Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Identitas Baru


Morgan yang berada di satu ruangan yang sama dengan Martin adik kecil yang berpisah dengan dia. “Melepaskan energi jiwa,”ucap Morgan yang membantu adiknya kembali membuka mata. Rungan yang awalnya tenang dan sunyi terdengar suara barang berjatuhan. Tekanan dari gelombang jiwa yang dilepaskan oleh Moran di rasakan oleh semua penduduk Pulau Bunga persik.


“Apa yang sebenarnya terjadi?,”kata satu penduduk. “Aku juga tidak tahu. Setelah tuan muda kembali dia memberikan wajah yang sedih dengan membawa seorang pemuda di dekapannya,”kata penduduk satunya lagi. Eza dana Keri yang sedang bersama merasakan gelombang Morgan. Karena khawatir dia mendatangi gelombang jiwa yang dikeluarkan Morgan. Di depan pintu yang sudah dijaga oleh Pelayan Bram, Ali dan Alex.”Apa yang sedang terjadi didalam?,”kata Keri.


Mereka bertiga tidak mengatakan apa-apa sampai Mikhail datang menghampiri mereka semua.”Pelepasan  Energi jiwa untuk mengembalikan tubuh yang sudah mati,”ucap Mikhail.”Apa maksud kamu,”kata Eza.


“Melepaskan energi jiwa atau juga membagi jiwa untuk saudaranya,”kata Ali yang duduk didekat dinding.”Sebenarnya apa yang terjadi saat kalian bersama,”kata Eza.”Gelombang jiwa iblis dengan gerombolan monster abadi dengan mayat hidup yang melahap setengah dunia,”kata Alex.”Tunggu dulu gelombang jiwa, apa maksud kamu adik Morgan,”kata Mikhail.”Untuk menyelamatkan orang lain dia menyerahkan hidupnya dengan melepaskan gelombang jiwa yang dia miliki untuk menghancurkan gelombang jiwa iblis,”kata Ali yang melanjutkan.


“Bagaimana itu bisa,”kata Pelayan Bram.”Itu yang terjadi. Saat kami menemukannya Tuan muda bersama dengan adiknya di tengah laut dalam keadaan adiknya sudah tidak bergerak,”ucap Ali. Mereka semua terdiam dan tidak berkata sampai gelombang jiwa yang dilepaskan sudah berhenti. Morgan yang masih duduk menuggu adiknya terbangun tidak membuka matanya, tapi dia bisa merasakan kalau pelepasan energi jiwa untuk adiknya berhasil. Morgan tersenyum karena dia berhasil memberikan jiwa yang dia miliki untuk adinya.”Tapi kenapa kamu tidak bangun,”kata Morgan yang memegang tangan adiknya berharap dia akan bangun. Mereka semua masuk tanpa seijin Morgan,”Tuan muda anda sudah melakukan yang terbaik, tinggal menuggu adik anda untuk berusaha sendiri setelahnya.”


Morgan menoleh kearah mereka semua,”Kenapa kalian masuk. Aku tidak mengijinkan kalian masuk.” Mereka semua tertunduk,”Maafkan kami, kami hanya mengkhawatirkan anda tuan muda.” Morgan menghela nafas dan berjalan menuju pintu.”Ayo kita keluar biarkan adikku bisa istirahat,”kata Morgan. Sementara Martin yang merasakan dirinya terisi dengan jiwa orang lain merasakan tubuhnya bisa digerakkan tapi tidak seutuhnya dalam kegelapan. Sampai dia mendengar suara Morgan yang mengatakan kenapa aku tidak bangun. Martin yang mendengar sangat bahagia dengan secarik cahaya yang datang dalam kegelapan hatinya. Martin berjalan menuju cahaya tersebut berlahan dia menuju cahaya yang menyinari kegelapan hatinya. Hingga dia mendengar kata,”Adikku.”


