Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Catataan Lama


Bram yang masuk ke ruang penyimpanan buku dan barang atik mengambil buku catatan mendiang tuan besar.”Sudah lama saya tidak datang tuan besar dan nyoya besar,”kata Bram sambil melihat ke foto yang dihadapannya.”Sekarang kedua putra anda sudah bersama, jangan khawatir akan mereka berdua. Saya akan menjaga mereka berdua dengan nyawa saya,”kata Bram sambil melihat lukisan pemilik rumah.


Bram mengambil catatan yang diminta oleh Morgan setelah mengambilnya dia keluar rungan tanpa ia sadari kalau ada satu orang yang juga ikut dengannya.”Jadi ini tempat penyimpanannya,”kata Ming Long.”Tapi untuk apa kita disini,”kata Shinwa.”Mau bagaimana lagi untuk informasinya,”kata Ming Long.


“Tapi siapa dua orang itu yang ada di lukisan itu,”kata Shinwa.”Untuk apa kamu memperdulikan lukisan itu. Kita disini mencari informasi, jangan lupa,”kata Ming Long.”Aku tahu, dimana pimpinan sekarang ya,”kata Shinwa.”Untuk apa kamu mencarinya, jangan bilang kamu sudah kangen dengan pimpinan karena sudah satu tahun tidak berkunjung”kata Ming Long.


“Menurut kamu bagaimana,”kata Shinwa yang membuka rak dan membaca satu persatu sampai mereka dikejutkan dengan kehadiran Remon.


“Apa yang kalian omongkan,”kata Remon.”Pimpinan bagaimana kabarnya,”kata Shinwa.”Dia terluka akibat benturan kedua gelombang jiwa,”kata Remon.”Bicara benturan gelombang. Yang selalu kamu jengung itu pimpinan bukan,”kata Ming Long.”Iya bukannya kalian sudah tahu nama asli pimpinan,”kata Remon yang sedang membaca buku catatan yang sudah usang.


“Dari pada bicara terus cari apa yang bisa kita dapatkan di gudang ini,”kata Remon.”Kami sedang mencari,”ucap Shinwa.”Mencari ya,”Kata Ming Long yang menemukan buka yang tersegel.”Kalian berdua kesini,”ucap Ming Long.”Kenapa,”ucap mereka yang melihat kearah Ming Long.”Ini,”kata Ming Long yang menunjukkan buku yang tersegel.”Apa itu,”kata Shinwa yang menghampiri.


Remon yang melihat dari jauh hanya merasa kalau buku tersebut dalam keadaan tersegel.”Memang bisa dibuka,”kata Remon kepada mereka.”Menurut kamu, bagaimana?,”ucap mereka yang melirik kearah Remon yang masih berdiri jauh dari mereka berdua.”Sudah tahu disegel masih tanya saja,”kata Ming Long.


“Maaf hanya penasaran saja,”kata Remon yang menghampiri mereka berdua.”Bagaimana membukanya,”kata Shinwa yang melihat bukunya.”Tanya kepada Martin atau Morgan saja bagaimana,”usul Remon.”Kamu bodoh,”ucap mereka berdua.”Kurasa dia tidak punya otak,”kata Rendi dari belakang.


“Kenapa kamu bisa ada disini,”kata Remon yang berbalik menoleh kebelakang.”Kamu tidak sadar kita datang bertiga sebelum kamu datang kesini,”kata Shinwa menjelaskan.”Aku tidak tahu,”ucap Remon. “Kamu memang tidak peka,”kata Rendi sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil bukunya.”Apa yang ingin kamu lakukan dengan bukunya,”kata Rendi yang membuka segel yang terpasang.


Segel yang menyelimuti buku sudah terbuka Rendi membaca isi bukunya yang membuat dia terkejut dengan apa yang dia baca sampai akhir dia merasa ada yang aneh dengan isi bukunya. Dia mengulangi dari halaman pertama untuk mengartikan isi dari buku yang dia baca sampai dia menghembuskan okigen.”Tidak aku sangka musuh yang kita hadapi sangat menakutkan,”kata Rendi.”Ada apa,”ucap Remon yang mengambil bukunya dengan paksa ditangan Rendi.


Remon membaca bukunya sampai dia mendengar suara kursi roda yang didorong menuju arah mereka.”Kita harus pergi sekarang,”kata Rendi.”Untuk apa buru-buru,”ucap Martin yang sudah ada dibelakang mereka. Mereka semua menoleh dan melihat Martin didorong oleh Mio yang merupakan anggota rahasia yang bertugas diluar organisasi.”Hai lama tidak bertemu kalian,”kata Mio.


“Berikan buku itu padaku sekarang,”ucap Martin yang masih dalam kursi roda. Rendi hanya bisa memberikan bukunya sebelum dia menyelesaikan isi dari buku tersebut.”Bagaimana kamu bisa ada disini,”kata Rendi.”Ini hanya bayangan belahanku saja bisa dibilang aku putih,”kata Martin Putih.


