Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Saling Menyapa


Angin berhembus suara teriakan hati saling mengadu. Martin yang tidak bisa menahan dirinya mulai melepaskan tekanan yang ada dirinya. Semua amarah yang dimiliki Martin ia lepaskan dalam satu serangan yang akan membuat kedua pimpinan tewas.


“Kalian salah jika harus menculik kakakku,”kata Martin yang marah dan menendang mereka dengan kencang. “Siapa kamu,”kata Erik pimpinan Naga Hitam yang mencoba menahan tendangan Martin. “Siapa aku tidak ada gunanya sekarang,”ucap Martin yang siap membunuh mereka berdua.


“Jika kamu membunuh kami, kamu tidak akan bisa kabur dari pimpinan kami,”kata Karin pimpinan Mawar Hitam. Martin hanya tertawa sampai Rendi melemparkan pistol kepada Martin. “AMBIL ITU,”kata Rendi sambil melemparkan pistol.


Martin menerima pistol dan sekejap tanpa basa-basi menembak kedua pimpinan tanpa belas kasih.”Itu akibatnya jika kalian mencari masalah denganku,”kata Martin yang menoleh kebelakang. Martin yang berjalan sambil menenangkan hatinya yang sudah kacau. “Bereskan tempat ini, ambil yang bisa digunakan,”kata Martin dengan tenang.


“Sedang apa kamu disini Izam,”kata Martin yang melihat kearah Izam dan kawannya. “Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu bisa ada disini,”kata Izam. “Aku,”kata Martin. “Menyusul kakakku yang dicuri oleh mereka,”kata Martin.


“Apa maksud kamu?,”kata Izam.”Kamu mau dengar yang mana penculikan kakakku atau ingin tahu mereka yang ada di samping kamu,”kata Martin yang memberikan pistolnya kepada Rendi.


“Apa kamu mengenal mereka?,”ucap Izam. “Mereka adalah teman lamaku,”kata Martin dengan santai. “Sebenarnya teman kamu itu siapa,”ucap Terko kepada Izam. “Bukannya kamu sudah tahu kalau dia adalah Preman Selatan,”kata Hizam. “Preman Selatan,”kata Terko.


“Jika ingin kalian mengenal satu sama lain aku persilakan,”kata Martin menatap semua orang yang ada. “Apa maksud kamu tidak ingin mengenalkan mereka satu persatu,”ucap Terko. “Aku malas memperkenalkan mereka satu persatu. Kalian punya mulut kenapa tidak mengenal sendiri-sendiri,”kata Martin yang berjalan keluar.


“Kamu mau kemana?,”kata Izam. “Pergi ke rumah sakit melihat kondisi kedua kakakku. Mau ikut, setelah itu kita berangkat sekolah,”kata Martin yang berjalan. Izam hanya terdiam dan mengikuti Martin dari belakang. Sampai di rumah sakit yang sudah dijaga oleh Tera. “Bagaimana kabar kak Mola dan kak Meli?,”kata Martin. “Tenang saja mereka baik-baik saja dan kebetulan ibu kamu juga ada didalam apa kamu mau melihatnya,”kata Tera. “Tidak terima kasih,”kata  Martin. “Aku akan berangkat sekolah sebelum terlambat,”ucap Martin yang sudah ditunggu oleh Izam dibawah.


Martin berjalan keluar gedung dan berjalan masuk ke dalam mobil “Ini pakaian kamu,”kata Izam yang memberikan pakaiannya. “Terima kasih,”ucap Martin yang melepaskan pakaian dan berganti pakaian sekolah. “Apa kamu tidak apa-apa pergi dengan keadaan seperti itu,”ucap Izam. “Kamu sendiri bagaimana?,”kata Martin.


Mereka berdua hanya terdiam sampai di depan gerbang sekolah mereka keluar dan berjalan bersama menuju ruang kelas. Sampai di depan ruang kelas Roki yang kebetulan melihat mereka berdua masuk bersama menghampiri mereka. Roki terkejut dengan wajah Izam dan Martin yang penuh dengan luka memar. “Apa yang terjadi dengan kalian berdua?,”ucap Roki yang khawatir. Mereka berdua hanya menggelengkan kepalanya, tapi Roki tiba-tiba menarik keduanya menuju ruang kesehatan. “Kamu mau bawa kami kemana?,”kata Martin.


