Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Penyelesaian 1


Hari yang dilalui Martin menuggu ibu dan kak Mela siuman bersama dengan kak Mola. Martin menghela nafas,”Apa yang harus aku lakukan?.” Kak Mola yang melihat adiknya gelisah hanya bisa menatap sampai ponsel ibunya yang dibawa oleh kak Mola berbunyi. Martin menoleh ke arah Kak Mola,”Siapa kak?.”


“Tante Melati menghubungi mama. Angkat tidak,”ucap Kak Mola yang ragu untuk mengangkat.”Biarkan saja dulu untuk beberapa hari,”kata Martin. Kak Mola hanya menururti keinginan adiknya untuk tidak mengangkat telepon dari tante Melati. Martin berjalan, tapi dihentikan oleh kak Mola,”Kamu mau kemana?.”


“Apa kamu mau pergi untuk balas dendan, bukannya Geng SaNaHa adalah teman kamu Izam,”ucap Kak Mola. Martin melihat kearah kakaknya dan memegang kedua bahunya,”Tidak kakak, aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Untuk sementara aku akan menyuruh anak buahku untuk menjaga kakak disini untuk beberapa minggu. Apa kakak tidak apa-apa aku tingkal?.”


Kak Mola hanya melihat adiknya,”Tidak kamu pergilah aku akan baik-baik saja. Nanti aku akan kabari kamu jika ibu dan Mela bangun.” Martin berjalan keluar gedung rumah sakit dan menghubungi  Santo yang merupakan anggota khusus yang ada di pulau untuk menjaga kakaknya di rumah sakit.”Santo kamu pergilah ke rumah sakit jaga Jel dan keluargaku yang ada dirumah sakit X. Bawalah beberapa orang untuk ikut menjaga, kamu mengerti,”kata Martin yang kemudian mematikan teleponnya. Santo yang mendapatkan tugas dari atasnya pergi dengan lima orang yang ada dipulau dan sebagian tetap mejaga pulau.”Hubungi anak buah kamu untuk berjaga di rumah sakit X sebelum kita datang kesana,”kata Santo kepada Moza.


Moza hanya menganggukan kepalanya dan menghubungi anak buahnya yang ada di negara J untuk pergi kerumah sakit x.”Apa yang terjadi?,”kata Putu.”Jel dan keluarga Bos diserang oleh anak buah Izam,”ucap Santo.


“Bukan orang ketiga yang menyamar menjadi anak buah Izam,”kata Putu.”Tidak ada yang tahu. Ayo pergi sekarang,”kata Moza. Mereka bertiga pergi karena kedua orang yang lain sudah di negara J bersama anak buah yang lain.


Di tempat laian Izam yang tidak mengetahu apa-apa kerena dia masih di negara M untuk menjalankan Bisnis.”Kenapa firasatku tidak enak,”kata Izam.”Apa yang kamu pikirkan,”kata Bunga.”Tidak hanya saja aku merasa akan terjadi sesuatu yang besar,”kata Izam.


“Apa perluh aku hubungi Red dan Samuel,”kata Bunga yang mendapatkan pesan darai Red. Bunga yang membaca pesannya langsung menatap Izam.”Ada apa?,”kata Izam yang binggung.”Aku baru mendapatkan kabar dari Red, kalau anak buah kamu menyerang keluarga Martin dan anak buah Jel,”ucap Bunga.


“Apa? Itu tidak mungkin,”kata Izam yang tidak bisa mempercayai dan langsung menghubungi Erik.”Bos dimana kamu?,”ucap Erik dengan suara berat.


“Apa yang sebenarnya terjadi?,”kata Izam.”Begini Bos kami mendapatkan anak buah kita menyerang keluraga Martin dan anak buah Jel. Tapi ada yang tidak beres Bos dengan mereka yang menyerang keluarga Martin...,”kata Erik yang terhenti tiba. Izam yang masih terhubung mendengar suara Martin,”Apa benar kalian menyerang keluargaku, sementara yang mencari masalah adalah aku bukan keluargaku. Kalian cari mati ternyata.”


“MARTIN INI KESALAHPAHAMA...JA,”kata Izam yang keras yang kemudian komunikasi dengan Erik terputus.”Sial,”ucap Izam.”Ada apa?,”kata Bunga yang gelisa.”Aku harus kembali,”kata Izam yang bergegas pergi dengan pesawat pribadi.


“Tunggu dulu apa yang terjadi,”kata Bunga yang menahan. Tapi Izam tidak memperdulikan Bunga karena khawatir dengan anak buahnya. Izam pergi setelah melepaskan pegangan Bunga.


Bunga yang melihat hanya menatap dan menghela nafas,”Moga saja tidak terjadi apa-apa.”


