Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Persiapan Pelelangan


Setelah pertemuan antara Organisasi Tersembunyi Roki menghubungi Martin dengan pembicaraan yang biasa sampai mereka akan berhubungan kembali. “Aku tidak tahu apa yang dipikirkan mereka berdua?,”kata Roki. “Apa yang sedang anda pikirkan Tuan,”ucap sekertaris Kim.


Roki menghela nafas dan berjalan ke ruangan yang di sebelah. Sampai di ruangan kerja dia membuka lembaran dokumen yang harus ditanda tangani. “Cari tahu keberadaan Temon, suruh tentara bayaran yang kita miliki untuk mencari Temon,”kata Roki yang membaca lembaran satu persatu.


Sekertaris Kim hanya menundukkan kepalanya dan menghubungi tentara bayaran untuk mencari Temon berada. Sampai sekertaris Kim mendapatkan pesan dari Lili kalau mereka ingin merebutkan pulau yang di lelangkan.”Apa yang sedang kamu lakukan,”ucap Roki yang menatap sekretarisnya.


“Maaf tuan saya mendapatkan kabar dari Lili kalau mereka juga ingin pulau yang di hilangkan,”kata sekertaris Kim.”Info yang dia berikan terlambat. Beritahukan dia apa yang di lakukan Martin kenapa dia melakukan aliansi dengan mafia rusia dan sekalian apa hubungan Izam dengan mafia Australia,”kata Roki.


“Baik saya akan memberitahukan Lili,”ucap Sekertaris Kim. Setelah memberikan pesan balas tentang tugas baru untuk lili. Sekertaris Kim keluar ruangan untuk mengurus beberapa pertemuan yang harus dijadwal ulang.


Roki yang melihat sekertaris Kim keluar dia menyuruh Putra keluar.”Sampai kapan kamu akan mendengar pembicaraanku dengan sekertarisku,”ucap Roki. Putra keluar dari tempat persembunyian dan berjalan menunjuk kearah Roki. “Sudah aku tebak kalau kamu tahu kalau aku masih disini,”kata Putra.


“Aku tahu kebiasaan kamu,”ucap Roki.”Kenapa kamu masih disini?,”kata Roki melihat kearahnya. Putra hanya tersenyum dan menuju jendela gedung. “Apa kamu masih mempertahankan persahabatan kamu itu,”ucap Putra. Roki hanya terdiam,”Apa yang kamu katakan iya.”


“Apa kamu tahu kenapa kamu masih keras kepala,”ucap Putra.”Kenapa kamu mengawatirkan diriku ini,”kata Roki yang menyandarkan diri di kursi. “Aku tahu kamu tidak ingin mereka tewas karena orang ketiga. Tapi apa kamu tahu orang ketiga ini bukan lawan yang bisa kamu hadapi,”ucap Putra. “Aku tahu kekhawatiran kamu itu, tapi aku harus membuat mereka sadar bukan karena mereka adalah sahabatku,”kata Roki dengan santai.”Apa kamu tidak mencari info yang lebih jelas lagi soal mereka berdua. Mungkin saja mereka menyembunyikan sesuatu dari kamu,”kata Putra.


“Aku juga tahu kalau mereka menyembunyikan sesuatu dariku,”kata Roki.”Jika kamu tahu kenapa tidak kamu menghalangi mereka saja,”kata Putra melihat kearahnya.


“Apa yang kamu katakan itu benar menghalangi mereka secara akarnya. Tapi kamu tahu tidak siapa dibalik kekuasan yang mereka miliki selama ini,”ucap Roki.


“Apa maksud kamu?,’kata Putra yang mendekatinya. “Organisasi peneliti dan organisasi laut merah,”kata Roki dengan santai.


“Apa?,”ucap Putra.”Pasti kamu salah mendapatkan infonya,”kata Putra yang tidak percaya.


“Bagaimana mereka berdua memilki kekuasan yang membantu mereka berdua. Kedua organisasi ini tidak bisa dianggap remah karena kekuasaan dan wilayah mereka hampir sama atau bisa dibilang setara,”kata Putra.


“Dari mana kamu mendapatkan info ini,”kata Putra lagi, untuk memperjelas apa yang dia dengar.”Dari siapa lagi kalau bukan dari pimpinan yang baru sekarang,”kata Roki.


“Jika dari pimpinan yang baru bisa jadi itu benar. Tapi kenapa mereka ingin pulau itu,”kata Putra.”Bukannya aku suruh kamu mencari tahu, kenapa kamu bertanya kepadaku yang belum tahu apa yang mereka cari. Bisa jadi apa yang kita ingin kan berbeda dengan apa yang mereka inginkan,”kata Roki.


