Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Tersenyum


Malam panjang angin berhembus, suara kesunyian datang menghampiri. Dimana hanya secarik harapan untuk berkumpul kembali. Martin yang terdiam diri dalam ruangan memikirkan siapa orang yang dimaksudkan ibu. Dalam benaknya hanya satu orang yang terlintas yaitu Hitam telah kembali di organisasi Rose Black.


Sampai dia membaca file yang diberikan oleh si drama. Martin membuka laptop dan memasang flashdisk nya setelah file dibuka ia membaca satu persatu datanya yang berisi anggota khusus.” Delapan anggota khusus organisasi Rose Black salah satu dari dia adalah Andre dan ketujuh anggota yang lain adalah Ying, Lin, Tao, Sara, Domino, Surya, dan terakhir Leo,”ucap Martin.


“Tidak aku sangka orang ini adalah orang yang berpengaruh semua,”kata Martin yang kembali melihat file yang lain. Sampai dia menemukan sesuatu yang menarik,”Ini keberuntungan yang tidak di sangka kalau mereka melakukan ini hanya untuk mendapatkan kepercayaan klas rubah.”


Belum selesai dia membaca Martin mendengar suara langka kaki yang membuat dia harus menutup semua file yang dia baca dan menyimpannya kembali.”Sedang apa kamu,”kata Izam yang masih ikut berjaga malam itu. “Ini,”ucap Izam sambil memberikan kopi.


“Terima kasih,”kata Martin dengan biasa.”Kakak sebaiknya kamu juga tidur biar aku yang berjaga,”kata Martin.”Baiklah, aku akan tidur. Jika ada apa-apa bangunkan kakak ya,”kata kak Mola. Martin menganggukan kepalanya, dan mereka bertiga kembali mengobrol satu sama lain.


“Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan Martin,”ucap Roki yang ingin tahu.”Aku tidak menyembunyikan sesuatu kenapa,”kata Martin.”Sudah dia tidak ingin mengatakannya kerena belum waktunya mungkin. Jangan paksa lagi,”ucap Izam menepuk bahu Roki. Roki menghela nafas dan terdiam kembali.


“Kenapa kamu pergi ke lembah bambu hijau. Apa yang kamu lakukan di sana?,”kata Izam. “Bertemu seorang dan melihat ketenangan di tempat itu. Ada apa?,”kata Martin.


“Tidak biasanya kamu pergi dan menyuruh anak buah kamu berjaga. Apa lagi semua persiapan yang kamu lakukan sesuai dengan rencana kamu,”kata Izam.”Iya kah,”ucap Martin yang tersenyum.


“Kamu tidak harus khawatir, kita tidak tahu kapan hari damai ini akan berlangsung. Kita juga tidak tahu kapan gencatan senjata ini akan berlangsung bukan,”kata Martin.


“Kenapa kamu berkata seperti itu,”ucap Roki yang tidak senanG. “Bukannya kamu sudah tahu apa yang akan terjadi,”kata Martin melihat kearah Roki. Roki mengalihkan pandangan, Izam hanya terdiam dan tidak berkata apa-apa.


“Dari pada memikirkan yang akan terjadi lebih baik kita menikmati kebersamaan kita saat ini saja,”ucap Martin yang mengubah suasana ruangan. “Menikmati apa?,”kata Roki yang lemas. Martin mengeluarkan kartu,”Ayo main, sudah lama tidak bermain bersama. Tapi kali ini ada taruhannya, bagaimana.”


Mereka berdua saling menatap satu sama lain dan saling bertukar senyum.”Boleh,”kata mereka berdua.


“Apa taruhannya,”ucap Roki.”Terserah kalian saja, taruhan bebas. Aku akan taruhan nyawaku untuk kalian berdua jika terjadi bencana besar datang. Bagaimana?,”kata Martin yang menyembunyikan sesuatu.


“Apa kamu serius dengan apa yang kamu katakan. Jika kamu nyawa kamu aku akan memberikan setengah wilayahku,”kata Izam.”Kenapa kalian menaruhkan yang besar dan berbahaya. Aku akan memberikan taruhan persahabatan kita,”ucap Roki tanpa ragu yang merasakan masa depan akan berubah jika mereka akan berkelahi lagi. Izam dan Martin memandang Roki dan tidak berkata apa-apa.


