
Martin dan yang lain yang kembali menuju pulau hantu untuk melanjutkan pelatihan mereka di gua hitam. Sampai di pulau mereka istirahat satu hari di vila yang sudah dibangun di pulau. Hingga pagi yang cerah dan berangin sejuk mereka semua menuju gua hitam dan masuk kedalam dimana pintu kedua yang sudah terbuka.
“Disini lagi,”ucap Lili yang sudah bosan melihat buku di ruangan tersebut.’”Kenapa kamu?,”ucap Rong Shi. Lili hanya menuju buku di rak yang begitu banyak membuat mata dia sakit.
“Apa kita akan membaca buku ini lagi Bos,”kata Alex.”Tidak aku akan membuka formasi pelepasan untuk ujian yang sebenarnya dalam pintu kedua ini,”kata Martin.”Tunggu dulu, maksud kamu selama ini kita membaca bukan ujian yang sebenarnya,”kata Ali.
“Iya itu hanya pendukung kita agar bisa menyelesaikan ujian yang sebenarnya,”kata Martin yang maju ke depan.”Lepas,”ucap Martin dengan mengeluarkan aura jiwanya untuk melepaskan formasi yang ada dalam ruangan. Seketika ruangan berubah menjadi merah gelap dengan suasana yang menyekap dengan hawa keberadaan musuh didepan mereka yang siap untuk memberikan lembar ujian kepada mereka semua.
“Apa mereka lawan kita,”kata Morgan. Martin tidak menjelaskan hanya menoleh kebelakang dan tersenyum dan kembali berjalan masuk ke lingkaran merah. “Sebutkan siapa kamu dan apa itu jurang neraka?,”kata salah satu penjaga.
“Apa yang mereka katakan,”ucap Mitra.”Kurasa mereka mengatakan sesuatu yang membuat otak kita harus berpikir,”ucap Mark.”Apa iya,”kata Alex.”Tebak saja nanti jika Bos keluar,”kata Ling Yong. Mereka semua yang tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan hanya bisa menuggu Martin menyelesaikan di dalam lingkaran tersebut.
Martin yang sedang dalam lingkaran merasakan aura penekan yang sangat kuat, tapi hati Martin yang sudah siap dengan penekanan jiwa ini akan membuat dia lebih kuat lagi.”Sebutkan siapa kamu dan apa itu jurang neraka?,”ucap penjaga lagi.
“Namaku Martin. Jurang neraka dimana iblis berkeliaran yang tersegel di batu prasasti kuno karena perang antara dewa dan manusia yang menginginkan kekuasan dan wilayah yang tidak bisa disentuh oleh kedua mahkluk tersebut. Dengan perjanjian yang dibuat antara penguasa dunia gelap dan penguasa dunia cahaya,”kata Martin dengan tegas. “Laut Merah mana yang ingin kamu jelajahi?,”kata penjaga yang lain.
“Laut merah berdarah penguasa kegelapan dan cahaya,”kata Martin dengan tegas tanpa takut. Penjaga pintu melihat satu sama lain dan membuka formasi ruang dan waktu untuk membuka lembah laut Merah dengan kedudukan dua dunia. Seketika Martin dibawa ketempat yang sudah di tetapkan oleh hati Martin. Sedangkan anak buah mereka hanya bisa terkejut saat pimpinan mereka menghilang tanpa jejak.
“Kemana dia pergi,”kata Rong Shi.”Aku akan jelaskan,”kata Mark. Semua menoleh kearah Mark dengan tajam.”Apa yang ingin kamu jelaskan,”kata Mitra.
“Pintu ini adalah ujian kemampuan fisik dan pengetahuan. Karena tadi Martin sudah di uji dengan kemampuan pengetahuan dan sekarang dia dibawa ke dimensi yang berbeda dan berbahaya untuk mengetes kemampuan bela diri yang dia miliki,”kata Mark menjelaskan.”Dimana dia dibawa?,”kata Ali.
“Untuk itu hanya pilihan Martin, untuk tempat dan dimana aku tidak tahu. Jika dia sudah menyelesaikan tugasnya dia akan kembali. Itu saja yang akan aku beritahukan,”kata Mark yang maju ke dalam lingkaran penguji.
“Tidak aku sangka tekanan disini sangat mengerikan dengan aura kebencian yang sangat pekat,”kata hati Mark.” Mark. Strategi yang bisa menghancurkan ribuan iblis dalam satu serangan dengan tingkatan yang berbeda. Strategi ini merupakan pertahanan para dewa untuk menghancurkan jiwa iblis tingkat lima. Dengan kemampuan jiwa level 6 murni untuk mengaktifkan strategi hitam penghancur kegelapan,”ucap Mark dengan santai.
