
Bram yang melihat wajah Morgan merasa ada yang disembunyikannya dengan berbagai pikiran terlintas di otak Bram.”Apa tuan sakit? Kenapa dia sangat sedih apa terjadi dengan taun muda Ezan yang pergi dari pulau, lalu siapa pemuda yang mengikuti tuan dari gua?,”kata hati Bram yang terus berpikir.
“Jika kalian ingin tahu tanyakan saja,”ucap Zen yang melihat wajah mereka dengan ekspresi bingung. Bram hanya terdiam dan dengan yang lain, sampai Keri berkata,”Siapa kamu?.” Zen menoleh ke belakang dengan senyuman,”Aku adalah pasangan dari kedua tuan ini.” Sampai ada batu yang mengenai Zen. “Aduh sakit.. siapa yang memelempar batu?,”kata Zen yang yang memegang kepalanya yang terkena batu.
“Aku,”ucap Bororo dengan wajah cemberut. “Kenapa kamu melemparku batu,”kata Zen yang masih merasa sakit.”Ucapan kamu membuat aku sakit hati,”kata Bororo yang pergi menjauh. Tangan Zen yang hampir merahi baju Bororo tapi gagal.”Kenapa dia marah, aku hanya bercanda saja,”ucap Zen.
“Jadi siapa pasangan kamu?,”kata Mikhail. “Tidak ada,”kata Zen dengan cetus. “Kamu yang berkata kenapa kamu yang marah,”kata Kari. “Memangnya tidak boleh kalau aku marah,”kata Zen.
“Ada apa?,”ucap Kyoshi dari belakang karena baru saja keluar.
“Siapa kalian berdua,”kata Bram.”Kami adalah penjaga dan pelindung Martin dan Morgan,”kata Kyoshi yang berjalan menuju kearah Morgan. “Masih sedih,”ucap Kyoshi yang menghampiri. Morgan menatap ke arah Kyoshi yang kemudian dia memalingkan wajahnya dan masuk kedalam vila.
“Dia marah denganku,”kata Kyoshi. “Biarkan saja kakakku menenangkan diri. Kamu ke sini apa ada barang yang dibutuhkan untuk renovasi,”kata Martin.”Tidak ada hanya ingin memberikan ini,”ucap Kyoshi dengan memberikan lembaran kertas hasil renovasi dan formasi.
“Ini apa,’ucap Martin.”Itu hasil renovasi dan formasi yang sudah diubah,”kata Zen yang berjalan ke arah Kyoshi. Martin membaca lembaran kertas yang diberikan oleh Kyoshi dia terkejut dengan formasi yang diberikan untuk penjegahan.”Apa ini kamu melakukan sendiri?,”ucap Martin yang tidak percaya.
“Iya, apa ada masalah dengan Formasinya,”kata Kyoshi.”Tidak, melainkan ini sangat sempurna,”kata Martin yang puas dengan hasilnya. “Jika tidak ada lagi aku meminta lahan di dekat taman kamar Morgan untuk menanam beberapa tanaman,”kata Kyoshi.
“Kenapa kamu banyak sekali maunya hari ini,”kata Zen yang melihat ke arahnya. “Memangnya tidak boleh selama ini aku dibatasi tidak boleh melakukan ini dan itu oleh Bos, sekarang aku bebes aku ingin melakukan apa yang aku sukai sambil berjaga,’”kata Kyoshi yang senang.
“Tentu saja Bram yang akan menunjukannya tempatnya,”kata Martin. “Maaf tuan muda.. siapa mereka berdua?,”kata Bram untuk memastikan kebenaranya.
“Seperti yang mereka katakan kalau mereka adalah penjaga dan pelindung aku dan kakak dari Ezan,”ucap Martin yang menundukan kepalanya.
“Tuan Ezan... apa yang terjadi dengan dia kenapa dia menyuru kedua orang ini untuk menjaga kalian berdua,”kata Keri. “Pada saatnya kalian akan tahu,”ucap Martin yang masuk ke dalam vila. “Ohhh ya Bram antar Kyoshi dimana dia bisa menanam tanaman yang dia sukai dekat kamar kakak,”kata Martin yang menoleh sebentar ke arah Bram.
“Baik tuan muda saya akan laksanakan,”ucap Bram. “Hai aku Kyoshi dan ini Zen yang akan menjaga Martin,”kata Kyoshi. Zen yang masuk ke dalam mengikuti Martin,”Aku masuk dulu.”
“Ok,”ucap Kyoshi yang tidak ingin ikut masuk. Bram yang berjalan di ikuti oleh Kyoshi menuju taman dekat kamar Morgan.”Di sini anda bisa menanam tanaman yang ada inginkan, tapi tolong jangan petik atau merusak tanaman yang ada disebelah anda,”kata Bram.
