Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Ikatan Persahabatan 1


Roki yang sedang asik berbicara dengan Izam yang ada didepannya, tanpa disadarinya Martin keluar dari kantin tanpa bilang kepada mereka berdua. “Kemana Martin ingin pergi,”ucap Mizuki yang menikmati kopinya. “Apa maksud kamu,”kata Izam. Roki yang melihat disampingnya tidak melihat Martin. “Kemana dia,”ucap Roki.


“Aku kira kamu tahu kemana dia akan pergi karena sepertinya dia terburu-buru perginya,”kata Mizuki yang melihat. “Kenapa kamu tidak menghentikannya,”kata Izam.


“Aku kira dia sudah bilang kepada kalian berdua,”kata Mizuki. “Aku akan menghubungi dia,”kata Roki.”


“Bagaimana, bisa.,”kata Izam. Roki menggelengkan kepalanya. “Mungkin dia balik ke ruangannya,”kata Mizuki yang mengubah suasana tegang yang ada di meja saat itu. “Kalau gitu ayo kita pergi ke ruangannya,”ucap Izam yang berdiri dan disusul oleh Roki dan Mizuki. Mereka berjalan menuju ruang Ibu dan kakaknya Martin berada. Sampai di sana banyak dokter dan suster yang berkumpul. Mereka berlari menuju ruangan dan menayakan,”Apa yang terjadi?.”


“Kami diberi tahu kalau salah satu pasien menghilang,”kata Suster. “Bukanya kalian teman dari pasien ya. Dimana wali dari pasien ini berada?,”kata Dokter.


“Bukanya sudah datang kesini sebelum kami datang,”kata Roki yang mulai gelisah. “Belum, wali mereka belum datang,”ucap suster. “Apa kamu sudah menghubunginya dan memberitahukannya,”kata dokter kepada suster yang berjaga. “Saya sudah memberitahu tapi ditengah pembicaraan dia mematikannya,”kata Suster.


~ ~ ~ ~~ ~~  ~~  ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~


Sementara Martin yang mengejar mereka dari belakang dangan menaiki motor. Sampai di tujuan dia melihat kalau mereka adalah preman Utara yang membawa kakak Martin. “Mark, kamu dimana?,”ucap Martin dari ponsel. “Ada apa?,”ucap Mark dengan santai. “Cari tahu keberadaan preman utara dan hubungi Roni dan Teko datang ke lokasi yang aku kirimkan,”kata Martin yang langsung menutup teleponnya.


Mark dengan segera menghubungi Roni dan Teko untuk menyusul Martin. Mark yang masih mencari tahu keberadaan Preman Utara menyadari kalau mereka ingin menguasai sebagian wilayah selatan. Mendapatkan info tersebut Mark menyusul mereka bertiga untuk memberitahukan informasinya kepada Martin.


Martin yang mencari kakaknya disandera sambil melihat sekitarnya. Sampai dia menemukan gudang belakang yang dijaga beberapa orang preman. Martin dengan diam-diam masuk lewat celah yang ada dan tidak ada penjaganya untuk melihat apakah kakaknya ada di dalam. Saat mengetahui kalau kakaknya ada didalam Martin masuk kedalam dan melihat kondisi kakaknya yang masih belum sadarkan diri. Martin melepaskan ikatan yang ada dan mencoba melihat nadi kakaknya akankah dia baik-baik saja.


Marti memeriksa nadi kakaknya saat hendak memegang tangan kakaknya dia mendengar pergerakan dari luar seperti ada yang berantem. “Pasti itu Roni dan Teko,”kata Martin yang melanjutkan memeriksa kondisi kakaknya. “Kenapa tubuh kakaK Moli dingin,”ucap Martin yang sadar kalau nadi kakaknya mulai melemah.


“Tidak boleh terlalu lama,”ucap Martin yang berdiri membawa kakak Moli. Dengan kemampuannya yang dia mendobrak pintu dengan satu kaki  yang kebetulan dijaga oleh beberapa preman. Martin menendang pintu didepannya dengan kencang sampai dua preman yang ada didepan pintu terdorong ke depan dan terjatuh. Martin berjalan belum sempat dia keluar pitu sisa dari preman yang berjaga menghadang Martin. “Siapa kamu?,”kata Preman yang berjaga. Tapi Martin tidak menggubris apa yang preman itu katakan dia tetap berjalan dan melawan preman yang ada. Sampai dia melihat Roni dan Teko sudah membereskan bagain depan. “Selesai,”kata Matin yang berjalan. “Tidak masih ada. Lihat dibelakang kamu,”kata Teko.


“Ternyata masih ada,”ucap Martin.