“Kakak tidak bisa tertidur,”ucap Kak Mola yang duduk di samping adik lakinya. “Aku akan mengocok kartu dan membaginya jadi adilkan,”kata Kak Mola yang memulai mengocok kartu dengan terampil. “Apa kakak pernah main kartu,”ucap Izam.”Itu rahasia,”kata Kak Mola.


“Dia terampil main kartu dan selalu menjadi raja dalam permainan kartun,”ucap Martin.”Apa? Kakak bisa main juga dan jago,”kata Roki yang terkejut. Mereka semua main dengan suasana kekeluargaan yang begitu hangat. Kembali saat mereka masih sekolah tertawa bahagia tanpa beban tersenyum menikmati malam yang damai. Hingga permainan dimenangkan oleh Izam dan Roki, Martin yang tidak terlalu jago dalam main kartu kalah.”Aku yang menang,”ucap Izam yang sombong.”Iyalah aku kalah,”kata Martin yang tersenyum.


Karena asik bermain kartu mereka sampai lupa dengan apa yang mereka taruhkan karena sudah lama tidak bermain bersama seperti ini. Tapi Martin yang masih mengingat taruhan mereka akan melakukan semua yang dia bisa untuk mengorbankan nyawa mereka untuk dua sahabat yang dia hormati sampai waktu itu tiba.


Waktu bersama mereka yang singkat tapi membuat hati mereka bahagia. Sampai pagi datang Izam dan Roki kembali pulang. Martin dan kak Mola yang masih di ruangan menuggu kak Mela bangun dari tidur panjangnya.


“Martin,”kata Kak Mola.”Ada apa kakak,”ucap Martin.”Apa kamu akan melakukannya,”kata Kak Mola dengan taruhan tadi malam.


“Jadi kakak mendengarnya,”ucap Martin yang duduk didekat kak Mela.”Tidak sengaja,”ucap Kak Mola yang menemani ibu di samping. “Jika terjadi sesuatu mungkin akan aku lakukan. Karena mereka adalah teman pertama dan terakhir dimasa sekolahku,”kata Martin yang tersenyum bahagia dihadapan kakaknya. Sampai Martin merasakan gerak tangan kaka Mela. Martin tersenyum dan menyambut kakaknya membuka mata.”Menuggu lama,”ucap kakak Mela. Semua yang di ruangan mendengar Mela berkata hingga akhirnya keluarga Martin kembali rasa hangat yang dirasakan mereka kembali seperti dulu. Dengan kebersamaan yang membuat hati mereka bahagia. “Aku akan panggil dokter,”ucap Martin yang berdiri dan keluar ruangan.


Di tengah mencari dokter untuk memeriksa kondisi tubuh kak Mela. Martin melihat sosok Hitam yang melihat dia dari kejauhan. Mereka berdua berjalan berpapasan sampai akhirnya mereka berdua berhenti,”Waktu kamu sudah tiba. Jangan salahkan aku karena sudah memberitahukan kalau kamu akan mati di tangan Rose Black.”


“Aku menuggu waktu itu. Tapi jangan berharap kamu bisa melukai orang terdekatku,”kata Martin dnegan santai tapi dingin.”Dengan kemampuan yang kamu miliki. Apa bisa membinasakan Rose Black, jangan bodoh,”kata Hitam.


“Siapa yang bodoh, bukan itu kamu,”kata Martin yang mengeluarkan aura jiwanya. Hitam yang juga tidak ketinggalan juga mengeluarkan aura jiwanya untuk melawan Martin. Di ruang dimensi mereka saling beradu, tapi orang melihat mereka sedang berbincang biasa.”Kamu harus mati,”kata Hitam.”Jangan berharap bisa selamat setelah apa yang kamu lakukan pada keluargaku,”kata Martin yang mulai bertindak dan mengeluarkan aura jiwa level 2.


“Tidak aku sangka kamu naik level. Tapi dengan tingkat level yang kamu punya kamu akan tetap mati ditanganku,”ucap Hitam.”Apa kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan,”kata Martin sampai mereka mengeluarkan aura mereka di tingkat yang sama.


Di tengah pertarungan level mereka di hentikan karena tamu yang harus tidak datang melihat.”Lain kali kita berbicara lagi,”ucap Hitam yang pergi tiba-tiba. Martin tersenyum,”Tidak aku sangka dia sudah sampai level tertinggi, tapi aku yang menang Hitam. Tunggu saja nyawa kamu ada ditanganku.”


Martin kembali berjalan mencari dokter untuk memeriksa kondisi keluarganya yang sudah siuman.