Mereka berdua hanya mengikuti keinginan Roki menuju ruang kesehatan. Sampai di depan ruang kesehatan yang kebetulan ada dokternya. “Dok bisa periksa mereka berdua,”kata Roki yang mendorong keduanya ke depan. Mereka satu persatu diperiksa dan diberikan obat untuk mengurangi rasa sakit. “Kalian anak muda kalau semangat jangan kelewatan. Sayangi tubuh kalian,”kata Dokter sekolah.


Izam dan Martin hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya. “Bagaimana dok, apa mereka akan baik-baik saja,”kata Roki. “Tenang saja nak Roki mereka tidak apa-apa hanya mendapatkan luka pukulan tapi tidak begitu serius,”kata dokter sekolah. “Kalian berantem dengan siapa?,”ucap Roki yang menatap keduanya. Tapi keduanya berjalan dan menuju tempat tidur untuk istirahat. “Kalian berdua mengabaikanku ya,”kata Roki.


Dokter sekolah menghampiri Roki,”Mereka hanya kelelahan dan tadi aku menyuntikan obat penenang kepada mereka berdua. Mungkin saja mereka sekarang merasa mengantuk.”


“Sudah aku buatkan dua surat ijin untuk mereka berdua,”kata dokter sambil memberikan lembaran kertas ijin dari dokter. “Baik dok, aku titip mereka disini ya,”ucap Roki yang berjalan keluar ruangan. Roki berjalan keluar dan menuju kelas. Sedangkan mereka berdua yang sudah terbangun karena langka kaki Roki yang sudah menjauh. “Kalian berdua bisa tidak jangan membuat masalah,”kata dokter yang sudah mengenal mereka berdua. “Maaf membuat kamu kerepotan,”kata Izam. “kamu kenal dengan dokter Mio,”ucap Martin. “Kamu sendiri”kata Izam. “Kalian berdua cepat istirahat sana,”kata dokter Mio. Mereka berdua langsung berbaring untuk melepaskan lelah mereka.


~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~~ ~  ~ ~ ~ ~


Sementara kak Mola dan kak Meli yang sudah siuman karena kejadian penculikan. “Bagaimana keadaan kalian apa baik-baik saja,”kata Tera. “Aku baik saja tapi dimana Martin,”kata Mola. “Iya dimana Martin berada?,”ucap Meli. “Kalian tidak usah khawatir dia sekarang ada di sekolahan,”ucap Tera.


“Apa tadi dia datang kesini,”kata Ibu Martin. “Itu benar tapi langsung pergi ke sekolahan,”kata Tera. “Apa dia baik-baik saja,”kata Mola. “Dia baik-baik saja,”ucap Tera. Selesai mereka diperiksa Tera keluar untuk mencari makan yang kebetulan bertemu dengan Rendi yang membawa makan. “Kamu mau keluar cari makan,”kata Rendi. “Menurut kamu,”ucap Tera. “Ini aku bawakan makan,”kata Rendi yang masuk ke dalam ruangan. Rendi mengetuk pintu ruangan dan masuk ke dalam. “”Bagaimana kabar kalian. Aku membawa makan untuk kalian jika kalian lapar,”ucap Rendi tanpa basa-basi. Rendi memberikan makanannya kepada Ibu Martin. “Terima kasih nak Rendi,”ucap Ibu Martin sambil mengambil makan yang diulurkan kepadanya.


Setelah mengantarkan makan Rendi keluar karena ada urusan yang harus dia selesaikan dan menitipkan mereka bertiga kepada Tera yang masih di luar berjaga. “Kamu mau pergi,”kata Mola yang melihat. “Iya maaf aku tidak bisa berlama-lama. Kerena ada urusan yang harus aku bereskan,”kata Rendi. Rendi keluar ruangan yang mengatakan kepada,”Jaga mereka bertiga.”


“Kamu mau kemana?,”kata Tera. “Urusan yang kemarin belum selesai,”ucap Rendi melewati Tera. “Kalau ada apa-apa kabari kami,”ucap Rendi.


Rendi yang keluar dari bangunan menuju mobil yang terparkir dibawa. Tiba-tiba ada seorang yang sudah menuggu Rendi yaitu Mizuki yang kebetulan mengikuti Rendi. “Kenapa kamu ada disini,”kata Rendi.”Seharusnya aku yang bertanya. Kamu itu siapa Martin,”kata Mizuki. “Bukannya kamu sudah tahu kemarin aku adalah teman lama dia,”kata Rendi yang mendorong Mizuki yang mengganggu jalannya untuk masuk ke dalam mobil. “Apa hanya teman lama?,”kata Mizuki yang berasa curiga.