
Pertarungan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan mereka anggota laut merah harus menyelesaikan ujian dengan baik dengan tingkat level yang berbeda-beda. Mitra yang mendapatkan di laut merah sudah melawan beberapa Monster didasar laut merah darah. Monster dengan berbagai jenis tingkatan yang berbeda dari bumi sampai dewa. Mitra yang sudah mencapai level bayangan terus menghadapi musuh dengan tingkatan diatasnya membuat dia semakin ingin cepat menyelesaikan ujian untuk bisa masuk kedalam pintu ketiga.
“Kapan ini akan berakhir,”kata Mitra yang sudah bosan dengan apa yang dia lihat. Sampai penguji sudah menyerah dengan kemampuan Mitra dan menjatuhkan tiga buku kuno abadi untuk dipelajari oleh Mitra.”Apa ini,”ucap Mitra. Mitra membuka buku yang jatuh dari langit tersebut.”Apa ini dari penguji, tidak biasanya mereka baik denganku. Apa tidak punya cara lagi untuk mengalahkanku,”ucap Mitra dengan bahagia karena dia bisa bersantai.
Sementara di tempat lain Mark yang sendirian sedang membaca buku dan formasi yang sudah dipasang disekeliling mereka. Mark yang menikmati teh dengan santai membaca buku sementara para monster telah habis karena formasi yang dia pasang. “Santai jiwa meningkat,”ucap Mark. Penjaga yang mengawasi merasa kalau Mark terlalu cerdik untuk menyelesaikan ujian ini dengan mudah tanpa terluka dan berkeringat. Beda tempat Lili, Ling Yong dan Rong Shi yang menikmati pemandangan dengan alunan musik yang bergantian menyerang monster tingkat Bumi dan abadi. Seperti sedang konser musik.
“Apa hanya ini saja ujiannya, kenapa begitu santai ya,”kata Rong Shi.”Betul, minta pengawas ujian untuk menambah monsternya sana,”kata Ling Yong. “Kamu saja, kebetulan kamu sudah mendapatkan kombinasi yang pas ini. Aku ambil monster es itu untukku yang,”kata Lili.
“Level berapa,”ucap Rong Shi.”Tingkat abadi level 2,”ucap Lili yang mulai menyerang monster yang sudah ditandai olehnya.
Penjaga yang awalnya melihat mereka bertiga lemah tidak disangka menyembunyikan bakat mereka saat bertemu dengan para monster dengan lihai dan anggun seperti merpati yang terbang bebas di angkasa dengan alunan musik jiwa yang mengikat. Lili yang sudah mengalahkan monster es mendapatkan kristal hati untuk meningkatkan level jiwanya. “Aku bersantai dulu ya,”kata Lili.”Jangan lama-lama,”kata Ling Yong.
“Apa kamu sudah selesai,”kata Alex yang bersama dengan Ali.”Sebentar lagi,”ucap Ali yang sedang giliran beradu dengan monster dihadapannya. Setelah semua selesai Ali yang ada di atas kepala monster yang sudah dikalahkan melihat sebuah pasukan tengkorak menuju arah mereka.
“Seribu pasukan tengkorak datang, mau aku bantu tidak,”kata Ali.”Tidak aku bisa mengalahkannya, kamu serap saja jiwa monster yang kamu kalahkan,”kata Alex. Penjaga yang melihat Alex dan Ali hanya bisa terdiam,”Keinginan mereka untuk bangkit besar dan kerja sama mereka saling berlawanan tapi menguntungkan.” Penguji yang tidak bisa berkata dengan kemampuan mereka yang telah melewati ujian membawa mereka kembali ke dalam gua hitam.
Mereka semua sudah berkumpul kembali,”Apa kita sudah selesai, kenapa kita kembali ke gua.”
Penjaga,”Kalian lolos ke pintu berikutnya.” Seketika lingkaran penguji menghilang bersamaan dengan penjaga dan pengawas.”Apa yang kalian dapatkan,”kata Martin.”Kami mendapatkan banyak monster dan kristal jiwa serta pengetahuan abadi dan kuno,”ucap Mereka secara bergantian.
“Tidak sia-siakan kita pergi ketempat yang berbeda,”kata Martin.
“Tapi kamu Morgan, sejak kapan kamu menyegel kemampuan jiwa kamu,”kata Martin dengan dingin.”Kenapa memangnya, kalian saja yang melupakan aku,”kata Morgan yang acuh kepada mereka semua.
“Kayaknya aku lupa kamu belum masuk,”kata Mitra yang tersenyum.”Tidak ingat punya teman,”ucap Morgan yang kesal.
