Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Perselisihan 11


Ezan yang tidak menghiraukan Roki dan Izam hanya terus berjalan menuju ke depan dimana ke rumunan para musuh ada. Tapi hati Prisila yang tidak rela kehilangan Ezan hanya bisa memegang tangannya dengan penuh kegelisahan.”Apa kamu yakin ingin melakukannya,”ucap Prisila dengan penuh wajah kesedihan. Ezan dengan senyum bahagia mendekati Prisila sampai didepan wajahnya dan mencium kening istri dalam hidupnya.


“Maafkan aku,”kata Ezan yang kembali menoleh ke belakang dan berjalan menuju titik dimana dia akan melakukan penyegelan. Bunga dari jauh melihat saudaranya dengan penuh kesedihan menyelesaikan urusannya dengan Iron yang ada didepannya.”Ayo kita selesaikan hari ini urusan kita,”kata Bunga dengan penuh percaya diri.


“Kamu yang akan mati dengan senang hati aku terima tawaran kamu terakhit kali,”kata Iron yang tidak menyadari kalau Bunga yang asli sudah ada di belakang Iron dengan pedang kristal yang di pegang untuk menusuk semua musuh di depannya.”Selamat tinggal pengganggu,”kata Bunga sambil menusukkan pedang kristal ke tubuh Iron yang ingin mencoba menghindar tapi tidak bisa karena dihalau oleh penghalang yang sudah dipasang.


“Sejak kapan kamu memasang penghalang ini,”kata Iron yang mencoba melepaskan dari tusukan pedang dan mundur. Tapi Bunga dengan cepat datang menghampiri Iron dan menyerang dia kembali.”Kamu akan tahu jika orang yang kamu hadapi adalah bukan aku,”kata Bunga.


Iron terjatuh karena ke habisan darah karena luka yang dia dapatkan. Setelah pertempuran dengan Iron selesai dia ingin menghampiri Prisila tapi lagi-lagi dia dihadang oleh bawahan yang menyebalkan. “Kenapa kalian mengganggu saja,”ucap Bunga yang kesal. Tentara mulai mengepung Bunga tapi sangat disayangkan musuh yang dihadapkan oleh para tentara bukan orang yang bisa dianggap remeh. Dengan sekali hempasan angin dia telah menjatuhkan musuh dihadapan Bunga dan berjalan kembali menunju Prisila.


“Kamu kenapa?,”kata Bunga yang berjalan dihadapannya.”Tidak ada,”kata yang dikeluarkan oleh Prisila sambil mengelus perutnya.


“Apa kamu sakit,”ucap Bunga yang merasa kalau dia menyembunyikan sesuatu. Sampai Bunga memegang tangan Prisila dan memeriksa nadi Prisila secara diam-diam. Hingga Bunga terkejut dengan kondisi nadi Prisila yang memiliki gejala kalau dia sedang hamil. Bunga menatap Prisila yang sedang menatap Ezan.”Apa dia ayahnya?,”kata Bunga.


“Tapi sebentar lagi dia tidak memiliki ayah lagi,”kata yang dilontarkan oleh Prisila dengan wajah sedihnya.”Apa maksud kamu?,”kata Bunga yang tidak paham.


Prisila melepaskan pegangan tangan Bunga dan berjalan ke belakang karena dia tidak ingin melihat Ezan dengan penuh luka dimatanya yang akan membuat dia menangis. Dengan mengangkat satu tangan Prisila memberi aba-aba kepada semua bawahan Ezan untuk mundur dan memberikan kode untuk membuat formasi pelindung tingkat menengah.


Semua anak buah Ezan terkejut dengan kode yang diberikan oleh Prisila dengan serentak mereka hanya bisa menghela nafas dan mundur kebarisan belakang. Rendi datang menghampiri Prisila dan menepuk bahunya.”Apa yang dia katakan?,”kata Rendi.


Prisila yang mencoba tenang menoleh ke arah Rendi dan tersenyum.”Dia berkata lakukan yang terbaik, kalian memang habat. Jaga keluargaku yang aku sayangi, jangan sampai mereka terluka karena kejadian ini,”ucap Prisila. Rendi tahu apa yang ingin dikatakan oleh Prisila anak dalam kandungannya adalah anak dari Ezan dengan kata yang tersembunyi dia meminta kita semua untuk menjaga Martin, Morgan dan anak istrinya serta merahasiakan semua yang akan terjadi pada hari ini. Rendi dan kawan yang lain melihat ke arah Ezan dengan rasa sedih mereka melakukan permintaan terakhir Ezan.”Formasi segel putih,,”ucap Rendi dengan tegas.


