Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Bermain


Bersama mereka mengingat masa lalu saat masih sekolah. Waktu telah berlalu mereka masih bersama, samapi hari dimana mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Izam yang sudah dijemput pergi meninggalkan keduanya.


“Apa kamu mau pergi sekarang, tidak bisakah kalau kamu perginya besok,”kata Roki yang merasa sedih akan berpisah dengan Izam.”Maafkan aku Roki, aku ada urusan yang harus aku kerjakan. Lain kali saja ya kita berbicara lagi,”kata Izam memegang bahu Roki dan berjalan meninggalkan mereka berdua.


“Kan masih ada aku. Kenapa kamu terlalu sedih,”ucap Martin yang tidak suka dengan sikap Roki. “Sudah bosan dengan kamu, mau Izam,”kata Roki yang bercanda.


“Sebenarnya aku masih bertanya-tanya. Kamu itu suka dengan Izam kah,”ucap Martin tanpa basa-basi.”Siapa yang kamu maksud,”kata Roki yang menatap Martin dengan dingin. “Kenapa kamu melihatku seperti itu. Jika kamu tidak mau jawab juga tidak apa-apa,”kata Martin yang berdiri.”Kamu mau kemana,”ucap Roki yang menahan Martin.


Martin menghela nafas,”Mau ikut tidak aku mau ke pameran lukisan yang baru saja di adakan di hotel ini.”


“Pameran?,”kata Roki yang tersenyum.”Aku tidak tahu kalau kamu suka dengan lukisan,”ucap Roki.


“Tidak juga hanya saja aku ingin melihat beberapa lukisan sebelum kamu menangis,”kata Martin.”Siapa yang menangis,”ucap Roki yang menyela. Martin hany tersenyum melihat kearah Roki dan berjalan menuju pameran.”Apa kamu memilki tiket masuk,”kata Roki.”Tenang saja aku sudah membeli tiga tiket sebenarnya satunya untuk Izam. Tapi dia keburu pergi jadi tidak bisa bilang,”kata Martin.


“Tenang saja, ada aku disini,”ucap Roki yang merangkulnya. Mereka berdua masuk kedalam pameraan lukisan yang diselenggarakan oleh pihak hotel Azom. Sampai didalam mereka melihat satu demi satu lukisan dan saling berargumen dan berpendapat tentang lukisan yang mereka lihat. Sampai di lukisan terakhir, Roki mendapat pesan singkat karena ada tamu yang datang darai negara G.


“Ada apa?,”kata Martin yang melihat wajah Roki.”Jika kamu ada kerjaan tidak apa-apa, pergilah,”ucap Martin lagi.”Aku benar minta maaf, bukan maksud aku meninggalkan kamu,”kata Roki yang menundukan kepalanya. Martin yang memegang bahu Roki berkata,”Kenapa harus bersedih. Kita akan bertemu lagi.”


Roki kembali tersenyum kembali dan berjalan meninggalkan Martin dengan lukisan yang terakhir dia lihat.”Tidak aku sangka akan sendiri lagi ditempat seperti ini,”ucap Martin yang kembali memandang lukisan.


“Bukannya itu sama dengan waktu itu,”kata seorang dari belakang. Martin yang mengetahui suara itu tidak menoleh,”Kenapa kamu datang kesini, Kak Mola.”


“Aku hanya ingin melihat beberapa lukisan. Bagaimana dengan mereka semua?,”kata Kak Mola.”Mereka sedang dalam pelatihan. Apa kakak khawatir dengan kak Mark,”ucap Martin. Kak Mola hanya terdiam dan berpura-pura melihat lukisan yang ada didepan dia.”Apa dia baik-baik saja,”ucap kak Mola.”Tenang saja dia dalam keadaan baik,”kata Martin.


“Tadi kakak bilang sama seperti waktu itu. Apa maksudnya,”kata Martin.Kak Mola hanya tersenyum dan berkata,”Apa kamu tidak ingat waktu itu kamu juga bersama Mark dan Mitra ditempat ini. Karena ada urusan keduanya kamu ditinggal disini sendirian.”


Martin hanya terdiam dan memandang lukisan yang dia lihat.”Apa lagi tempat mereka pergi di lukisan yang sama,”kata kak Mola.”Itu benar,”ucap Martin yang kembali terdiam.


“Kenapa mereka pergi saat mereka melihat lukisan ini,”kata kak Mola yang juga melihat lukisan yang sama dengan Martin. “Lukisan ini menceritakan semua perpisahan yang mengorbankan nyawa yang paling berharga bagi mereka sayangi,”kata Martin menjelaskan.


