
Ezan yang tidak sepenuhnya menghilang kembali ke ruang jiwa Martin. Ezan yang merasakan setiap gerak-gerik Martin membuat dia tertawa. Melihat sikap kembaran dia khawatir dengan membuat dia terharu sekaligus tertawa. Sampai dia tidak bisa menahan diri untuk menyembunyikannya,”Kamu memangis karena apa bodoh.”
Martin yang terdiam setelah penyerangan dari Kay. Tapi setelah itu dia mendengar suara Ezan yang membuat dia menangis kembali.”Kenapa kamu menangis lagi bodoh, lihatlah depan kamu ada musuh cepat menghindar,”ucap Ezan dalam lauan jiwa Martin.
Martin yang masih belum menyadari kalau Ezan kembali ke lautan jiwa hanya bisa mengikuti suara yang dia dengan yang membuat dia tenang. “Aku tebak kalau dia masih belum sadar dengan dirimu yang kembali ke lautan jiwa,”kata Ezan yang mengelus dada. “Pasti ulah Kyoshi ini yang bilang kalau aku sudah pergi,”kata Ezan dalam lautan jiwa sambil berbaring memulihkan diri.
Martin yang menghindar karena serangan tiba-tiba dari Kay. Zen dan Kyoshi yang merasa ada yang aneh dengan suasana yang ada hanya bisa menahan Kay. Tapi Kay bisa melepaskan diri dari jeratan Zen dan Kyoshi. Hingga mereka berkata,”Masuk dalam perangkat untuk apa kamu mencoba melaskan diri.”
Kay tahu kalau dirinya telah terjebak dalam ruangan hampa tersebut. Tapi kay juga sudah menyiapkan sesuatu yang bisa melepaskan diri dari ruang hamba yang dimana mereka sekarang. Tapi tidak tahu apa yang direncanakan Zen untuk menghentikannya bisa meloloskan diri dari penjara hamapa. “Percuma saja jika kamu ingin pergi,”kata Kyoshi di depan mata dia. Membuat Kay terkejut dan mundur menjauh dengan hati bertanya,”Bagaimana Kyoshi bisa ada didepanku dengan sangat cepat. Apa perkembangan kemampuan yang dia miliki sudah melewati batas kemampuan yang aku miliki. Jika seperti itu bukannya aku dalam bahaya.”
“Kenapa kamu cepat sekali menjauhnya. Aku hanya ingin bertanya saja kenapa kamu waspada denganku,”kata Kyoshi yang maju ke depan dengan pelan-pelan. “Apa yang ingin kamu tanyakan?,”kata Kay yang juga waspada dengan Kyoshi. Zen yang sedang menjaga mereka berdua tidak ikut bertarung dengan Kay.
“Kenapa kamu diam saja tidak bantu rekan kamu,”ucap Morgan.”Bantu dia,”kata Zen.”Iya kalian tahu kan kalau dia salah satu pimpinan dari tiga pimpinan,”kata Morgan.”Tahu tapi aku tidak ingin berkelahi dengan dia, malas,”ucap Zen yang masih terdiam diri melihat mereka berbicara.
“Apa kamu tidak takut dengan Kay,”ucap Martin dengan wajah melasnya. Zen yang melihat sikap Martin seperti tidak bersemangat setelah kehilangan saudaranya Ezan membuat dia harus berkata,”Apa dia tidak berkata dengan kamu?.” Martin melihat ke arah Zen dan masih berpikir dengan apa yang dia katakan. Karena tidak bisa berpikir dengan baik dia hanya bisa bertanya kepada Zen,”Apa maksud kamu?.”
“Tanyalah pada jiwa kamu yang sedang bertanya,”ucap Zen yang kemudian dia melihat ke tempat lain.”Ada yang datang lagi,”ucap Zen dalam hati. “Ada tapi sudah tewas,”ucap Bombom murid Zen.
“Bagus,”ucap Zen dengan singkat. Martin yang bingung dengan kata yang diucapkan oleh Zen melihat ke dalam lautan jiwanya.”Sudah aku duga tidak ada siapa-siapa disini karena Ezan tidak ada lagi,”ucap Martin yang duduk di lautan jiwa. Sampai dia mendengar langkah kaki sepeti air datang menuju ke arah dia termenung. “Pasti itu hanya ilusiku saja tidak mungkin dia akan kembali lagi,”kata Martin yang masih tidak menyadari kalau dirinya sudah dihampiri oleh Ezan.