Ezan melihat ke arah mereka tersenyum dan berkata,”Terim kasih.” Izam menghampiri Bunga,”Kamu tidak apa-apa?.” Bunga hanya menggelengkan kepalanya kalau dirinya tidak terluka hanya saja Bunga berkata,”Apa yang membuat kamu marah kepada Ezan?.”


Prisila yang tersenyum melihat terakhit kali Ezan yang gagah dan tampan dimatanya membuat dia sangat senang dan aman didekatnya. Tapi semua itu akan berakhir malam ini, dimana malam tidak berbintang hanya awan yang terhembus angin membawanya.


Ezan yang sudah melepaskan segel memberikan pesan terakhir kepada salah satu organisasi yang sudah dia jaga selama ini untuk menjaga keluarganya untuk memulai pengawasan dan penjagaan.”Waktunya tiba kalian menjalankan tugas pertama dan terakhir jaga nama dalam daftar warna putih yang sudah ada di atas meja,”kata Ezan yang kemudian dia memepaskan energi jiwanya untuk menyegel Para musuh sampai ke pulau.”Segel putih laut merah dengan janji kehidupan jiwa yang memberikan,”ucap Ezan yang kemudian dia menghilang bersama angin dengan melepaskan segel putih.


Semua yang menatap ke arah Ezan yang ada di kerumunan dengan musuh yang datang kepada Ezan hanya bisa terdiam. Sampai Roki berkata,”Kenapa kalian hanya terdiam di sini dan tidak membantu ketua kalian?.”


Prisila yang maju dan melepaskan segel putih terakhir,”Aku berharap kita bisa bertemu kembali di tempat yang beberda pada kehidupan yang berbeda.” Prisila yang teleh melepaskan segel terakir kemudian dia berjalan menjauh sebelum dia tidak bisa menahan air matanya.


“Biarkan aku mengantar anda pergi ke markas,”ucap Rendi. “Tidak aku sudah ada yang menjemput,”kata Prisila yang melihat ke arah lain. Rendi dan Bunga melihat ke arah dimana mata Prisila tertuju.”Selamat malam nona saya Zainab yang ditugaskan oleh Bos untuk menjaga anda,”kata Zainab.


“Zainab apa kamu...,”ucap Prisila yang terhenti dan tersenyum.”Aku mengerti ayo kita pergi sekarang,”ucap Prisila yang berjalan melewati Zainab yang di ikutinya. Tapi Bunga menghentikan langkahnya dan berkata,”Apa benar kamu akan pergi dengan wanita yang baru saja datang tersebut.”


Prisila yang menganggukan kepalanya tetepa berjalan hingga dia berkata,”Karena dia adalah orang kepercayaan Ezan untuk menjagaku dari Organisasi yang lain.” Prisila pergi dengan dikawal oleh Zainan.


Sementara di tempat lain Martin yang sedang mempertahankan pulau bersama dengan Morgan mendapatkan kejutan yang tidak terduga dengan kedatangan beberapa orang yang tidak dikenal. Setelah musuh dikalahkan karena cahaya yang datang tiba-tiba.”Kalian siapa?,”kata Martin yang merasa ada yang eneh dengan cahaya yang baru saja datang dan menghilangkan musuh yang dihadapannya. “Perkenalkan nama sayang Zen dan dia Kyoshi yang akan bertugas menjaga dan mengawal keselamatan dua tuan,”ucap Zen. Morgan yang tidak tahu apa yang terjadi melihat ke arah Martin yang tiba-tiba meneteskan air matanya.


“Martin,”ucap Morgan yang menghampiri.”Apa kamu terluka, apa yang terjadi dengan kamu kenapa kamu menangis,”ucap Morgan lagi yang tidak tahu kenapa dengan adiknya.


Martin yang tidak bisa menahan air mata karena tidak bisa merasakan hawa jiwa Ezan setelah melihat kedapatang Zen dan Kyoshi. Martin yang ingin tenang tidak bisa menahannya dan berjalan ke arah dua penjaga. “Siapa yang menyuruh kalian untuk menjaga aku dan kakakku?,”kata Martin yang sedang memastikan sesuatu.


Zen dan Kyoshi hanya terdiam sampai Martin berkata lagi,”Kenapa kalian diam aku tuan kalian, siapa yang menyuruh kalian menjaga kami berdua, jawab?.”