“Aku mengerti,”ucap Kyoshi yang tersenyum kepada Bram. Sampai Bram melihat ke arah Kyoshi ingin bertanya apa yang sedang terjadi dengan tuannya. “Apa ada lagi yang ingin kamu katakan soal taman,”ucap Kyoshi yang menyadari kalau Bram ingin mengetahui apa yang terjadi dengan tuannya.
“Apa itu sudah cukup,”kata Kyoshi melihat ke arah Bram. Tangan Kyoshi yang dipegang oleh Bram dengan tatapan tajam,”Apa maksud kamu? Jangan membuat berita bohong jika kamu ingin hidup.”
“Aku mengatakan yang sebenarnya, bukannya kamu yang ingin tahu apa yang terjadi dengan Morgan kenapa dia sedih dan lesu,”kata Kyoshi.”Apa yang kamu katakan itu benar, tapi itu tidak mungkin. Bagaimana kamu tahu semuanya, siapa kamu,”kata Bram.
“Bukanya aku sudah bilang aku penjaga dari Morgan dari Bosku,”kata Kyoshi.”Siapa Bos kamu?,”kata Bram yang ingin tahu. “Kenapa kalian ingin tahu siapa Bosku sementara kalian sudah tahu dulu,”kata Kyoshi yang mendapatkan lemparan buku oleh Morgan dari atas.
“Siapa yang melempar buku?,”kata Kyoshi yang melihat ke atas.”Aku kenapa, mau brotes. Kalian berisik tahu tidak,”kata Morgan yang merasa terganggu.”Maaf tuan saya akan pergi sekarang,”ucap Bram yang melangkah pergi.
“Kenapa kamu masih tidak pergi, mau aku lempar buku yang lebih tebal lagi di atas kepala kamu,”kata Morgan yang mengambil bukunya.
“Untuk apa repot-repot aku akan disini menanam tanaman aku sudah bilang kepada Martin di ijinkan dan lembaran formasi dan renovasi sudah aku berikan kepada adik kamu,”kata Kyoshi yang masih santai menggarap tanah di dekatnya.
Morgan yang melihat kemudian mengabaikannya selama dia diam dan tidak mengganggunya. Tidak lama dia melempar buku Martin datang ke kamarnya.”Kak, apa kamu baik-baik saja,”ucap Martin yang masuk ke dalam bersama dengan Zen.
“Aku baik-baik saja tapi bagaimana kamu apa kamu baik saja?,”kata Morgan yang melihat adiknya.”Aku baik, tapi kakak yang tidak baik setelah mendengar kepergian adik Ezan,”ucap Martin.
“Dia adikku dan saudara kamu bagaimana aku bisa tidak sedih, aku baru saja bertemu dengan dia beberapa hari dan sekarang dia sudah pergi. Kenapa dia tidak menjaga dia, tapi menjaga kakak yang tidak berguna ini,”kata Morgan yang merasa bersalah karena tidak bisa menjaga adiknya.
“Itu bukan salah kakak hanya takdir Ezan saja yang tidak baik,”kata Martin yang datang dan memeluk dia.”Jangan bersedih kak,”ucap Martin yang memberikan semangat.”Aku tahu,”ucap Morgan yang meluapkan rasa sedihnya dipelukan adiknya.
Bram yang datang ingin bertanya tidak sengaja mendengar perkataan mereka dan meneteskan air mata.”Jadi yang dikatakan Kyoshi benar kalau tuan muda Ezan sudah tidak ada,”ucap hati Bram yang menahan tangisan. Setelah dia mendengar percakapan mereka berdua Bram yang tidak ingin mengganggu mereka pergi tapi tidak disangka Zen yang merasakan kehadiran Bram.
“Masuklah jika kamu ingin tahu kebenarannya,”ucap Zen dengan suara terdengar keras. Martin dan Morgan menoleh ke arah dimana dia mendengar suara langkah kaki. “Maaf tuan Morgan saya tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian,”ucap Bram yang menundukan kepalanya.
“Tidak apa-apa,”ucap Morgan.”Untuk apa kamu datang ke sini Bram,”kata Martin. “Saya hanya ingin memastikan saja apa benar tuan Ezan sudah tidak ada,”kata Bram dengan berkata jujur.
“Apa yang kamu katakan memang benar saudaraku sudah tidak ada untuk menyegel para tentara di tempat dia berada dan di pulau ini, yang membuat dia kehilangan nyawa,”ucap Martin menjelaskan.
“Tapi bagaimana bisa itu terjadi,”kata Bram yang ingin tahu dan melihat ke arah mereka berdua yang terdiam.