
Prajurit seribu batu merupakan prajurit yang menjaga kawasan berbatasan antar duni yang memilki kemampuan yang sangat kuat. Orang biasa tidak akan bisa mengalahkan prajurit seribu batu karena inti dari prajurit adalah kristal hitam yang memilki spritual level menengah. Dari ceritanya prajurit seribu batu dapat menahan serangan bom dan mobil tangki.
“Jika apa yang kamu katakan itu benar bagaimana kita bisa masuk dan melewati mereka,”kata Mitra. “Kenapa kalian menatap aku, cari tahu sendiri dimana titik kelemahan mereka. Itu adalah ujian untuk kalian, apalagi setelah melihat kemampuan darai orang yang bersembunyi dari Organisasi Rose Black waktu itu,”kata Martin.
“Bilang saja kalau kamu menganggap kami semua itu adalah beban,”kata Lili.”Memang beban,”kata Martin menatap mereka semua. Mereka yang mendengar meras kesal dan marah kepada Martin dan maju menyerang prajurit batu.”Kamu bilang kami beban, kami akan tunjukan kepada kamu kalau kami bukan beban bagi kamu,”kata Morgan.
Martin yang melihat mereka merasa bahagia dengan penderitaan mereka. Tapi maksud dari perkataan yang Martin katakan adalah untuk menyemangati mereka agar mereka bisa bertahan hidup saat menghadapi organisasi Rose Black.”Sampai kapan mereka akan bisa bertahan,”kata Martin yang sudah menuggu selama 2 minggu.
Mark yang bisa mengalahkan satu orang datang kepada Martin,”Bukannya kamu akan pergi satu minggu lagi bukan.” Martin menganggukan kepalanya sambil menyerahkan minuman kepada Mark. Semua datang menghampiri mereka berdua yang hanya bisa mengalahkan satu prajurit.”Sebaiknya kalian istirahat dulu. Karena ini akan membutuhkan waktu yang lama,”kata Martin.
“Dari pada itu kenapa kamu tidak ikut melawan mereka,”ucap Rong Shi sambil menunjuk prajurit seribu batu.” Martin menghela nafas panjang dan melihat prajurit seribu batu,”Aku akan bergerak jika pimpinan mereka bergerak.”
Mereka semua yang mendengar hanya tersenyum dan kembali mengabaikan Martin dan mulai maju lagi untuk menghadapi mereka prajurit batu. Martin yang melihat mereka ada berkembang dari satu prajurit jatuh mereka bisa mengalahkan tiga prajurit.”Aku rasa mereka sudah mulai terbiasa,”kata Martin yang berdiri dan mulai melangkah kearah mereka.
“Aku akan pergi selesai pada pada waktu tiga hari,”ucap Martin yang berjalan keluar dari gua hitam dan menuju gedung pusat di pulau. Sampai di gedung pusat Martin membersihkan tubuhnya sebelum dia bertemu dengan Roki dan Izam di Hotal Azom.
Sementara Mark dan yang lain yang ada dalam gua mereka habis-habisan mengalahkan setengah dari prajurit seribu batu. Mereka juga sempat untuk berbicara satu sama lain saat sedang bertarung.”Dia mau bertemu dengan Roki ya,”kata Lili.”Iya, bukannya hari ini waktunya mereka mengadakan pertemuan,”kata Mitra.”Rong Shi,”kata Ali.
“Aku tahu,”ucap Rong Shi yang menghubungi anak buahnya yang ada di Hotel Azom untuk mengawasi Martin karena dia akan berkunjung. Setelah selesai memberitahukan kepada anak buahnya dia hadapkan tiga prajurit batu dihadapan dia. Mereka menyerang tanpa berpikir, karena Rong Shi mengetahui gerak gerik prajurit seribu batu dia bisa menghindar dan mengalahkan mereka bertiga secara bersamaan. Setelah mereka kelelahan mereka kembali ke pintu untuk memulihkan stamina mereka.”Tidak aku sangka sudah setengah saja,”ucap Ali.
“Tapi tetap saja masih banyak,”ucap Lili.”Tapi bukannya bagus karena mereka aku merasa ada perubahan yang dari tubuhku,”kata Ling Yong.”Apa yang kamu katakan benar,”ucap Morgan. Selesai menambah stamina mereka kembali menghadapi prajurit seribu batu dengan santai dan penuh semangat.
Di tempat lain, Martin yang datang ke hotel Azom melihat Izam dan Roki sedang berbincang-bincang. Martin menghampiri mereka berdua dan merangkul Roki dan berkata,”Maaf aku terlambat.”
