Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Suka dan Duka 1


Daun berguguran burung-burung berkicau. Martin yang sudah ada dikelas mendengarkan musik kesukaannya yang dihampiri Roki. “Hai Martin,”ucap Roki dari belakang sambil menepuk bahu Martin.


Martin yang asik mendengarkan musik terkejut dan melihat kesamping. Setelah ia melihat kesamping ia baru melepaskan earphone. “Ternyata kamu ada apa, baru berangkat kamu?,”kata Martin.


“Tidak bisanya kamu sudah berangkat lebih awal, biasanya kamu terlambat,”kata Roki yang meletakkan tasnya. “Tidak bisa tidur karena memikirkan sesuatu, jadinya berangkat lebih dulu. Kenapa, apa tidak boleh aku datang lebih dulu dari kamu?,”kata Martin.


“Tentu saja boleh, malah bagus jika kamu datang lebih awal jadi kamu tidak ketinggalan pelajaran,”ucap Roki yang hendak berjalan keluar kelas setelah menaruh tasnya dimeja. “Kamu mau kemana?,”kata Martin melihat kearah Roki yang berjalan keluar. “Aku ingin ke laboratorium Biologi. Ada beberapa laporan yang harus aku periksa sebelum aku mengumpulkannya,”kata Roki menjelaskannya sambil meninggalkan Martin di kelas.


Sebelu dia berjalan agak jauh dia menoleh melihat kearah Martin dan berkata,”Apa kamu mau ikut denganku ke laboratorium?.”


“Tidak, kamu saja aku masih ingin mendengarkan musik,”ucap Martin yang mengenakan Earphone-nya.


Lorong-lorong yang panjang Roki berjalan menyusuri setiap ruangan yang ia lewati menuju laboratorium Biologi. Saat itu angin berhembus sangat sejuk dengan daun-daun yang berguguran membuat wajah Roki terpampang angin lembut yang lewat begitu saja. Roki yang berhenti menikmati angin yang berhembus membuat wajah cantiknya terlihat oleh Remon dan kawan-kawannya yang sedang berjalan di lorong tersebut.


Remon yang melihat wajah cantik Roki merasa tertarik dengan dia walaupun dia laki-laki. Karena terpesona dia ingin menghampirinya tapi dia mengurungkan niat itu karena tempat yang dia lewati banyak orang yang melihat. Remon yang melihat Roki bagaikan bunga cantik yang bermekaran dengan angin yang berhembus disekitarnya.


Roki yang merasakan hawa keberadaan Remon yang tidak bersahabat membuat dia waspada dengan dia. Tidak tahu kenapa Roki saat melihat Remon dan kawannya ada perasaan tidak nyaman membuat dia harus segera pergi dari tempat itu untuk menjauh darinya.


Roki berjalan menjauh dari Remon sampai dia melihat ke belakang tidak terlihat wajahnya dia merasa tenang kembali dan pergi menuju laboratorium Biologi. Roki yang tidak sadar kalau dia di ikuti oleh Remon sampai Roki mencari jalan pintas dari belakang gedung untuk menuju ruang laboratorium karena dikejar waktu.


Sampai dibelakang gedung Remon dan kawannya menghadang Roki yang berjalan didepannya karena tempat itu jarang dilewati oleh orang karena tempatnya sepi hanya beberapa orang yang tahu jalan pintas itu termasuk Roki.


“Hai cantik,”ucap Remon dari belakang dan disusul oleh temannya yang menghadang jalan Roki. Membuat Roki tidak bisa melanjutkan langkanya. Saat dia menoleh kebelakang melihat wajah Remon di depannya membuat Roki merasa tidak nyaman dan ingin menghindar tapi dia tidak bisa menghindar karena dihadang dari berbagai posisi. Hanya ada tembok di samping Roki.


“Kamu mau pergi kemana,”ucap Remon yang tepat dihadapan wajah Roki. Roki yang merasakan ada sesuatu yang tidak beres mencoba menatap Remon,”Apa yang kamu mau?.”


