
Setelah hari kelulusan Izam yang pergi terlebih dahulu meninggalkan Martin dan Roki. Karena tidak percaya lagi dengan Martin yang sudah membunuh Terko. Kesalahan yang dibuat oleh pihak ketiga ini membuat perselisihan keduanya tetap berlangsung. Sampai dimana mereka sedang berduka karena satu anggota mereka dan keluarga Izam sudah pergi mendahuluinya.”Aku tidak tahu harus bagaimana lagi,”ucap Izam yang sedang dalam ruangannya sendiri sebelum dia menghadiri pemakaman Terko.”Apa aku harus percaya dengan mereka berdua,”ucapnya lagi.
“Aku tidak tahu lagi kemana aku harus melakukanya,”kata Izam.”Aku tahu kalau kamu sedang kehilangan,”ucap dari balik pintu.”Masuk,”ucap Izam.Erik masuk kedalam ruangan dan melihat sekelilingnya. Dia terkejut saat dia masuk ruangan sudah berantakan.”Tuan sudah waktunya berangkat,”kata Erik.
Izam berdiri dan berjalan keluar ruangan dan menuju kelantai bawah dimana mobil terparkir. Setelah sampai didepan mobil Izam masuk dan di ikuti oleh Erik yang duduk di kursi depan. Erik yang melihat Izam tidak seperti biasanya. Dalam hati dia berpikir,”Apa ini karena Terko tidak ada.” Diperjalanan Erik melihat tuanya melalu kaca depan dia.
Sampai di tempat pemakaman Izam turun dan masuk ke ruangan duka bertemu dengan keluarga Terko yang menangis karena kehilangan satu kelurga mereka. Izam yang datang hanya bisa melihat foto Terko yang dipajang di dekat peti matinya.
Erik datang menghampiri Izam dan Hizam yang sedang duduk bersama. Dan memberitahukan kepada Izam kalau preman selatan akan datang mengambil senjata yang sudah diambil oleh SaNaHa. Izam yang tahu apa yang sedang terjadi dengan hati yang bersedih dia berkata kepada Hizam untuk menyiapkan anak buah karena ada tamu yang tidak di undang datang ke markas. Belum sempat dia berduka Izam berpamitan dengan keluarga Terko karena ada masalah yang harus di urus di luar.
“Apa semua sudah dipersiapkan,”ucap Izam kepada Hizam. “Sudah Bos, pada posisi mereka,”kata Hizam yang menyembunyikan rasa bahagianya.
Izam yang selalu mengawasi Hizam merasa ada yang salah dengan dirinya. “Aku tahu kalau semua ini adalah perbuatan dia. Tapi dia tidak akan mengungkapkannya sekarang karena belum waktunya,”ucap hati Izam.
Mereka semua kembali ke markas menyambut tamu yang tidak diundang. Setelah mereka sampai di markas belum sempat Izam keluar beberapa mobil dan motor sudah datang berkelompok ke tempat Izam. “Kenapa kalian datang cepat sekali,”kata Izam yang keluar dari mobil.
“Apa kalian tidak sabar mengambil senjata miliki kami,”kata Izam.”Bukannya itu kamu yang telah merampas senjata kami,”ucap Martin yang keluar dari mobil. Mereka hanya saling melihat dengan tajam.”Apa kalian tidak bisa datang hari berikutnya,”kata Izam yang masih santai.
“Kenapa mengulur waktu, jika bisa dilakukan sekarang,”kata Martin.”Apa kamu gila,”ucap Izam.”Kenap hanya kehilangan satu orang saja kamu sesedih ini. Bagaimana jika kamu kehilangan semuanya, apa kamu akan jatuh ke lantai,”kata Martin dengan wajah santai sambil menghempaskan rambutnya kebelakang.
Izam yang menutup matanya dan kembali melihat dia dengan tatapan yang tajam. “Kamu tidak memilki hati,”ucap Izam dengan tajam.”Hati yang kamu maksud apa?,”kata Martin yang berpura tidak tahu.
“Apa IQ kamu sudah menurun setelah lulus,”ucap Izam.Martin tidak menjawab dan hanya terdiam tersenyum. “Habisi mereka semua,”kata Martin. Mereka semua yang sudah ada ditempat hanya bisa mengikuti perintang Bos mereka.”Bunuh mereka jangan ada yang terlewatkan,”kata Izam yang juga menyuruh anak buah mereka.
