Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Perselisihan 9


“Tunggu tadi kamu berkata Ezan?,”ucap Izam.”Iya Ezan kembaran Martin,”kata Putra. “Apa maksud kamu dia Eza sampingnya Martin,”kata Izam yang menunjuk ke arah mereka berdua. Putra hanya menganggukan kepala sampai dia melihat ke arah Bunga yang sedang menghadapi musuh. “Apa kamu tidak tahu kalau Martin memiliki kemabaran dan satu lagi dia adalah ketu pimpinan dari Organisasi Laut Merah,”kata Putra yang memlihat kearah lain.


“Apa?,”ucap Izam yang terkejut.”Kamu tidak tahu selama ini apa yang kamu cari, apa hanya kekuasaan saja yang kamu incar sampai teman kamu abaikan,”kata Putra yang kemudian menatap ke arah Izam dengan dingin.”Aku memang tidak tahu banyak tentang Martin dan kalian juga menyembunyikan banyak rahasia denganku bukan,”kata Izam yang menatap dingin.


Putra hanya tersenyum ke arah Izam dan kembali melihat ke arah Bunga.”Apa mereka tidak akan terluka menghadapi musuh yang banyak seperti itu,”kata Izam yang khawatir dengan Bunga. “Kamu tidak usah khawatir mereka akan baik saja, tapi jika kamu ingin menolong mereka jangan deh,”kata Ezan di belakangnya.


“Pasti kamu Ezan,”ucap Izam melirik ke arahnya. Ezan hanya tersenyum dan melihat ke arah Putra,”Kamu yang bilang ke atasan kamu ya, soal apa yang terjadi.”


“Karena ini masalah yang serius aku harus bilang,”kata Putra. “Ada apa,”ucap Martin dan merangkul Ezan dari belakang. “Tidak hanya saja teman kamu binggung dengan kita berdua,”kata Ezan.”Hai Izam lama tidak bertemu kamu baik-baik saja,”kata Martin.


“Seharusnya aku yang bertanya siapa mereka dan kenapa mereka menginginkan nyawa kamu?,”kata Izam. “Mereka..,”ucap Martin yang terhenti karena mendapatkan serangan. Tapi dihalangi oleh Remon. “Untuk apa kalian menyerang masih ada kamu disini yang siap mengikuti permainan kalian,”kata Remon.


“Hebat,”ucap Rio. “Bukannya tambah rame saja hari ini,”kata Ezan.”Iya bukannya tadi yang datang hanya empat orang dan sekarang sudah bertambah saja,”kata Martin. Izam dan Roki menoleh kearah mereka berdua dan menghampirinya.”Martin bisa kamu jelaskan apa yang terjadi,”kata Roki yang bertanya.


“Apa yang terjadi itu bukan urusan kalian, mereka semua adalah musuhku yang ingin membuat kita bermusuhan. Tapi rencana mereka gagal karena kami berdua sudah tahu rencana mereka hanya saja..,”kata Martin yang terdiam.


“Hanya saja apa,”ucap Izam yang menuggu bersama dengan Roki. “Hanya saja itu bukan urusan kalian untuk bertanya lebih lanjut,”kata Morgan dari jauh. Izam dan Roki melirik ke arah Morgan yang bersama dengan Eza.


“Kenapa kalian bersikap dingin kepada kami, apa ada yang membuat kalian tidak suka dengan kami,”kata Roki yang bisa merasakan suasana yang aneh.


“Bukannya semua ini salah kalian yang tidak bisa melakukan dengan kepala jernih dan harus melakukannya kepada adikku,”kata Morgan yang membela adiknya.”Adik apa maksudnya,”ucap Izam dan Roki yang terkejut.”Apa maksudnya ini Martin, bisa jelaskan apa yang sedang terjadi kenapa kamu hanya terdiam saja, kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa,”ucap Roki yang datang menghampiri Martin dan kemudian menarik tangan Martin yang kemudian berpindah dengan memegang bahu Martin dengan tatapan mereka yang saling memandang satu sama lain.


Martin yang merasa tidak nyaman memalingkan wajahnya sampai Ezan memegang tangan Roki.”Lepaskan Martin dari tangan kotormu,”ucap Ezan yang tidak suka dengan sikap Roki. “Kotor apa maksud kamu?,”ucap Roki yang menatap ke arah Ezan dengan tajam.


