
Roki yang khawatir dengan Martin karena dia tidak di rumah sakit dengan jernih dia berpikir mencari tahu keberadaan Martin dengan kecerdasan yang dia miliki. Dengan ponsel yang dia pegang dia mencari Martin tidak lama dia mencari hanya hitungan detik dia menemukan Martin berada. “Kamu menemukannya?,”kata Izam. Roki menganggukkan kepalanya.
“Berikan lokasinya biar aku dan Mizuki yang mencarinya kamu tetap disini,”kata Izam. “Aku akan kirim lokasinya ke kamu,”ucap Roki.
Sampai mereka melihat dari arah lorong seorang pemuda membawa pasien. “Tolong dok,”kata Pemuda itu. Roki melihat kearah pemuda itu dengan seksama. “Bukanya itu kakak Martin,”ucap Roki. Izam menoleh kearah pemuda yang sedang berlari. “Tolong pasien ini dok segera, jangan sampai terjadi apa-apa pada wanita ini,”kata pemuda itu. Sampai Izam melontarkan pukulan tanpa berpikir panjang. Tapi dihadang oleh Pemuda itu,”Kenapa kamu menyerangku.”
“Untuk apa dijelaskan karena kamu membawa pasien terluka keluar ruangan,”kata Izam tanpa basa-basi.”Aku Teko disuruh Martin membawa kakaknya ke rumah sakit,”ucap Teko yang hendak pergi setelah kakak Martin dibawa dokter.
“Tunggu,”kata Mizuki yang menghadang Teko. “Ada apa lagi, belum puas memukulku,”kata Teko yang sedang tergesa-gesa ingin pergi. Sampai dia mendapatkan telepon darai Mark, yang memberitahukan kalau Teko harus di rumah sakit berjaga kalau terjadi apa-apa.
Teko melepaskan pegangan Mizuki dan duduk dengan santai menuggu kabar dari pasien. “Dimana Martin,”kata Roki. “Bukannya kamu tadi disuruh oleh Martin, dimana dia sekarang?,”kata Roki.
“Martin sedang bermain dengan beberapa preman. Kalian tidak usah khawatir,”kata Teko dengan santai. Izam yang melihat layar ponsel langsung pergi,”Mizuki kamu tetap disini aku pergi sendiri.”
“Kenapa kamu tidak ikut dengan Izam,”kata Roki yang melihat kearah Izam dan berbalik melihat kearah Mizuki yang duduk di samping Teko.
“Kenapa kalian begitu santai,”kata Roki yang gelisah. “Apa yang perlu dikhawatirkan,”ucap Teko.
“Benar juga mereka pasti bisa menyelesaikan semuanya,”ucap Mizuki. Mizuki yang menyadari kalau Teko memilki aura yang berbeda dengan Martin tapi tidak tahu kenapa Mizuki mewaspadai Teko.
“Ada apa kamu takut,”ucap Teko. “Siapa yang takut,”kata Mizuki. Roki yang masih gelisah hanya melihat kedalam rungan, sampai dokter keluar. “Bagaimana dok keluarga teman saya,”kata Roki yang masih di rumah sakit. “Tenang saja mereka masih dalam keadaan baik-baik saja, hanya saja jika pasien yang dibawa pergi tadi tidak ditemukan mungkin saja pasien bisa meninggal karena kondisinya yang tidak mendukung,”dokter menjelaskan.
“Jadi sekarang apa pasien sudah melewati masa kritis,”kata Teko. “Itu benar,”kata Dokter.”Terima kasih dok,”ucap Roki. Setelah mendengar kabar dari dokter Roki bisa tenang sedikit. “Sebenarnya apa yang terjadi dengan Martin,”kata Roki.
“Kalian berdua menyembunyikan sesuatu bukan,”ucap Roki menatap mereka berdua dengan tenang tanpa mengeluarkan ekspresi yang menegangkan.”Jika kamu bertanya seperti itu aku bertanya kepada siapa,”kata Mizuki.
“Kenapa kalian menatapku, aku tidak tahu apa yang terjadi sebelum kejadian selesai,”kata Teko. “Apa benar kamu tidak tahu apa-apa?,”kata Roki. “Benar,”ucap Teko.
~ ~ ~~ ~~ ~ ~ ~ ~ ~~
Di tempat lain Izam yang menyusul Martin dengan beberapa anak bawah yang mengikutinya menuju lokasi Martin berada. Tapi tidak disangka sampai ditempat Izam melihat pemandangan yang menegangkan dan penuh hawa pembunuh. Izam masuk kedalam melihat beberapa orang yang berkelahi. Izam yang melihat dengan seksama mendapatkan matanya tertuju pada satu tempat, yaitu dimana Martin berada. Izam melihat Martin yang penuh dengan darah dengan seorang yang tidak asing tergeletak di tanah.
