
"Kamu kenapa yank kok nangis? Terus kenapa tangan mu kok merah merah yank?" Kata kak Sanusi kepada ku sambil menghampiri diri ku. Dan melihat wajah dan juga tangan ku yang terkena cipratan minyak panas tadi.
"Gak papa kok yank" kata ku kepada kak Sanusi sambil berjalan ke arah sofa.
"Gak papa gimana yank, liat mata kamu bebgakka terus tangan kamu merah merah gini yank apanya yang gak papa kamu ini" kata kak Sanusi kepada ku sambil marah ya dia marah kepada ku karena dia mengkhawatirkan diri ku.
"Gak papa kok yank, tadi aku nangis soal ya waktu ngupas bawang merah mata ku perih yank. Terus waktu perih aku gosok gosok mata ku pakek tangan yang megang bawang merah ya itu yank.jadi ya tambah perih yank tapi udah gak perih lagi kok yank" kata ku kepada kak Sanusi menjelaskan yang terjadi di dapur tadi.
"Oh gitu,,, terus tanagn mu ini eknapa yank kok Sampek merah merah gini. Apa lagi ini ada melepuh" kata kak Sanusi ekpada ku sambil melihat ke arah tanagn ku.
"Oh tadi aku coba masak telur eh aku malah kecipratan minyaknya yang ya udah deh tangan ku jadinya gini" kata ku kepada kak Sanusi
"Kamu kok gak hati hati sih yank, sakit ngak yank" kata kak Sanusi keoadanku smabil melihat ke arah tanagn ku yang melepuh akibat cipratan minyak tadi
"Iya hanya sakit dikit doang kok yank" kata ku kepada kak Sanusi.
"Aku beliin salep ya yank, kamu tunggu di sini bentar" kata kak Sanusi kepada ku.
"Gak usah yank bentar lagi juga sudah sembuh kok yank" kata ku kepada kak Sanusi.
"Gak ini aku tau pasti sakit banget, udah tunggu ebbtar ya yank aku beli salep dulu yank di apotik" kata kak Sanusi kepada ku. Aku hendak mengatakan kalau tanagn kua kan baik baik saja tapi dia sudah pergi dulu sebelum aku mengatakannya. Ya aku pun hanya bisa diam saja ku tau kalau dia khawatir dan tak mau melihat diri ku kesakitan maka dari karena itu dia tergesa gesa untuk membeli obat ke apotik. Tiba tiba ibu ku pun memanggil diri ku aku pun langsung menghampiri ibu ku yang ada di dapur.
"Iya buk?" Kata ku kepada ibu ku saat aku sudah ada di dekat ibu ku.
"Ini bawa dan tata di atas meja makan. Terus ajak makan nak Sanusi. Kasian dia pasti capek dan pasti laper banget" kata ibubku kepada ku sambil menunjuk ke arah makanan yang sudah tertata rapi di atas piring.
"Kak Sanusi masih keluar buk" kata ku kepada ibu ku sambil mengambil makanan makanan itu dan menatanya dengan rapi di atas meja makan.
"Loh emangnya kemana nak Sanusi Syah?" Kata ibu ku kepada ku.
"Masih keluar buat beli salep katanya buk" kata ku kepada ibu ku.
"Salep emangnya beli salep buat apa syah?" Kata ibu ku kepada ku sambil menatap diri ku dengan tatapan bingung aku pun melihat ke arah ibu ku.
"Nih buat ngobatin ini" kata ku kepada ibu ku sambil menunjuk ke arah tangan ku yang melepuh terkena cipratan minyak tadi ya tidak banyak dan juga hanya kecil kecil sih.
"Oh ibu kira dia kenapa ternyata buat salep mu toh, kamu kok gak bilang ke dia kalau gak usah beliin salep nantik itu juga sembuh sendiri. Cewek itu memang harus itu harus luka dulu kalau mau masuk ke dapur. Apa lagi itu hanya luka kecil aja syah". Kata ibu ku kepada ku.
"Iya buk sudah kok aku sudah ngelarang kak Sanusi buat beli salep tapi belum selesai aku bicara dia udah pergi dulu buk" kata ku kepada ibu ku.
"Dia kayaknya cinta banget sama kamu Syah" kata ibu ku kepada ku.
"Gak tau buk, sudah semua buk apa lagi yang mau Aisyah bantu buk?" Kata ku kepada ibu ku sambil berdiri di sebelah meja makan dengan makanan yang sudah tertata dengan sangat rapi.
"Piring sama airnya siapin dong Syah" kata ibu ku kepada ku.