“Aku tidak tahu kalau lukisan ini memilki kisah yang menyedihkan,”kata Kak Mola. Kak Mola yang melihat adiknya masih cemberut dia mengubah susana dnegan menyeret dia keluar dari tempat pameran dan menuju cafe yang diseberang jalan.”Kenapa kakak menyeretku,”kaya Martin.”Aku ingin mengajak kamu menikmati hidup selagi kamu ada waktu,”kata Kak Mola. Martin hanya bisa mengikuti langka kakaknya, sampai mereka sampai di cafe dan mencari tempat duduk.


“Kapan kamu akan sibuk lagi,”kata Kak Mola.”Kenapa memangnya? Apa terjadi sesuatu di rumah,”kata Martin.”Tidak ada mereka masih sibuk dengan cafe, yang kebetulan aku ingin melihat pemeran lukisan di negara ini makanya aku minta ibu libur untuk satu minggu,”ucap Kak Mola.


“Kakak...kakak,”ucap Martin yang menggelengkan kepalanya. Kak Mola hanya tersenyum sampai pesanan mereka datang.”Maaf tuan dan Nyoya ini pesanan anda,”kata pelayan.”Terima kasih,”ucap kak Mola.


Hari yang cerah menjelang sore Martin dan kak Mola menikmati pesanan mereka. Sampai hari mulai menjadi gelap Martin mengantar kak Mola menuju hotel Azom. Sampai didepan hotel Martin berkata,”Sampai disini saja ya kak. Aku masih ada urusan yang lain, jika ada apa-apa kamu bisa menghubungi pemilik hotel.”


“Aku tahu, hati-hati di jalan, jangan memaksakan diri,”kata Kak Mola.”Iya,”ucap Martin yang berjalan menjauh dari kak Mola. Di tengah jalan Martin dihampiri oleh Remon.”Hai,”ucap Remon sambil menepuk punggung Martin. Martin yang sedang asik melihat ponsel terkejut dengan tepukan Remon. “Siapa,”kata Martin dengan cepat.”Ini aku Remon. Apa masih ingat,”kata Remon.


“Remon atau Rendi,”kata Martin dengan dingin.”Siapa itu Rendi,”ucap Remon yang pura-pura tidak tahu. Martin hanya menghela nafas sampai dia di tempat yang sepi dia berhenti berjalan.


“Sampai kapan kamu akan bermain drama,”kata Martin yang sudah tahu semuanya.”Apa maksud kamu,”kata Remon yang masih mempertahankan sandiwaranya. Martin tersenyum dan mendekat kepada Remon dan berbisik,”Aku sudah tahu semuanya Rendi kamu jangan lagi berpura-pura saat hanya ada kita berdua.”


“Sejak kapan kamu tahu kalau itu adalah aku,”kata Remon yang mulai angkat bicara.”Sejak awal kita bertemu,”kata Martin.”Jika kamu tahu sejak waktu itu kenapa kamu tidak mengatakannya,”kata Remon.


“Karena waktu itu sangat berbahaya,”ucap Martin yang bersandar di dinding.”Tidak aku sangka kamu tahu semuanya. Apa kamu juga tahu soal Marko,”kata Remon. Martin hanya tersenyum dengan dingin,”Dia sudah tewas. Jadi kamu tidak perlu khawatir.”


Remon terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Martin.”Bagaimana bisa?,”kata Remon yang tidak percaya. “Kamu tidak perlu tahu bagaimana dia tewas,”kata Martin.”Walaupun dia sudah tewas masih ada Hizam yang juga berkhianat, aku masih tidak bisa kembali kepadamu Bos,”kata Remon.


“Kata siapa kamu boleh kembali,”ucap Martin. Remon melihat kearah Bosnya,”Apa maksud anda?.”


“Karena masih ada hal yang harus kamu bereskan, jadi kamu tidak boleh kembali,”kata Martin.”Apa maksud kamu aku harus mencari tahu siapa Andre sebenarnya dan siapa orang yang mendalangi semuanya,”kata Remon dengan percaya diri.”Kamu ternyata tambah pintar ya setelah kamu pergi dariku,”kata Martin.


“Apa kamu tersinggung dengan apa yang aku katakan,”ucap Remon.”Tersinggung kenapa. Kamu sekarang sudah memiliki kelompok kamu dan telah menyelamatkan Teri dan Tera. Aku yang harusnya berterima kasih kepada kamu,”ucap Martin yang menepuk bahU Remon.


“Itu adalah tugasku menjaga rekanku anggap saja kerena aku lalai dalam menjalankan tugasku,”kata Remon. Martin berjalan melewati Remon sambil berkata,”Jika sudah waktunya aku akan memanggil kamu. Tapi bukan hari ini.”


Martin pergi menjauh dari Remon dan kembali menuju pulau untuk melihat perkembangan anak buah mereka yang masih didalam gua hitam.”Apa  mereka sudah menyelesaikan tugasnya,”kata hati Martin.