharga telah kita dapatkan mayat sudah dibereskan, untuk pengganti Domino palsu sudah siapkan seperti rencana awal. Tinggal menuggu bencana besar tiba,”kata Rong Shi.


“Jika semua sudah beres ayo kembali ke rumah dan bertemu dengan yang lain. Setelah itu kita kembali ke gua hitam,”kata Martin yang berjalan didepan dia.”Apa,”ucap Ling Yong.”Kita akan kembali lagi membaca buku,”kata Rong Shi.”Kenapa kalian kembali loyo setelah aku mengatakannya,”ucap Martin.


“Jelas saja kita tidak semangat apa lagi membaca buku lagi,”kata Morgan. “Kita akan ujian untuk masuk ke pintu ketiga. Apa kalian tidak mau masuk,”ucap Martin.”Tidak,”ucap mereka bertiga.


“Mau tidak mau iya. Kalian harus masuk untuk meningkatkan kemampuan kalian dalam bela diri dan pertarungan,”ucap Martin.”Bos,”ucap bawahan yang siap menjadi mata-mata pulau memerankan anggota dan Domino. “Lakukan seperti yang sudah dilakukan,”ucap Martin yang menepuk bahu pimpinan kelompok mata yang akan menjadi Domino palsu.


Martin yang ketiga temannya pergi menuju rumah berkumpul dengan mereka.”Menurut kamu indah tidak malam ini,”ucap Rong Shi.”Indah dengan aura khas Laut Merah,”kata Ling Yong.


“Tapi bukannya ini menandakan kalau kita ada, bukan,”ucap Morgan yang mengendarai mobil. Malam yang sunyi mereka berempat sampai di depan rumah. Mela dan Mola yang belum tertidur mendengar suara mobil. Mereka berdua keluar dari kamar dan menyambut adik laki mereka.”Kamu sudah pulang,”kata Mela. Martin yang hendak membuka pintu disambut oleh kedua kakaknya.”Aku pulang,”ucap Martin.


“Kalian sudah kembali,”kata Alex dibelakang mereka.”Tentu saja. Apa kamu merindukan kami,”ucap Morgan. “Malas banget merindukan kalian,”kata Alex.”Sudah... ayo kita masuk,”ucap Mitra dibelakang Mola dan Mela. Mereka berkumpul bersama,”Dan mereka adalah teman kak Mola.”


“Iya kamu sudah tahu mereka siapa,”ucap Kak Mola.”Jika seperti itu Tema aku titip kedua kakakku apa boleh. Jika nanti aku pergi,”ucap Martin dengan senyum ramah.”Tentu saja karena Mola dan Mela sudah aku anggap saudara kami,”kata Tema.


“Baguslah jika seperti itu, aku bisa tenang sekarang,”kata Martin. “Kenapa kamu berkata seperti itu Martin,”ucap Mela.


“Karena besok aku akan pergi lagi kakak. Jadi aku tidak akan di rumah,”kata Martin.”Kapan kamu akan kembali,”kata Mola.


“Aku tidak tahu. Tapi aku akan menyuruh anak buahku untuk tetap menjaga kakak kok,”ucap Martin. “Kamu tidak harus khawatir dengan kami, kami akan baik saja. Yang penting jaga saja kondisi kamu,”kata Mola. “Ayo semuanya istirahat,”kata Martin yang ingin kembali ke kamar.


Pagi setelah malam yang berat Martin menikmati makan bersama kak Mola dan Kak Mela untuk terakhir kalinya bersama yang lain.”Martin,”ucap Lili.


“Ada apa,”kata Martin.”Apa kita melanjutkan yang kemarin,”ucap Lili dengan nada lemas.


“Iya. Ada masalah,”ucap Martin.”Apa kita tidak ada liburan,”ucap Lili.


“Tidak,”kata Martin.”Kita akan kembali hari ini dan kembali ke tempat itu, selesaikan yang belum selesai,”ucap Martin.


“Sudah,”kata Mitra. Semua anggota dan teman Martin kembali dengan wajah lemas dan tidak bertenaga.”Kenapa dengan mereka,”ucap Bara.”Mereka hanya kehabisan tenaga untuk membuka mata mereka,”ucap Martin.”Tidak usah khawatirkan dengan mereka,”kata Martin lagi.


Mark terkejut dengan hadiah yang diberikan Mola dan melihat dia sambil memegang pipi bekas ciuman Mola. Mola hanya tersenyum malu kepada Mark saat mata mereka saling menatap satu sama lain.”Dunia milik berdua yang lain dihiraukan,”ucap Mela.


