
Angin berhembus, daun bertiup angin siang. Panas teriknya Matahari menyelimuti hari itu. Martin yang menuggu Zimu datang. Tak kunjung datang, sampai kelompok Izam datang bertemu dengan Martin yang masih terdiam diri. Martin yang tahu kehadiran Izam dan kelompoknya hanya berkata,”Kenapa kamu datang kesini?.”
“Dimana Hizam,”ucap Izam.”Jadi kamu menjemput Hizam kesini tidak ada yang ingin kamu ketahui,”kata Martin yang menuju kearah mayat Hizam. “Bawalah dia,”kata Martin. “Sebenarnya siapa kamu,”ucap Bunga di belang Izam.
“Tidak aku sangka Bunga pimpinan darai Organisasi Peneliti ada disini,”kata Martin yang tiba-tiba diserang oleh Zimu.Semua yang ada ditempat melihat segara arah,”Siapa kamu?.”
“Kenapa kamu datang lama sekali,”ucap Martin yang mengembalikan jarum yang diberikan oleh Zimu. Izam yang di sana datang menghampiri Martin,”Apa kamu tidak apa-apa?.” Martin hanya melihat mata Izam yang membuat dia bingung dan menaruh tangan dikeningnya untuk melihat kondisi Izam. Tapi Izam menghempaskan tangan Martin,”Kamu mau apa?.”
“Aku kira kamu sakit makanya aku mau lihat suhu tubuh kamu,”kata Martin yang tersenyum.”Aku khawatir dengan kamu tapi sikap kamu menyebalkan,”kata Izam.”Karena kamu tidak seperti bisanya makanya aku bingung dengan apa yang kamu tanyakan,”kata Martin.
Saat mereka berbicara Zimu datang dengan anak buah yang begitu banyak.”Tidak aku sangka kamu bisa menghindar dan mengembalikan jarumku,”kata Zimu. “Tidak aku sangka juga kamu datang dengan membawa banyak orang hanya untuk satu orang saja,”kata Martin.
Zimu yang berjalan melihat mayat Hizam,”Siapa diantara kalian yang membunuh Hizam?.” Semua orang yang mendengar menunjuk kearah Martin. Martin yang melihat tunjukan dari kelompok Izam hanya bisa tertawa. “Jadi itu kamu?,”kata Zimu.
“Kenapa?,”ucap Martin dengan santai.”Apa kamu ingin balas dendam,”kata Martin yang berjalan menuju Zimu.”Siapa kamu?,”kata Zimu.”Cendana Hitam,”ucap Martin sambil menggerakkan tangannya di kepala.
Zimu yang terdiam hanya berpikir,”Bagaimana dia bisa tahu cendana Hitam adalah ulahku. Kenapa aku merasa orang ini bukan seharusnya aku lawan.”
“Kenapa,”yang tiba-tiba di samping Zimu. Zimu yang tidak melihat pergerakan Martin terkejut dan segera mundur. Izam dan kawan yang lain juga ikut terkejut,”Bagaimana dia bisa ada di sana, pada waktu yang singkat.”
Bunga yang melihat Martin merasa ada yang aneh dengan dia. Tiba-tiba Martin ada di samping Bunga dan berkata,”Jangan katakan apapun jika kamu ingin hidup.” Izam yang mencari Martin menoleh kebelakang, dan dia terkejut kalau Martin bersama dengan Bunga dibelakang sementara dia tadi melihat ada didepan dia. “Apa yang sebenarnya terjadi?,”ucap Izam yang tidak percaya. Martin berjalan kearah Izam,”Ada apa?.”
“Bukannya tadi kamu ada didepan bersama orang aneh itu,”kata Izam.”Kenapa kamu bisa ada dibelakang,”ucap Izam.”Orang aneh yang kamu maksud siapa?,”kata Martin yang tidak tahu. “Orang aneh yang mencari kamu didepan,”kata Izam sambil menunjuk ke depan. Tapi Izam dikejutkan orang yang tadi berombongan sudah terjatuh di tanah. Izam hanya bertanya-tanya,”Apa yang sebenarnya terjadi?.”
“Bukannya kamu datang kesini untuk mengambil mayat Hizam-kan,”kata Martin.”Itu benar,”ucap Izam yang berjalan kearah mayat Hizam dan menyuruh anak buahnya untuk mengangkatnya. Izam yang tidak tahu apa yang terjadi langsung pergi bersama dengan kawannya.”Hati-hati dijalan,”ucap Martin kearah Izam dan kawannya.
Setelah Izam dan kawannya pergi hanya Martin yang masih ditempat. Setelah melihat kondisi sudah aman dia berjalan kearah Zimu yang sudah tidak berdaya.”Jika kamu mencari masalah denganku kamu akan tewas,”ucap Martin yang mengambil ponselnya.
