Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Malam


Setelah membuat rencana yang tidak bisa ditembak. Roki selalu memikirkan apa yang Martin katakan jika apa yang dia lakukan akankah bisa sesuai dengan rencana.


“Kamu tidak usah takut?,”kata Martin. Roki melihat kearah Martin,”Apa yang aku takutkan.”


“Sudah aku katakan bukan dia tidak tahu siapa kamu dia tidak akan menggagalkan rencana yang sudah kamu siapkan,”ucap Martin yang menyembunyikan sesuatu. “Aku rasa aku akan kembali sekarang,”kata Martin.”Kenapa tidak menginap ini sudah malam. Apa lagi kalian satu sekolah bukan, menginap saja satu hari. Tante tidak apa-apa?,”kata Ibu Roki.


“Iya apa yang dikatakan mama benar kamu menginap saja,”ucap Roki. Martin melihat ke layar ponsel dan mengetik pesan kalau dia akan tinggal di rumah temannya. “Baiklah,”ucap Martin.


“Ayo naik keatas, kamu akan tidur sebelah kamarku,”ucap Roki yang berjalan terlebih dahulu menunjukkan kamar.”Terima kasih mau mengijinkan saya tinggal,”kata Martin.


Aku akan mengantar kamu?,”ucap Roki berjalan terlebih dahulu. Setelah menunjukkan kamarnya kepada Martin ia masuk kedalam untuk istirahat. Tapi tanpa disadari kalau sudah ada beberapa orang yang mengawasi rumah Roki. Martin melihat ke jendela kamar, dia melihat beberapa orang yang berjaga setelah mengamati gerak-gerik mereka Martin menyadari kalau ada tato dibelakang leher mereka yang membuat Martin curiga kalau mereka adalah anak buah Andre. “Tidak aku sangka mereka memulai bergerak,”ucap Martin dengan suara kecil.


Martin memberitahukan pesan kepada Mark, untuk memulai pertemuan yang sudah disepakatai.”Tinggal menuggu waktu saja mereka akan mulai bergerak,”ucap Martin. Saat Martin sedang mengamati anak buah Andre, dia mendengar suara langka kaki dari bawah menuju lantai atas. Karena penasaran Martin membuka pintu dan melihat Bu Melati yang berjalan menuju kamarnya. Martin melihat wajah Bu Melati dan mengijinkan dia masuk kedalam kamar. “Ada apa tante,”kata Martin.


“Kamu tidak pernah berubah, masih saja mengkhawatirkan kami berdua,”ucap Tante Melati. “Aku tidak mengkhawatirkan kalian, hanya saja aku pernah utang budi kepada tante yang harus aku bayar,”kata Martin yang duduk.


“Apa kamu sudah melihat orang yang dibawah,”ucap Tante Melati.”Sudah, bukannya mereka anak buah Andre,”kata Martin.”Jadi kamu tahu jika itu anak buah Andre,”kata Tante Melati.


Martin hanya menganggukkan kepalanya. “Apa yang kamu sembunyikan dari tante,”kata Tante Melati.”Apa maksud tante, aku  tidak mengerti?,”ucap Martin yang masih menyela.


“Tante tahu kalau kamu mencoba melalukan pembinasakan organisasi itu bukan,”ucap Tante Melati. Martin hanya tersenyum,”Itu mustahil, tante. Aku tidak ada kepikiran untuk mencari masalah dengan organisasi itu. Bukannya tante tahu kalau organisasi itu sangat menakutkan dengan kekuasaan yang mereka miliki. Dengan kemampuan yang dimiliki aku sekarang bukankah akau menghancurkanku saja,”kata Martin.


Tante Melati menghela nafas,”Tante tahu kalau kamu masih mencari ayah kandung kamu yang sebenarnya bukan.”Martin melihat kearah tante Melati,”Apa tante tahu ayah kandung Martin yang sebenarnya.”


“Tante tidak tahu, tapi mama kamu mungkin tahu,”ucap Tante Melati.


“Apa maksud tante, aku tidak mengerti,”kata Martin yang berdiri dan melihat kearah jendela.”Apa yang kamu lihat sampai seserius itu,”ucap Tante Melati.


“Lihatlah sendiri tante,”kata Martin.”Apa yang mereka bawa,”kata Martin.”Itu bukanya minyak tanah, apa mereka mencoba membunuh kita,”kata Tante Melati. Sampai Roki yang mendengar percakapan mereka berdua dari awal masuk kedalam. “Kurasa mereka sudah mulai akan bertindak,”kat Roki dari belakang.