“Lepas,”ucap Roki yang ingin melepaskan pelukan Remon. Tapi pelukan Remon sangat kuat membuat dia tidak bisa bergerak sedikitpun. Roki yang tidak nyaman dipeluk oleh Remon mencoba berpikir untuk melepaskan pelukannya dengan berbagai cara. Sampai dia mendapatkan satu cara yang terlintas di pikirannya yaitu menginjak kaki Remon dengan kencang. Saat Roki sudah menginjak kaki Remon pelukannya sedikit longgar membuat dia ada kesempatan untuk lepas dari pelukan Remon.


Tapi kesempatan itu tidak menghasilkan apa-apa sampai dia kembali di pelukan Remon. “Kamu mau kemana?,”kata Remon yang mulai meraba-raba setelah memeluk erat Roki.


“Apa yang kamu inginkan Remon, lepaskan aku sekarang,”kata Roki yang mulai gelisah karena rabaan Remon membuat dia tidak nyaman. “Kamu tahu apa yang aku inginkan,”ucap Remon sambil berbisik ditelinga Roki sambil sedikit menggigit telinga Roki. Roki yang merasakannya mendorong Remon tapi dia tidak bisa mendorong jauh darinya. “Aku bilang cepat lepaskan aku, aku harus pergi,”kata Roki yang mulai gelisah dengan susana yang ada ditempat itu.


“Kenapa harus tergesa-gesa, kita baru saja mau mulai bermain denganmu,”ucap Remon yang mendekatkan dirinya sambil meraba bagian bawah Roki.


Roki yang tidak suka dengan perilaku Remon yang melecehkan dia mencoba untuk melepaskan diri darai pelukan Remon. Semua cara dia lakukan tapi tidak menghasilkan apa-apa sampai Remon berbisik di telinganya. “Kamu sangat cantik dan imut Roki, aku tidak bisa menahan lagi aku ingin memakan kamu,”ucap Remon sambil berbisik dan menjilat telinga Roki. Roki yang mencoba mendorong Remon agar dia tidak melecehkannya, tapi membuat dia tidak bisa berkata apa karena tubuhnya mulai ketakutan dan bergetar.


Roki yang terdiam sesaat kembali memberontak sampai dia berkata,”Lepaskan aku Remon jika tidak aku akan berteriak.”


“Tariklah tidak akan ada yang datang menolong kamu karena tempat ini jarang dilewati siswa lain,”ucap Remon yang tidak perduli dan tetap  meraba tubuh Roki sampai tangan dia masuk kedalam celana RokI. Roki yang tidak bisa menahannya, berteriak meminta tolong tapi tidak ada yang didengar.


“Percuma saja kamu berteriak lebih baik kamu jangan buang tenang kamu, biarkan aku memakan kamu,”kata Remon sambil berbisik dan mendekatkan tubuhnya didekat Roki yang kemudian dia meniupkan angin di telinga Roki.


Roki yang mendapatkan serangan mental dari Remon membuat tubuhnya lemas karena sentuhan yang lembut dari Remon. Roki yang mencoba untuk sadar tetap mencoba melepaskan diri dari Remon. Hingga dia mendapatkan serangan lagi dari Remon dengan dia meraba tubuhnya yang sudah dalam celananya. Roki yang merasakannya mencoba memegang tangan Remon yang bisa bergerak agar dia tidak mencoba meraba lebih dalam lagi. “Lepaskan aku bilang,”kata Roki yang menahan tangan Remon tapi tidak disangka. Remon yang memilki cara lain menekan Roki sampai dia tidak bisa bergerak dengan kaki Remon yang satu memasukan disela-sela kaki Roki dan menekannya. Roki yang merasakan gesekan dan tekan dari Remon.


Remon yang merasa bergairah tidak bisa menahan lagi dan melepaskan pegangan tangan Roki dengan satu serangan ciuman bibir. Roki yang terkejut karena Remon mencium dia tetap menahan tangan Remon sampai dia mengeluarkan lidahnya dan masuk kedalam mulut Roki.


Roki terkejut dan melepaskan tangan Remon dan mendorongnya, tapi tidak dia sangka tangan Remon meraba kebelakang tepat di pantat Roki. Remon yang meraba menemukan satu lubang dibelakang Roki merasa bersemangat dan mencoba memasukan jarinya kedalam.