
Martin dalam perjalan menuju ke negara J dengan firasat yang buruk akan datang pada hari dimana dia akan bertikai dengan Izam.”Aku berharap semua ini hanya perasaan saja?,”kata Martin yang telah sampai di negara J.
Sedangkan Reli yang sedang dalam perkumpulan para musuh merasakan ada yang ganjil dengan lokasi mereka dengan melakukan pertarungan mendapatkan kekuasaan tertinggi di negara J. “Kenapa hari ini aku merasa akan ada kumpulan darah yang akan berjatuhan,”kata Reli. Apa yang dirasakan oleh Reli membuat dia khawatir dan menyuruh orang kepercayaannya Wildan untuk mencari sesuatu diluar lingkungan dimana mereka sekarang berada.
“Wildan pergilah untuk pengamatan,”ucap Reli dengan suara kecil. Wildan menganggukkan kepalanya dan berjalan mundur untuk melakukan pengamatan. Red yang melihat gerak-gerik Reli merasa curiga dan mengikuti Wildan dari belakang. Tapi Wildan mengetahui kalau dia sedang di ikuti hanya bisa terdiam dan berkata,”Untuk apa kamu mengikutiku?.”
Red berjalan menuju Wildan dan menghampirinya sampai didekatnya dia menatap kearah Wildan dengan senyum liciknya.”Kemana kamu ingin pergi?,”kata Red. “Kamu bertanya kemana aku ingin pergi, apa kamu khawatir dengan diriku yang cantik ini,”ucap Wildan yang mendekatkan wajahnya kepada Red. Tapi Red mundur karena wajah Wildan yang berseri-seri,”Jawab saja kemana kamu ingin pergi. Apa ingin mencari Martin?.”
Wildan menggelengkan kepala ke kanan dan tersenyum,”Apa kamu cemburu jika aku mencari ketuaku.” Red memalingkan wajahnya, tapi Wildan mengikuti arah wajah Red.”Kenapa kamu menghindar,”kata Wildan sambil memegang pantat Red.
“Apa yang kamu lakukan,”kata Red yang terkejut karena pegangan Wildan. “Bukannya kamu yang dulu datang kenapa kamu yang terkejut,”ucap Wildan. “Jangan sentuh aku,”kata Red yang merasa terganggu.”Ok tidak akan aku sentuh lagi,”kata Wildan mengangkat kedua tangannya.
Wildan menghampiri Red tapi respon yang diberikan Red menghindarinya. Wildan yang tersenyum berjalan melewatinya sampai mereka berdampingan,”Jaga ketua kamu jika kamu ingin selamat dalam pertempuran yang tidak ada manfaatnya ini.” Wildan pergi dengan tugas yang diberikan sampai mereka dikepung oleh seorang tentara.”Kamu ingin kemana?,”ucap tentara.
“Kenapa banyak sekali lalat yang ingin tanya kemana aku ingin pergi. Itu membuat aku merasa bosan,”kata Wildan yang juga diam-diam menyuruh bawahannya yang ada disekitar untuk mengepung para tentara. “Sekarang kita bermain atau menuggu formasi yang kalian pasang diaktifkan,”ucap Wildan di samping Red.
“Siapa mereka,”ucap Red yang berbisik kepada Wildan.”Mereka adalah musuh kita yang membuat kita harus berselisih sampai menumpahkan darah,”kat Wildan. “Bukannya itu adalah Organisasi Rose Black yang memulai bertikai. Kenapa mereka tentara militer yang ingin kita bermusuhan,”kata Red yang mencari tahu.
“Kamu serius tidak tahu apa-apa ya,”ucap Wildan. “Memangnya kamu tahu apa sampai berkata seperti itu kepadaku,”ucap Red yang kesal. “Aku akan membuat kamu jalan untuk kamu pergi, beritahu kepada ketua kita untuk waspada. Bagaimana?,”ucap Wildan.”Kamu kira aku pengecut begitu,”kata Red.
Wildan menghembuskan nafas dan menghirup udara lagi,”Kamu bodoh. Salah satu diantara kita harus ada yang menyampaikan apa yang terjadi, jika kamu ingin selamat. Kamu kira mereka adalah lawan yang bisa kamu anggap enteng.”
“Kamu menganggapku lemah,”kata Red yang marah dan menarik krah Wildan. Tapi respon yang diberikan Wildan santai dengan senyum diwajahnya. Kedua tangan Wildan yang siap merangkul Red saat dia menarik krahnya.”Kamu tidak ingin pergi, apa kamu ingin bersamaku disini,”kat Wildan yang siap mencium bibir Red. Red yang sadar dengan sikap yang diberikan oleh Wildan mendorong dia dengan kencang sampai Wildan mundur beberapa langka.