Ibu Roki dan Marti menoleh,”Sejak kapan kamu mendengar pembicaraan kita berdua.” Roki hanya tersenyum dan berjalan kearah mereka.”Aku rasa tidak perlu dijelaskan lagi untuk saat ini,”kata Martin. Ibu Roki hanya melihat mereka berdua,”Anakku sudah dewasa sekarang.”


Saat mereka berbincang-bincang dengan santai anak buah yang disuruh Martin dan Roki sudah menangkap mereka semua. “Apa yang sedang terjadi?,”kata Ibu Roki yang melihat keluar jendela.


“Apa kalian sudah mengetahui akan kejadian yang akan terjadi pada malam ini,”ucap Ibu Roki yang melihat kearah mereka berdua.


Ibu Roki menghela nafas dan berjalan keluar kamar,”Jangan lupa kalian istirahat besok kalian harus berangkat sekolah.” Setelah ibu Roki pergi ke kamar Roki dan Martin kembali istirahat.


~ ~ ~ ~ ~  ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~~ ~


“Apa kalian sudah siap?,”kata Marko.”Sudah Bos, tinggal menuggu langka selanjutnya,”kata bawahan.


Suara langka kaki menuju Marko,”Apa yang ingin kamu lakukan disini?.”


“Menurut kamu?,”ucap Marko.”Apa kamu serius akan membakar mereka sekaligus,”kata Hizam. “Tidak aku hanya akan memancing orang yang sudah mengawasi kita saja,”kata Marko.”Ternyata kamu sudah ada persiapan untuk menghentikan pergerakan mereka yang berkerja sama untuk mencari identitas kita,”kata Hizam.


“Kamu kira kau tidak bisa berpikir jernih masalah ini,”ucap Marko.”Apa yang ingin kamu lakukan setelah ingin membakar rumah Roki,”kata Hizam.


“Kita akan gagal membakar rumah Roki,”ucap Marko dengan santai.”Apa maksud kamu akan gagal,”kata Hizam yang tidak tahu rencananya.


“Aku sudah bilang bukan targetku bukan rumah tapi yang mengikuti kita,”ucap Marko. Hizam terdiam dan melihat anak buah mereka dari jauh rencana yang disiapkan oleh Marko. Setelah melihat anak buah Marko yang sudah menyiram minyak tanah di rumah Roki muncul beberapa orang yang menangkap anak buah Marko.


“Apa kamu mau biarkan saja mereka tertangkap,”ucap Hizam melihat Marko yang masih santai.


“Kenapa kamu masih santai saja melihat mereka,”kata Hizam yang sudah gelisah. Marko berjalan ke tempat lain dan Hizam yang mengikutinya sampai Hizam melihat dimata Marko tertuju.


“Itu,”ucap Hizam.”Kenapa kamu kira hanya itu saja rencanaku tanpa ada pencegahan,”kata Marko.


“Mereka sudah tertangkap semua Bos,”kata bawahan.”Bawa mereka ke markas untuk diselidiki siapa yang menyuruh mereka,”kata Marko.


“Jadi ini rencana kamu menangkap mereka untuk mengetahui rencana lawan,”kata Hizam.”Tidak, ini hanya awal saja membuat mereka menderita,”kata Marko.


“Apa masih ada rencana lagi untuk menyingkirkan mereka,”kata Hizam.”Ada tapi tidak hari ini, tunggu waktu yang tepat saja mereka akan berselisih,”ucap Marko yang berjalan.


“Tidak aku sangka kalau kamu memiliki otak jenius,”ucap Hizam. Marko hanya melihat dengan tatapan tajam dan masuk ke dalam mobil. “Kamu kira kalian bisa menangkapku,”ucap Marko di dalam mobil.


“Kita lihat siapa yang bisa bertahan di tempat ini,”ucap Marko dengan wajah liciknya. Setelah malam yang penuh strategi Martin yang melihat rencananya gagal hanya bisa tertawa,”Apa kamu kira hanya ini saja rencananya, Marko.”


Marko yang sudah tahu kalau Martin adalah pengkhianatnya hanya bisa terdiam dan mengikuti alu permainan Marko. Yang kebetulan Marko juga sudah mewaspadai Martin jika identitasnya sudah ketahuan. Mereka berdua yang memiliki cara mereka sendiri hanya mengikuti alur permainan satu sama lain sampai dari keduanya mengalah.