
Setelah kejadian yang menimpa Martin mereka kembali bersama, tapi persahabatan mereka mulai erat kembali. “Pagi semuanya,”ucap Martin yang berjalan menghampiri mereka berdua yang asik sedang berbicara. “Pagi Marti,”ucap Roki. “Pagi juga,”kata Izam.
“Bagaimana kondisi keluarga kamu,”kata Roki.”Mereka sudah baikan katanya mereka akan membuka cafe lagi hari ini,”kata Martin. “Apa tidak apa-apa,”kata Izam.”Mau bilang tidak apa-apa juga mereka tetap akan membuka cafe,”kata Martin.
“Mau bagaimana lagi,”ucap Martin. “Kapan kamu akan cerita,”kata Roki yang menuggu. “Cerita apa?,”kata Martin. “Kata kamu akan cerita apa yang terjadi kemarin,”kata Roki yang tidak sabaran.
“Kemarin. Memang aku akan bilang kalau aku akan cerita,”kata Martin. Roki menggelengkan kepalanya. “Jadi... ajari soal ini ya,”kata Martin mengganti pertanyaan. “Kamu belum bisa soal ini,”ucap Izam yang menghampiri dan mengajari Martin.
“Sebenarnya kalian menyembunyikan apa dariku,”kata Roki. “Kalau kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari kami,”ucap mereka bersama. Roki terdiam dan mengalihkan pandangan. Martin dan Izam saling memandang. “Itu ulah preman yang mengganggu cafe ibu dan kakakku,”ucap Martin.
~ ~ ~ ~ ~~ ~~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
Sementara di tempat Reli dan Tera yang sedang mengikuti kelas akhir mendapatkan pesan dari Mark. Kalau preman utara dan Barat sudah membuat kesepakatan untuk melakukan perjanjian perdamaian. “Apa ini benar mereka menyerah,”kata Reli. “Katanya iya,”ucap Tera.
“Kenapa kamu cemberut seperti itu, bukannya sebentar lagi kita selesai studinya dan akan kembali bersama Martin,”kata Reli.
“Iya hanya saja. Apa kamu tidak menyesal tidak bisa ikut bertarung dengan Martin,”kata Tera.
“Apa yang kamu katakan itu benar juga. Sebentar lagi.. tunggu saja sabarlah,”kara Reli. “Bagaimana kapan mereka akan kembali,”ucap Reli lagi.
“Maksud kamu Marko, Rendi dan Jes,”kata Tera. “Iya.. siapa lagi kalau bukan mereka yang pergi ke pulau itu,”kata Reli. “Aku dapat info mereka akan kembali 10 bulan lagi,”ucap Tera.
“Sebenarnya apa yang mereka lakukan sampai lama sekali,”kata Reli. “Kamu tidak tahu kalau mereka sedang melatih anak baru,”kata Tera.
“Anak baru,”ucap Reli. “Iya,”ucap Tera. Saat mereka sedang asik berbincang mereka melihat Preman timur yang sedang mengganggu anak lain. “Bukanya mereka dari timur kenapa bisa ada di barat,”kata Tera.
“Kamu tidak tahu. Saat Barat sedang di kuasai keadaan pertahan mereka melemah yang membuat timur mencari kesempatan untuk mengambil keuntungan,”ucap Reli. “Tidak aku sangka mereka akan melakukannya. Mau ke sana atau pergi ke cafe,”ucap Tera.
“Ke cafe saja aku lapar,”kata Reli. “Bukannya kita sedang bersembunyi sampai waktunya tiba,”kata Reli.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~~ ~ ~ ~ ~ ~
Selesai kelas mereka bertiga menuju bioskop untuk menonton film bersama. Tidak tahu kenapa saat mereka hendak ingin pergi Izam didatangi oleh Terko dan Hizam yang juga ikut bergabung. “Apa kami juga boleh ikut,”kata Terko yang merangkul Roki.
“Kenapa kalian bisa ada disini,”ucap Izam.”Hanya ingin bersantai apa tidak boleh,”kata Hizam.
“Bukannya tambah asik jika kita rame-rame nontonnya,”kata Roki dengan sifat positifnya. “Dia saja setuju kenapa kamu tidak membolehkan,”kata Terko.
“Bagaimana Martin,”kata Roki melihat kearahnya. “Apa?,”ucap Martin yang sedang melihat ponsel.
“Kamu sedang memikirkan apa sampai tidak mendengarkan aku berbicara,”ucap Roki.
“Aku ingin bertemu dengan profesor Agasa,”kata Martin. “Untuk apa?,”ucap Roki yang tidak percaya.
“Untuk menayakan tanaman ini,”kata Martin yang memperlihatkan kepada Roki.”Tanaman ini?,”kata Roki.