“Apa yang bisa aku temukan di ponsel ini ya,”ucap Martin. Tiba-tiba dari belakang Bunga yang belum pergi datang berjalan menuju Martin.”Kenapa kamu masih disini,”kata Martin yang tahu kalau dia masih di tempat.” Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku masih disini,”kata Bunga yang terhenti dan mewaspadai Martin.
“Kenapa aku bisa mengetahuinya, hanya firasat saja,”kata Martin. “Siapa kamu?,”ucap Bunga yang masih tenang.”Siapa aku bukannya kamu sudah tahu kalau aku adalah teman Izam. Kenapa kamu ingin tahu siapa aku,”kata Martin.
“Tidak aku sangka kamu sudah mengepungku, kerena aku mengetahui identitas kamu,”ucap Martin yang masih mengotak atik ponsel Zimu.”Apa kamu mendengarkanku,”kata Bunga yang merasa diabaikan.
“Aku tidak mengabaikan kamu, hanya saja ini bukan waktu yang tempat untuk berbicara dengan kamu,”kata Martin yang menoleh. Tidak lama dia menoleh dia menghubungi seoarang.”Siapa yang kamu hubungi, percuma saja kamu akan tewas disini,”kata Bunga.
Martin yang masih menghubungi orang itu hanya terdiam sampai Bunga menyerang Martin tapi tidak disayangkan Martin bisa menghindar.”Kamu kenapa menyerangku?,”ucap Martin yang masih menuggu komunikasinya tersambung.
“Aku bilang kamu percuma menghubungi anak buah kamu karena kamu akan tewas disini,”kata Bunga.”SERANG,”ucap Bunga kepada semua anak buah yang mengelilinginya.”Tunggu,”ucap Martin.
“Kamu salah paham. Bisa tidak kamu menyuruh anak buah kamu mundur jika kamu tidak ingin terluka,”kata Martin yang sudah ada dibelakang Bunga.
Bunga yang tidak bisa merasakan kehadiran Martin menoleh dan bergerak menjauh dan menyuruh anak buahnya mundur.”Apa maksud kamu salah paham?,”kata Bunga.
“Aku tidak menghubungi anak buahku tapi aku menghubungi pimpinan dari Rose Black. Pasti kamu tahu organisasi ini,”kata Martin yang tiba-tiba mendapatkan suara yang tidak asing dari teleponnya.
“Akhirnya kamu mengangkatnua,”kata Martin.”Siapa kamu?Dimana Zimu?,”ucap Jendral Grata.”Kenapa terburu-buru, bukannya kita harus mengenal satu sama lain dulu Jendral Grata,”kata Martin dengan dingin.
“Siapa kamu? Bagaimana kamu bisa mengetahui namaku,”kata Jendral Grata.”Bagaimana aku bisa tahu itu tidak penting, hanya saja aku menghubungi kamu untuk memberitahukan kalau Zimu sudah tewas. Jika kamu ingin mencari pembunuh darai murid kamu Zimu datanglah di lembah bambu hijau tiga hari lagi,”kata Martin yang memutuskan komunikasi.
Bunga yang mendengar percakapan mereka merasa tidak asing dengan nama Jendral Grata.”Bagaimana kamu mengetahui nama itu,”ucap Bunga yang mengeluarkan senjatanya. Martin menghela nafas dan berjalan menuju kendaraan yang diparkiran tidak jauh dari dia berdiri.”Aku sudah bilang kamu belum boleh tahu. Jika kamu menyerangku berati kamu sudah siap resiko yang harus kamu rugikan bukan,”kata Martin yang menaiki kendaraannya.
Bunga yeng merasa bimbang dengan apa yang dia lihat merasa ada sesuatu yang membuat dia khawatir dengan tatapan Martin.”Jika tidak ada lagi aku pergi ya,”kata Martin yang pergi meninggalkan Bunga dan anak buahnya.
“Kenapa kita tidak melawan dia,”kata Petra. “Tidak aku merasa ada sesuatu yang membuat aku takut dengan orang itu setelah melihat tatapan dia,”ucap Bunga.”Apa lagi dia mengenal nama Jendral Grata yang merupakan organisasi Rose Black.
“Bicara tentang Rose Black, bukannya orang ini dan anak buah yang bergeletakan disini termasuk organisasi Rose Black yang bermana Zimu murid Grata,”kata John. “Apa kamu yakin dengan kamu lihat,”kata Bunga yang mendekat kearah John.
Bunga yang melihat mayat tersebut terkejut,”Siapa sebenarnya Martin ini?.”