
Dingin menyelimuti tubuh mereka dengan suhu yang minus mereka menggigil kedinginan. “Kak apa baik-baik saja,”kata Martin yang mulai gelisah dengan kondisi kedua kakaknya. Tapi mereka berdua dengan tenang tersenyum. “Kami baik-baik saja tapi apa kamu juga tidak apa-apa?,”kata Meli.
“Kak tidak usah khawatir aku akan mencari jalan,”ucap Martin. Sampai di mendengar suara pertarungan dari luar. “Aku tidak tahu itu mereka atau orang lain.”ucap Martin dalam hati.
~ ~ ~~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~~
“Rendi kamu dapat pesan baru,”ucap bawahan Rendi. Rendi yang sedang sibuk mengotak atik senjata yang baru saja dia buat. “Pesan apa?,”kata Rendi sambil berteriak karena sedang sibuk.
“Disini tertulis Bos,”kata bawahan. Rendi dengan cepat meraih ponsel yang dipegang oleh bawahan dan melihat isi pesan yang memberitahukan kalau dia membutuhkan bantuan. “Jel,”ucap Rendi yang menghampirinya.
“Ada apa?,”kata Jel yang sedang bermain game. “Cepat cari keberadaan Martin,”kata Rendi.
Jel yang sedang bermain game terhenti dan beralih mencari keberadaan Martin berada. Sampai Mark memberi pesan kalau Geng Mawar bekerja sama dengan Geng Naga Hitam yang membuat kita harus waspada pergerakan mereka.”Aku menemukannya,”ucap Jel. “Dimana posisinya sekarang?,”kata Rendi yang masih membaca pesan dari Mark.
“Tempatnya sekarang ada dikawasan Sentrala,”kata Jel.”Apa?,”ucap Rendi.”Kamu tidak salahkan,”kata Rendi.”Tidak. kenapa?,”ucap Jel yang sudah memastikan dengan teliti. “Cepat hubungi Reli, Marko dan Tera,”kata Rendi.”Dan kamu ikut aku sekarang mencari Martin sekarang,”kata Rendi yang mulai gelisah.
“Apa yang terjadi?,”kata Jel.”Jangan banyak bicara cepat masuk dan jangan lupa beritahu lokasi Martin kepada mereka bertiga,”ucap Rendi yang mulai mengendarai mobil dengan kencang.
“Bisakah kamu jelaskan apa yang terjadi. Martin tidak akan terluka?,”kata Jel.”Aku tahu kalau Martin tidak akan terluka tapi musuh mereka yang akan terluka, kamu tahu tidak kalau di sana tempat perjanjian antara Geng Mawar dan Geng Naga Hitam membuat aliansi,”kata Rendi menjelaskan.
“Terus apa masalahnya,”kata Jel. “Masalahnya mereka Geng Mawar menculik Mola dan Meli yang akan berakibat fatal,”kata Rendi. “Bukanya kamu tahu kalau Martin tidak suka kalau keluarganya diganggu sedikitpun. Jika diganggu akan menjadi masalah jika dia tidak bisa menahan amarahnya,”kata Rendi menjelaskan lagi. “Iya juga,”kata Jel dengan santai.
Sementara ditempat lain Tera, Reli dan Marko mendapatkan pesan suatu lokasi yang memberitahukan harus datang jika kalian ingin hidup. Membuat mereka bertiga harus pergi menuju lokasi yang diberikan. Dengan segera mereka bergegas ke lokasi yang sudah didahului oleh Rendi dan Jel yang sudah sampai ditempat dan berkelahi dengan berapa orang yang menghalangi mereka masuk kedalam. “Cepat sekali kalian datang,”kata Jel.
“Apa yang kalian lakukan,”kata Reli. “Sedang main ya,”kata Marko. “Kayaknya seru boleh gabung,”kata Tera. “Kalian dari pada diam saja maju sana masih banyak ikan yang segar untuk dipanggang,”kata Rendi. Mereka dengan senang hati menerima tawaran mereka untuk beradu kekuatan.
Tidak lama mereka datang muncul Izam, Terko dan Hizam dan bawahannya. Tanpa berpikir panjang mereka juga ikut bertarung dengan mereka. Sedangkan Martin yang sudah sampai batasnya tidak bisa menahan lagi. “Kak apa sanggup untuk berdiri,”kata Martin yang sudah hendak berdiri.”Apa yang ingin kamu lakukan,”kata Mola.