“Ok kali ini saja aku menurut dengan apa yang kamu katakan,”ucap Red. “Bagus,”kata Wildan yang mengubah suasana didepan mereka.”Apa sudah selesai berkencannya,”kata tentara. “Kenapa kamu berkata seperti itu, apa kamu cemburu jika aku memilih yang tua dari kamu,”kata Wildan.
Bawahan Wildan yang datang dengan melempar semua tentara dihadapan mereka yang masih hidup. Mereka yang terkejut dan biasa saja melihat kawan mereka yang sudah dikalahkan oleh pihal lawan. “Kalian tidak memiliki hati ternyata, saat teman perjuangan kalian tewas dihadapan kalian semua,”kata Wildan.
Vita yang datang menghampiri Wildan,”Bagimana sekarang, mereka semua sudah berkumpul mengelilingi semua lokasi pertarungan.” Wildan melirik kearah Vita dengan wajah tersenyum. Tapi Vita hanya memberikan respon yang biasa saja.”Kenapa kamu tidak berpengaruh dengan wajah cantikku,”kata Wildan.
“Malas banget aku liat wajah kamu,”kata Vita. “Habisi mereka semua bawa satu yang hidup,”kata Wildan kepada semua bawahan. Semua anak buah yang mengepung bertikai dengan para tentara sampai semua berakhir dengan jumlah musuh dan lawan berkurang setengah. “Aku pergi dulu,”ucap Vita. Wildan hanya mengangkat tangannya kepada Vita yang pergi melaporkan. Sedangkan Rendi yang melihat hanya bisa menonton.”Tidak aku sangka ada yang mengetahui rencana kami,”ucap Gazi yang merangkul Rendi dengan santai.
“Kamu tidak tahu kalau semua yang kamu rencanakan bisa saja menjadi aib bagi kamu,”kata Rendi. Mitra dan Rong Shi yang melihat mereka berduel satu sama lain hanya bisa melihat sekitar dan berpikir untuk loloskan diri dari para tentara yang menginginkan nyawa mereka berdua.
“Jangan berharap kalian bisa kabur,”ucap tentara yang ada dibelakang mereka berdua.”Apa untungnya bagi kalian jika membunuh kami berdua,”kata Rong Shi. “Kamu bertanya apa untungnya bagi kami,”ucap tentara dengan wajah tersenyum lebar.”Kalian ingin tahu,”kata tentara yang mendekat kepada mereka berdua.
“Karena sebentar lagi kalian akan mati akan kami beritahu kalian sebagai tanda perpisahan. Kami ingin nyawa kalian karena kalian bisa menambah jiwa kalian yang masih tersisa untuk kamu serap,”kata tentara. “Jiwa,”ucap Martin yang sudah menghabisi semua tentara yang ada dibelakang mereka tanpa bersuara. “Siapa kamu,”kata tentara yang masih hidup.
“Kenapa kamu begitu terkejut dengan kehadiran diriku,”kata Martin yang menggunakan penutup wajah. “Sial aku habisi kamu,”kata tentara yang mulai menyerang. Martin yang menghindar dengan santai melemparkan pisau kepada Mitra yang sedang terikita.”Lepaskan sendiri,”ucap Martin.
“Ini,”ucap mereka berdua yang melihat pisau di samping mereka berdua. Rong Shi dan Mitra mengambil pisau yang diberikan pemuda bertopeng dan melepaskan diri dari ikatan dan mulai melawan para tentara yang tersisa sedikit.
Sampai Martin menghabisi semua tentara yang ada dia menghilang pergi dari keduanya dan berjalan menuju kerumunan para preman sambil bertepuk tangan.”Hebat tidak aku sangka Erik bisa menghindar dari Dave dengan baik,”ucap Martin yang berjalan maju.
“Ketua,”ucap Reli dan bawahan yang menyambut kedatangan ketua mereka. “Aku kira kamu tidak akan datang,”kata Izam yang tersenyum dingin. Sampai Red datang dan berkata,”Bos bahaya, kita harus pergi sekarang.”
“Aku tahu kalau bahaya jika dia datang, tapi hari ini harus ditentukan siapa yang menjadi nomor satu disini,”kata Izam yang tidak tahu.”Bukan itu Bos, tapi yang lain,”ucap Red yang tergesa-gesa. Sampai Vita datang memberikan laporan kepada Reli.
Martin dan Reli yang melihat kedatangan Vita saling menatap, mereka berdua hanya tersenyum.”Mau lanjut atau mau mati disini,”kata Martin tanpa basa-basi.