“Aku ada urusan dengan tuan kamu sebentar, sekarang aku ingin pergi,”kata Putra. Tapi sekertaris Kim menghalangi Putra untuk pergi.”Kenapa kamu menghalangiku?,”ucap Putra.


“Aku merasa kamu cukup mencurigakan kalau ada disini. Apa kamu mencoba untuk berhianat lagi seperti waktu itu,”kata sekertaris Kim. Putra melihat Kim dengan tatapan tajam,”Siapa yang berkhianat lagi. Itu bukan urusan kamu.”


“Kata kamu ini bukan urusanku lagi, tapi jika itu terulang kembali aku  tidak akan segan untuk membunuh kamu,”ucap Sekertaris Kim yang berbisik didekat Putra. Putra mengabaikan ancaman dari Kim dan menyingkirkan tangan dia untuk tetap melangkah ke luar ruangan. Roki yang melihat hanya bisa terdiam,”Mereka masih bermusuhan ternyata.”


Putra melangkah keluar dari ruangan dan tidak menoleh sedikitpun kepada Kim. Kim berjalan menuju tuannya.”Kenapa dia ada di ruangan anda tuan,”kata Sekertaris Kim. “Dia hanya ingin mengobrol saja. Apa kamu masih membenci dia?,”kata Roki yang melihat kearah sekertarisnya.


“Tidak, hanya saja aku tidak suka dengan sikap dia,”kata Sekertaris Kim.”Aku tahu kalau kamu masih belum memaafkan dia. Tapi kita dalam satu kelompok yang sama dan aku tidak ingin ada permusuhan antara kalian berdua. Apa kamu mengerti,”kata Roki dengan tegas.


“Maaf tuan,”ucap sekertaris Kim.”Ada apa kamu masuk,”kata Roki.”Saya hanya ingin memberikan jadwal acara yang terbaru,”kata sekertaris Kim yang memberikan jadwal yang baru kepada Roki.


Selesai pertemuan dengan Putra, Roki menyelesaikan urusan perusahaan yang tertunda untuk beberapa hari. Waktu terus berjalan, pertemuan demi pertemuan dia hadiri sebagai direktur perusahan M. Roki yang sudah terbiasa dengan pekerjaannya menyelesaikannya dengan kompeten dan adil untuk karyawannya.


~ ~ ~ ~  ~~  ~ ~ ~  ~ ~ ~ ~ ~ ~  ~ ~ ~ ~ ~


Izam yang telah menyelesaikan urusan dia menghubungi orang dalam untuk mencari tahu apa pulau yang di inginkan bisa dia dapatkan.Izam yang sudah membuat janji dengan seorang pergi dari markas untuk menemui temannya itu. Tapi saat dia keluar dari markas Hizam datang menghampirinya dan berkata,”Bos mau kemana?.”


“Aku ingin keluar mencari angin. Ada apa?,’kata Izam dengan santai. “Jika tidak keberatan apa saya juga boleh ikut,”kata Hizam yang mencari tahu apa yang ingin dilakukan Izam.


“Kamu tidak usah khawatir denganku, karena aku pergi ke cafe bisa yang aku kunjungi. Kamu selesaikan saja persiapan pelelangan yang dilakukan tiga bulan yang akan diadakan,”kata Izam yang berjalan.”Baik bos,”ucap Hizam. Izam seperti bisa mengendarai motor yang biasa dia pakai untuk kesendiriannya. Tanpa disadari Oleh Hizam yang sudah ketahuan mengikuti dia secara diam-diam.


“Sampai kapan kamu akan mengikutiku,”ucap Izam dengan santai. Sebelum Izam pergi dia sudah menyuruh orang yang sama dengan dia untuk melabuhi musuh. Tepat di persimpangan yang sudah direncanakan Hizam beralih ke orang yang berbeda tanpa dia sadari. Izam yang sampai di tempat tujuan melihat orang itu sudah ada di tempatnya.


“Kenapa kamu lama,”kata Bunga pimpinan organisasi peneliti.”Bukannya kamu tahu kalau aku diawasi pihak ketiga,”ucap Izam. “Aku tidak tahu,”ucap Bunga yang tersenyum.”Apa yang ingin kamu pesan,”kata Bunga lagi.


Izam memesan makan ringan dan kopi hitam, sambil menuggu pesanan datang mereka membahas pelelangan yang akan diadakan tiga bulan lagi.”Apa kamu sudah mempersiapkan barang yang aku  butuhkan untuk mengambil paksa pulau,”kata Izam tanpa basa-basi.”Tenang saja semua sudah dipersiapkan hanya saja...,”ucap Bunga yang terputus karena pelayan datang mengantar makanan dan minuman yang mereka pesan.