Martin yang sendirian masuk ke dalam markas Izam yang kebetulan bertemu dengan Erik yang sedang berkomunikasi dengan seseorang.Hingga dia mendengar dari mulut Erik kalau anak buah mereka menyerang keluarga Martin dan anak buah Jel. Tapi dalam penyerangan ini anak buah mereka mengalami sesuatu yang aneh dan sedang dalam pemeriksaan. Martin yang mendengar masuk kedalam lewat jendela yang terbuka dan berkata,”Apa kalian yang menyerang keluargaku, sementara yang mencarai masalah adalah aku kenapa kalian menyerang keluragaku yang tidak tahu apa-apa. Kalian ingin dibunuh ternyata.”


Erik yang mendengar suara yang tidak asing melihat ke depan. Erik terkejut kalau dia melihat Martin ada didepannya dan menjatuhkan ponselnya hingga terdengar suara Izam dari komunikasi yang mereka sambung.Martin ini kesalahpaham itu pesannya yang kemuadian dia injak teleponnya dan mendekatai Erik yang ada didepan matanya,”Jawab.”


Erik terdiam, hingga Samuel dan Red datang dan menaraik Erik dari belakang.”Apa mau kamu Martin,”ucap Samuel. “Hebat...hebat ketua baru Semuel dan Red. Tidak aku sangka bisa bertemu dengan kalian berdua,”kata Martin yang kemudian mengeluarkan aura dingin disekitar mereka. Samuerl, Red dan Erik yang merasakan dingin disekeliling mereka tidak bisa bergerak.”Aku datang hanya ingin bertanya,”kata Martin yang duduk di sofa didekatnya.


“Apa benar kalian menyuruh anak buahmu untuk menghancurkan kelurgaku,”kata Martin.”Kami tidak menyuruh mereka untuk menyerang keluarga kamu. Ini pasti ada kesalahpaham saja,”kata Red.”Karena ini ada kesalahpaham dimana anak buah kalian yang menyerang keluargaku. Katanya ada yang aneh dengan mereka,”ucap Martin dengan dingin.


“Kami akan membawa kamu tapi dengan satu syarat,”kata Red.”Apa itu?,’ucap Martin menatap mereka bertiga.”Kamu dilarang membunuh mereka dan kami bertiga,”kata Red.”Tidak masalah asalkan kalian membawa aku ketempat anak buah kalian yang menyerang keluargaku,”kata Martin. “Ikut dengan kami,”kata Semuel yang berjalan terlibih dahulu. Martin yang berdiri dan mengikuti mereka bertiga sampai di rumah sakit.”Mereka ada di ruangan ini,”kata Samuel.


“Mereka ada disini,”kata kata Martin yang masuk kedalam ruangan.”Apa yang ingin kamu lakukan,”kata Erik saat melihat Martin menyentuh anak buah mereka yang tidak sadarkan diri.”Apa, hanya ingin melihat kodisi tubuh mereka saja tidak boleh,”kata Martin yang dengan perlahan memeriksa anak buah Izam yang telah menyerang keluarganya.


“Bau cendana hitam,”ucap Martin dengan suara kecil yang kemudian berjalan kearah jendela. Martin melihat kebawah gedung ,”Zimu.” Setelah melihat keluar gedung Martin melihat Samuel sedang memberitahukan Izam.”Apa kamu memberitahukan kepada Izam,”ucap dingin Martin yang berjalan kearah mereka.


“Dia berhak tahu,”kata Red yang menghadang Martin.”Dimana Hizam sekarang,”kata Martin. “Kenapa kamu mencariku,”kata Hizam dari belakang mereka bertiga.”Hai Hizam lama tidak bertemu, bagaimana kabar kamu sekarang,”kata Martin yang mendekat kearah Hizam.


“Jika kamu sayang nyawa kamu beritahu Zimu untuk menemuiku,”kata Martin dengan berbisisk kepada Hizam. Martin berjalan keluar melewati mereka bertiga,”Aku akan pergi sebaiknya kalian jaga anak buah kalian dengan baik.”


“Ohhh iya sampai luka Hizam jangan lupa beritahu dia ya,”kata Martin yang menepuk bahu Hizam dan pergi meninggalkan mereka semua. Hizam yang masih terdiam setelah mengetahui kalau Martin tahu kalau yang melakukan ini semua adalah Zimu.”Bagaimana dia bisa tahu kalau ini adalah perbuatan Zimu,”ucap hati Hizam.


“Kamu tidak apa-apa,”kata Erik.”Tidak,”ucap Hizam yang kemudian pergi. Hingga Hizam berpapasan dengan Izam yang telah sampai di rumah sakit. Izam yang tahu tapi tidak memperdulikannya hanya langsung pergi ke ruangan anak buah mereka berbaring. Sampai di tempat Izam melihat Samuel, Red dan Erik,”Dimana dia?.”