“Tidak apa-apa, Izam juga baru saja sampai,’kata Roki. “Kenapa kamu menatapku seperti itu apa ada yang aneh dengan pakaianku,”kata Martin melihat kearah Izam.
“Kalian berdua tidak akan berantemkan,”ucap Roki yang melihat mereka berdua seperti berbinar-binar. Izam dan Martin hanya tersenyum dan saling merangkul,”Kita tidak akan bertengkar kok.”
“Bagus kalau begitu,”kata Roki.”Bagaimana kabar kalian sudah lama tidak bertemu,”ucap Roki yang penasaran dengan mereka berdua setelah kelulusan waktu itu. “Kamu ingin bertanya dengan siapa dulu aku atau Izam,”ucap Martin.
“Salah satu dari kalian harus menjawab pokoknya,”kata Roki dengan tegas. Mereka berdua menghela nafas dan memesan makanan dan minuman untuk menghilangkan suasana tegang yang ada disekitar mereka.
“Kenapa, bukannya kamu sudah tahu apa yang terjadi,”kata Martin.”Apa kamu membuat perselisihan dengan orang lain lagi,”kata Izam.”Tidak juga hanya saja ada pergerakan soal organisasi yang baru saja muncul,”kata Martin.
“Apa yang kamu katakan Organisasi Laut Merah,”ucap Roki.”Bukan, yang baru muncul beberapa bulan ini,”kata Martin. “Yang kamu maksud adalah organisasi pembunuh bayaran,”kata Izam.
“Tepat sekalian,”kata Martin.”Apa yang aneh dari organisasi pembunuh bayaran itu,”kata Roki yang tidak mengerti.” Baru ini aku menyuruh anak buahku untuk menyelidiki organisasi tersebut. Aku melihat sesuatu yang tidak asing,”kata Martin yang mengeluarkan beberapa lembar Foto.
“Coba kalian lihat foto ini apa pernah kalian bertemu dengan kedua orang itu,”ucap Martin. Izam dan Roki mengambil satu lembar foto dan melihat gambar fotonya. “Bukannya ini Remon dan Mui temannya dokter Erik ya,”ucap Izam.
“Itu benar,”kata Roki santai. “Tapi apa yang aneh dengan foto ini,”kata Roki lagi.” Lihat siapa di samping mereka berdua dan lambang apa itu,”kata Martin yang menunjukkan satu bagian kecil. Mereka berdua terkejut,”Apa maksud kamu mereka adalah bagian dari organisasi pembunuh bayaran.”
“Itu mustahil bukan. Aku tidak percaya dengan foto ini,”kata Roki yang bermain drama. “Itu hanya sebagian saja,”kata Martin.”Jika ingin yang lain masih ada kok,”kata Martin yang memberikan amplop coklat kepada Roki. Roki membuka amplop tersebut dan dia baca isinya belum sempat dia membaca Izam mengambil karena penasaran.
“Maaf pesanan anda tuan,”kata pelayan hotel. “Terima kasih,”ucap Martin dengan ramah. Izam dan Roki yang masih membaca dokumen yang diberikan kepada Martin merasa terkejut.”Dari mana kamu mendapatkan informasi ini,”kata Izam dengan tajam. “Bukannya aku sudah bilang aku menyuruh anak buahku untuk mencari organisasi yang baru saja muncul,”kata Martin sambil menyeduh tehnya.
“Tapi bukannya aneh mereka muncul tiba di hadapan kita tanpa tahu siapa kita,”kata Roki.
“Itu yang membuat aku bingung. Apa mereka mengenal kita saat awal kita bertemu di negara M,”kata Martin.
“Apa yang kamu katakan bisa jadi,”ucap Izam yang mulai tenang dan menikmati makanan yang dia pesan. “Bahasnya nanti lagi aku lapar,”ucap Izam.
“Bagaimana kabar keluarga kamu Martin,”kata Izam.”Mereka baik-baik saja,”ucap Martin.”Ohhh iya mama kamu sudah bertemu dengan ibu aku,”kata Roki.
“Iya aku juga sudah diberitahu kemarin saat aku berkunjung di cafe,”kata Martin. “Memangnya selama ini kamu dimana,”kata Roki yang melihat kearahnya.” Tugas militer,”kata Martin.
“Apa?,”ucap Izam yang tidak percaya. “Kenapa kamu tidak percaya,”kata Martin.”Iya,”ucap Izam.”Bagian apa,”kata Roki yang santai.
“Dokter,”ucap Martin dengan santai.