
Setelah malam yang dingin dan menegangkan Roki kembali dengan rekan mereka dengan selamat. Beberapa orang yang ikut dalam pelelangan hanya sebagian yang bisa selamat dalam situasi yang tidak bisa dikatakan.”Apa kamu baik-baik saja,”kata Rere.
Roki berjalan kearah Rere,”Aku baik saja hanya saja tidak di duga kalau Andre memilki keinginan untuk membunuhku. Jika kelompok itu tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku.”
“Siapa yang kamu maksud,”kata Rere.”Mungkin saja dia adalah organisasi Laut Merah,”kata Sandra. “Kenapa meraka ada di pulau itu, apa yang mereka inginkan,”ucap Rere yang penasaran.”Sertifikat Pulau,”kata Momo.”Bukannya bagus Andre rugi uang triliyun dan tidak bisa mendapatkan pulau juga. Rencana dia untuk mendapatkan pulau untuk perluasan wilayah gagal bukan,”kata Sandra.
“Yang kamu katakan itu memang benar. Tapi yang tidak bisa kita sangka adalah kenapa mereka muncul sekarang. Apa yang mereka inginkan,”kata Roki. “Itu kita tidak tahu,”ucap Putra. “Banyak sekali yang terjadi pada malam ini, sebaiknya kalian istirahat. Karena besok pasti akan ada berita terbaru,”kata Roki lagi yang berjalan keluar untuk menghirup udara segara.
Dingin dan berangin tercium udara laut yang berhembus. Roki yang mengambil ponsel dikantong untuk menghubungi Izam untuk menayakan kabar.Tapi lagi-lagi dia tidak mengangkat teleponnya dan dia beralih menelepon Martin. Roki menuggu panggilan masuk tapi tidak seperti biasanya Martin tidak mengangkat teleponnya.”Apa yang terjadi dengannya malam ini,”ucap Roki dengan suara kecil.
“Apa yang kamu gumankan,”kata Alex yang menghampiri Roki yang ada diluar. Roki menoleh kearah suara,”Kenapa kamu tidak istirahat.” Roki hanya terdiam dan melihat kearah laut yang menjulang luas.”Apa kamu mengkhawatirkan Martin dan Izam lagi?,”kata Putra yang dibelakang Alex.
“Ternyata kamu,”ucap Alex.”Kenapa tidak suka,”ucap Putra.”Kalian jangan berantem, aku bosan melihat kalian berantem dan tidak ada gunanya itu,”kata Roki dengan dingin.”Siapa yang berantem,”kata Alex.”Siapa juga yang mau berdebat dengan otak udang,”kat Putra. Mereka berdua saling memalingkan muka, Roki melihatnya hanya menghela nafas dan memegang kepalanya.
“Kalian berdua sebaiknya kembali kemar kalian, jika kalian tidak ingin masuk aku saja yang pergi kedalam,”ucap Roki yang hendak berjalan.”Tunggu dulu,”kata mereka berdua.”Kenapa?,”ucap Roki.”Janganlah marah,”kata Putra.”Itu benar kita hanya bercanda saja, iyakan,”kata Alex yang merangkul Putra didepan Roki. Putra membalas rangkulan Alex,”Lihat ini kita sudah baikan bukan.”
“Kenapa kalian keluar,”kata Roki dengan dingin.”Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu keluar. Apa yang kamu pikirkan,”kata Alex.”Aku hanya menghirup udara segar saja,”kata Roki.”Menghirup udara segar tapi kenapa pegang ponsel. Apa kamu menghubungi kedua teman kamu lagi,”kata Putra.
“Apa yang kamu katakan itu benar,”ucap Roki yang tidak bisa menyela kata mereka berdua.”Kamu tidak usah khawatir mereka berdua pasti baik-baik saja. Bukannya mereka tidak menghadiri pelelangan,”kata Alex.”Apa yang kamu katakan itu benar, tapi baru saja aku teringat kalau Mark bukannya ikut dalam pelelangan. Apa dia selamat dari bencana di pulau tersebut,”kata Roki yang gelisah.
“Kamu tidak usah khawatir mereka pasti akan baik-baik saja,”kata Putra.”Jika kamu masih khawatir biarkan Momo yang mencari infomasi korban yang mengikuti pelelangan yang masih selamat bagaimana,,”kata Putra.
“Itu usul yang bagus,”kata Alex. Setelah beberapa jam mereka mengobrol mereka bertiga masuk kedalam kapal untuk beristirahat.
Izam yang masih terdiam dengan beberapa laporan mendapatkan pesan rahasia dari markas peneliti yang memperlihatkan Video pertempuran Organisasi Laut Merah dan Organisasi Rose Black. Tapi mata Izam tertuju pada satau orang,”Hizam.”
