Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Pulau Hantu 1


Jiwa berterbangan bagaikan sayap yang melukiskan keindahan dua pasang merak kembar dengan aluan kecapi yang senada. Mereka bertiga dikejutkan dengan pertanyan terakhir,”Sastra dan bela diri mana yang memilki kesamaan dalam kehidupan kedua dunia cahaya dan kegelapan?.”


“Pengetahuan dunia dunia di pulau bunga kristal putih,”kata mereka bertiga dengan percaya diri. Para penguji membuat cahaya dimensi membawa mereka bertiga ke pulau bunga kristal putih untuk belajar dan meningkatkan kemampuan mereka dalam sastra dan bela diri. Sampai di akhir Mitra yang masih santai maju perlahan masuk kedalam ruang penguji. Mitra yang merasakan aura tekanan jiwa yang merasuk jiwanya membuat dia bersemangat dan tetap berjalan di tengah lingkaran menuggu penguji memberikan pertanyaan kepada Mitra.


“Tangan pedang atau tangan kosong membawa kamu pada akhir yang penuh penderitaan?,”ucap Penguji.” Tangan pedang membawa darah dan pelindung. Tangan kosong membawa pencapaian yang tidak bias kamu miliki. Kedua tangan saling beriringan untuk mebawa penderitaan dan kedamaian untuk semua mahkluk yang memilki jiwa suci dan abadi,”kata Mitra dengan santai.


“Jika yang menerbangkan kamu dalam lautan Merah membawa bencana mana?,”kata penguji.”Lautan merah cahaya dan jiwa kesedihan membawa kebahagian di dunia cahaya cermin,”kata Mitra.


“Kemana kamu akan pergi di laut merah yang penuh penderitaan,”kata Pengunji.”Laut Merah dasar kegelapan dan diatas cahaya,”ucap Mitra yang tiba-tiba dibawa keruang dimensi penuh bencana dan kedamaian yang tidak seimbang.


Semua anggota Martin dibawa ke dimensi yang berbeda untuk mendapatkan pelatian dan pengetahuan dan peningkatan jiwa pada waktu yang ditetepkan untuk menyelesaikan ujian mereka masing-masing.


Martin dan Mitra di tempat dimana Laut Merah berada, Mark di tempatkan dipulau dewa kristal, Alex dan Ali di pulau pedang kuno, sedangkan Lili, Ling Yong dan Rong Shi dibawa ke pulau Bunga Kristal Putih. “Mereka sudah pergi ya,”kata Morgan.”Apa mereka lupa denganku kah,teganya mereka meninggalkanku sendirian,”ucap Morgan yang masuk kedalam ruang penguji. Saat dia masuk kedalam ruang penguji Morgan tidak merasakan penekanan sama sekali melainkan dia merasa tenang.”Tempat apa ini, kenapa berbeda dengan apa yang aku lihat,”kata Morgan.


“Cahaya rembulan cahaya bintang. Putih dan Gelap selalu bersama dengan kedamaian dan kebencian,”ucap Penguji. Morgan menghela nafas dan berkata,”Bukannya keduanya sama untuk dilalui jika bersama dan bergantian dan adil.”


“Apa yang menurut kamu adil dalam dunia bela diri,”kata penguji.”Kematian,”ucap singkata Morgan.”Laut merah dunia yang luas bagian mana yang paling kamu anggap adil,”kata penguji. Dalam hati Morgan bertanya,”Kenapa banyak sekali pertanyaan yang mereka berikan. Apa aku sial disini memilih yang peling terakhir. Martin awas aja jika aku bertemu dengan kamu, aku akan perhitungkan kamu.”


“Bunga bergugur di laut Merah dengan kristal hitam membawa bencana,”ucap penguji.”Bunga jiwa kuno dalam laut merah di dasar laut dengan jiwa yang tidak bisa lepas,”kata Morgan.


“Kemana kamu ingin pergi?,”kata Penguji.


“Dimana Martin pergi aku akan datang menyusulnya,”ucap Morgan tanpa berpikir panjang. Para penguji saling menatap satu sama lain, hingga penguji berkata,”Tingkat level seperti ini kamu ingin mati.” Morgan hanya tersenyum dan berkata,”Iya untuk rekanku yang berharga.” Semua penguji memutuskan membuka formasi dimana wilayah Laut Merah berada.”Perjalanan kamu akan penjang untuk menemukan teman kamu,”ucap penguji yang mengaktifkan formasi. Tapi Morgan dengan hormat menudukan kepalanya kepada penguji dan mengeluarkan aura jiwanya dengan pesat yang sudah dia segel. Para penguji yang merasakan aura jiwa Morgan hanya bisa tersenyum,”Kamu sama dengan mereka berdua.”