“Aku tahu tapi dari mana kamu belajar bela diri,”ucap Mola yang tidak tahu dengan adiknya. Martin hanya tersenyum,”Nanti aku akan menceritakannya jika sudah aman.” Saat mereka berjalan keluar mereka dihadang oleh beberapa orang preman yang siap untuk menyerang balik. Martin meletakan kak Meli dan menyuruh kak Mola untuk menjaga Kak Meli dibelakang. “Apa kamu bisa menghadapi mereka semua,”kata Mola.Martin maju dengan gagah dan mulai menyerang orang-orang yang menghalangi mereka keluar sampai mereka menyerang kedua kakaknya yang ada dibelakang. Martin yang menyadarinya langsung mundur dan memukul orang yang akan menyerang kedua kakaknya. Samapi semua beres barulah Martin mengangkat kak Meli dan berjalan berdampingan bersama kak Mola keluar dari tempat mereka berada.
Martin dan kak Mola yang sudah setengah jalan menuju pintu keluar tapi tidak disangka pimpinan mereka muncul dihadapan Martin yang ingin kabur. Mereka saling bertatapan satu sama lain sampai Matin berteriak,”LAUT MERAH.”
Semua anggota yang mengerti kata sandi dari Martin mengetahui kalau dia memberi tahukan kalau mereka ingin semuanya dibereskan dengan bersih tanpa sisa dan mengijinkan mereka untuk mengeluarkan kemampuan mereka yang sebenarnya. “AKHIRNYA,”ucap mereka semua yang dibawah pimpinan Martin.
Tiba-tiba suasana berubah menjadi dingin dan menegangkan Izam dan kawan-kawannya yang menyadari perubahan dari orang yang telah bertarung dengan Geng Mawar dan Geng Naga Hitam.
“Apa yang terjadi,”kata Terko. “Mereka berubah setelah mendengar teriakan yang menyebut Laut Merah,”kata Hazim. “Aku tidak tahu yang penting mereka ada di pihak kita busan musuh kita,”ucap Izam.
Sedangkan Martin setelah berteriak berubah ekspresi dan dengan kuat satu persatu mereka ditendang dengan kencang sampai mereka berdua terpental oleh tendangan Martin. Martin berjalan dengan satai dan di ikuti oleh kak Mola yang disampingnya. Kak Mola yang melihat perubahan adiknya merasa kalau dirinya akan aman bersamanya dan mempercayai kalau adiknya bisa mengalahkan mereka semua.
Saat mereka sedang asik bertarung didepan dengan terkejut melihat pimpinan Geng Mawar dan Geng Naga Hitam terpental oleh seorang yang tidak diketahui karena orang itu belum muncul. Hingga beberapa menit suasana berubah orang yang tadi berkelahi dengan tekanan yang hebat disekelilingnya berubah ekspresi tersenyum seperti menandakan pimpinan mereka sedang datang.
Izam yang melihat terkejut saat sosok itu datang. “Martin,”ucap Izam setelah memukul musuh yang ada didepannya. Salah satu dari mereka yang datang lebih dulu menghampiri Martin. “Biar aku yang membawa kakak kamu,”kata Rendi. Martin menyerahkan kaka Meli dan kak Mola bersama Rendi. “Jaga kedua kakakku,”kata Martin yang berjalan menuju dua pimpinan.
Martin yang sudah menahan amarah tidak bisa bertahan. “Tidak ingin dihentikan,”ucap Marko. Rendi menggelengkan kepalanya,”Mustahil setelah melihat perubahannya yang seperti itu.”
“Ayo Mola, aku akan membawa kamu ke rumah sakit,”ucap Tera.”Tapi bagaimana dengan Martin,”kata Mola.
“Tidak usah khawatir dia akan baik-baik saja,”ucap Tera. Mola melihat kearah Rendi. “Dia akan baik-baik saja. Pergilah bersama Tera menuju rumah sakit,”kata Rendi mengulurkan Meli yang masih pingsan.
“Kalian semua berkumpul apa sudah beres,”kata Rendi. “Kamu kira kami datang kesini belum menyelesaikan. Apa lagi ada tontonan yang seru didepan mataku,”kata Reli. “Apa yang kamu katakan itu benar,”ucap Jel yang masih menarik satu musuh terakhir.
Izam dan kedua temannya yang sudah selesai menghampiri Rendi. “Apa kalian tidak mau membantu orang itu?,”ucap Izam yang mencoba tidak mengenal. Tapi mereka semua yang sudah tahu kalai Izam adalah teman sekelas Martin hanya berkata,”Tidak usah berpura-pura kami sudah tahu kalau kamu adalah teman Martin.”