
“Bagaimana jika kita bertemu lagi seperti dulu untuk reuni,”kata Roki dalam telepon.Izam yang masih belum bertemu merasa ragu untuk menerima ajakan Roki.”Kenapa kamu diam saja, apa kamu tidak ingin bertemu denganku lagi,”kata Roki yang membujuk.
“Baiklah,”ucap Izam yang tidak bisa berkata lain karena merasa bersalah.”Jika kamu setuju nanti aku akan kabari tempat, negara dan jamnya untuk pertemuan kita bertiga,ya,”kata Roki yang bahagia. “Jika kamu tidak keberatan bagaimana kalau pertemuannya di Negara J. Karena aku ada urusan di sana,”kata Izam.”Ok nanti aku akan buat rencananya pertemuannya,”kata Roki. Setelah sekian lama mereka tidak bertemu mereka akhirnya bisa bertemu kembali Roki yang menantikan hari itu tidak sabar.
Setelah dia menghubungi Izam dia menghubungi Martin yang tadi tidak bisa diangkat.”Aku tidak tahu dia sibuk tidak malam ini,”kata Roki yang memulai panggilan untuk Martin. Tidak lama dia menuggu Martin mengangkat teleponnya.”Maaf ya baru sekarang aku mengangkatnya tadi ada pertemuan yang harus aku hadiri dan tidak bisa mengangkat telepon kamu. Kenapa kamu menghubungiku,”kata Martin.
“Ayo kita bertemu di negara J,”ucap Roki yang bersemangat.”Kenapa kamu bahagia sekali. Apa Izam menghubungi kamu,”kata Martin.”Apa yang kamu tebak itu benar, dia baru saja menghubungiku dan aku mengajak dia bertemu kita semua akan bertemu di negara J. Kamu bisakan,”kata Roki.”Kapan itu,”ucap Martin.
“Untuk kapannya belum pasti nanti aku akan kabari kamu lagi. Kamu harus datang pokoknya jangan sampai tidak titik,”kata Roki yang menutup teleponya yang mulai mencari hari yang pas untuk mereka bisa bertemu kembali.
Martin yang mendengar Roki bahagia hany bisa terdiam.”Kenapa kamu,”ucap Mitra yang ada di samping dia.”Roki,”ucap Martin dengan singkat.”Kenapa dengan dia,”kata Mitra.”Dia mengajak temuan bersama Izam, aku dan dia,”kata Martin.
“Pasti dia sangat bahagia sekali,”ucap Mitra yang lanjut tidur disebelah Martin. “Pastinya dia bahagia,”ucap Martin yang juga tidur bersama Mitra sambil memeluknya.
~ ~ ~ ~ ~~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~~ ~ ~~
Tiga Bulan sudah berlalu kabar terpanas dari organisasi yang masih saja membuat mereka terkejut dengan berbagai infomasi yang tidak mau kalah dengan organisasi Laut Merah.”Tidak aku sangka setelah kejadian di pulau, mereka kembali tenang,”kata Bunga. “Tapi bukannya kita harus tetap waspada dengan apa yang akan terjadi dikemudian hari nanti,”kata Izam yang bersama dengan Bunga. Tidak lama mereka saling mengobrol ponsel Izam berdering dan mendapatkan email dari Roki.”Siapa?,”kata Bunga yang juga melihat pesan emailnya.”Kamu akan bertemu dengan mereka berdua lagi,”ucap Bunga setelah membaca pesannya.”Iya,”ucap Izam yang tidak suka.”Kenapa kamu cemberut seperti itu, bukannya kamu harusnya bahagia sama halnya dengan Roki yang menantikan pertemuan ini karena kalian tidak bertemu setelah 3 tahun bersama,”kata Bunga.
Izam menghela nafas,”Siapa yang ingin kamu kenalkan denganku?.” Izam yang mengubah susana dengan menayakan orang yang dimaksud dengan Bunga. “Dia akan datang kok, tunggu saja,”ucap Bunga.
Waktu berputar orang yang di tunggu datang kepada mereka berdua.”Apa kabar Bunga, lama tidak bertemu,”ucap Samuel.”Bukannya kalian kemarin ketemu,”kata Red. Izam menoleh kebelakang dan melihat mereka berdua,”siapa mereka?.”
“Mereka adalah orang yang ingin aku kenalkan kepada kamu Samuel dan Red darai regu tiga pasukan peneliti,”kata Bunga dengan santai.”Apa kami boleh duduk,”ucap Red.Martin mempersilakan mereka duduk dan mereka saling mengobrol.”Bagaimana menurut kamu,”kata Bunga.
“Aku harus mengetes mereka berdua,”kata Izam.”Kamu tahukan tidak sembarangan bisa masuk kedalam anggota yang aku pilih,”kata Izam.