“Akhirnya selesai, kalian yang bereskan semua ini. Aku pergi ke rumah sakit sekarang,”kata Martin. “Apa kamu akan pergi dengan pakaian seperti itu,”ucap Izam yang berjalan kearah dia berada. “Kenapa kamu bisa sampai disini,”kata Martin. “Karena Roki khawatir dengan kamu makanya aku menyusul. Tapi tidak disangka disini telah beres,”kata Izam sambil menoleh kebelakang Martin.
Martin berjalan melewati Izam dan menuju mobil yang terparkir dan mengambil pakaian yang ada didalamnya. “Kamu tidak usah khawatir disini, pergilah temani Martin ke rumah sakit,”kata Mark yang menghubungi seseorang.
“Aku antar kamu ke rumah sakit,”ucap Izam menghampiri Martin. Martin hanya mengikuti Izam dari belang dan memasuki mobil. Di perjalanan menuju rumah sakit mereka saling berbincang rahasia masing-masing.
“Siapa kamu sebenarnya?,”kata Izam dengan tenang. “Bukannya kamu sudah tahu siapa aku,”kata Martin. “Geng SaNaHa,”ucap Martin. Izam hanya tersenyum,”Preman selatan, tidak aku sangka itu adalah kamu.”
“Kita memiliki rahasia masing-masing. Tidak harus bermusuhan,”kata Martin. “Apa yang kamu katakan itu benar,”ucap Izam.
“Sebelumnya, jangan beritahu Roki,”kata Martin.”Tenang saja tidak akan aku beritahu, tapi sebaliknya kamu jangan beritahu Roki,”kata Izam.
“Itu percuma, Roki sudah tahu identitas kamu setelah kamu pergi dengan Mizuki pada hari pertama bertemu dengannya,”kata Martin menjelaskan.
“Ini tidak adil bukan,”kata Izam. “Adil atau tidak itu yang terjadi,”kata Martin. Sampai mereka didepan rumah sakit. Izam dan Martin keluar dari mobil, Roki yang sudah menuggu mereka dari tadi menghampiri mereka berdua. “Apa kalian tidak apa-apa,”kata Roki yang mengkhawatirkan kedua temannya.
“Tidak kami baik-baik saja,”kata Izam. Roki melihat kearah Marin dari atas sampai bawah jika dia tidak terluka. Roki menghela nafas,”Syukurlah kalau kalian tidak terluka.”
“Ayo masuk,”kata Roki. “Kenapa kamu tidak meminta kami berdua untuk membantu kamu,”kata Roki kearah Martin. “Maaf membuat kamu khawatir, aku baik-baik saja sekarang,”kata Martin.
“Ibu....ibu akan mengomel kembali,”ucap Izam yang menoleh kearah lain. “Apa maksud kamu Izam,”kata Roki yang mencubit Izam. “Aduhh sakit.... kenapa kamu menyubitku,”kata Izam.
“Karena kamu pantas mendapatkannya,”kata Roki. Sampai didepan ruangan Martin menghampiri Teko yang sudah menuggu. “Kamu boleh pergi sekarang,”ucap Martin. “Baik,”kata Teko yang berdiri dan hendak berjalan. “Terima kasih telah membawa kak Moli dan menuggu keluargaku,”kata Martin kepada Teko.
Tapi Teko tetap berjalan meninggalkan mereka semua dan menuju ketempat kejadian membantu Mark dan Roni. Martin masuk kedalam ruangan melihat ibu dan kedua kakaknya. “Kata dokter mereka baik-baik saja. untung saja teman kamu Teko membawa tepat waktu kakak kamu jika tidak kamu akan kehilangan kakak kamu,”kata Roki menjelaskan.
“Terima kasih telah menjaga keluargaku saat aku tidak ada,”kata Martin. “Bukannya kita teman seharusnya membantu, bukan,”ucap Izam dengan santai. “Itu benar,”kata Roki.
Setelah beberapa menit mereka berbincang-bincang ibu dan kakaknya yang belum sadarkan diri ada pergerakan membuat Martin bahagia dan memanggil dokter untuk memeriksa kembali kondisi keluarganya. Belum sempat dokter datang ibu Martin membuka matanya dan melihat Martin ada disampingnya dengan berat ibunya tersenyum dan memegang wajah Martin yang penuh dengan air mata berjatuhan. “Nak kenapa kamu menangis, ibu baik-baik saja,”katanya.
“Aku senang ibu sudah siuman,”kata Martin yang memeluk ibunya. “Dimana kedua kakak kamu,”kata Ibu. Marin menoleh kearah belakang. “Kami disini bu kami baik-baik saja,”ucap mereka berdua dengan suara berat agar ibunya tidak khawatir dengan kondisi anaknya yang juga berbaring.
“Syukurlah kalau kalian semua baik-baik saja,”kata Ibu Martin. Doker datang dan memeriksa kondisi keluarga Martin dengan teliti dan memberitahukan kalau kondisi mereka sudah mulai stabil.