“Kenapa dia bisa ada di pulau dan siapa yang bersamanya....,”ucap Izam sambil berpikir orang yang di samping Hizam. Sampai dia teringat wajah orang tersebut. “Marko. Kenapa mereka bisa bersama-sama. Jika aku ingin lagi waktu itu Video yang diberikan Roki kepadaku juga dua orang ini,”kata Izam yang masih terdiam memikirkan apa yang sudah dia lihat dalam Video.
Setelah melihat dengan cermat Marko dibunuh oleh orang bertopeng, tapi dia merasa aneh kenapa Hizam yang didekatnya tidak juga dibunuh. Tapi membiarkan Hizam kabur yang membuat Izam berpikir sampai dia mendapatkan pesan dari Bunga.
“Apa kamu sudah melihat videonya,”kata Bunga.”Sudah tapi kenapa kamu memberikannya kepadaku, apa yang ingin kamu tunjukkan kepadaku,”kata Izam.
“Ada dua poin yang ingin aku tunjukkan kepada kamu. Pasti kamu sudah tahu apa yang aku maksud bukan,”kata Bunga. Izam menghela nafa,”Aku tahu maksud kamu, tapi belum saatnya aku menghukum orang itu. Aku masih membutuhkannya karena tidak ada orang lain yang bisa menggantikannya, jika aku menemukan penggantinya aku akan membunuhnya,”kata Izam.
“Bagaimana jika aku mencarikan orang untuk kamu,”kata Bunga.”Siapa yang ingin kamu perkenalkan kepadaku,”kata Izam.”Pergilah ke negara J. Kamu akan tahu nanti orang itu siapa,”kata Bunga.
Izam tidak lagi membalas pesannya hanya fokus melihat video yang diberikan.”Tidak aku sangka kekuatan kedua belah pihak hampir sama, tapi kenapa aku marasa ada yang aneh dari video ini.”ucap Izam.
“Apa kamu menyadari kalau ada yang aneh dengan video yang kamu lihat. Jika kamu tidak tahu aku bisa memberitahukan kamu,”pesan dari Bunga.Setelah melihat dengan seksama Izam baru menyadari kalau Organisasi Laut Merah sangat mengerikan dan menakutkan.”Jika Bunga tidak memberitahuku mungkin aku juga salah satu dari mereka,”ucap Izam dengan suara kecil. Sampai dia berpikir dan mengotak atik video yang baru saja dia melihat Roki ada dalam pulau tersebut.”Roki,”ucap Izam yang gelisah dan mengambil ponselnya. Saat dia melihat ponselnya dia melihat panggilan tidak terjawab dari Roki sampai 3 kalia.”Apa yang terjadi dengan dia,”kata Izam yang mulai menghubungi Roki. Tapi tidak ada jawaban dari Roki sampai dia mengubungi yang terakhir kalinya. “Halo, siapa yang?,”kata Roki yang masih bangun dari tidur. Roki melihat ke layar ponsel dan tertulis nama Izam.”Apa itu kamu Izam,”kata Roki yang kembali sadar.
“Apa kamu baik-baik saja,”ucap Izam dengan suara pelan.”Seharusnya aku yang bertanya apa kamu baik-baik saja kenapa kamu baru sekarang menghubungiku. Aku khawatir dengan kamu, kamu sangat menyebalkan sebagai teman tiga tahu selama sekolah menengah,”ucap Roki yang panjang.
Izam yang mendengarnya hanya bisa tertawa mendengar omelan temannya Roki.”Aku baik-baik saja. Apa kamu terluka,”kata Izam.”Iya aku terluka karena kamu,”ucap Roki yang marah.”Maaf aku baru tahu kalau kamu mengikuti pelelangan dan kamu juga terlibat bentrok dengan orang itu,”kata Izam yang merasa kesal.
“Kamu tahu dari mana kalau aku mengalami bentrok dengan orang pelelangan,,”kata Roki yang mulai curiga.”Aku tahu dari teman aku yang mengikuti pelelangan. Apa kamu baik-baik saja, kamu tidak terluka buka,”kata Izam. Roki menghela nafas dan mulau berpikir tenang,”Aku baik saja, aku tidak mendapatkan luka hanya beberapa goresan tapi tidak dalam. Karena ada pengawal yang menjagaku. Kebetulan juga orang itu tidak menargetkan aku sebagai musuhnya juga hanya organisasi Rose Black yang merasa kesal karena aku bermain dengan dia saat pelelangan,”kata Roki menjelaskan.