“Tidak aku sangka sebegitu sedihnya dirimu kehilangan diriku,”kata Ezan disamping telinga Martin. Yang membuat Martin terkejut dengan menoleh dan melihat Ezan ada dihadapannya.”Ini bukan mimpikan,”ucap Martin yang menggosok matanya dengan tangannya.
“Apa kamu Ezan,”ucap Martin yang tidak percaya dengan apa yang ada didepannya. Martin berdiri dari tempat dia duduk dan melihat ke arah Ezan.”Menurut kamu siapa aku?,”kata Ezan yang tersenyum dihadapan Martin.
“itu benar kamu,”kata Martin yang memeluk Ezan sambil menangis.”Kenapa kamu membuat aku gelisah,”kata Martin yang masih memeluk Ezan.”Jangan tinggalkan aku sendirian,”kata Martin yang tidak ingin melepaskan pelukan Ezan.
“Janganlah marah,”kata Ezan.”Maaf membuat kamu khawatir, tapi tidak aku sangka kamu akan sedih jika aku tidak ada,”kata Ezan. “Tentu saja aku akan sedih jika kamu tidak ada. Kamu kira aku tidak punya perasaan,”kata Martin yang memalingkan wajahnya.
“Iya. Cepatlah kembali bersama Morgan, jangan bilang kepada kakak kalau jiwaku ada di tempat kamu ya,”kata Ezan.”Kenapa?,”ucap Martin.
“Karena kondisiku yang belum membaik aku tidak akan bertukar jiwa dengan kamu. Jika kamu ingin bertemu denganku kamu bisa datang kesini, aku juga tidak akan sering menghubungimu lewat telepati,”kata Ezan menjelaskan.
“Aku mengerti,”ucap Martin yang kembali dengan membuka matanya. Martin membuka matanya posisi yang masih sama dengan dijaga oleh Zen.”Apa kamu sudah mengerti sekarang?,”kata Zen yang melihat Martin sudah kembali.
“Sudah,’ucap Martin dengan singkat. “Mereka sudah mulai berkelahi, apa kamu tidak ingin membantu dia,”kata Martin.”Tidak, dia bisa melawan satu lawan satu. Tidak usah khawatir,”ucap Zen yang masih berjaga sambil melihat sekelilingnya.
Kyoshi yang masih bersama dengan Kay bertarung dengan sengit sampai mereka berdua mundur untuk berjaga-jaga.”Kamu hebat juga bisa menyeimbangi kemampuanku,”kata Kay.
“Kamu juga hebat hanya saja jalan yang kamu pilih sangat salah untuk melangkah,”kata Kyoshi dibelakang dia dan memberikan serangan tiba-tiba. Kay yang mengetahuinya menghindar dan menghempaskan pedang kepada Kyoshi, tapi ditangkis olehnya. “Apa kamu yakin dengan menangkisnya,”kata Kay.
“Kamu kira aku tidak tahu formasi yang kamu siapkan,”kata Kyoshi yang menujukan lemabran formasi yang sudah rusak. Kay tersenyum melihatnya dengan hati,”Dia tahu aku memasang formasi, lumayan juga.”
Tapi apakah Kyoshi bisa menang melawan Kay yang merupakan salah satu tiga pimpinan tertiggi di tentara Militer. Martin yang sudah bertemu dengan jiwa Ezan kembali pulih dengan adanya Ezan yang mendukug dia didalam lautan Jiwa.
Tapi tanpa disadari Martin Ezan yang bisa bertahan untuk beberapa bulan menyiapkan semua catatan yang perlu siapkan oleh Ezan. “Aku tahu jika ini akan berat jika aku tidak ada, tapi dengan tubuhku yang seperti ini tidak memungkinkan aku untuk bisa kembali lagi.Aku titipkan anakku kepada kamu ya Martin. Aku beri dia nama Erlan Maharaya jika dia laki-laki tapi jika dia wanita aku beri dia nama Sila Ezina,”ucap Ezan yang menulis dengan kertas yang ada di lautan jiwa. Hingga tubuhnya sudah mulai menghilang seperti air yang meleleh karena arus air yang deras dari atas sampai kehulu sungai.
Ezan yang tidak bisa menulis lagi kembali tertidur hingga dia mendengar langka kaki yang tidak asing.”Pasti itu Martin,”ucap hati Ezan yang tidak bisa membuka matanya kembali. “Dia hanya bisa mendengar apa yang dia katakan, hingga dia tertidur lelep dan tidak mendengar suara apa-apa. Kesunyian yang dia rasakan di lautan jiwa untuk memulihkan tenaganya untuk beberapa hari dan jam saja,”ucap hati Ezan.