“Iya. Apa sekarang kamu bisa melepaskan aku pergi,”kata Martin.
“Kamu tidak akan bohongkan,”ucap Roki. “Iya aku tidak akan berbohong gantinya besok kita pergi ke cafe kakakku bagaimana,”kata Martin membujuk. “Ok,”kata Roki yang melepaskan tangan Martin. “Izam jaga Roki ya.. aku pergi dulu,”ucap Martin yang berjalan meninggalkan mereka semua.
Martin yang menuju ke university untuk bertemu dengan Profesor Agasa. Sampai di tempat dia mengetuk pintu ruangannya. “Masuk,”kata Prof Agasa.
“Kenapa kamu kesini. Bagaimana kabat ibu dan kakak kamu. Aku dengar mereka masuk rumah sakir,”kata Prof Agasa. “Mereka sudah kembali ke rumah dan membuka cafe,”kata Martin yang menghampiri Prof Agasa. “Prof aku ingin menayakan tamanan ini,”kata Martin sambil memberikan ponselnya.
“Tanaman ini dinamakan Kristal Hijau,”ucap Prof Agasa. “Kristal Hijau. Apa tanaman ini beracun,”kata Martin. “Apa yang kamu katakan memang benar tanaman ini beracun jika dia terkena air panas. Tapi sebaliknya jika dia terkena air dingin akan menyembuhkan luka hati yang membeku,”kata Prof Agasa menjelaskan.
“Kenapa kamu menayakan tanaman ini?,”kata Prof Agasa. “Ini temanku dari luar negeri menayakan tanaman ini,”kata Martin. “Sebenarnya kedatanganku kesini tidak hanya menayakan tanaman ini tapi juga ingin bertanya soal lokasi tanaman ini berada?,”kata Martin.
“Tanaman ini hanya mitos lama yang berada di tengah sungai yang membeku di selatan. Untuk lokasinya saya tidak tahu pasti. Karena ini hanya sejarah kuno,”ucap Prof Agasa.
“Sejarah kuno apa maksud Prof?,”kata Martin yang tidak paham. “Sejarah kuno mengatakan kalau tanaman ini ada di selatan dimana sungai dan danau yang membeku tiba-tiba karena satu meteor, itu dari sejarah yang ada. Tapi jika dari sejara kuno, tanaman ini tubuh di batu es yang membeku yang ada setiap 10 tahun sekali,”kata Prof menjelaskan.
“Jadi seperti itu,”kata Martin. “Terima kasih sudah memberitahukannya Prof,”kata Martin lagi. “Untuk apa kamu menanyakan tanaman itu, tidak mungkin kamu akan mencarinya bukan,”ucap Prof Agasa. “Bukan, tidak mungkin aku akan mencarinya. Hanya pengetahuan dasar saja,”kata Martin.
“Aku pamit pulang dulu ya Prof terima kasih sudah memberitahukannya,”ucap Martin yang berdiri dan keluar ruangan. Sementara Martin yang sedang berbincang dengan Prof Agasa orang yang mencoba membunuh Prof Agasa telah pergi setelah kehadiran Martin.
“Apa semuanya sudah diatasi,”kata Martin yang sudah keluar dari gedung. “Semuanya sudah beres Bos,”ucap Teko dan Roni. “Awasi pergerakan mereka jangan sampai mereka melukai orang kita,”kata Martin yang meninggalkan mereka berdua.
Sedangkan di bioskop Roki dan ketiga orang yang lain sedang menikmati film mereka sampai mereka lupa hari telah malam. “Tidak aku sangka filmnya sangat menarik,”kata Terko.
“Itu benar,”ucap Roki.”Lain kali bagaimana kalau nonton lagi mengajak teman kamu yang satunya lagi siapa namanya,”kata Hazim. “Maksud kamu Martin,”kata Roki.
“Iya,”kata Hazim. “Sudah...sudah ayo kita cari makan,”kata Izam. Mereka berjalan bersama sampai di toko cepat saji mereka memesan makan. Tapi tidak tahu kenapa Roki mendapat telepon dari rumah yang memberitahukan kalau temannya Rena datang. “Maaf semuanya aku harus pulang dulu ini, ibu aku menyuruh aku pulang katanya ada tamu untukku,”kata Roki menjelaskan. “Iya tidak apa-apa.,”kata Terko.”Perluh aku antar,”kata Izam.
“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri,”kata Roki yang keluar toko dan berjalan menuju arah pulang.
Sampai di luar Roki menelepon Rena,”Kenapa kamu datang ke rumahku?.”
“Kenapa? Kamu belum mengerjakan tugas kamu yang mengharuskan aku datang ke negara kamu,”kata Rena. “Tugas apa?,’kata Roki yang lupa.