“Bisa jadi,”kata Martin. Mereka kembali menikmati makanan pagi dengan suasana yang tenang dan damai. Sampai Martin mendapatkan kabar kalau Izam sedang dalam perjalan bisnis untuk bertemu dengan organisasi peneliti.”Dia ingin pergi,”ucap Martin dalam diam.


“Ada apa?,”kata Mitra yang melihat kearah ponselnya.”Jadi dia sudah mulai bergerak untuk meningkatkan fisik tubuhnya,”kata Mitra.


“Bisa jadi,”kata Martin.”Kapan kita akan berangkat,”kata Ali. “Sekarang, jika kalian sudah menyelesaikan makanan kalian semua,”kata Martin. Martin berdiri dan berkata,”Aku akan pergi sekarang. Jika ada apa-apa hubungi aku ya kak.”


“Kamu harus jaga kesehatan kamu, kami akan selalu menuggu adik kecil kami,”kata Mola.”Aku pergi dulu,”kata Mark yang mencium kening Mola. Martin dan yang lain pergi kemana gua hitam berada untuk meyelesaikan ujian masuk ke pintu ketiga.


“Mereka telah pergi tidak kelihatan lagi,”kata Tema.”Iya,”ucap keduanya.”Ayo masuk,”kata Mola.”Apa kalian berdua akan tetap membuka cafe,”kata Tema.”Tentu saja itu penghasilan kita berdua,”kata Mela.”Jika seperti itu kami akan membantu kalian menjalankan cafe dengan tempat rahasia kita. Bagaimana,”kata Tema.


“Tidak masalah, asalkan bisa menjaga keamanan cafe dengan baik,”kata Mola.”Tidak usah khawatir dengan itu semua,”kata Tema.


Di tempat lain Izam yang sedang dalam perjalan menuju pulau obat dimana markas organisasi peneliti berada. Izam yang merencanakan pelatihan di pulau dan memperluas wilayah dengan kerja sama antara wilayah rusia dan amerika yang selama ini di rencanakan oleh Izam. Tapi karena suatu hal yang harus di urus dalam kelompok, rencananya berubah karena kelompok rusia dan wilayahnya sudah diambil ahli oleh organisasi laut merah. Yang sampai sekarang masih belum diketahui siapa mereka dan berapa jumlah anggota mereka.


Di perjalan menuju pulau obat Izam mendapatkan telepon darai Roki tiga hari yang lalu tapi dia tidak menjawab. Karena apa yang dipikirkan Izam harus pada satu tempat dimana dia bisa menambah kerja sama dan kawan untuk mendukung dia mendapatkan apa yang dia inginkan.”Kenapa kamu tidak angkat,”kata Red.


“Tidak aku tidak mau diganggu dengan masalah yang kecil,”kata Izam. “Masalah kecil yang kamu maksud apa Roki,”kata Red. Izam hany tersenyum dingin.”Apa kalian tidak melihat perkembangan Martin waktu itu sangat mengejutkan. Aku tidak ingin ketinggalan jauh darinya.Apa lagi dengan apa yang telah terjadi pada kelompok kita. Aku ingin menambah kekuatanku,”ucap Izam yang mengepal tangannya.


“Bukannya kamu terlalu keras kepala,”kata Samuel yang masuk kedalam ruangan.”Apa kalian ingin anggotaku yang aku jaga tewas didepan mataku,”kata Izam dengan dingin.”Sebenarnya kita mau kemana Bos, kenapa kamu mengajakku,”kata Erik yang didekat pintu masuk.


“Kita akan pergi ke pulau obat dimana kawan kita berada,”ucap Izam.


“Apa maksud kamu Bos,”kata Erik yang tidak tahu apa-apa.”Kamu akan tahu nanti jika kita sudah sampai di pulau,”ucap Samuel.


“Kenapa kalian seperti menyembunyikan sesuatu dariku,”kata Erik yang curiga.


“Apa yang ingin kamu ketahui,”kata Red yang mendekat ke wajahnya.”Aku ingin kamu bersamaku,”kata Erik yang membalas dengan tatapan hangat dan mempesona. Red yang melihat wajah Erik kembali mundur dan merasa dirinya dalam masalah besar.”Kenapa kamu bersikap seperti itu, membuat aku merinding,”kata Red. “Memang apa yang aku lakukan,”ucap Erik yang tidak terjadi apa-apa.