"Oh iya ya gimana mau makan kalau gak ada piring sama airnya bisa bisa mati keselek ya buk he he he he he" kata ku kepada ibu ku sambil tertawa dan berjalan ke arah rak piring.
"Iya mangkanya itu Syah, kamu ini ada ada aja Syah ha ha ha ha" kata ibu ku kepada ku bahkan ibu ku pun ikut tertawa. Aku pun mengambil beberapa piring dan meletakkannya di atas meja tak lupa aku menaruh air dan juga gelas untuk makan ku dan juga kak Sanusi. Tiba tiba aku mendengar suara sepeda motor kak Sanusi. Itu tandanya kalau kak Sanusi sudah Dateng.
"Iya buk" kata ku kepada ibu ku. Setelah itu aku pun keluar untuk menemui kak Sanusi sat aku keluar kak Sanusi sudah masuk ke rumah ku dan membawa sebuah kantong plastik di tangannya. Aku pun menghampirinya dan duduk di sofa sepeti awal.
"Sini yank aku obatin dulu tangan mu yank" kata kak Sanusi kepada ku sambil emngambil tangan ku tapi aku menarik kembali tangan ku.
"Loh kenapa yank, ayo aku obatin yank tangan mu pasti itu sakit dan perih kan yank, ini gak perih kok yank obatnya. Katanya ini obatnya dingin kok yank ke tangan mu yank" kata kak Sanusi kepada ku sambil melihat ke arah ku.
"Obatin bentar lagi aja ya yank, kita makan dulu ibu sudah selesai masak. Aku udah laper banget yank dana ku juga tau kamu pasti juga laper banget kan jadi ayo kita makan dulu yank" kata ku kepada kak Sanusi ya jujur saja sejak tadi aku sudah snagat lapar sekali ya tapi apa boleh buat aku harus menunggu kak Sanusi untuk makan. Dan ubtungnya sekarang dia sudah tiba.
"Iya ya sudah ayo, maaf ya yank aku gak tau kalau kamu laper banget habis tadi kamu mau aku beliin kamu mie jamunya gak mau yank" kata kak Sanusi kepada ku smabil berdiri begitu pun dengan diri ku.
"Gak papa yank lagian ibu juga sudah selesai kok yank masaknya ayo yank" kata ku kepada kak Sanusi. Sambil berjalan ke arah meja makan yang ada di dapur.
"Iya yank" kata kak Sanusi kepada ku.
Setelah itu aku dan kak Sanusi pun mulai makan setelah selesai aku membereskan piring dan juga gelas kotor lalu memasukkan nya ke dalam bak untuk piring piring dan juga gelas gelas yang sudah kotor. Setelah selesai aku pun langsung menemui kak Sanusi yang sudah menunggu diri ku di ruang tamu saat sampai aku langsung duduk di sebelahnya. Setelah itu dia pun membuka salepnya dan mulai mengoleskan salep salep itu dengan sangat snagat pelan agar aku tak kesakitan katanya dan ya memang tak sakit dan luka luka di tangan ku terasa sangat dingin saat kak Sanusi selesai embgolekan salepnya dia pun mulai meniup tangan ku yang di olesinya salep tadi. Aku bingung apa yang di lakukan ya padahal luka luka itu tak terasa perih. Aku sempat bertanya kepada kak sanusi mengapa dia meniup luka luka yang sudah di olesi oleh salep padahal tak terasa perih sama sekali. Tapi dia hanya mengatakan kalau tak ada alasan dan dia juga mengatakan kalau dia ingin meniup tangan ku. Aku hanya tersenyum mendengar alasannya ya entah mengapa rasanya hati ku sangat tersentuh mendengar kata katanya bahkan rasanya aku merasa sangat sangat bahagia dengan kata kata nya yang hanya sederhana seprti itu. Tak lama kemudian aku pun menyuruh kak Sanusi untuk mandi ya karena dia sangat lusuh dan juga bau badannya juga sudah tak enak untuk di cium maka aku pun menyuruh ya untuk mandi kebetulan di sini ada bajunya ya karena kak Sanusi pernah menginap di sini dan baju juga celananya ada di sini jadi aku pun menyiapkan bajunya di kamar ku. Aku pun menunggu kak Sanusi di sofa yang ada di ruang tamu. Tak lama kemudian kak sanusi sudah kembali dengan baju yang tadi dia pakai saat akan mendaftar menjadi seorang tentara.
"Kok pakek itu lagi yank" kata ku kepada kak Sanusi sambil menunjuk ke arah baju yang kak Sanusi pakai.