“Kenapa begitu lemah,”ucap Morgan. Sampai penguji yang melihat melalui cermin dimensi membuat jengkel. Karena merasa dia mampu tingkat moster di tingkatkan kepada para penguji pada level bayangan. Morgan baru berjalan beberapa langka sudah dihadapkan moster tingkat bayang.


Dengan lembut Morgan berkata,”Kalian ingin mempermainkan aku ternyata, awas saja jika aku keluar dari dimensi ini aku akan habisi kalian penguji.” Moster menyerang Morgan yang sedang marah kepada penguji, tapi Morgan bisa menghindar dan mulai mengeluarkan jiwa pedang untuk menghabisi moster tingkat bayangan dengan satu serangan. Sebelum dia berhadapan dengan para moster, Morgan segera pergi dari hutan menggunakan langka cepat.


Sementara Martin sampai di lembah laut Merah dengan sumber kekuatan yang mendukung dia naik level dalam jiwa dirinya. “Siapa kamu?,”ucap seorang penjaga lembah laut merah.”Pendatang untuk mengumpulkan jiwa,”ucap Martin yang tidak perduli.


“Ini bukan tempat kamu, sebaiknya kamu pergi dari lembah ini,”kata Penjaga. Martin berjalan kearah penjaga dan berkata,”Kenapa?.” Penjagan mulai menyerang Martin, tapi Martin menghindar dengan baik sampai dia berkata,”Kenapa kamu menyerangku. Apa salahku?.”


“Ini adalah ujian siapa saja yang ingin memiliki kekuasaan,”kata Penjaga yang menyerang dengan aura jiwa tingkat 8. Martin mundur untuk membuat formasi penghalang,”Dia sangat hebat aku tidak boleh menganggap dia lemah.”


Martin yang sudah memasang penghalang mengambil pedang dalam penyimpanan ruang yang dia bawa. Setelah semua siap Martin menyerang dia dengan pedang jiwa bayangan, tapi tidak bisa mengenai sedikitpun penjaga dihadapannya. “Ternyata ini kemampuan kamu dengan level 7. Kamu tidak akan bisa mengalahkanku,”kata penjaga.


“Apa anda yakin dengan apa yang anda katakan,”ucap Martin yang sudah menyiapkan beberapa rencana cadangan untuk mengalahkan level 8. Formasi penghalang diaktifkan dengan kombinasi formasi penyerang jiwa buatan. Penjaga yang telah masuk kedalam formasi merasa terkejut dengan formasi yang dibuat oleh pemuda didepannya.”Bagaimana kamu bisa membuat dua formasi dalam waktu bersamaan,”kata penjaga. Martin berjalan satu kilat sampai disamping dia dan berkata,”Kamu harus mati disini, pengganggu.” Yang kemuadian Martin menghilang lagi dan penjaga yang sudah masuk perangkap yang dibuat oleh Martin tewas dengan jiwa yang menghilang.


“Sangat disayangkan level 8 sudah bagus, tapi bertemu denganku. Akan menjadi sengsara,”kata Martin yang masuk lebih dalam dari lembah laut merah. Penguji yang melihat hanya bisa terdiam dengan kemampuan Martin dan menaikan levelnya kedalam tingkat bumi.


Martin yang merasakan hawa yang tidak enak melihat kebelakang dan melihat sekumpulan moster level bumi dengan tingkat 2. Martin hanya tersenyum,”Moster level bumi tingkat 2. Apa maksudnya?.”


“Lanjut apa bermain ya,”ucap Martin yang sedang menimbang-nimbang. Martin menghela nafas dan memilih bermain dengan para moster sebelum dia melanjutkan perjalanannya. Dengan santai Martin melihat dan menganalisis moster didepannya untuk mencari titik lemah moster. Tapi sebelum melihat dengan tenang, para Moster menyerang Martin yang sedang dalam keadaan diam. Moster yang mengeluarkan api dan menekan gravitasi, membuat Martin tidak bisa bebas bergerak karena mereka sedang menyerang dengan membati-buta lawannya. Martin yang terdiam mengeluarkan sedikit jiwa untuk memanggil si putih untuk melawan para moster.” Putih, waktunya makan,”ucap Martin dengan santai.


Si putih datang dan mulai membesarkan tubuhnya menyerang dua moster api dan gravitasi dengan jiwa moster yang dimiliki si putih tingkat dewa. Dengan cepat moster api dan gravitasi tingkat bumi telah dikalahkan oleh si Putih dan dimakanlah kedua moste tersebut.”Apa kamu lapar, cepat sekali kamu menghabisinya,”kata Martin yang melihat.