“Apa  gelap dimana,”kata Remon.”Dia sedang dikamar bersama Morgan,”kata Putih. “Bukan itu yang ingin aku ketahui tapi bagaimana kalian bisa berpisah,”kata Remon yang terkejut dengan kondisi yang dia lihat.


“Apa yang kamu maksudkan,”kata Martin Putih.”Bagaimana kalian bisa berpisah dalam satu tubuh,”kata Remon yang merasa ada yang berbeda dengan sikap Martin hari ini.


“Mereka saudara kembar dalam satu tubuh, saat salah satu dari mereka memiliki tubuh asli mereka bisa berpisah. Seperti itu,”ucap Mio dengan singkat.”Apa saudara kembar, jangan omong kosong,”kata Remon yang masih tidak percaya dengan apa yang Mio katakan.


Martin hanya menghela nafas dan membaca buku yang diberikan. Walaupun Remon juga merasa ragu memberikannya. Tapi tekanan dan mata yang diberikan oleh Martin kalau dia memang putih. Martin membaca buku dengan santai sementara Mio menjelaskan apa yang terjadi dengan tubuhnya.”Kenapa kamu diam jelaskan dengan rinci,”kata Remon.


“Apa yang harus aku katakan sudah semua. Masak kamu tidak tahu juga, itu sangat melelahkan jika aku mengatakan panjang lebar,”kata Mio.”Jelaskan yang memang aku bisa mengerti,”kata Remo yang menari krah Mio dengan kencang dengan tatapan tajam.


“Kenapa kamu begitu,”kata Mio yang mencoba untuk melepaskan pegangan Remon dari kerahnya. Tapi dia tetap tidak mau melepaskan sampai Mio menjelaskan dengan jelas apa yang terjadi dengan Martin.”Aku jelaskan, tapi lepaskan dulu,”kata Mio yang menyerah.


“Baik tapi mulai dari mana,”kata Mio.”Semua yang kamu ketahui tentang kondisi tubuh Martin,”kata Remon.”Tapi kalian harus pergi dari sini dulu,”kata Mio.”Kenapa..,”kata Remon.”Ada yang datang,”ucap Martin.”Ayo kita pergi sekarang,”kata Martin lagi.


Mereka semua bergegas pergi setelah suara pintu terbuka. Martin dan Mio yang sudah pergi meninggalkan mereka.”Kamu pergilah kata,”Martin.”Pergi kemana,”kata Mio.”Bukanya kamu meminta aku untuk menjelaskan kepada mereka,”kat Mio.”Iya tapi bukan hari ini. kamu pergilah ketempat yang sudah aku persiapkan dan selidiki tempat dan orang yang ada dalam catatan. Apa kamu mengerti dan satu lagi ubah penampilan kamu biar mereka tidak mencari kamu,”kata Martin yang menghilang dan masuk kedalam tubuhnya. Sedangkan Mio juga pergi setelah  Martin masuk kedalam tubuhnya.


“Apa yang kamu dapatkan,”kata Gelap yang sudah menuggu.”Ini,”kata Putih.”Apa itu,”kata Gelap yang berjalan menuju arah Putih.”Kita baca bersama,”kat Putih yang membuka lembaran pertama. Gelap yang duduk dibelakang putih memeluknya sambil membaca dengan santai. Mereka membaca buku dengan perlahan sampai mereka memahami isi darai buku tersebut, sampai diakhir mereka hanya bisa berbaring di tempat mereka duduk. Menutup mata dan memikirkan kembali dari isi buku yang mereka baca untuk beberapa hari. Martin tidak membuka matanya karena kondisinya yang tidak bagus waktu itu.


Dingin menyelimuti ruang jiwa mereka yang sedang berbaring memikirkan apa yang mereka baca kemarin.”Aku tidak menyangka kalau kita akan seperti ini,”kata Gelap.”Aku juga tidak sadar dengan ini semua. Sekarang mau bagaimana,”kata Putih yang melihat kearah gelap.


“Mau bagaimana lagi kita harus berpisah, cari tubuh asli kamu yang sedang tersegel,”kata Gelap.”Bukannya kamu sudah menemukannya,”kata Putih.”Lukisan,”kata Gelap yang mengingat kembali apa yang dia temukan di gudang penyimpanan.”Iya,”ucap Putih.


“Jika memang tubuh kamu di segel di lukisan tersebut bukanya akan muda,”kata Gelap.”Jika aku sudah bangun aku akan melepaskan segelnya,”kata Gelap lagi.


“Tapi setelah itu aku bisa memeluk kamu,”kata Gelap.”Kenapa kamu suka sekali dengan pelukan sama seperti Morgan,”kata Putih.”Karena nyaman,”ucap Gelap.


“Bukannya nanti Morgan akan syok melihat kita ada dua nanti, jika kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan,”kata Putih.”Itu tidak masalah,”ucap Gelap dengan santai.