Tiba-tiba dari arah yang berlawanan si tengah perselisihan mereka Lili yang sudah diberikan tugas hanya bisa menyuruh anak buah mereka menengahi permasalahan yang ada.
“Kami ingin berjualan. Apa kamu tidak bisa melihat barang yang meraka bawa,”kata Izam.”Bukanya itu hanya barang mainan saja,”ucap Mora yang sudah mengganti senjata mereka.”Kamu kira kami bodoh tidak bisa membedakan senjata mainan dengan senjata asli,”ucap Martin.
“Jika kalian tidak percaya dengan mataku. Silakan periksa sendiri barang yang kalian bawa,”kata Mora yang masih santai. Sampai mereka semua yang ada ditempat mengambil senjata yang mereka bawa. “Bos apa yang gadis itu katakan benar. Senjata kita semua mainan,”kata setiap anak buah masing-masing.
Saat mereka sibuk dengan dunia mereka masing-masing pimpinan mendapatkan pesan yang memberitahukan kalau Andre yang mendalangi perselisihan ini. Martin yang sudah membaca pesan melihat kearah Izam yang juga mendapatkan pesan. “Semuanya kembali ke markas ada tamu terhormat yang harus kita sambut.,”ucap Martin.”Lain kali kamu tidak akan lolos,”kata Martin yang membuka pintu mobi.”Anda tidak jadi mau beli senjata ini,”ucap Mora yang masih menawarkan barang dagangannya. Tapi Martin tetap tidak menghiraukan ucapan Mora dan masuk kedalam mobil. Semua anak buah Martin tidak jadi berselisih. Hati Marko yang awalnya senang kembali kesal karena rencananya gagal.
“Kenapa kita pergi?,”ucap Marko.”Aku sudah bilangkan ada tamu yang harus jika jamu,”ucap Martin. “Siapa mereka sampai kita harus menjamu tamu itu,”kata Marko yang penasaran.”Mereka adalah mafia Rusia,”kata Martin dengan santai.
“Mereka datang sekarang, bukannya jadwal mereka masih seminggu lagi,”kata Marko.”Aku tidak tahu apa yang terjadi kenapa mereka datang lebih awal,”ucap Martin.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~~ ~ ~ ~~ ~
“Apa mereka takut dengan kita,”ucap Hizam yang merasa kesal.”Kenapa dengan kamu,”kata Izam yang melihat kearahnya. Hizam hanya terdiam, sampai Izam berkata,”Mafia Rusia datang berkunjung ke wilayah Martin kenapa mereka tidak jadi berselisih.”
“Apa maksudmu Bos mafia Rusia bukannya datang seminggu lagi,”kata Hizam yang tidak percaya. “Apa yang aku katakan benar lihat ini,”kata Izam yang memperlihatkan isi pesannya yang baru masuk ditengah perselisihan.
“Kenapa mereka memajukan jadwal mereka,”ucap Hizam.”Karena itu, aku ingin kamu mencari tahu kenapa mereka datang lebih awal dari jadwal yang di berikan. Jangan sampai preman selatan mendapatkan keberuntungan itu,”kata Izam.
“Baik Bos,”ucap Hizam yang pergi mencari informasi. Setelah Hizam pergi Izam memberitahukan Erik untuk pergi ke lembah bambu hijau untuk bertemu seseorang. Erik hanya menyetujui kata tuannya tanpa dia bertanya siapa yang dia akan kutemui. Erik pergi ke tempat lembah bambu hijau, sampai di sana dia tidak melihat seorangpun. Sampai ada suara langka kaki,”Apa kamu Erik?.” Erik menoleh kearah suara,”Itu benar. Anda siapa?.”
“Apa kamu suruhan Izam untuk datang kesini,”kata Beti.”Itu benar,”ucap Erik yang merasa orang didepannya bukan orang biasa.”Tenang saja aku hanya mengantar surat ini untuk Bos kamu,”ucap Beti yang memberikan seuntai surat. “Apa ini,”kata Erik yang mengambil suratnya.
“Kamu jangan buka surat ini, Apa kamu mengerti,”kata Beti menepuk bahu Erik. Erik hanya menganggukkan kepalanya sampai orang itu pergi meninggalkannya. Erik yang diberikan tugas oleh tuannya segera pergi memberikan surat tersebut kepada Izam.”Apa sebenarnya isi surat ini?,”kata hati Erik yang bertanya.