“Tapi kamu masuk kedalam laut merahkan,”kata Martin.”Jelaslah,”ucap Morgan dengan percaya diri.”Kesombongan kamu akan membawa petaka,”kata Mark.
“Bukanya itu kamu ya. Yang masih bersantai minum teh dengan monster yang sudah mengelilingi formasi kamu,”ucap Morgan.”Ohhh ya itu benar,”kata Lili.”
“Kita sudah berapa hari dalam dimensi ujian,”kata Mitra.”Aku rasa sudah satu bulan,”kata Mark.”Berati kita tinggal lima bulan lagi ya mulai angin kencangnya datang,”ucap Morgan.
“Itu benar,”kata Martin dengan santai yang menyembunyikan aura dewanya. Melihat dengan seksama pintu ketiga Martin membuka formasi segel dengan mudah dan perlahan membuka pintunya. Martin masuk ke dalam dan langung mendapatkan serangan yang tiba-tiba. Tapi Martin yang bisa merasakannya bisa menghalau serangannya yang merasa tidak asing.”Apa yang sedang terjadi,”kata Morgan. Mereka semua masuk ke dalan dan mendapatkan serangan kejutan dari penjaga pintu ketiga. “Siapa di sana,”kata Mitra. Mereka semua terkejut dihadapan mereka semua adalah sosok diri mereka sendiri yang akan menjadi musuh ketiga mereka.
“Apa maksudnya ini,”kata Mark.”Mereka adalah cerminan diri kita yang harus kita kalahkan untuk bisa melanjutkan langka kita masuk kedalam ruang rahasia darai gua hitam,”kata Martin.
“Diri kita sendiri,”ucap Morgan yang menyerang dirinya sendiri.”Bukannya itu bagus untuk mengetes kemampuan sejati kita masing-masing,”kata Ali yang bersama dengan Alex maju ke depan melawan bayangan mereka.
“Kenapa kalian masih terdiam diri, tidak ingin maju,”ucap Martin dengan santai.”Kamu menyuruh kami sedangkan kamu masih bersantai duduk dan meminum teh,”kata Lili.”Coba kamu lihat ke sana,”kata Ling Yong.”Apa yang sebenarnya terjadi,”kata Rong Shi.
“Bukanya sudah dijelaskan kalau musuh kita itu adalah cerminan kita apa yang kita lakukan akan sama dengan mereka,”kata Mitra yang berjalan maju.”Akan menjadi menarik hari ini,”kata Mark yang juga maju ke depan. Setelah Mark dihadapkan dengan dirinya sendiri dia menyiapkan meja dan musuh menyiapkan catur secara bersamaan mengeluarkan kursi karena pikiran mereka sama. Semua anggota menghadapi cermin dirinya untuk melangkah ke pintu berikutnya.
Satu hari telah berlalu mereka semua tetap menghadapi musuh dirinya dengan cermat sedangkan Martin yang sudah mengalahkan musuh sebelum pagi menjelang dengan bertarung dalam dimensi jiwa yang mereka buat. Dimana mereka tidak kelihatan bertarung dan hanya bersantai tapi sebenarnya mereka sedang bertarung dengan jiwa mereka yang sedang beradu kemampuan dengan kemampuan yang unggul dari Martin yang asli.”Apa kalian kira dengan meniruku, aku tidak bisa mengalahkan diriku yang hanya cuplikan dan tidak bernyawa,”ucap Martin yang membuka mata dan melihat anggota yang lain.
“Masih beradu dan belum selesai,”kata Martin yang santai memulihkan tenaga. Martin yang menuggu satu jam belum ada dari mereka yang menyelesaikan musuh dihadapan mereka sampai tiga jam telah berlalu Morgan dan Mark menyelesaikan cermin dirinya dengan serangan fatal dan kecerdikan mereka berdua.
“Akhirnya selesai,”kata Morgan yang berjalan dan bersandar didekat Martin untuk memulihkan diri. Sedangkan Mark juga duduk di samping Martin,”Kapan kamu selesai.”
“Tadi sebelum pagi muncul, kenapa?,”ucap Martin.” Bagaimana lancar atau senang,”kata Martin lagi.”Menarik,”ucap Morgan.
“Seru,”ucap Mark. Saat merek berbincang-bincang Mitra datang dan duduk didepan Martin.”Tidak aku sangka harus mengeluarkan cara itu untuk mengalahkan mereka,”ucap Mitra.
“Kamu selesai juga,”kata Martin.”Iya,”ucap Mitra.
“Bagaimana dengan mereka berlima akankah selesai hari ini,”kata Morgan.
“Kita tidak tahu tergantung kemampuan mereka masing-masing,”ucap Mark.