“Pulau formasi mana yang bisa menghalau tekanan jiwa merah,”kata Penguji.”Pulau dewa kristal dengan formasi cahaya jiwa 7 keatas,”kata Mark yang kemudian dia dikirim ke dimensi pulau dewa kristal untuk berlatih.
Setelah Mark menghilang dari mata mereka Alex dan Ali secara bersamaan masuk kedalam lingkaran penguji. Tiba di dalam lingkaran penguji mereka disambut dengan jiwa penekan yang membuat mereka berdua berlutut. Tapi karena itu mereka semakin semangat dan mencoba berdiri. Sampai salah penguji datang menghampiri mereka dan berkata,”Jika tidak bisa berdiri silakan keluar.” Penguji yang dingin dan tegas dengan aura jiwa level dewa yang membuat Alex dan Ali merinding. Tapi mereka berdua tetap bisa berdiri dengan tekan yang membuat jiwa mereka tercabik-cabik. Karena keinginan mereka untuk bisa melaju bersama dengan pimpinan mereka.”Aku tidak ingin mengalah disini,”kata Alex.”Aku masih ada beban yang harus aku tanggung, aku harus maju,”ucap Ali. Mereka berdua berdiri dengan gagah walaupun mendapatkan berbagai rintangan dan tekanan untuk pimpinan mereka.” Siapa kalian dan untuk apa kalian datang. Apa itu bela pedang jiwa seribu malam dan pagi,”kata penguji ruang.
“Alex. Jiwa yang dikumpulkan dalam satu jiwa dalam satu malam yang penuh dengan dendam dan kebencian di laut kegelapan yang penuh dengan hawa nafsu pembunuh. Pedang yang bisa membuat dewa dan pengikut masuk kedalam ilusi dalam sebuah mimpi,”kata Alex.
“Ali. Jiwa yang penuh dengan jiwa kasih sayang dengan kehangatan yang berlimpah untuk melindungi orang yang dicintai. Jiwa yang melahap dirinya dalam kebenaran dan keadilan. Siapa yang melwan mereka akan binasa dalam kehangatan yang tidak abadi,”kata Ali.
“Pedang jiwa mana yang membuat bela diri seribu jiwa?,”kata Penguji. Dengan serentak mereka menjawab,”Pedang Kabut di pulau pedang kuno.” Alex dan Ali yang bisa melewati ujian dibawa ke pulau pedang kuno untuk mendapatkan pencerahan dan pengetahuan jiwa. Setelah mereka berdua di bawa ke pulau pedang kuno Lili maju ke depan bersama dengan Ling Yong dan Rong Shi. Mereka bertiga masuk kedalam ruang penguji untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dan menyusul kawan mereka yang sudah mendahului mereka.
“Kami pergi dulu,”kata Lili.”Kalian pergilah aku akan menyusul setelah kalian bertiga,”ucap Mitra dengan santai. Mereka bertiga masuk kedalam lingkaran penguji dengan tekanan yang sama dirasakan oleh Alex dan Ali. Tapi mereka bertiga tidak terjatuh berlutut dihadapan penguji hanya tidak bisa menggerakkan tubuh mereka karena takutnya.
“Apa mereka penguji, auranya menakutkan,”kata Lili. Mereka berdua hanya menundukkan kepalanya tidak menjawab Lili. Sampai mereka mendengar suara langka membuat mereka melihat ke depan dengan serentak mereka terkejut dengan senyum para penguji.
“Cahaya bulan dengan jiwa yang hilang, bagaikan lautan merah yang tidak bisa dilepaskan dari darah penghancur. Apa kelanjutan dari bela sastra tersebut dan praktekkan dalam waktu tiga menit untuk bela sastra tersebut?,”kata penguji. Mereka berdua saling memandang satu sama lain sampai terlintas sebuah strategi untuk menyelesaikan dengan damai. Ling Yong berkata,” Hancur yang bagaikan bunga dan daun berguguran. Hitam dan putih bersama dengan jiwa yang damai dan menekan. Dalam kesunyian dua pasang merak cantik menari dalam lautan merah dengan daun darah berjatuhan.”
Lili dan Rong Shi duduk dan mengeluarkan kecapi masing-masing untuk memainkan bela sastra puisi tersebut. Hati yang sudah tenang dan bersama mereka mengalunkan satu petik demi petik alunan jiwa untuk membuat bela sastra ilusi jiwa merak kembar.