“Kenapa kamu diam saja bilang apa yang membuat kamu tidak suka denganku, sementara kita tidak saling mengenal,”ucap Roki yang menahan Ezan. Ezan menoleh kebelakang dengan menyipitkan matanya dan berkata,”Karena dia tidak ingin kalian mengetahuinya.” Ezan kemudian berjalan kembali ke arah Morgan.”Apa urusan kamu sudah selesai?,”kata Morgan setelah mereka berdua di dekatnya.


“Urusan yang kakak maksud yang mana,”kata Martin. Morgan melihat Ezan dan Martin,”Kalian berdua kenapa?.” Ezan dan Martin saling menggelengkan kepalany. Morgan yang melihat ke arah Izma dan Roki yang menatap kembar membuat Morgan tahu apa yang sedang mereka gelisahkan.”Jika memang sudah waktunya silakan kalian jelaskan. Tapi jika kalian tidak ingin memberitahu mereka tutup mulutlah,”kata Morgan.


~ ~ ~ ~ ~ ~~  ~ ~ ~ ~ ~


Prisila dan Bunga yang sedang bertarung dengan bawahan musuh sedang mendapatkan musuh yang seimbang dengan kedatangan Bazika dan Iron. Dengan serangan tiba-tiba yang didapatkan saat Prisila dan Bunga sedang menentukan siapa yang paling hebat di antara mereka berdua.


Hingga serangan yang tidak di inginkan datang kepada mereka berdua. Prisila dan Bunga yang menghindar dari serangan tersebut mendapatkan serangan dari belakang mereka yang membuat mereka terdorong karena serangan yang di dapatkan. Prisila dan Bunga menoleh ke arah serangan muncul.”Kalian datang saat kami tidak menginginkan kalian,”kata Prisila yang marah.


“Kalian tidak tahu malu menyerang kami dari balik tubuh bawahan kalian,”ucap Bunga. Bazika dan Iron yang tidak perduli dengan kata mereka tetap menyerang mereka berdua karena sebagian dari bawahan yang mereka bawah sudah sebagian menghilang karena serangan dari kedua wanita tersebut. Bazika yang maju menyerang Prisila,”Bukannya urusan kita belum selesai.” Prisila hanya terdiam dan menghindar dari serangan Bazika sampai Prisila menggunakan kemampuannya dan menyerang balik dari belakang tubuh Bazika.”Itu hadiah dariku karena kamu membuat aku marah,”ucap Prisila yang menedang dan memberikan tebasan pedang ke arah punggung Bazika yang tidak menyadari kehadiran Prisila.  Sedangkan Bunga yang berhadapan dengan Iron juga melakukan serangan tiba-tiba saat Iron sedang fokus dengan apa yang dia lihat didepannya. Membuat Bunga hanya bisa menggunakan bayangan dirinya untuk melawan musuh dari belakang. “Nikmatilah hadih yang aku siapkan untuk dirimu tampan,”kata Bunga dari samping dengan memberikan serangan tiba-tiba.


Iron dan Bazika yang tidak menyadari serangan mereka berdua mencoba untuk menghindar tapi tidak memungkinkan mereka untuk menghindar dan hanya bisa mengaktifkan pelindung jarak dekat. Prisila dan Bunga berkumpul disatu tempat yang sama untuk melihat mereka berdua yang datang tidak di undang.”Kita urungkan saja pertandingan kita,”kata Bunga.”Tidak masalah apa lagi ada tamu yang tidak di undang datang mengganggu kita, membuat aku merasa kesal dengan mereka,”kata Prisila.”Apa yang kamu katakan ada benarnya,”ucap Bunga.


Prisila dan Bunga yang menghentikan pertarungan keduanya untuk mendapatkan siapa yang paling hebat terhenti karena Bazika dan Iron menyerang mereka saat keduanya sedang beradu duel untuk mendapatkan paling yang hebat.


“Bukannya ini tempat yang indahm,”ucap Bunga melihat ke arah musuh.”Indah bagaikan Laut Merah, tenggelam di laut yang lepas bersama dengan darah yang berceceran berjatuhan dan membasahi tanah dan lantai yang mereka injak,”ucap Prisila yang berpuisi.


“Sejak kapan kamu bisa berpuisi,”kata Bunga yang melirik takjub ke arah Prisila. “Sejak kapan ya, aku tidak terlalu ingat tapi Ezan yang mengajariku berpuisi,”kata Prisila yang bangga dengan dirinya sendiri.”Kalian berdua,”ucap Bunga yang kemudian melihat ke arah musuh didepannya yang sedang bangun. Prisila dan Bunga yang melihat hanya bisa berwajah dingin saat mereka terbangun.