"Ya pakek yang mana lagi yank, kan cuman ini bajunya yank soalnya aku gak bawa baju yank tadi habis aku gak niat mau ke sini paa di jalan aku kangen ke kamu yank jadi ya aku terus ke sini deh yank gak bawa baju juga aku yank" kata kak Sanusi kepada ku.
"Ada kok yank, kamu dulu awal tunangan kamu kan pernah nginep di sini yank terus kamu waktu itu bawak baju yank. Pas waktu kamu pulang bajunya kamu satu di tinggal di sini yank. Itu sekarang bajunya udah aku siapin kok yank ada di kamar. Sana ganti baju dulu yank. Itu bajunya tinggal di kamar aja yank besok biar aku yang nyuci bajunya yank" kata ku kepada kak Sanusi sambil menyuruh ya untuk ke kamar.
"Oh iya aku lupa yank kalau di sini ada baju ku yank. Baru ingat aku yank. Ya udah aku ganti baju dulu ya yank" kata Kaka anysi kepada ku smabil emmberikan handuk yang dia pakai tadi saat mandi kepada ku.
"Iya yank" kata ku kepada kak Sanusi.
Setelah itu kak Sanusi pun berjalan ke arah kamar ku. Aku menunggu di ruang tamu tak lama kemudian kak Sanusi telah selesai Menganti baju dia pun menghampiri diri ku. Setelah itu dia pun duduk di samping ku.
"Yank aku pulang dulu ya yank" kata kak Sanusi kepada ku.
"Loh kok mau pulang yank, kamu gak mau nginep di sini aja yank" kata ku kepada kak Sanusi.
"Gak dulu ya yank, aku harus pulang dan jelasin ke keluarga ku semua yang terjadi hari ini yank. Biar mereka semua paham yank. Besok aku kan sudah ke sini yank aku janji besok pagi pagi aku ke sini buat anterin kamu ke sekolah ya yank terus sorenya aku jumput kamu yank setelah itu malamnya kita jalan jalan ya yank" kata kak Sanusi kepada ku smabil memegang ke dua tangan ku.
"Janji yank?" Kata ku kepada kak Sanusi. Sambil menjulurkan jari kelingking ku ke arahnya.
"Iya yank aku janji kok" kata kak Sanusi kepada ku smabil mencium kening ku dengan lembut.
"Ya udah kalau gitu kamu hati hati di jalan ya yank, terus kalau kamu sudah sampek di rumah kabarin aku ya yank" kata ku kepada kak Sanusi.
"Iya yank pasti" kata kak Sanusi kepada ku.
Setelah itu kak snausi pun beridir aku ke belakang untuk memanggil ayah dan juga ibu ku. Lalu aku mengatakan kepada ayah dan juga ibu ku kalau kak Sanusi akan pulang setelah itu ibu dan ayah ku pun berjalan ke ruang tamu di mana kak Sanusi berada begitu pun dengan ku aku mengikuti ayah dan ibu ku dari belakang setelah itu kak sanusi bersalaman dengan ke dua orang tua ku setelah kak Sanusi pamit aku pun mengantar nya sampai ke depan rumah setelah sepedanya menjauh aku pun masuk ke dalam kamar ku.
****
Tak terasa satu Minggu berlalu saat aku akan keluar tiba tiba ibu memanggil diri ku katanya ada pos yang datang ke rumah ku dan mengantarkan barang untuk ku padahal aku tak memesan barang apa pun. Aku pun keluar kamar lalu menerima barang itu saat ku buka ternyata surat dari sekolah yang aku daftarkan beberapa Minggu lalu. Aku pun memberikannya kepada ayah ku ya karena saat ayah ku tau kalau itu surat dari sekolah yang aku daftarkan ayah ku meminta surat itu mau tak mau aku pun memberikan surat itu kepada ayah ku padahal niat ku aku ingin membuka isinya terlebih dahulu tapi semuanya gagal karena ayah ku ada di ruang tamu saat itu. Dan rasanya dada ku sangat takut dan juga gugup bagaimana jika hasilnya positif aku menggunakan narkoba bagaiman jika ke dua orang tua ku mengetahuinya padahal aku kan sudah lama sekali tak ememakai barang itu. Dan juga bagaiman jika aku tak di terima di sekolah itu aku bingung bagaimana jika ayah dan ibu ku mengetahuinya aku tak tau harus bagaiman menghadapi kemarahan ibu dan juga ayah ku. Aku benar benar bingung sekali saat ini sampai sampai aku keluar keringat dingin yang bisa ku lakukan hanya bisa berdiri di samping ayah ku dengan gugup saya ini.