Martin yang membuka mata setelah semua orang keluar,”Siapa yang dimaksud Morgan. Adik siapa?.” Martin yang tidak tahu membuat dia lelah dan menutup matanya kembali untuk memulihkan dirinya. Hari demi hari dia lalu dalam tubuh yang lemas sampai dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena masih belum pulih total. Martin yang selalu mendengar suara Morgan, Ali, dan Alex yang selalu bergantian. Tapi ada suara yang asing baginya dan tidak dia kenal yang selalu berkata,”Aku harus bisa bertahan jika tidak tuan muda akan bersedih.” Kata yang dia lontarkan membuat dia bingung siapa yang dia maksud tuan muda dan adik siapa yang mereka maksud. “Apa itu aku,”ucap Martin dalam diam. “Tapi aku tidak memiliki hubungan darah dengan Morgan bagaimana bisa aku menjadi adiknya,”katanya lagi dalam pikirannya. Setiap orang datang Martin bisa mendengarnya tapi dia tidak bisa menjawab dengan tubuhnya karena dia masih dalam keadaaan lemas.


~~  ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~~


Roki masuk ke dalam sendirian karena tidak diperbolehkan orang lain selain dirinya masuk kedalam karena saat itu kondisi tempat itu dalam masa pemulihan. Roki berjalan dibelakang pemandu jalan sampai didepan ruangan pemandu berkata,”Bos, tamu sudah didepan pintu.”


“Persilakan dia masuk,”ucap Izam. Roki masuk ke dalam ruangan yang gelap dengan penjagaan yang ketat bersama orang yang tidak dia kenal hanya Erik yang dia kenal.”Lama tidak bertemu bagaimana kabar kamu,”ucap Izam yang menyapa duluan. Roki hanya terdiam melihat Izam yang sudah berubah, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kenapa dia berubah.”Kenapa kamu diam saja sini duduk,”kata Izam dengan ramah. Tapi Roki tetap diam dan tidak berjalan hanya melihat Izam dengan tatapan berbagai pertanyaan. Sampai Roki melihat kearah dua orang yang duduk disampingnya. Izam yang melihat tatapan itu menyuruh Erik dan Red meninggalkan ruangan bersama bawahan.”Apa sekarang kamu bisa duduk dengan tenang,”kata Izam. Roki berjalan menuju Izam dan duduk disampingnya.”Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kamu berubah,”ucap Roki yang bertanya.


“Apa maksud kamu berubah aku masih sama,”kata Izam yang tersenyum ramah.”Kamu sudah berubah kemana satu tahun ini kamu. Aku menghubungi kamu tapi kamu tidak menjawab,”ucap Roki.”Apa ada sesuatu yang membuat kamu marah sampai datang kesini,”kata Izam.


Roki berdiri dan datang menghampiri dihadapan Izam yang sadang duduk. Roki meraih krah bajunya dan menarinya dengan tajam dia berkata,”Apa yang kamu lakukan dengan keluarga Martin.” Izam hanya tersenyum,”Bukannya dia yang mulai menghancurkan keluargaku.”


“Martin tidak akan melakukan hal keji seperti itu. Tapi kamu tahu tidak satu tahu ini dia dalam masa sedih karena kehilangan ibunya karena siapa..,”kata Roki.


“Apa maksud kamu ibu Martin tidak ada,”kata Izam yang tidak tahu.”Bukannya dia yang dulu menyerang markasku setelah satu tahun. Makanya aku menyuruh anak buahku menyerang dia balik. Apa aku salah melakukan itu,”kata Izam yang membela diri.


“Kamu salah bodoh, kamu tahu tidak setelah gelombang jiwa yang datang ke dunia ini Martin sudah tidak terlihat kembali. Bagaimana dia bisa menyerang kamu. Kamu tidak tahukan, kenapa kamu begitu bodoh setelah mendapatkan kekuasaan,”ucap Roki yang marah dan melepaskan kerah bajunya dengan kesal.”Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kamu, tapi kamu harus tahu Martin tidak akan melakukan itu kepada kamu,”ucap Roki yang berjalan menuju pintu. Sedangkan Izam hanya terdiam mendengat omelan Roki.