“Aku tahu apa yang kamu khawatirkan kamu boleh mengenal satu sama lain, menguji mereka. Itu terserah kamu,”kata Bunga.”Bagaimana dengan kalian berdua, apa tidak masalah,”kata Bunga melihat kearah Samuel dan Red.
“Itu tidak masalah bagi kami,”kata Samuel. Izam yang melihat tatapan mereka membuat kalau pilihan Bunga tidak bisa dibilang mudah. “Kenapa,”kata Bunga yang tersenyum menatap Izam. “Tidak ada, aku suka dengan pilihan yang kamu buat,”ucap Izam yang meraih tangan kecil Bunga dan menciumnya sambil menatap mata Bunga yang indah.
“Maaf,”kata Izam.”Sudah, kapan kamu akan bertemu dengan mereka berdua,”kata Bunga yang mengganti pertanyaan.”Tiga minggu lagi di hotel Azom,”kata Izam.
“Siapa yang ingin anda ajak temui,”kata Samuel. “Mereka adalah teman lamaku,”kata Izam.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
Martin yang sedang bersama dengan kawan yang lain sedang memasuki gua hitam di pulau mendapatkan pesan darai Roki.”Ada apa?,”kata Mitra yang langsung loncat di belakang punggung Martin dan merangkulnya. Mitra membaca pesan dari Roki,”Apa kamu ingin pergi?.”
“Menurut kamu,”kata Martin.”Sudah ditebak kalau dia akan ikut pergi bukan,”kata Lili.”Masak dia tidak akan hadir, mungkin saja dia akan marah dengan Martin,”ucap Lili.”Apa yang kamu katakan ada benarnya juga,”kata Mitra.’”Tapi kapan itu,”ucap Morgan.”Tiga minggu lagi di hotel Azom,”kata Martin.”Hotel Azom bukannya itu hotel milik Rong Shi,”kata Ling Yong.
“Itu tidak aku sangka Bosku akan datang di hotelku untuk pertemuan persahabatan,”kata Rong Shi yang meledek.”Apa maksud kamu?,”ucap Martin yang kembali berjalan.”Ayolah hanya bercanda saja kok,”kata Rong Shi. Mereka semua kembali berjalan menyusuri gua hitam.
“Apa dia akan hadir,”kata Prem.” Dia akan hadir,”ucap Martin.” Kenapa kamu masih yakin dengan apa yang kamu katakan,”kata Lili.”Bukannya kalian bermusuhan,”ucap Morgan. “Memang kami bermusuhan tapi kalau sudah dihadapan Roki kami tidak bisa berkata apa-apa,”kata Martin.
Mereka semua hanya tertunduk dan tidak berkata apa-apa sampau mereka di ujung gua yang dimana ada pintu yang tidak bisa ditembus.”Bagaimana kita masuk,”kata Morgan.
“Hancurkan saja,”kata Ling Yong. Martin dan Mitra hanya menghela nafas berjalan menuju pintu gua mereka mencari dari memperhatikan dengan seksama pintu gua agar bisa terbuka. Sampai mereka menemukan satau kunci yang jadi masalahnya. Mitra dan Martin saling bertatapan dan saling menganggukan kepalanya secara bersamaan mereka berdua membuka segel yang terkunci. Pintu gua terbuka,”Bagaimana kalian melakukannya?.”
Mitra dan Martin masuk kedalam tanpa menjawab ucapan mereka, hingga sampai didalam Martin berkata,”Bersiap-siap.”
Semua pada posisi bertarung dan masuk kedalam dengan waspada. Sampai di dalam gua mereka di kejutkan dengan seribu prajurit batu yang siap untuk menghentikan langka Martin dan yang lain masuk kedalam. “Makhluk apa sebenarnya ini,”kata Lili.”Mereka adalah prajurit seribu batu,”kata Rong Shi.”Kenapa mereka ada disini,”kata Prem.
“Mungkin saja mereka adalah penjaga gerbang ini atau juga penghalang yang menghambat jalan kita,”ucap Mitra yang mulai maju terlebih dahulu.
“Bukannya bagus untuk melatih kemampuan kita,”kata Morgan yang menyusul Mitra. “Kayaknya seru,”kata Ling Yong. Mereka semua mulia menyerbu prajurit seribu batu. Martin yang melihat dari belakang menuggu pimpinan dari prajurit seribu batu sambil mengamati kemampuan dari rekan mereka apa ada peningkatan atau tidak.
“Tidak sia-sia aku mengajak mereka datang kesini bisa membuat mereka bisa menambah pengalaman bertarung dengan legenda prajurit seribu batu,”ucap Martin dengan santai menuggu.