“Dimana Mark,”ucap Martin yang sedang pemanasan.” Dia sedang ada dibelakang,”kata Roni. “Sudah lama tidak bermain,”ucap Martin yang berjalan kearah mereka para preman yang tersisa.


“Siapa kamu,”ucap Jen wakil preman utara. “Jeni apa itu kamu,”kata Martin dengan senyum iblisnya. Jeni yang melihat, terkejut dengan ekspresi orang yang didepannya. “Bagimana dia tahu namaku, kecuali dia ada anak itu,”kata hati Jeni.


“Ternyata kamu sudah lupa dengan diriku,”ucap Martin yang sudah ada didepan matanya. “Jeni dengan sadar mundur tapi Martin sudah memberikan pukulan di perut dengan kencang sampai Jeni terpental mundur. “Apa yang kamu lakukan,”kata preman kecil. “Diam kalian,”ucap Jeni yang terbangun. “Tidak aku sangka akan bertemu dengan kamu lagi,”kata Jeni yang mulai tersenyum karena bahagia mendapatkan lawan yang hebat.


“Itu bukan waktunya kamu bermain dengan bosku,”ucap Roni.”  Dari belakang keluar sosok pimpinan dari preman utara. “Tidak aku sangka akan bertemu dengan kamu lagi Martin,”ucap Black.


Martin tersenyum,”Black....black kamu  tidak berubah sama sekali.”


“Kamu kira aku kesini tanpa bantuan,”ucap Black. Martin melihat sosok orang dari belakang Black. “Ternyata kamu tidak berubah sama sekali meminta bantuan kepada White,”ucap Mark dari belakang Matin.


“Maaf menuggu lama, apa masih ada bagain untuk diriku. Karena tanganku sudah gatal ini,”kata Mark. Black dan White turun dari lantai dua. “Ayo kita mulai siapa dulu yang akan menang dan mendapatkan wilayah ini menjadi kekuasaan,”kata Blcak.


“Itu baru seru namanya,”kata Mark. Tiga lawan tiga dari ketua yang mewakili wilayah kekuasan. Suasana yang tegang dan menegangkan dirasakan oleh para preman bisa yang menonton mereka. Suara angin yang berhembus dengan ketenangan yang ada untuk memulai perkelahian diantara kedua ketua untuk mendapatkan wilayah dan kekuasaan. Mereka yang siap untuk menyerang dengan berbagai kondisi mempertahankan wilayah dan dukungan.


Tegang dan sunyi mereka dengan serentak maju dengan lawan dihadapan mereka berdua. Dengan hawa keberadaan mereka yang menakutkan dan mencekam perkelahian dimulai. Satu hantaman dilontarkan dengan tangkisan dan pukulan.  Tidak ada dari mereka yang menyerah untuk mendapatkan wilayah.  Hingga dari tim Martin mundur satu langka untuk memulai aksi yang sesungguhnya. “Apa kalian sudah takut sekarang,”kata white. “Takut,”kata Martin dengan tajam yang mengeluarkan aura pembunuh  yang ia simpan. “Apa sekarang boleh melakukannya,”kata Mark.


“Tentu saja kalian boleh bermain dengan puas sekarang,”kata Martin yang tersenyum. Blcak yang merasakan ada perubahan dari sikap Martin mencoba untuk waspada. “Sebaiknya kalian waspada,”kata Black. “Kenapa harus waspada. Apa yang kamu takutkan?,”kata white. “Jangan pernah meremehkan mereka bertiga,”kata Black. “Apa yang dikatakannya itu benar. Mereka akan mulai serius,”ucap Jeni.


Blcak dan White melihat kearah Jeni. “Apa maksud kamu, mereka belum mengeluarkan kemampuan mereka tadi,”kata White. “Itu benar,”kata Jeni. “Aku rasa kalian sudah sadar akan kemampuan kami,”kata Roni.


Roni mulai maju dan menyerang Jeni dengan cepat dengan pertahan yang sudah dia siapkan. Tapi hasilnya Jeni tetap tidak bisa mempertahankan kondisi yang dimana Roni melawan sangat brutal dan cepat. Tidak hanya cepat pertahan tubuh Roni yang tetap terjaga membuat Jeni kewalahan. Sampai Jeni terjatuh dan bangun kembali. Ditengah pertarungan dengan konsentrasi yang tinggi Roni masih sempat berkata,”Apa hanya ini saja kemampuan kamu dimana kemarahan kamu yang ingin melawan bosku,”kata Roni yang memberikan pukulan yang mematikan tapi bisa ditahan sedikit oleh Jeni. Roni hanya tersenyum,”Jangan berharap kamu bisa melewatiku dengan mudah.”